NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23. Suami Siaga

Pak RT membetulkan posisi sarungnya, lalu melangkah lebih dekat ke pagar besi sembari menatap Ubay yang masih berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.

"Oalah, Bay, Bay..." ujar Pak RT sambil geleng-geleng kepala, nadanya separuh meledek separuh menasihati. "Bini lu lagi hamil, Bay! Ini jam dua belas malam dia berdiri kedinginan di teras nungguin tukang bakso keliling lewat karena lagi ngidam. Lu gak tahu, Bay?"

Ubay seketika mematung di tempatnya. Kata-kata "bini lu hamil" dan "ngidam" yang diucapkan Pak RT seperti hantaman palu yang langsung menghilangkan seluruh rasa kantuknya.

"Aduh, emang dasar calon bapak baru, gak ada peka-pekanya!" timpal Bang Juki dari belakang Pak RT, ikut terkekeh. "Untung kita lagi ronda, Bay. Kalau enggak, bisa sewulan istri lu berdiri di situ jadi patung teras!"

Mendengar riuh godaan dari warga, Ubay langsung mengalihkan pandangannya tajam ke arah Nadia.

Nadia yang ditatap seperti itu seketika meremas kedua tangannya dengan sangat erat di balik kantong jaket tebalnya. Wajahnya pias, tertunduk dalam-dalam menyembunyikan rasa takut dan sungkan yang luar biasa. Bahunya agak bergetar, khawatir kalau tindakan nekatnya malam ini membuat Ubay marah karena merasa direpotkan atau tidurnya diganggu. Nadia benar-benar merasa bersalah sudah menciptakan situasi sekacau ini.

Melihat guncangan batin dan ketakutan di mata Nadia, otak jalanan Ubay langsung bekerja secepat kilat. Ia sadar, sandiwara ini harus dimainkan dengan sempurna di depan mata Pak RT dan warga agar tidak ada celah kecurigaan sedikit pun.

Ubay langsung merubah rait wajah masamnya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu melangkah turun dari undakan teras dengan tergesa-gesa mendekati Nadia. Tanpa ragu, Ubay melepas jaket jeans hitam miliknya sendiri dan langsung menyampirkannya ke bahu Nadia, membungkus tubuh gadis itu agar lebih hangat.

"Astaga, Nad... kamu ini kok gak bilang sama Mas, sih?" ucap Ubay, nadanya mendadak melunak, sengaja dibuat agak manja namun tegas layaknya seorang suami yang sedang mengomeli istri kesayangannya.

Nadia mendongak dengan mata membulat, terkejut mendengar perubahan nada suara Ubay yang begitu drastis. Apalagi menyebut dirinya sendiri dengan kata ‘mas’.

Ubay lalu memegang kedua bahu Nadia, membalikkan tubuh gadis itu agar menghadap ke dalam rumah. "Kalau pengen bakso itu bangunin gue? Nggak usah sungkan. Kamar lo kan di belakang, tinggal ketuk pintu depan apa susahnya? Malah berdiri di sini sendirian, kalau lo masuk angin atau bayinya kenapa-kenapa gimana?" tanya Ubay pelan, agar tidak didengar oleh pak RT, cak Hari dan bang Juki.

"M-Maaf, Mas Ubay... saya... saya nggak mau merepotkan Mas," jawab Nadia terbata-bata, mencoba menyelaraskan diri dengan akting tak terduga dari suaminya.

Ubay menoleh ke arah Pak RT dan warga di depan pagar, memasang wajah kikuk khas seorang suami baru yang tertangkap basah kurang peka. "Aduh, maaf, Pak RT, Cak, Bang... saya beneran gak tahu kalau dia lagi pengen bakso. Seharian ini saya capek banget habis ngurusin setoran gerobak di pasar, jadi tidurnya rada kebo."

"Hahaha, ya gak apa-apa, Bay. Namanya juga baru pertama kali mau punya buntut," sahut Pak RT sembari menepuk pagar besi. "Wis, mending sekarang kamu keluar, cari tukang bakso yang masih buka di perempatan pangkalan. Kasihan itu dedek bayinya di dalam perut sudah nagih."

"Iya, Pak RT. Ini saya langsung berangkat," jawab Ubay sigap. Ia menepuk pelan bahu Nadia. "Lo masuk ke dalam rumah depan sekarang. Duduk di sofa, tunggu gue di dalam biar gak dingin. Gue ambil kunci motor dulu."

Nadia mengangguk patuh dengan jantung yang berdebar kencang. "Iya, Mas..."

Melihat Nadia berjalan masuk ke dalam rumah, Ubay kembali menatap para peronda malam itu dengan senyum tipis. "Makasih ya, Pak RT, sudah dikasih tahu. Saya tinggal nyari bakso dulu."

"Yo wis, udah buruan cari, Bay! Semoga berkah bapak barunya!" seru Cak Hari kompak bersama yang lain sembari melanjutkan langkah ronda mereka, meninggalkan halaman rumah tua itu dengan tawa kecil.

Begitu pagar depan ditutup dan warga sudah menjauh, Ubay menarik napas dalam-dalam. Sandiwara sebagai suami siaga malam itu berhasil menyelamatkan martabat mereka, walau setelah ini Ubay harus benar-benar menyisir jalanan malam demi memenuhi keinginan pertama dari janin yang dikandung istrinya.

**

Breeem... brem... tet-teeeet...

Suara knalpot RX-King milik Ubay memecah keheningan malam yang sunyi. Angin malam yang menusuk pori-pori kulit sama sekali tidak ia pedulikan. Cowok gondrong itu memacu motornya membelah jalanan aspal yang mulai lengang, matanya tajam menyisir trotoar dan sudut-sudut ruko, mencari gerobak dengan lampu teplok atau sisa uap kuah bakso yang masih mengepul.

Di balik helm halfface-nya, sudut bibir Ubay mendadak terangkat. Sebuah kekehan geli sekaligus getir lolos begitu saja dari tenggorokannya.

"Bisa-bisanya gue kelayapan jam dua belas malam cuma buat nyari bakso urat," monolog Ubay sendirian, suaranya tenggelam di balik deru mesin motor.

Ia menggeleng-gelengkan kepala. Kalau anak-anak pangkalan pasar melihat sosok Ubay yang biasanya ditakuti kini sedang berburu kuliner malam demi menuruti kemauan perempuan hamil, ia pasti akan habis jadi bahan ledekan tujuh turunan.

Namun, senyum geli di wajah Ubay tidak bertahan lama. Perlahan, gurat wajahnya berubah menjadi datar, lalu mengeras menahan satu rasa sesak yang tiba-tiba datang menghantam dadanya.

"Sialan..." bisik Ubay lirih, tatapannya menatap lurus ke depan aspal yang remang.

“Gue disini yang repot, kedinginan, nyari bakso keliling sampai ke ujung perempatan demi menuruti ngidamnya si Nadia. Sementara si keparat Axel itu... pria bejat yang sudah menodai Nadia, mungkin jam segini lagi enak-enakan tidur di kasur empuknya yang ber-AC di dalam rumah megahnya,” batin Ubay, cengkeramannya pada setang motor mengeras seketika.

Pikiran itu membuat darah jalanan Ubay mendidih. Dunia ini rasanya begitu tidak adil. Orang kaya yang melakukan kejahatan bisa tidur dengan nyenyak tanpa beban, sementara korban yang tidak bersalah harus menanggung ketakutan. Dan ia orang asing yang baru dikenal sebulan lebih, yang harus sibuk memutar otak menjadi tameng perlindungan.

Ubay tersenyum kecut, menertawakan takdir hidupnya sendiri yang mendadak melenceng jauh dari jalur berandalan pasar.

"Ah, tapi ya sudahlah... toh, gue sendiri yang menawarkan diri dari awal," gumam Ubay pasrah, mencoba menenangkan gejolak amarah di dadanya. "Gue yang mau pasang badan buat nutupin aib Nadia. Gak ada gunanya gue ngedumel sekarang. Yang penting anak di dalam perutnya dapet apa yang dia mau, biar Nadia gak sedih lagi. Pasti hidupnya selama ini juga gak enak."

Ubay menurunkan kecepatan motornya saat melihat seberkas cahaya lampu kuning dari sebuah gerobak yang mangkal di dekat lampu merah pangkalan. Di sana, seorang bapak tua tampak sedang merapikan mangkok, bersiap-siap untuk tutup.

"Pak! Baksonya masih ada?" teriak Ubay dari atas motor, buru-buru menepi.

"Masih ada satu porsi terakhir ini, Mas!" sahut si penjual.

Ubay menghembuskan napas lega, senyum tipis kembali hadir di wajahnya. Perburuannya tengah malam ini membuahkan hasil. Ia segera turun dari motor, tidak sabar untuk membawa pulang semangkok bakso hangat itu demi menepati janjinya sebagai suami siaga.

****

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!