Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06 : Gadis polos
Kurang 40 menit, kini mereka telah sampai di markas, Xavier langsung turun sebelum Felix sempat membukakan pintu untuknya.
Ia berjalan ke arah kiri mobil, lalu membukakan pintu untuk Lyko, ia langsung mengangkat Lyko tanpa banyak bicara. Kali ini dengan lebih lembut, ia menggendong Lyko layaknya seorang putri.
Ia langsung berjalan masuk kedalam markas dengan langkah tegap. Begitu mereka masuk, tatapan seluruh anggota dimarkas langsung penuh dengan tanya.
Xavier dengan tegap berjalan menuju lift khusus miliknya, yang tidak boleh di pakai orang lain selain dirinya atau orang tuanya.
Xavier menekan lantai 30, kemudian pintu lift tertutup. Didalam sana sungguh sunyi dan dingin.
DING!
Perlahan pintu lift kembali terbuka. Xavier langsung berjalan menuju ruangannya, saat sampai didepan pintu ia menggunakan satu tangannya yang masih menggendong badan Lyko untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, ia masuk ke ruangannya, lalu menurunkan Lyko di sofa dengan perlahan.
Lyko terdiam menunduk ke lantai. Xavier berjalan ke kursinya, lalu ia menekan tombol di telpon dan berkata, “buatkan segelas minuman hangat, lalu suruh Felix untuk antar keruanganku.”
Seseorang dari telpon menjawab, “baik, Tuan.”
Xavier duduk dikursinya, lalu membuka dokumen yang ada didepannya kemudian membacanya dan bersiap mengisinya.
Lyko yang sedari tadi diam lalu berkata kecil, hampir seperti bisikan, “terima kasih… kau sudah menyelamatkanku…”
Xavier tidak menjawab. Ia hanya menatap setiap lembar dokumennya saja.
TOK! TOK! TOK!
“Masuk!” ucap Xavier tegas.
Saat pintu terbuka terlihat Felix muncul sambil membawa minuman hangat di tangannya.
“Berikan padanya,” ucap Xavier pada Felix. Dengan sopan, Felix memberikan itu. Lyko menerimanya dengan tangan gemetar, “terimakasih.”
Begitu ia meminumnya, hangat susu itu membuat tenggorokannya terasa lebih tenang.
Xavier menaruh dokumen itu kembali, dan perlahan ia akhirnya membuka suara, “apa yang kau lakukan di bar?” tanyanya tanpa intonasi.
Lyko menggenggam erat gelas itu, “aku… aku dijebak.”
Xavier menatapnya tanpa berkedip, “dijebak? Maksudmu?”
Lyko menarik napas panjang, lalu ia mulai bicara dengan mata berkaca-kaca, “aku hanya ingin mencari pekerjaan, yang gajinya mungkin lumayan besar…” suaranya bergetar.
“Mengapa kau ingin mencari pekerjaan? Bukankah kau masih seorang pelajar?” tanya Xavier.
“Bundaku sakit… aku sangat butuh uang untuk biaya pengobatannya… dan mereka bilang ingin mengajakku ke bar...” jawab Lyko dengan suara yang mulai serak.
Xavier kembali melanjutkan pertanyaanya, “mengapa kau mau? Bukankah kau sudah tahu, kalau di bar kau akan menjadi incaran para lelaki hidung belang?” tanya Xavier heran.
Lyko menjawab nya dengan air matanya yang mulai mengalir, “aku tidak tahu apa itu bar... dan mereka menjelaskan bahwa pekerjaan itu hanya sebagai pengantar minuman... namun ternyata aku disuruh melayani para pria itu...”
‘Polos sekali gadis ini,’ batin Xavier. “Lalu? Tujuanmu hanya ingin membayar pengobatan ibumu saja?”
Lyko menggelengkan kepala pelan, “ayahku mempunyai hutang sebesar satu miliar karena taruhan dan perjudian. Aku tidak bisa lari dari orang-orang itu, karena taruhan ayahku adalah aku sendiri... aku harus menikah dengan pria itu kalau aku tidak bisa membayar hutangnya...”
Lyko memejamkan mata, air matanya mulai deras jatuh membasahi pipinya.
Xavier menghela napas pelan setelah mendengar semua keluhannya, ia mengerti. Xavier menatap Lyko beberapa detik, lalu berkata tegas.
“Kalau kau mau… aku bisa memberimu pekerjaan.”
Lyko langsung mengangkat kepala, mata biru langitnya membesar,terang dan mengkilap menatap Xavier dengan penuh harapan, “p-pekerjaan?”
Xavier menyandarkan punggungnya, suaranya dingin kembali, “tapi ada satu syarat. Kau harus menerima semuanya. Dan kau tidak boleh melanggar aturan yang kubuat.”
Lyko menatap Xavier, rambut kuning lembut sebahunya sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat semakin manis. Dan kemudian Lyko mengangguk cepat, “i-iya baiklah... aku akan tepati syaratnya. Ta-tapi... pekerjaan seperti apa? ” tanyanya gugup.
Xavier menutup matanya, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia berkata, “aku ingin kau menjadi istriku.”
DEG!
Lyko serta Felix membeku tak percaya.
‘Tuan Xavier akan menikahi gadis ini? Apa aku tidak salah dengar?’ batin Felix terkejut.
“A… apa?” ucap Lyko tak percaya.
Xavier melanjutkan dengan nada datar, “aku akan memberikan jatah bulananmu tiga miliar per bulan. Atau mungkin lebih, tapi kalau kau memperlakukanku layaknya suamimu dengan baik, bagaimana?”
Lyko menatapnya tidak percaya, ‘3 miliar? Apa dia serius?’ batin Lyko memikirkan nominal angka itu.
Uang dengan jumlah segitu, sudah lebih cukup dari pengobatan ataupun membayar hutang ayahnya. Belum lagi setiap bulan? Tapi… yang masih ia pikirkan yaitu menjadi istri dari seorang pemuda asing?
Lyko menggenggam gelas itu erat, pikirannya kacau. Ia memang sangat membutuhkan uang itu, namun haruskah sampai menikahinya? Dan sekarang adalah kesempatan yang sungguh tidak akan datang 2 kali. Sekarang ini ia harus benar-benar memikirkannya dengan benar.
‘Kalau aku menolaknya... bunda pasti akan terus sakit-sakitan, namun kalau aku menerimanya aku saja tidak mengenal siapa pemuda ini, belum tentu ia baik padaku dan bunda...’ batin Lyko yang tampaknya masih menimbang-nimbang jawabannya.
“Bagaimana? Setuju atau tidak?” tanya Xavier lagi.
Lyko masih terdiam. Waktu seolah berhenti di dalam ruangan itu. Suara detak jam di dinding terdengar lebih jelas dari biasanya. Jemarinya mencengkeram gelas hangat di tangannya.
“Aku...” ucapnya tampak mempertimbangkan jawabannya. “Aku setuju,” lanjut Lyko dengan yakin.
Suara Lyko terdengar pelan, namun cukup jelas untuk membuat ruangan itu seketika sunyi.
Felix yang berdiri tidak jauh dari sana hampir saja kehilangan ekspresi tenangnya. Matanya sedikit melebar, walau ia segera menundukkan kepala agar tidak terlihat terlalu mencampuri urusan tuannya.
Xavier menatap Lyko beberapa detik. Tatapannya tetap tenang, seolah keputusan itu memang sudah ia perkirakan.
“Baik,” ucapnya singkat sambil mengangguk.
Namun di sisi lain, Felix tidak bisa menahan pikirannya yang mulai berputar. ‘benarkah ini keputusan yang benar?’ batin Felix.
Ia melirik sekilas ke arah Lyko. Tapi bagaimana bisa? Sedangkan gadis itu terlihat rapuh, polos, dan ketakutan sampai terlihat tidak ada kebohongan sama sekali di wajahnya. Namun, justru semua ciri-ciri itulah Felix menjadi semakin waspada.
Bagaimana jika gadis ini mata-mata? Atau mungkin hanya perempuan yang ingin memanfaatkan kekayaan Tuannya seperti wanita-wanita jalang itu?
Banyak kemungkinan buruk terlintas di kepalanya. Tapi Felix tahu, ia tidak berhak mencampuri keputusan Xavier sendiri. Jadi semua pikiran itu ia simpan rapat di dalam hati.
Tak lama kemudian, Xavier menoleh padanya dan berkata, “Felix,” panggilnya.
Felix langsung tersadar dan menatap Tuannya.
“Pesankan satu kamar hotel terbaik di kota ini dengan fasilitas lengkap. Selama dua hari satu malam.”
Felix langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”
Ia segera membuka tablet tipis yang selalu ia bawa. Jarinya bergerak cepat mencari hotel terbaik yang tersedia malam itu. Beberapa detik kemudian ia menemukan satu hotel mewah di pusat kota.
Dengan cepat ia memesan satu kamar suite untuk Lyko.
Sementara itu Xavier bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Lyko. Ia kemudian berjongkok di depan gadis itu agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Siapa namamu?” tanyanya dengan suara yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Lyko tampak gugup. Tangannya masih memegang gelas hangat itu dengan keras. “N-namaku… Lyko,” jawabnya dengan suara gugup.
Xavier mengangguk kecil, kemudian melanjutkan pertanyaanya. “Kau bersekolah di mana?”
Lyko menelan ludah sebelum menjawab, “aku… berkuliah di The Rylance Senior International University.”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi Xavier berubah sedikit. Matanya menyipit sesaat. Kampus yang Lyko sebutkan sangatlah familiar ditelinganya.
Ia jelas mengenal tempat itu. Salah satu universitas elit yang bahkan banyak anak dari keluarga besar dan orang berpengaruh belajar di sana.
Tapi ada satu pertanyaan yang terpikir dalam benak Xavier, apa dia serius anak yang kurang mampu?
Namun Xavier segera menutupi ekspresi nya itu, berusaha agar tidak terlihat terkejut dengan ucapan Lyko barusan. “Begitu,” katanya.
Kemudian Xavier mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Lyko, “masukkan nomor teleponmu, agar aku dapat menghubungimu,” pinta Xavier.
Lyko sedikit terkejut, tapi ia mengangguk.
Ia meletakkan gelasnya di meja terlebih dahulu, lalu mengambil ponsel itu dengan hati-hati. Jarinya mengetik nomor teleponnya dengan gugup.
Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu kepada Xavier. Xavier melihat sekilas nomor tersebut, lalu menyimpannya sebelum memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
Tidak lama kemudian Felix mulai mengeluarkan suara. “Tuan, satu kamar hotel sudah selesai dipesan.”
Xavier langsung berdiri. “Baiklah, kita kesana sekarang,” ia menatap Lyko mengisyaratkan untuk pergi.
Lyko mendongak, lalu perlahan berdiri dari sofa. Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift.
Saat masuk ke dalam lift, Felix menekan tombol lantai satu.Perlahan Lift bergerak turun kebawah.
Di dalam lift, suasana kembali hening. Lyko hanya menunduk sejak tadi, tampak takut jika bertemu dengan siapa pun.
Xavier menyadari gelagat aneh dari Lyko, sebelum pintu lift terbuka, Xavier perlahan mengangkat tangannya lalu menurunkan jas yang masih berada di kepala Lyko hingga menutupi sebagian wajah gadis itu.
Lyko sedikit terkejut, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Dan benar saja, begitu mereka keluar dari dalam lift, beberapa anggota markas langsung menoleh ke arah mereka.
Tatapan penasaran muncul dari berbagai arah. Beberapa orang bahkan mulai berbisik-bisik.
“Siapa gadis itu?”
“Kenapa Tuan Xavier membawa seorang gadis?”
“Kejadian yang sangat bersejarah ya.”
“Eh tapi gadis itu tampaknya cantik, beruntung sekali Tuan Xavier.”
“Tapi sayang ketutupan jas, padahal aku penasaran dengan wajahnya.”
“Hei kecilkan suaramu, nanti terdengar Tuan Xavier loh.”
Lyko sedikit lega karena ia tidak dapat melihat wajah orang-orang dengan jelas, sehingga ia tidak perlu ketakutan.
Setelah keluar dari gedung markas, mereka langsung menuju mobil.
Lyko masuk lebih dulu ke kursi belakang, kemudian Xavier menyusul duduk di sampingnya. Felix kembali ke kursi pengemudi.
Mobil pun melaju meninggalkan markas.
****
Sepanjang perjalanan, Lyko masih menunduk tanpa berbicara sedikit pun. Namun Xavier tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Yang ada di pikirannya sekarang justru sesuatu yang jauh lebih penting. Bagaimana caranya menjalankan sandiwara ini dengan sempurna di depan orang tuanya?
Operasi kecil yang ia buat sendiri ini tidak boleh gagal.
Karena jika gagal ia tahu ibunya pasti akan langsung menjodohkannya dengan seseorang yang bahkan tidak ingin ia temui.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan hotel mewah yang menjulang tinggi dengan lampu emas berkilau.
Mereka turun dari mobil dan masuk menuju lobi.
Setelah proses check-in selesai, Xavier mengambil kartu kunci kamar lalu menyerahkannya kepada Lyko.
“Aku akan mengantarmu ke kamar dulu,” katanya, kemudian menoleh ke arah Felix. “Kau tunggulah dimobil.
“Baik, Tuan,” jawab Felix mengerti.
Kemudian, Xavier dan Lyko berjalan menuju lift hotel. Beberapa menit kemudian mereka sampai di lantai tempat kamar Lyko berada.
Saat mereka berhenti di depan pintu kamar, Xavier berkata, “masuklah.”
Lyko membuka pintu menggunakan kartu kunci itu, lalu menoleh kearah Xavier sebelum masuk. Ia kemudian menurunkan jas yang sejak tadi menutupi kepalanya dan menyerahkannya kembali dengan hati-hati.
Xavier menerimanya. Namun sebelum Lyko masuk, ia berkata lagi dengan suara serius. “Jangan pernah membuka pintu jika aku tidak menelepon atau memanggil namamu.”
Lyko mengangguk mengerti.
“Dan sebelum membuka pintu, lihat dulu melalui lubang pintu, jangan sembarangan membukanya,” lanjut Xavier.
“Baik...” jawab Lyko.
“Besok aku akan menjemputmu, jadi jangan bangun terlalu siang,” kata Xavier.
Lyko kembali mengangguk. Namun sebelum benar-benar masuk, ia tiba-tiba bertanya dengan sopan,
“Maaf…”
Xavier mengerutkan keningnya pelan.
“Boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Lyko dengan sopan dan lembut.
Xavier menatapnya sejenak. “Xavier,” jawab Xavier singkat.
Lyko mengangguk pelan, seakan mengingat nama itu dengan baik. “Sekali lagi, terima kasih… Xavier.”
Xavier mengangguk, dan merasa percakapan itu sudah cukup. “Masuklah.”
Lyko menunduk kecil lalu masuk ke dalam kamar, kemudian tersenyum kecil dan perlahan menutup pintu kamar.
Setelah memastikan pintu itu benar-benar terkunci, Xavier berbalik dan pergi meninggalkan lorong hotel itu.