Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Malam kian melarut ketika mobil Rolls-Royce milik Dixon kembali memasuki pelataran rumah megahnya. Jam di dinding digital ruang utama sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dixon melangkah masuk ke dalam rumah dengan gurat kelelahan yang nyata di wajah tampannya. Bahu tegap yang terbalut kemeja hitam setelah melepas jas formalnya di mobil tampak sedikit tegang akibat rentetan rapat direksi yang menguras energi sepanjang hari.
Namun, begitu langkah kaki besarnya melewati pintu penghubung lobi dalam, keheningan rumah yang biasanya menyambut Dixon seketika buyar.
"Selamat malam, Mas Dixon!"
Sesosok gadis dengan piyama katun longgar berwarna kuning cerah mendadak muncul dari balik pilar marmer. Cia berdiri di sana dengan senyum yang merekah sangat ceria, melambaikan tangan kecilnya dengan binar mata yang begitu hidup. Alih-alih terlihat seperti pelayan yang takut seperti beberapa hari lalu, malam ini Cia tampak sepenuhnya mengklaim posisinya sebagai nyonya rumah.
Dixon menghentikan langkahnya seketika. Sepasang alis tebalnya bertaut rapat. Sifat dingin dan kakunya langsung mengambil alih kendali wajahnya. Pria berusia 39 tahun itu hanya menatap Cia datar, sedingin es, tanpa membalas sapaan ceria tersebut.
Cia sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan mengintimidasi itu. Ia justru melangkah mendekat dengan riang, mengambil alih tas kerja kulit dari tangan kekar Dixon.
"Bagaimana harimu di kantor, Mas? Pasti capek banget, 'kan?" cerocos Cia tanpa henti, mengekor di samping tubuh raksasa Dixon yang mulai melangkah menuju sofa ruang tengah. "Kamu mau minum apa malam ini? Aku bisa buatkan teh kamomil hangat supaya tidurmu nyenyak, atau susu cokelat panas? Oh, atau... pundakmu terasa kaku? Tanganku ini kecil-kecil begini jago banget mijit, lho! Mau aku pijitin sekarang?"
Cia sudah bersiap meletakkan tangannya di bahu kokoh Dixon, namun sebelum jemari lentiknya menyentuh kain kemeja pria itu, Dixon tiba-tiba berbalik. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mengurung siluet ramping Cia, menciptakan aura tekanan yang luar biasa pekat.
"Valencia, cukup," desis Dixon, suara baritonnya yang berat terdengar begitu ketat dan dingin. Sepasang mata elangnya menatap Cia tajam, mencoba mengembalikan batasan di antara mereka. "Masuk ke kamarmu dan tidurlah. Aku tidak butuh minuman hangat, dan aku tidak butuh pijatanmu. Jangan membuat ruangan ini menjadi berisik."
Pengusiran yang begitu mentah dan dingin. Jika wanita lain yang berada di posisi Cia, mereka pasti sudah mundur teratur sambil menahan tangis karena harga diri yang terluka. Namun, Cia tahu persis kapan ia harus berakting rapuh dan kapan ia harus bertindak berani untuk mengacak-acak ego kaku suaminya.
Alih-alih mundur ketakutan, Cia justru berkacak pinggang. Ia mendongak berani, menatap lurus ke dalam manik mata gelap sang miliarder yang ditakuti seluruh pebisnis kota. Sepasang matanya menyipit kesal, dan bibir ranumnya maju beberapa senti, mengerucut sebal.
"Ih, Mas Dixon ini benar-benar keterlaluan, ya!" omel Cia dengan nada suara yang meninggi, sengaja menghentakkan sebelah kakinya ke lantai marmer. "Orang pulang kerja itu harusnya disambut dengan baik, ditawarin minum, bukannya malah ngusir-ngusir kayak ngusir kucing liar! Aku ini istrimu, Mas, bukan pajangan ruang tamu!"
Dixon seketika tertegun di tempatnya berdiri. Sepasang matanya membelalak kaku, benar-benar tidak menyangka akan diomeli secara frontal oleh seorang gadis yang usianya jauh di bawahnya. Belasan tahun hidupnya, tidak pernah ada satu orang pun—bahkan ibunya sekalipun—yang berani mengomeli seorang Dixon Luca Alessandro dengan cara seperti ini.
"Kamu pikir gampang menyusun menu masakan dan menunggumu pulang sampai jam segini?" lanjut Cia, rentetan omelannya meluncur deras bagai peluru kendali tanpa memberi Dixon celah untuk memotong. "Aku cuma menawarkan kebaikan, Mas! Kalau tidak mau teh, tinggal bilang 'tidak, terima kasih'. Memangnya susah, ya, jadi orang yang sedikit ramah? Kenapa wajahmu harus ditarik lurus terus seperti kanebo kering begitu? Apa otot wajahmu bakal putus kalau kamu tersenyum sedikit saja, hm?!"
Mendengar perumpamaan "kanebo kering" keluar dari bibir istrinya, sudut bibir kokoh Dixon mendadak berkedut halus. Pria berkuasa itu mendadak kehilangan seluruh kata-kata wibawanya. Sifat dingin yang selama ini menjadi tameng andalannya mendadak oleng di hadapan keberanian seorang Valencia.
Dixon memalingkan wajahnya ke samping, mengepalkan tangan di depan mulutnya lalu berdeham dengan sangat keras. "Uhuk! Jaga bicaramu, Valencia. Aku... aku hanya tidak terbiasa dengan keributan di malam hari," ujar Dixon, mencoba membela sisa-sisa harga dirinya dengan suara yang dibuat sekeras mungkin, meski telinga tegasnya perlahan merona merah akibat menahan rasa canggung yang luar biasa lucu.
"Alasan saja! Bilang saja kalau Mas Dixon gengsi!" cibir Cia lagi, memutar kedua bola matanya dengan malas. Namun, ia segera berbalik arah menuju dapur sembari menggerutu pelan yang sengaja dikeras-keraskan. "Ya sudah! Aku tetap akan buatkan teh kamomil. Tidak ada penolakan! Kalau tidak diminum, awas saja, besok jangan harap ada bekal makan siang lagi di mejamu!"
Dixon hanya bisa mematung di tengah ruangan, menatap punggung ramping Cia yang berjalan menjauh menuju dapur dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan penuh kekesalan. Pria berusia 39 tahun itu mengembuskan napas panjang dari hidungnya, lalu menyugar rambut rapi dengan jemarinya.
Sebuah senyuman tipis yang teramat tipis hingga hampir tak kasatmata perlahan terukir di sudut bibir kokoh sang penguasa kota. Kehadiran Cia yang berisik dan berani mendadak mengikis rasa sepi yang selama belasan tahun ini mengerak di dalam rumah megah ini.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu