Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Janji di Bawah Langit Senja
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga, merah muda, dan ungu yang memukau. Cahayanya yang lembut menyinari seluruh area taman belakang rumah Wijaya, menciptakan suasana yang hangat dan romantis. Di bangku kayu tua di pinggir kolam ikan, Arga dan Anya duduk berdampingan, tangan mereka saling tergenggam erat tanpa ada niat untuk melepaskannya.
Setelah semua masalah yang menimpa perusahaan dan keluarga teratasi, beban berat yang selama ini membebani hati mereka perlahan terangkat. Tidak ada lagi rasa curiga, tidak ada lagi batasan kaku, dan tidak ada lagi perasaan bahwa hubungan ini hanyalah sandiwara semata. Kata-kata yang diucapkan Arga tadi masih terngiang jelas di telinga Anya, membuat hatinya terasa penuh dengan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Kamu yakin dengan keputusan ini, Arga?” tanya Anya pelan, matanya menatap permukaan air kolam yang beriak tertiup angin sore. “Ingat, awalnya kita hanya sepakat untuk hidup bersama selama satu tahun saja. Kalau kita mengubahnya menjadi nyata, berarti kita harus siap menghadapi segala hal yang datang, baik suka maupun duka.”
Arga menoleh, lalu mengangkat tangan Anya dan mencium punggungnya dengan lembut. Tatapannya begitu dalam dan tulus, seolah ingin meyakinkan gadis itu sampai ke lubuk hatinya. “Saya sudah memikirkannya berulang kali, Anya. Bahkan sebelum kejadian kemarin, saya sudah sadar bahwa perasaan saya padamu tidak bisa dibatasi oleh waktu satu tahun. Kamu telah mengajari saya arti kebaikan, kesabaran, dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan harta. Saya tidak ingin melepaskanmu begitu saja nanti.”
Ia melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun tegas, “Aku ingin kita membangun rumah tangga yang sesungguhnya. Bukan karena kewajiban, tapi karena kita saling membutuhkan dan saling mencintai. Apakah kamu masih ragu?”
Anya mengangkat wajahnya, menatap mata Arga yang begitu tulus. Air mata bahagia perlahan menetes di sudut matanya, namun ia segera menyekanya dengan senyum yang mekar indah. “Saya tidak ragu lagi, Arga. Sejak hari-hari terakhir ini, saya juga merasakan hal yang sama. Saya takut mengakuinya karena takut hanya perasaan sepihak, tapi sekarang… saya siap menjalani semuanya bersamamu.”
Mendengar jawaban itu, Arga tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan bahagia yang pernah terlihat di wajahnya. Ia menarik tubuh Anya mendekat, memeluknya erat seolah takut gadis itu akan menghilang begitu saja. Di bawah langit senja yang indah itu, mereka mengukuhkan janji baru yang lebih kuat dari perjanjian kertas apa pun.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama tanpa gangguan. Di sebuah rumah mewah di kawasan lain kota, Rina duduk dengan wajah memerah menahan amarah dan kecemburuan. Ia baru saja mendengar kabar bahwa rencana mereka untuk menjatuhkan keluarga Wijaya gagal total, bahkan hubungan antara Arga dan Anya justru semakin erat dan kuat.
“Kenapa semuanya selalu berjalan tidak sesuai rencana?” bentak Rina sambil membanting gelas kristal di atas meja. “Gadis itu datang dari mana saja, tapi berhasil merebut hati Arga dan membuat seluruh keluarganya memujinya. Saya tidak akan membiarkannya terus seperti ini!”
Di sampingnya duduk Pak Baskara, ayahnya yang juga pesaing bisnis Arga. Wajahnya terlihat dingin dan penuh perhitungan. “Tenang saja, Nak. Kita belum kalah sepenuhnya. Kegagalan kali ini hanya membuat mereka lebih waspada, tapi masih ada celah lain yang bisa kita manfaatkan. Selama ada kelemahan, kita bisa menjatuhkan mereka kembali.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Ayah?” tanya Rina dengan mata berbinar penuh kebencian. “Saya ingin melihat Anya tersingkir dari rumah itu, dan Arga kembali ke pelukan saya.”
Pak Baskara tersenyum tipis, senyum yang terasa penuh tipu daya. “Kita akan mencari kelemahan dari gadis itu sendiri. Setiap orang pasti memiliki rahasia atau hal yang ditakutinya. Kalau kita bisa menemukan apa yang membuatnya tertekan, kita bisa memanfaatkannya untuk memisahkan mereka berdua.”
Malam itu, rencana baru mulai disusun dalam keheningan, menandakan bahwa tantangan baru sedang menanti pasangan yang baru saja mengukuhkan cinta mereka.
Keesokan harinya, suasana di rumah Wijaya terasa jauh lebih ceria dan hangat. Semua orang merasakan perubahan yang positif dalam hubungan Arga dan Anya. Nyonya Wijaya terlihat sangat senang, sedangkan Tuan Wijaya kini memperlakukan Anya dengan rasa hormat yang setara dengan anggota keluarga lainnya.
“Melihat kalian berdua seperti ini, hati Ibu terasa sangat lega,” ucap Nyonya Wijaya saat mereka berkumpul di ruang tamu. “Ibu sudah berdoa agar Arga mendapatkan pendamping yang tepat, dan rasanya doa itu dikabulkan dengan kehadiran Anya.”
Arga merangkul bahu Anya dengan lembut. “Terima kasih, Bu. Saya juga bersyukur sekali bisa bertemu dia.”
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Anya tidak bisa menghilangkan rasa was-was yang muncul di hatinya. Ia masih teringat tatapan penuh kebencian Rina dan ancaman yang tersirat dalam tindakan keluarga Baskara. Ia tahu, mereka tidak akan menyerah begitu saja.
Siang itu, saat Anya sedang menemani ibunya di rumah kecilnya, seseorang mengetuk pintu. Begitu dibuka, terlihat seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya berdiri di sana dengan wajah serius.
“Permisi, apakah ini tempat tinggal Bu Lina dan putrinya, Anya?” tanya pria itu sopan.
“Benar, ada keperluan apa Bapak?” jawab Anya dengan hati-hati.
“Saya utusan dari Tuan Baskara. Beliau ingin mengundang Nona Anya untuk bertemu sebentar di sebuah kafe di pusat kota sore ini. Beliau bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan dan hanya boleh didengar oleh Nona sendiri,” jelas pria itu.
Mendengar nama itu, hati Anya berdebar kencang. Ia tahu ini pasti bukan pertemuan biasa. “Sampaikan pada Tuan Baskara, saya tidak memiliki urusan apa pun dengan beliau. Saya tidak akan datang.”
Pria itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Anya. “Tuan Baskara juga berpesan, kalau Nona menolak, maka beliau akan memastikan bahwa masa lalu keluarga Anya akan terbongkar ke hadapan keluarga Wijaya. Beliau tahu segalanya tentang utang dan kesulitan yang pernah dihadapi keluarga ini.”
Tangan Anya gemetar mendengar ancaman itu. Ia tidak menyangka bahwa keluarga Baskara sudah menyelidiki latar belakangnya sampai sedetail itu. Ia terdiam, merasa terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama sulit.
“Baiklah, saya akan datang,” jawab Anya akhirnya dengan suara bergetar. “Tapi ingat, jangan libatkan ibu saya dalam hal ini.”
Setelah utusan itu pergi, Anya duduk dengan wajah pucat pasi. Bu Lina yang mendengar percakapan itu segera memegang tangan putrinya dengan cemas. “Nak, jangan pergi. Itu pasti jebakan mereka. Kalau kamu pergi, kamu bisa terjebak dalam masalah yang lebih besar lagi.”
“Saya tahu, Bu,” jawab Anya sambil menahan air matanya. “Tapi kalau saya tidak pergi, mereka bisa menyebarkan cerita yang bisa membuat keluarga Wijaya meragukan kita lagi. Saya harus tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.”
Sore itu, Anya pergi sendirian ke tempat yang ditentukan. Di dalam kafe yang sepi, ia melihat Pak Baskara sudah menunggu dengan wajah dingin dan penuh perhitungan. Pertemuan itu akan menjadi awal dari ujian baru yang jauh lebih berat bagi hubungan cinta mereka.
Bersambung...