Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Terlambat Datang
Hari di mana acara kumpul bersama teman-teman dekat semasa SMA pun akhirnya tiba juga.
Satya sudah memesan sebuah ruangan privat di cafe langganan mereka.
"Mana Prabu? Kenapa jam segini dia belum juga datang?" cecar Kinan yang sudah hadir di sana.
"Sabar. Paling bentar lagi mantanmu itu juga datang kok," jawab Satya.
"Aku kenal Prabu banget. Dia orangnya selalu on time. Tumben ini udah telat lima menit, tapi Prabu belum juga n0ngol!" desis Kinan.
"Tunggu aja, Kin."
"Apa kamu yakin Prabu bakal datang?"
"Bener, Kin. Gak mungkin gue bohong. Tadi sore Prabu kirim pesan ke gue kalau dia jadi datang," jawab Satya.
"Prabu datang sendiri apa bawa istrinya?"
"Kalau itu aku lupa tanya,"
"Haishh !! Kamu gimana sih, Sat!" protes Kinan.
"Apa bedanya Prabu datang sendirian atau sama istrinya?"
"Ya jelas beda, Sat. Aku berharap Prabu datang sendirian," jawab Kinan.
Satya tak lagi merespon. Ia sedang asyik dengan ponselnya. Satya menjawab beberapa pesan masuk dari rekannya yang lain serta urusan bisnisnya di pelabuhan.
Ceklek...
Derit pintu dibuka dan Kinan semakin kesal karena yang datang bukan Prabu, tapi Erik.
"Sorry, gue telat. Hehe..." sapa Erik pada Satya dan Kinan dengan tawa kecilnya.
"Kalau Lu memang hobi telat dari dulu! Dasar!" gerutu Kinan yang hatinya semakin d0ngkol karena Prabu belum juga datang.
"Kok yang datang baru kita bertiga? Yang lain pada ke mana, terutama Prabu?" cecar Erik. "Prabu kan yang punya hajat," imbuhnya.
"Ini kita juga lagi nungguin Prabu, Rik. Tumben banget dia belum datang," jawab Kinan.
"What ??" pekik Erik terkejut. "Komandan satu itu dari zaman perang kemerdekaan sampai kemarin, gak pernah telat loh. Dia selalu paling disiplin di antara kita semua. Kenapa sekarang dia malah seenaknya mau ambil predikat gue yang hobi telatan!" serunya dengan nada sedikit bercanda.
"Mungkin ada masalah di jalan sama mobil Prabu atau macet," sahut Satya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," sela Kinan terdengar kesal.
Kinan pun akhirnya memutuskan pergi ke toilet untuk melihat riasan wajahnya sebelum Prabu datang. Di dalam ruangan privat cafe tesebut saat ini hanya ada Satya dan Erik.
Bara tak bisa hadir karena istrinya sakit. Sedangkan Priyo tak bisa hadir karena sedang ada pekerjaan di luar kota dan tak bisa ditinggal begitu saja.
Di dalam toilet wanita, Kinan memperhatikan wajah, pakaian serta lekuk tubuhnya.
"Aku yakin malam ini Prabu akan terpesona padaku," gumam Kinan yang begitu percaya diri.
Malam ini Kinan sengaja memakai gaun pesta warna hitam di mana warna tersebut adalah favorit Prabu. Ia juga menggelung rambutnya sedikit ke atas. Sebab, Kinan ingin memamerkan leher putih mulusnya pada sang mantan suami.
Setelah mengecek ulang make up pada wajahnya sendiri, Kinan memoleskan lipstik merah pada bibirnya agar tampak masih fresh alias segar.
"Nah, udah cantik Kinan. Semangat buat taklukkan Prabu. Hihi..." batin Kinan.
Langkah kaki Kinan perlahan keluar dari toilet untuk menuju private room yakni tempatnya kumpul bersama teman-teman semasa SMA.
Ceklek...
Kinan langsung membuka pintu tanpa permisi. Kebetulan ruangan tersebut pintunya memang tidak dikunci.
Seketika tubuh Kinan mematung karena menatap kehadiran mantan suami yang sejak tadi telah ditunggu olehnya. Namun sayang, bahagia tersebut berubah jadi kecut karena Prabu datang tak sendirian malam ini.
Ya, Prabu datang bersama Alea.
Raut wajah Kinan sontak berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada senyum yang terbit di wajah cantiknya itu.
Tap...tap...tap...
Derap langkah sol sepatu hak tinggi milik Kinan seketika memenuhi private room tersebut. Langkah itu datang mendekat ke arah Prabu dan Alea.
"Apa kabar?" sapa Kinan sekadar basa-basi seraya menyodorkan telapak tangannya ke arah Prabu.
"Alhamdulillah kami berdua baik, Mbak." Balas Alea menyapa Kinan seraya menerima jabatan tangan dari mantan istri Prabu tersebut.
Kinan semakin d0ngkol karena bukan Prabu yang menerima uluran tangannya, tapi Alea.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Kinan dengan datar seraya mendaratkan b0kongnya di kursi yang berada dekat dengan Prabu.
"Terima kasih," jawab Prabu singkat tanpa menatap Kinan.
Alea memberikan senyumnya pada Kinan. Sedangkan sang mantan istri, semakin kesal melihat sikap Alea dan Prabu padanya.
"Kenapa sekarang ini Pak Komandan banyak berubah?" pancing Kinan seraya tersenyum menyeringai.
Prabu dan rekan yang lain memilih diam dan menyimak. Satya dan Erik sangat tau jika ada bara api yang perlahan menyala di ketiga manusia tersebut. Prabu, Kinan dan Alea.
"Ya ampun seharusnya malam ini aku enggak datang ke sini. Lebih baik aku di rumah kel0n sama bini. Sepertinya akan ada perang dunia ke-3," batin Erik penuh penyesalan.
"Dulu selama kita pacaran dan menikah, kamu gak pernah telat. Selalu datang paling awal ketimbang yang lain. Kenapa sekarang makin mero_sot tingkat kedisiplinan pak komandan?" desak Kinan. "Kamu jadi lebih sering terlambat dan gak menghargai waktu," sambungnya.
Alea menggenggam telapak tangan Prabu di bawah meja. Hal itu memberikan sebuah kode dari Alea pada Prabu bahwa urusan wanita biarlah wanita yang menyelesaikan. Pria tak perlu ikut campur.
"Maaf, Mbak Kinan. Maaf juga untuk teman Mas Prabu yang lain, Pak Satya dan Pak Erik," ucap Alea seraya tulus meminta maaf pada ketiganya. Alea sejenak menjeda kalimatnya sendiri..
Perlu diketahui bahwa sebelum Kinan kembali ke area private room, Alea sudah berkenalan dengan Satya dan Erik.
"Mas Prabu terlambat malam ini bukan karena kesalahannya, tapi aku. Jadi kalau ada yang perlu disalahkan, biarlah padaku saja." Lanjut Alea menjelaskan apa adanya.
"Kamu?" sahut Kinan seraya menatap Alea cukup tajam.
"Iya, Mbak."
"Kenapa? Masih sibuk dandan jadi kena macet jalanan di Jakarta?" cibir Kinan.
"Tadi saat mau berangkat ke sini, mendadak perut saya sakit."
"Alasan klise banget. Kayak anak sekolah yang mau bolos saja pakai bilang sakit perut atau diare lah!" gerutu Kinan dengan nada mencibir Alea.
"Saya mual terus muntah, Mbak. Bukan diare," jawab Alea.
Deg...
Mual ?
Muntah ?
"Apa dia hamil?" batin Kinan terkejut sehingga menimbulkan praduga.
Bersambung...
🍁🍁🍁