Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tidak ada satu pun para dewan direksi yang bersuara untuk mendukung Tuan Besar Hardiman. Sebaliknya, Mereka menatapnya heran bercampur kasihan atas ketidaktahuan pria tua itu.
Surya Adhitama menghela napas panjang. Wajahnya yang tadinya pucat dan dipenuhi penyesalan kini perlahan memancarkan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya di hadapan sang ayah.
"Ayah..." panggil Surya Adhitama dengan suara rendah yang amat tenang, namun begitu berat menekan. "Cukup."
Tuan Besar Hardiman tertegun sejenak. Alisnya yang memutih menyatu erat, terkejut mendengar nada bicara putranya yang berani menyela perintahnya secara langsung di depan umum.
"Apa katamu?! Kau berani menyuruhku diam?!" bentak Tuan Besar Hardiman dengan suara meninggi. "Kau masih mau membela anak liar yang tidak tahu aturan itu?!"
Surya Adhitama kemudian bangkit berdiri dari kursinya. Dengan langkah yang tegap dan penuh percaya diri, ia mendatangi ayahnya itu.
"Anak liar yang Ayah maksud..." ujar Surya Adhitama dengan sorot mata tajam, "Baru saja menyelamatkan perusahaan ini dari jurang kehancuran."
Ada hening yang merayap ketika Tuan Besar Hardiman terdiam sejenak. Namun, keheningan itu seketika pecah seketika saat ia tertawa penuh penghinaan.
"Menyelamatkan perusahaan? Jangan melantur, Surya!" cemooh Tuan Besar Hardiman. "Apa yang bisa dilakukan oleh anak terbuang sepertinya?!"
"Dia bahkan tidak paham tentang dunia bisnis!" lanjut Tuan Besar Hardiman dengan nada meremehkan yang makin tajam. "Bagaimana mungkin anak itu bisa menyelamatkan perusahaan sebesar Adhitama Corporation?!"
Surya Adhitama tidak terpancing oleh ejekan sang ayah. Ia menatap lurus ke dalam mata tua yang penuh keangkuhan itu dengan raut wajah yang dingin dan mantap.
"SuperNova Investment baru saja menelepon kita, Ayah," ujar Surya Adhitama singkat namun menghantam tepat di ulu hati Tuan Besar Hardiman.
Tuan Besar Hardiman tertawa hambar, mencoba menepis ucapan itu. "Lalu kenapa? Bukankah mereka sudah menolak pengajuan investasi kita? Jangan bilang kau mempercayai omong kosong anak itu!"
"Mereka membatalkan penolakan tersebut, Tuan Besar," potong Arman Kusnadi, akhirnya melangkah maju menyejajarkan posisinya dengan Surya Adhitama.
Arman Kusnadi menatap Tuan Besar Hardiman dengan raut wajah penuh keseriusan. "Pihak SuperNova Investment baru saja mengonfirmasi bahwa mereka menyetujui kucuran dana sebesar sepuluh triliun untuk Adhitama Corporation."
Tuan Besar Hardiman seketika mematung di tempatnya berdiri. Matanya yang tajam kini membelalak lebar, memancarkan rasa tidak percaya. Senyum cemoohan di wajah tuanya seketika membeku.
"S-Sepuluh triliun...?" gumam Tuan Besar Hardiman dengan suara yang mendadak parau. "B-Bagaimana mungkin... Ini... ini pasti ada kesalahan!"
"Tidak ada kesalahan sama sekali, Tuan Besar," pukas Manajer Keuangan dari ujung meja. "Tim keuangan mereka bahkan sedang dalam perjalanan kemari untuk menandatangani berkas kontrak sebelum sore hari."
Kata-kata itu menghantam benak Tuan Besar Hardiman bagai guncangan petir. Tubuhnya terhuyung mundur setengah langkah hingga ia harus bertumpu pada tongkatnya agar tidak jatuh.
Namun, Tuan Besar Hardiman menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja menghantam telinganya. Cengkeraman tangannya pada gagang tongkatnya makin mengencang.
"Omong kosong!" bentak Tuan Besar Hardiman dengan suara yang melengking kebingungan. "Kalian semua sudah gila atau bisa-bisanya ditipu oleh permainan kata-kata anak liar itu?!"
Pria tua itu kemudian menghentakkan kembali tongkatnya lagi ke lantai, mencoba mengembalikan otoritasnya yang mulai goyah di hadapan belasan dewan direksi.
"SuperNova Investment itu konsorsium raksasa!" lanjut Tuan Besar Hardiman dengan napasnya memburu. "Bagaimana mungkin mereka mengubah keputusan? Dan kalian percaya ini semua gara-gara Darius?!"
Tuan Besar Hardiman menunjuk wajah Surya Adhitama dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Surya! Gunakan otakmu! Murni kebetulan saja berkas kita ditinjau ulang oleh tim analisis mereka!"
Ruang rapat kembali hening. Namun bukan karena takut kepada Tuan Besar Hardiman, melainkan karena rasa miris dewan direksi atas keangkuhannya.
"Kalian membanggakan anak liar yang baru saja menghajar pengawal keluarga?!" seru Tuan Besar Hardiman seraya menatap sekeliling dengan penuh amarah.
"Ayah..." potong Surya Adhitama, kali ini dengan nada suara yang teramat dingin dan tajam. "Cukup penolakan Ayah ini."
"Apa kau bilang?!" teriak Tuan Beaar Hardiman dengan nada penuh amarah membara dan mata yang melotot.
"Darius berada di ruangan ini tidak sampai sepuluh menit," ujar Surya Adhitama seraya menatap ayahnya. "Tepat sebelum dia keluar, dia mengatakan bahwa SuperNova Investment akan menyuntikkan dana investasi."
Surya Adhitama kemudian maju satu langkah. "Dan hanya berselang dua menit, telepon resmi dari kantor pusat Supernova Investment masuk. Apakah Ayah masih mau menyebutnya sebagai kebetulan?!"
"Bisa saja dia dapat bocoran! Atau dia cuma asal tebak!" Tuan Besar Hardiman tetap keras kepala. "Aku tidak akan pernah percaya bahwa anak terbuang itu punya hubungan dengan Supernova Investment!"
"Tuan Besar Hardiman," pukas Arman Kusnadi dengan nada suara berat. "Jika ini memang kebetulan, maka kebetulan ini baru saja menyelamatkan Adhitama Corporation dari kebangkrutan."
Tuan Besar Hardiman mengepalkan giginya rapat-rapat. Ia merasa terpojok di perusahaannya sendiri, di hadapan jajaran direksi yang selama ini tunduk padanya.
"Aku tetap percaya pada keyakinanku!" tegas Tuan Besar Hardiman. "Investasi ini terjadi karena reputasi Keluarga Adhitama, bukan karena anak itu! Jangan ada yang mengangkat namanya di depan publik!"
Tanpa menunggu tanggapan lagi, Tuan Besar Hardiman memutarkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan pusing yang mulai menyerang kepalanya.
Di dalam hatinya, sebuah benih ketakutan perlahan mulai muncul. Ia memang terus menyangkal kenyataan itu di depan semua orang.
Namun di balik penyangkalannya, sebuah pertanyaan besar terus mencengkeram pikirannya: Siapa sebenarnya cucunya itu?
Sementara itu, di dalam taksi yang melaju tenang membelah jalanan Ibukota, Darius dengan santai menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Namun, kedamaian di dalam taksi itu tak bertahan lama. Sopir taksi itu melirik spion tengah dengan raut wajah yang tegang. Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat dan napasnya terdengar memburu.
"T-Tuan..." bisik sang sopir dengan suara gemetar. "Sepertinya... ada dua mobil yang terus mengikuti kita sejak keluar dari kawasan gedung tadi."
Darius tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari jendela. Sorot matanya tetap dingin. Melalui pantulan kaca, ia sudah menyadari dua unit SUV sejak tiga menit yang lalu.
"Tetap jalan," sahut Darius pendek. Suara rendahnya mengalun begitu datar, dingin, dan sarat perintah hingga membuat sang sopir menancap gas lebih dalam.
Namun, belum sempat sang sopir melakukan perintah Darius, sebuah mobil SUV hitam melesat dari sebelah kiri dan kanan, memotong jalur secara brutal dan mengapit taksi tersebut.
"T-Tuan! Bagaimana ini?!" seru sopir taksi dengan suara memekik panik. "Mereka... mereka sengaja mengurung kita!"
Darius tetap tenang di kursi penumpang belakang. Raut wajahnya tidak panik sedikit pun, seolah-olah pengadangan berbahaya ini hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.
Tak lama kemudian, sebuah SUV di posisi kiri langsung menghantamkan seluruh bodinya ke samping, mendorong taksi tersebut hingga akhirnya tersangkut kaku di trotoar.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya