Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam
Alya bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Namun, ketika ia hendak keluar pagar, seseorang mencegatnya.
"Bayu, ada apa?" tanya Alya bingung.
Pria bernama Bayu itu tampak tersenyum tipis padanya, penuh makna. "Tidak. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apa?"
"Ku dengar, kau sedang butuh pekerjaan sampingan. Apa itu benar?"
"Iya. Aku memang sedang membutuhkan pekerjaan. Kau tahu dari mana?" tanya Alya dengan tatapan menyelidik.
"A-aku dengar dari Mira, ketika ia sedang bicara dengan Desi. Aku... tergerak untuk menolong." ucap Bayu, terdengar serius.
"Menolong bagaimana maksudmu?"
"Ya. Aku dengar dari temanku, ia sedang mencari seorang pekerja lepas. Katanya gajinya cukup besar. Tugasnya ringan, kau hanya perlu melayani tamu untuk minum." jelasnya, menatap Alya dengan penuh keseriusan. Kata-katanya terdengar begitu meyakinkan.
Namun, entah kenapa Alya tidak bisa begitu saja percaya pada ucapan Bayu, mengingat hubungan keduanya yang tidak terlalu dekat. Apalagi Alya pernah terang-terangan menolak cintanya.
Sejak itu mereka bahkan nyaris tidak pernah bertegur sapa.
Kini, pria itu malah berdiri di hadapannya, menawarkan bantuan.
"Melayani tamu untuk minum? Maksudnya bagaimana ya, aku tidak mengerti." Alya tampak memastikan.
"Seperti seorang pelayan di restoran atau rumah makan. Tugas mu hanya menuangkan minuman dan mengambilkan makanan." jelasnya dengan sabar, berusaha meyakinkan Alya.
"Begitu, ya. Memangnya di mana tempatnya?"
"Di Colloseum Night Club." jawab Bayu singkat.
"Klub malam?!" ucap Alya terkejut. "Kau menawariku pekerjaan di klub malam? Kau sudah gila? Aku bukan gadis seperti itu." sanggah Alya, tidak terima.
"Aku memang membutuhkan uang, tapi aku tidak seputus asa itu sampai harus menjual diri demi mendapatkan uang."lanjutnya marah.
"Aku juga tidak bilang jika kau harus menjual diri, kan?" tanya Bayu, menyanggah perkataan Alya. "Kau hanya perlu menemani tamu untuk minum. Karena tidak semua orang yang bekerja di klub malam itu, datang ke sana untuk menjual diri mereka. Apa kau pernah ke klub malam sebelumnya?"
Pertanyaan Bayu hanya dijawab dengan gelengan kepala pelan oleh Alya.
Walaupun kata-kata Bayu terdengar begitu meyakinkan, namun entah kenapa Alya tidak bisa mempercayainya begitu saja.
"Dengar, aku hanya berniat menawarkan pekerjaan padamu, karena aku kasihan melihatmu. Kau mau menerimanya atau tidak, itu terserah padamu. Tapi, kapan lagi kau bisa mendapatkan uang banyak dalam semalam, hem? Bahkan jika kau bisa menyenangkan para tamu, mereka bisa memberikan tip yang besar padamu. Mungkin jumlahnya bisa melebihi gaji mu selama satu bulan bekerja di sini."
Tawarannya memang terdengar menggiurkan, patut untuk dipertimbangkan. Tapi mendengar kata 'klub malam' membuatnya ragu, benarkah tempat itu aman bagi gadis polos sepertinya?
"Aku tidak bisa jawab sekarang. Aku akan pikirkan lebih dulu." Alya akhirnya bicara.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu jawab sekarang. Pikirkan saja pelan-pelan." ucap Bayu, terdengar tulus.
"Baiklah. Aku pulang dulu, ya." pamit Alya.
"Iya, hati-hati di jalan. Titip salam untuk ibumu, ya."
"Ya."
Alya lalu berbalik, lalu pergi.
Bayu masih berdiri di sana, menatap punggung Alya yang perlahan menghilang di kegelapan malam.
Senyumnya seketika mengembang, tipis, nyaris tidak terlihat. Lalu ia pergi, dan meninggalkan tempat itu segera.
🌺🌺🌺
Alya pulang ke rumah dengan pikiran yang penuh. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Namun, ketika ia membuka pintu rumah dan mendapati ibunya yang selalu tersenyum lebar menyambut kepulangannya, membuat seluruh beban pikiran itu seketika lenyap.
Ibunya masih berdiri di sana, bertahan untuknya.
Jadi, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia masih ingin menikmati waktu lebih lama bersama ibunya.
"Kau sudah pulang, Nak? Ibu sudah buatkan sup ayam kesukaanmu. Masih hangat dan... hmm... Kenapa, Nak?" tanya Junita pada putrinya itu ketika Alya tiba-tiba memeluknya.
"Aku hanya rindu Ibu. Aroma tubuh Ibu sangat enak dan terasa menenangkan." lirih Alya, terdengar pilu.
Junita tentu tahu, seberapa lelah dan kerasnya Alya berjuang di luar sana demi kesembuhannya. Ia yang lemah dan tak berdaya, hanya bisa menunggu di rumah, menanti putrinya tanpa bisa melakukan sesuatu untuk meringankan beban putrinya.
Hatinya seketika merasa hancur. Ia hanya mampu menangis dalam sujudnya, memohon pertolongan Tuhan untuk selalu menjaga putrinya dimana pun ia berada.
Ia tak ingin menjadi beban, namun ia juga tak ingin berpisah dengan putrinya sekarang. Ia ingin melihat Alya menikah lebih dulu dan mendapatkan seorang suami yang benar-benar menyayangi juga melindunginya sepenuh hati.
"Enak apanya, ini kan hanya aroma bawang. Ibu baru saja selesai masak, lho." sanggah Junita, mencairkan suasana yang mulai terasa penuh haru.
"Walaupun aroma bawang, setidaknya aku bisa memeluk ibu setiap hari seperti ini." ucap Alya, semakin mendekap ibunya erat.
"Kau ini, bisa saja. Ayo, mandi dulu sana! Setelah itu kita makan sama-sama. Ibu sudah lapar."
"Iya, Bu. Tapi biarkan aku memeluk Ibu beberapa detik lagi."
"Baiklah." sahut Junita dengan senyum lembutnya.
*
*
"Bagaimana dengan Tuan muda?" tanya Junita, di sela-sela makan malam mereka yang tenang. "Ia tidak menyulitkan mu, kan?"
"Tidak, Bu. Ia sama sekali tidak pernah menyulitkan ku. Hanya saja..." Alya mendadak terdengar ragu.
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja... aku merasa tidak nyaman jika harus mengurusi segala keperluannya. Itu terlihat sangat aneh, Bu." jelas Alya.
Junita lalu tersenyum. "Untuk beberapa waktu mungkin akan terasa aneh. Tapi seiring berjalannya waktu, itu akan terlihat biasa bagimu." jelas wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Tapi... tetap saja terasa aneh."ucapnya heran. " Jalan pikiran orang kaya memang sulit dipahami. Mereka bahkan memerlukan seorang pelayan hanya untuk mengatur pakaian yang akan mereka kenakan." lanjutnya, tanpa sadar menggerutu pada ibunya.
"Kau tidak perlu memahami bagaimana otak mereka bekerja. Yang terpenting kita punya pekerjaan, di gaji dan bisa mendapatkannya kehidupan yang lebih baik." jelas Junita.
"Orang-orang seperti kita, memang memerlukan orang kaya seperti Tuan muda agar bisa bertahan hidup."
Alya terdiam. Apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar. Di luar sana ada banyak orang yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah seharusnya ia merasa bersyukur karena punya pekerjaan tetap.
Junita memegang tangan putrinya. "Nak, tidak apa-apa jika kau tidak terbiasa. Kau bisa belajar pelan-pelan. Dunia ini memang bukan milik sejak awal, tapi bukan berarti kita tidak bisa bertahan di dalamnya."
Alya mengangguk pelan.
"Asalkan ibu selalu ada di sisiku, aku pasti akan bisa bertahan." ucap Alya dengan sorot mata yang dalam.
Kata-kata itu jelas bukan sebuah permintaan, tetap sebuah harapan yang ia genggam erat, seolah hanya itulah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap kuat.
🌺🌺🌺
mengalihkan duniakuu~