Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Evolusi Mata Ajaib dan Penglihatan Masa Depan
Waktu satu minggu yang diberikan oleh Tuan Feng tidak disia-siakan oleh Chen. Pertaruhan di Paviliun Giok Surgawi nanti bukan lagi sekadar urusan uang, melainkan harga diri dan masa depannya bersama Liu dan Mei.
Selama beberapa hari berturut-turut, Chen mengunci diri di dalam kamarnya setelah matahari terbenam. Ia duduk bersila di atas ranjangnya, memusatkan seluruh kesadaran pada aliran energi hangat yang bersarang di belakang kepalanya. Ia tahu, warisan dari kakek misterius malam itu tidak mungkin sesederhana "sekadar melihat menembus dinding". Pasti ada potensi tersembunyi yang belum ia gali.
Chen mulai melatih matanya dengan menatap berbagai objek di kamarnya—mulai dari cangkir keramik, dinding beton, hingga beberapa bongkah batu giok mentah yang ia beli kemarin.
Saat ia memusatkan fokusnya lebih dalam dari biasanya, rasa hangat di matanya berubah menjadi sensasi terbakar yang samar, namun tidak menyakitkan. Detik berikutnya, pandangan Chen bergetar hebat.
Dunia di matanya tidak hanya menjadi transparan, tetapi mengalami perubahan struktur yang radikal!
Saat menatap batu giok mentah di depannya, Chen tidak lagi hanya melihat warna hijau di dalamnya. Pandangannya tenggelam lebih jauh, melihat struktur molekul pembentuk batuan tersebut. Ia bisa melihat dengan jelas kadar kepadatan mineral, serat-serat mikroskopis, titik retakan tak kasat mata, bahkan elemen pengotor di dalam batu. Kemampuan ini membuatnya seperti sebuah laboratorium berjalan. Dengan sekali lihat, ia bisa tahu usia batu dan persentase kemurniannya hingga digit terakhir.
“Luar biasa... Dengan ini, tidak ada satu pun batu palsu atau manipulasi Tuan Feng yang bisa membohongiku,” batin Chen takjub.
Kilasan Takdir di Balik Retina
Namun, kejutan terbesar dari evolusi mata ajaib itu terjadi pada hari kelima latihan.
Sore itu, Mei masuk ke kamar Chen sambil membawa nampan berisi teh hangat dan camilan. Saat Mei melangkah mendekati meja usang di dekat ranjang, Chen secara tidak sengaja menatap tajam ke arah kaki Mei dengan fokus mata yang masih aktif.
Wush!
Tiba-tiba, sebuah kilasan gambar bergerak—seperti potongan video berdurasi dua detik—terproyeksi langsung di dalam otak Chen. Dalam kilasan itu, Chen melihat kaki Mei tersandung pinggiran karpet yang terlipat, membuat nampan di tangannya jatuh dan air teh panas mengguyur tangannya sendiri hingga melepuh.
Chen tersentak. Detik berikutnya, pandangannya kembali normal. Ia melihat Mei baru saja melangkah, persis satu meter di depan karpet yang terlipat itu. Kejadian yang dilihatnya tadi belum terjadi!
“Apakah itu... masa depan?” Jantung Chen berdegup kencang.
Tanpa membuang waktu, sebelum kaki Mei menyentuh ujung karpet, Chen langsung bangkit berdiri dengan kilat dan menarik lengan Mei dengan lembut namun sigap.
"Eh? Chen, ada apa?" Mei terkejut, tubuhnya limbung dan bersandar di dada Chen, tetapi nampan tehnya berhasil terselamatkan.
Chen melirik ke bawah, ke arah ujung karpet yang terlipat tajam. Jika ia tidak menarik Mei satu detik yang lalu, ramalan di matanya pasti sudah menjadi kenyataan.
Chen menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam badai keterkejutan di dalam dadanya. Ia tersenyum menatap kekasihnya. "Tidak apa-apa, Mei. Aku hanya merindukanmu. Sini, biar kubantu bawa nampannya."
Setelah Mei keluar dari kamar, Chen terduduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar karena bersemangat. Kesimpulannya sudah mutlak: Mata ajaib ini tidak hanya bisa menembus ruang, tetapi juga bisa menembus waktu. Matanya mampu melihat beberapa detik kejadian yang akan datang, sebuah kemampuan mutlak untuk mengantisipasi dan mengubah bahaya atau kejadian yang tidak diinginkan sebelum hal itu benar-benar terjadi!
Dengan struktur batuan yang bisa ia bedah secara visual dan kemampuan memprediksi masa depan jangka pendek, Chen tahu... di hari pertaruhan nanti, Tuan Feng tidak akan pernah tahu monster seperti apa yang sedang ia hadapi.