"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
happy reading guys
------------------------------
Bab 22: Siuman Sang Ksatria
Suara dengungan panjang dari mesin patient monitor yang sempat meruntuhkan seluruh sisa harapan di dalam ruang ICU terisolasi itu kini benar-benar telah sirna.
Bunyi alarm kematian yang memekakkan telinga berganti menjadi ketukan ritmis yang pendek dan konstan, menandakan grafik detak jantung Devan Mahendra yang merangkak naik secara stabil, membelah garis kritis maut.
Pip... Pip... Pip..
"Sinyal sinus pasien menguat! Tekanan darahnya mulai stabil secara mandiri setelah lonjakan tadi!"
perawat senior berseru dengan napas yang terengah-engah, wajahnya yang semula tegang kini dipenuhi ketakutan bercampur takjub.
Dokter kepala spesialis saraf perlahan menurunkan alat kejut jantung dari atas dada tegap Devan.
Pria paruh baya itu menyeka peluh di dahinya menggunakan lengan baju medis, lalu menatap Alta yang masih berdiri kokoh di sisi kanan ranjang dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Ini... ini benar-benar sebuah mukjizat medis yang tidak masuk akal," gumam dokter kepala itu dengan suara bergetar pelan.
"Aktivitas saraf Tuan Devan merespons frekuensi suara putranya secara mutlak. Jiwanya menolak untuk menyerah."
Anastasia Wijaya masih menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang, kedua tangannya mencengkeram erat jemari kanan Devan yang terasa mulai menghangat di atas pipinya yang basah oleh air mata.
Dadanya naik-turun dengan tidak teratur, menahan buncahan rasa lega yang teramat luar biasa hingga membuat seluruh persendian tubuhnya lemas tanpa daya.
"Devan... Devan Mahendra..." bisik Anastasia, suaranya parau dan terputus-putus di sela-sela isak tangisnya yang mulai mereda.
Di tengah keheningan ruangan steril yang hanya didominasi oleh bunyi mesin indikator, sebuah rintihan yang sangat lirih dan serak mendadak terdengar dari balik masker oksigen Devan.
"An... ya..."
Suara bariton yang semula selalu terdengar angkuh, dominan, dan dingin di dunia bisnis itu, kini terdengar begitu tipis dan ringkih, nyaris menyerupai bisikan angin malam yang rapuh.
Bersamaan dengan panggilan nama lama itu, sepasang kelopak mata Devan Mahendra perlahan bergerak-gerak kecil secara intens, sebelum akhirnya terbuka seutuhnya.
Netra elangnya yang legam perlahan bergerak, menyesuaikan diri dengan pendaran lampu ruang ICU yang remang.
Pemandangan pertama yang tertangkap oleh pudar penglihatannya adalah wajah Anastasia yang dipenuhi noda air mata, berdiri mendekap jemarinya dengan keputusasaan yang begitu pekat.
Devan menggerakkan jemari tangannya yang kaku dengan gerakan yang sangat lambat, membalas remasan tangan Anastasia secara lemah, lalu mengarahkan sisa kekuatannya untuk mengusap sudut mata mantan istrinya yang basah.
"Jangan... jangan menangis lagi, Anya... Ayah... tidak akan pergi..."
Anastasia tercekat sempurna, seluruh kalimat pembelaan diri dan ego gengsi batin yang ia pelihara selama lima tahun di Singapura mendadak runtuh tanpa sisa.
Pria ini terbangun dengan ingatan yang utuh seutuhnya. Pria ini mendengar seluruh jeritan hatinya saat flatline tadi.
"Kamu... kamu pria bajingan yang paling kejam, Devan Mahendra,"
desis Anastasia, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Ia tidak tahu harus marah atau bersyukur, namun remasan tangannya pada jemari Devan sama sekali tidak mengendur.
"Kamu sengaja membuatku panik setengah mati agar aku meneriakkan kata maaf itu, kan?!"
Devan menyunggingkan senyum tipis yang teramat getir di balik masker oksigennya—sebuah ekspresi ketulusan yang murni tanpa topeng keangkuhan yang belum pernah Anastasia lihat seumur hidupnya.
"Jika saya harus melompati gerbang kematian... hanya untuk mendengar kembali... untaian kata maaf dan ketulusan dari bibirmu, Anya... saya bersumpah akan melakukannya dengan sukarela seumur hidup saya."
Arka yang sejak tadi mendekap erat kaki Anastasia dengan tubuh yang gemetar ketakutan, perlahan mendongak.
Melihat sepasang mata elang ayahnya telah terbuka seutuhnya, bocah kecil itu langsung melepaskan pelukannya, berjalan mendekati tepi ranjang dengan sepasang mata bulat yang berbinar haru.
"Ayah... Ayah sudah bangun?"
bisik Arka lembut, air mata polos anak itu kembali menetes mengenai permukaan kulit lengan Devan yang dipenuhi bekas selang medis.
"Ayah jangan tidur lama-lama lagi ya... Arka takut kalau Ayah pergi ke langit..."
Devan menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah putra bungsunya, menatap Arka dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersyukur yang teramat luar biasa.
"Iya... Ayah sudah di sini, Arka... Ayah tidak akan tidur lagi..."
Sementara itu, Alta tetap berdiri mematung di posisi semula, menolak untuk menunjukkan kelemahan emosionalnya khas anak kecil.
Namun, sepasang netra elangnya yang tajam tidak lagi memancarkan penolakan dingin laksana es seperti saat insiden koridor kantor dulu.
Alta menarik napas panjang, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke tepi ranjang, menatap lurus ke dalam manik mata Devan.
"Anda sudah membuktikan janji seorang ksatria untuk bangun dari maut, Tuan Devan Mahendra," ucap Alta dengan nada suara yang begitu datar namun sarat akan kedewasaan batin yang luar biasa matang.
Alta perlahan meletakkan telapak tangan kanan kecilnya di atas lengan tegap Devan yang tidak terpasang infus.
"Jadi... saya akan menepati janji saya untuk menerima Anda sebagai pelindung kami mulai hari ini. Jangan pernah melanggar janji itu lagi di masa depan."
Mendengar kalimat ketegasan yang luar biasa berbobot dari putra sulungnya yang baru berusia empat tahun, Devan memejamkan matanya sejenak, merespons remasan hangat dari telapak tangan Alta dan dekapan kecil dari Arka di dadanya.
Karakter Alta benar-benar merupakan replika sempurna dari dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih bermoral dan protektif terhadap keluarga.
Lembaran takdir penderitaan dan fitnah kelam di antara mereka selama lima tahun kini telah resmi ditutup di fajar hari itu, digantikan oleh awal dari kembalinya aliansi keluarga penguasa yang sesungguhnya.
Namun, ketenangan sakral di dalam ruang ICU yang dipenuhi keharuan itu kembali terusik di detik-detik berikutnya.
Sekretaris Hendra yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu akses elektronik mendadak menerima sebuah notifikasi panggilan darurat baru pada gawai pintar miliknya.
Wajah sekretaris senior itu seketika berubah menjadi sangat tegang, guratan kecemasan yang teramat pekat memancar dari sepasang matanya.
Ia melangkah maju mendekati posisi Anastasia dengan kepala tertunduk, penuh rasa bersalah karena harus merusak momen kebahagiaan tersebut.
"Nona Anastasia, Tuan Devan... Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena harus menyela kondisi ini," bisik Hendra dengan nada suara yang bergetar menahan panik.
"Ada situasi darurat berskala tinggi baru saja terjadi dari markas kejaksaan dan kepolisian pusat."
Anastasia menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan genggaman tangannya dari Devan secara perlahan.
Sorot matanya seketika berubah menjadi sedingin es kutub, memancarkan kembali aura otoritas seorang pimpinan tertinggi Wijaya Corps.
"Ada apa lagi, Hendra? Samuel Amalia dan Paman Kornelius sudah ditangkap secara sah di ruang sidang bursa efek tadi, kan?"
"Benar, Nona. Samuel dan Kornelius sudah berada di dalam sel tahanan sementara kejaksaan," jawab Hendra cepat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Namun, satu jam lalu... saat proses pemindahan Siska Amalia menuju sel isolasi Lapas wanita Jakarta, sebuah mobil tahanan baja yang membawanya mendadak dihadang oleh sekelompok pria bersenjata tak dikenal di jalur arteri kota. Mereka menembaki ban mobil dan melumpuhkan petugas jaga menggunakan gas tidur."
Hendra menarik napas panjang, menatap Anastasia dan Devan dengan tatapan mata yang dipenuhi horor yang nyata.
"Siska Amalia... berhasil dilarikan secara paksa dari kawalan petugas kejaksaan, Nona! Mereka menghilang ke dalam jalur bawah tanah kota!"
------------------------------