Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Amukan Penguasa Palung Purba dan Tebasan Pemutus Arus
Laut yang semula tenang setelah hancurnya pangkalan Faksi Laut Selatan tiba-tiba bergolak kembali, namun kali ini dengan cara yang jauh lebih mengerikan.
Udara laut di sekitar kapal perang bertiang tiga milik Satria Pamungkas berubah warna menjadi hijau pekat bagaikan lumut beracun.
Lapisan tipis yang merambat di lambung kapal berganti menjadi duri-duri es tajam yang memancarkan hawa kematian dari kedalaman palung samudra.
GURRRRFLS...
Suara dengungan berfrekuensi rendah bergema dari dasar laut, getarannya begitu kuat hingga membuat papan-papan kayu geladak berdecit hebat.
Udara dalam radius satu kilometer secara tiba-tiba menjadi sangat dingin, membekukan setiap uap udara menjadi serpihan salju hitam yang jatuh dari langit.
Dyah Sekar Ayu segera membalas ancaman ini. Ia melompat ke haluan kapal, menyilangkan tangan persyaratan di depan dada sambil mengalirkan Mantra Cundamani ke seluruh jaringan kayu kapal untuk menahan laju pembekuan ghaib tersebut.
Wajahnya tampak tegang; Terjadinya spiritualnya sebagai keturunan berdarah suci memberi tahu bahwa entitas yang sedang naik dari dasar palung ini berada pada tingkatan yang jauh di atas Ki Ageng Segoro.
"Satria, ini adalah Ki Penjaga Arus Dalam !" seru Sekar Ayu dengan suara yang sedikit tertahan oleh tekanan udara yang kian memadat. "Dalam kitab-kitab kuno Blambangan,makhluk ini adalah manifestasi kemarahan samudra yang tertidur selama ratusan tahun. Kematian ribuan jiwa di Pulau Karang Terlarang tampaknya telah menodai palung tempat persemayamannya!"
Satria Pamungkas tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak di ujung anjungan depan, jubah hitamnya yang dilapisi lapisan es tipis berkibar kaku ditiup angin es. Sepasang mata emas murninya menatap lurus ke refleksi udara raksasa berdiameter dua ratus meter yang tiba-tiba terbentuk tepat dua kilometer di depan haluan kapal.
Dalam kesadaran ruangnya, sistem antarmuka hologram berkedip cepat dengan warna merah darah yang pekat.
[Bip! Mengunci Entitas Kuat: 'Ki Penjaga Arus Dalam' (Spesies: Leviathan Karang Purba).]
Ranah Kekuatan: Ranah Raja Tahap 3 (Awal).
Atribut Dominan: Elemen Air Mutlak, Energi Kematian Palung, Kebal Serangan Fisik Biasa (90%).
Kondisi Target: Terbakar oleh kemarahan ghaib, fokus penuh pada persatuan kapal Inang.
Estimasi Nilai Poin: 350.000 Poin Sistem jika berhasil dihancurkan secara total.
Melihat angka 350.000 poin tertera dengan jelas, kilatan keserakahan yang sedingin es membakar penampilan mata Satria.
Saldo poinnya yang saat ini tersisa 292.500 poin bisa langsung melesat melewati angka setengah juta jika ia berhasil memotong kepala monster purba ini.
Satria menganggap kemunculan makhluk ini bukan sebagai bencana, melainkan kiriman rezeki dari alam semesta untuk mempercepat tujuan menguasai daratan tengah Dwipantara.
"Sistem, siapkan sirkulasi penuh Prana Emas Ranah Raja-ku. Kali ini aku akan menggunakan seluruh kapasitas delapan permata rasi bintang secara bersamaan tanpa jeda," perintah Satria dalam pikirannya.
[Bip! Mempersiapkan pengisian daya energi kosmik skala penuh...] [Peringatan: Penggunaan energi maksimum pada Ranah Raja Tahap 1 akan terletak meridian tangan kanan sebesar 30%. Merekomendasikan perlindungan Tubuh Fisik Sisik Naga diaktifkan secara bersamaan.]
"Lakukan," jawab Satria pendek.
MENABRAK!
Dari dalam pusaran udara hijau pekat tersebut, sebuah wujud raksasa setinggi bukit perlahan membubung ke angkasa.
Makhluk itu menyerupai kombinasi antara belut purba raksasa dan naga laut, dengan kulit yang terbuat dari batuan karang hitam legam yang diisi oleh ribuan mata kecil berwarna hijau menyala.
Setiap kali makhluk itu mengembuskan napas, kabut beracun yang mampu meleleh dan menyembur ke udara.
ROOOOOOOARRRRRR!
Raungan Ki Penjaga Arus Dalam memicu gelombang tsunami setinggi tiga puluh meter yang bergerak cepat menghantam Satria.
Di atas punggung gelombang raksasa itu, ribuan duri sebesar tombak melesat menembus badai, mengarah langsung ke titik di mana Satria berdiri.
"Sekar Ayu, bawa kapal mundur lima ratus meter. Jangan biarkan racun palung menyentuh lambung bawah," perintah Satria datar.
Sebelum Sekar Ayu sempat membalas, tubuh Satria telah melesat tegak lurus ke udara menggunakan kemampuan Penerbangan Kosmik . Kecepatannya kini, setelah diperkuat oleh Inti Emas Ranah Raja , begitu luar biasa hingga meninggalkan dentuman sonik yang membelah gelombang tsunami di bawah menjadi dua bagian.
Sreeeeeeng!
Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan dicabut dari sarungnya.
Begitu bilahnya terekspos, delapan permata rasi bintang menyala serentak dengan cahaya putih-ungu yang menyilaukan langit malam, menantang ribuan mata hijau milik monster purba tersebut.
Efek pasif Kosmik Presesi melebar hingga radius dua kilometer, secara paksa memperlambat laju duri-duri es yang melesat ke sasaran.
Wush! Wush!
Menggunakan Kitab Langkah Bayang Angkasa , Satria melakukan teleportasi jarak pendek berturut-turut di udara, melintasi ribuan tombak es dengan akting seorang dewa perang yang sedang menari di atas medan kematian. Hanya dalam waktu tiga hela napas, sosoknya telah muncul tepat di atas kepala raksasa Ki Penjaga Arus Dalam .
Monster purba itu merasakan ancaman kematian yang nyata dari pedang pedang Satria. Ratusan tentakel karang yang tumbuh di sepanjang punggungnya tiba-tiba melesat naik, mencoba menjerat tubuh Satria dan menyeretnya masuk ke dalam mulut raksasanya yang dipenuhi taring es beracun.
“Makhluk rendahan dari dasar palung, kau melangkah keluar dari tempatmu hanya untuk menjadi pupuk bagi pedangku,” ucap Satria dingin.
Di bawah kulit tangan tempatnya, guratan-guratan emas Tubuh Fisik Sisik Naga menyala sangat terang, menahan tekanan energi internal yang melonjak drastis. Satria mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke atas kepala, mengunci fokus sukmanya pada titik inti kehidupan monster tersebut yang terdeteksi oleh sistem pemindaian berada tepat di balik karang pelindung dadanya.
"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Kedelapan: Runtuhnya Garis Langit Kosmik!"
Ini adalah level tebasan tertinggi yang bisa dieksekusi oleh Satria saat ini. Ketika pedang diayunkan, seluruh cahaya di perairan Segoro Getih tiba-tiba tersedot ke dalam mata pisau pedang, menciptakan ilusi kegelapan total selama satu detik sebelum akhirnya sebuah garis cahaya perak murni vertikal sepanjang satu kilometer membelah langit malam.
BRAKTTTTTT!
Tebasan kosmik tersebut menghantam tepat di kepala Ki Penjaga Arus Dalam dan melesat lurus hingga membelah tubuh batu karangnya dari ujung kepala hingga ke ekor. Kulit karang hitam yang kebal terhadap segala bentuk serangan fisik itu hancur menjadi debu vulkanik di hadapan kualitas energi kosmik tingkat tinggi.
BOOOOOOOOM!
Paparan energi kosmik memicu pusaran angin puyuh spiritual yang menghisap seluruh kabut beracun dan udara hijau di sekitarnya. Inti kehidupan makhluk purba tersebut—sebuah kristal hijau sebesar rumah—diretak dan meledak menjadi jutaan kepingan energi murni yang langsung menguap ke udara.
Tubuh raksasa Ki Penjaga Arus Dalam runtuh kembali ke dalam laut dengan deburan yang dahsyat, memicu gelombang terakhir sebelum akhirnya perairan Samudra Selatan benar-benar kembali menjadi tenang dan bersih dari sisa-sisa energi kematian.
[Bip! Anda telah berhasil menyalin 'Ki Penjaga Arus Dalam' (Ranah Raja Tahap 3 Awal).] [Mendapatkan: 350.000 Poin Sistem!] [Memicu Penyerapan Energi Sisa: Mengekstrak 10.000 Poin Energi Atribut Air Mutlak untuk memperkuat struktur internal pedang Inang.] [Total Saldo Poin Keseluruhan: 642.500 Poin!]
Satria melayang turun kembali ke atas geladak kapal perang dengan perlahan, nafasnya sedikit memburu namun wajahnya tetap menampakkan ketenangan yang mematikan. Tangan memperkirakan sedikit getaran akibat beban delapan belas, namun sistem segera mengalirkan energi pemulihan tipis untuk meredakan ketegangan meridiannya.
Dyah Sekar Ayu berdiri tergeletak di tempatnya, menatap riak air laut yang kini telah kembali normal. Seluruh tubuhnya bergetar bukan karena dingin, melainkan karena rasa takjub dan ngeri yang tak terlukiskan melihat seorang pria mampu membunuh dewa pelindung lautan hanya dalam satu tebasan yang sunyi.
“Yang… Yang Mulia,” suara Sekar Ayu berbisik lirih, penuh dengan ketundukan spiritual yang mutlak. "Anda benar-benar telah menguasai samudera ini."
Satria menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang tegas. Ia berjalan melewati Sekar Ayu menuju ke arah kemudi kapal, matanya menatap tajam ke arah utara di mana daratan tengah Dwipantara menanti di balik pemandangan pagi yang mulai merekah.
"Urusan kita dengan laut telah selesai, Sekar Ayu. Dengan keseimbangan kekuatan yang kumiliki sekarang, sekutu Kadiri dan Singasari hanyalah tahap pembunuhan berikutnya yang telah kusiapkan," ucap Satria dingin, membawa takdir badai baru yang siap menggemparkan seluruh daratan kerajaan.