Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Surat Gugatan
Pagi itu, aroma masakan Bu Wina masih tercium samar di ruang makan. Bima, yang baru saja selesai sarapan, merapikan kemejanya. Setelah mengambil cuti panjang untuk pernikahan keduanya, hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja. Ia berpamitan pada ibunya, suaranya terasa ringan, mencoba menyembunyikan kecemasan yang bersembunyi di dalam hatinya.
"Ibu, saya berangkat du..."
Kalimatnya menggantung di udara. Pintu gerbang rumah terbuka dan seorang kurir masuk dengan sebuah paket di tangannya. Raut wajah Bima langsung berubah. Entah kenapa, firasat buruk langsung menyergap.
"Permisi, apakah ini rumahnya Pak Bima?" tanya si kurir sopan.
"Iya, saya sendiri," jawab Bima dengan nada datar.
"Ini ada paket atas nama Anda." Setelah menyerahkan amplop cokelat itu, si kurir langsung pergi tanpa basa-basi.
"Sayang, itu apa?" tanya Nurma, yang sudah berdiri di samping Bima. Tanpa menunggu jawaban, ia merebut amplop itu dan membukanya. "Pengadilan Negeri Xxxx," gumamnya, matanya membesar saat membaca isi dokumen di dalamnya.
Bu Wina hanya diam di kursi makannya. Ia menghela napas panjang. Ia tahu betul, tidak ada wanita yang mau dimadu. Cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi.
"Akhirnya pernikahan kita bisa disahkan, Sayang! Bagus deh dia tahu diri," ucap Nurma dengan wajah berbinar, seolah itu adalah kabar paling membahagiakan di dunia.
Mendengar ucapan itu, Bima seolah tersambar petir. Kata-kata Nurma yang seenaknya itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga dirinya. Bima tidak terima. Ia direbutnya surat cerai itu dari tangan Nurma. Matanya membaca setiap kata di dalamnya, "Gugatan Cerai."
Amarah Bima memuncak. Tanpa memedulikan Nurma yang masih keheranan, ia bergegas keluar rumah dan menyalakan mobilnya. Tujuannya hanya satu: rumah Tiara. Sepanjang perjalanan, otaknya dipenuhi oleh ingatan akan Tiara, wanita yang telah ia sia-siakan.
Sesampainya di sana, Bima membunyikan klakson berulang kali. "Tiara, keluar kamu! Keluar!" teriaknya.
Para tetangga mulai berdatangan, mengintip dari balik tirai jendela. Mereka sudah hapal dengan drama rumah tangga Bima. Namun, Tiara tidak muncul. Wanita itu sudah menduga Bima akan datang mengamuk, jadi ia memutuskan untuk tidak berada di rumah. Tiara sudah berada di toko kuenya, bekerja seperti biasa.
"Tiara, awas saja kamu ya! Jangan bersembunyi!" teriak Bima kalap, suaranya menggelegar di jalanan sepi itu.
Karena tak mendapat jawaban, Bima akhirnya menyerah dan kembali ke mobilnya. Ia memutuskan untuk pulang dan melanjutkan drama ini sepulang kerja. Para tetangga hanya bisa menggelengkan kepala.
"Gila ya, suami begitu. Kalau aku, sudah kuobrak-abrik itu pelakor," kata seorang tetangga.
Tiara diam-diam saja, tapi langsung cerai. Jangan-jangan si laki mandul?" celetuk yang lain.
"Tapi Nurma kan sudah hamil," sela ibu yang lain lagi.
Gosip pagi itu memanas saat Nurma kembali datang ke rumah Tiara, kali ini dengan dandanan ondel-ondel dan riasan tebal.
"Mbak Tiara, keluar, Mbak!" teriaknya, suaranya yang dibuat-buat manja justru terdengar sumbang. "Bu, ibu... Tiara ke mana sih? Kan saya madunya yang baik hati, mau kasih support."
"Cih, dasar pelakor," para ibu mendecih. Mereka sudah muak dengan tingkah Nurma. Mereka meninggalkan Nurma dan kembali ke rumah masing-masing, memilih melanjutkan gosip melalui grup WhatsApp mereka yang lebih canggih.
"Ih, ditanya malah pada pergi sih!" kesal Nurma. Ia tidak tau Tiara tidak hanya diam. Toko kuenya sudah berkembang pesat dan Tiara baru saja merencanakan liburan akhir tahun bersama timnya sebagai hadiah atas kerja keras mereka.
Nurma akhirnya pulang. Di tengah jalan, ia dicegat oleh seorang pria yang mengendarai motor sport.
"Sayang, ayo naik," ajak pria itu.
Nurma langsung mengenali suaranya. Ia tersenyum dan naik ke boncengan, tak lupa memakai masker dan helm untuk menutupi identitasnya. "Sayang, kita akan ke mana?" tanyanya manja.
"Ke hatiku aja, Sayang," gombal pria itu.
Mereka melaju ke sebuah hotel di pinggir kota. Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka langsung masuk. Robi, nama pria itu, langsung memeluk Nurma erat.
"Sayang, aku kangen banget. Kamu masih berhubungan dengan si tua bangka itu?" tanyanya.
"Sudah tidak, Sayang. Dia tidak bisa memuaskanku," jawab Nurma tanpa malu sedikit pun. Lalu, nadanya berubah merajuk. "Kamu kenapa sih tidak mau tanggung jawab kalau aku hamil?"
Robi melepaskan pelukannya. "Ya enggak bisa, Sayang. Kamu tahu saya sudah punya istri. Kalau ketahuan, emangnya kamu mau mati di tangannya?"
"Sayangku Robi, minta uang, anakmu pengen jajan tahu," rengek Nurma, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Robi mendengus kesal. Ia belum juga mendapatkan uang dari istrinya, tetapi Nurma sudah meminta-minta. "Kamu tidak suka ya anak kamu minta jajan?" lirih Nurma, air matanya mulai menetes.
Melihat Nurma menangis, Robi langsung luluh. Ia sudah hafal betul trik ini. Nurma tahu kelemahan Robi adalah air mata.
"Ya sudah, Sayang, saya telepon dulu bendahara," kata Robi. Ia menjauh dari Nurma dan menelepon seseorang. Sementara itu, Nurma tersenyum misterius. Ia yakin, setelah ini ia bisa berbelanja sepuasnya. Robi selesai menelpon dan langsung kembali memeluk Nurma, meminta "jatahnya."
Mereka berdua bergulat di ranjang sampai sore.
Di tempat lain, Bima tidak bisa fokus bekerja.
Pikirannya terus melayang pada surat cerai dari Tiara. Apakah ia harus melepaskan wanita sebaik itu? Wanita yang setia, yang mandiri, dan yang selalu ada untuknya.
"Bangsat," umpat Bima dalam hati. Ia merasa sangat bodoh dan menyesal.
Sepulang kantor, Bima mengarahkan mobilnya ke toko kue Tiara. Selama ini, ia malu untuk mampir ke toko kecil itu. Namun, kini harga dirinya sudah hancur. Yang ia pedulikan hanya Tiara.
Sesampainya di toko, Bima terkejut. Toko Tiara tidak lagi kecil. Tempat itu sudah ramai, bahkan beberapa teman kantor Bima pun ada di sana. Tiara semakin cantik, dengan senyum yang ramah melayani pelanggannya. Hati Bima terasa teriris.
"Tiara," panggil Bima.
Tiara menoleh. Wajahnya datar. Ia sudah menduga Bima tidak akan melepaskannya dengan mudah. Bima mendekat, "Tiara, saya perlu bicara denganmu. Di rumah."
Tiara menghela napas. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat usahanya. "Baik," jawabnya. "Tunggu saya di mobil."
Bima menunggunya di mobil, sementara Tiara berpamitan pada pegawainya. "Tiara, semoga kamu bisa menyelesaikan masalah ini," bisik salah satu pegawainya. Tiara hanya tersenyum.
Di dalam mobil, Bima mencoba meraih tangan Tiara, tapi Tiara menarik tangannya. "Tidak perlu, Bima," kata Tiara. "Kita sudah sampai." Mereka masuk ke dalam rumah. Bima memandangi sekeliling. Rumah itu sama seperti saat ia tinggalkan, hanya saja terasa hampa.
"Tiara, aku... aku menyesal," ucap Bima.
Laras hanya diam, menunggu Bima melanjutkan kata-katanya. Ia sudah terlalu lelah dengan semua drama ini.
"Aku tidak mau berpisah denganmu," lirih Bima. "Aku akan membuang Nurma dan kembali padamu.Tiara tersenyum getir. "Kau tidak bisa, Bima. Kau tidak bisa membuangnya. Dia mengandung anakmu."
"Itu... bukan anakku," jawab Bima, suaranya bergetar.
Tiara menatap Bima dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Anak itu... itu anak Robi, mantan pacarnya," jawab Bima. "Aku baru tahu tadi sore."
Mata Tiara membesar. Ia tidak tahu harus merasa apa. Lega? Atau kasihan pada Bima?
"Kita bisa mulai lagi, Tiara," kata Bima, wajahnya penuh harap. "Aku akan menceraikan Nurma. Kita akan kembali seperti dulu."
Tiara menggeleng. "Tidak, Bima. Kau sudah menyakitiku terlalu dalam. Aku tidak bisa."
"Tapi Tiara, kita masih bisa..."
"Tidak, Bima. Aku tidak mau. Aku sudah punya hidupku sendiri sekarang. Aku tidak butuh kau lagi," potong Tiara. "Aku sudah memaafkanmu, tapi aku tidak bisa melupakan rasa sakitnya. Kita hanya akan saling menyakiti."
Bima terdiam. Air matanya Tiara sudah tidak lagi menjadi miliknya. Wanita yang ia sia-siakan itu sudah bahagia tanpanya.
"Pulanglah, Bima," kata Tiara.
Bima bangkit dari kursinya. Ia menatap Tiara untuk yang terakhir kalinya. Di mata Tiara, ia tidak melihat amarah, hanya kekosongan. Bima tahu, semua sudah berakhir. Ia melangkah keluar dari rumah itu, meninggalkan Tiara yang terdiam di dalam. Tiara tidak lagi menangis. Ia hanya merasa... bebas.