Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh
Kiran tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pria aneh itu benarkah Radit Makarim? Benarkah dia bos arogan dan killer itu? Bahkan Ari sendiri--adiknya, begitu takut dengannya.
Tidakkah ada yang salah di sini? Bukankah seharusnya pria itu mengenakan stelan resmi seperti jas dan dasi. Dikelilingi beberapa pengawal dan setidaknya asisten pribadi? Tapi kenapa dia hanya sendiri? Bahkan pakaiannya .... Kiran menghentikan tanda tanya besar yang bergelayut di pikirannya. Semua sudah terjadi, kini ia harus menghadapinya.
Ari menatap Kiran dan Radit bergantian dengan tatapan heran. "Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?"
"Sekretarismu menyerangku," jawab pria aneh itu, maksudnya Radit Makarim datar.
Ari terperangah. Melirik Kiran yang hanya menunduk membenarkan. Wajahnya kini tampak pias.
Kiran melirik Radit sekilas. Pria itu mengambil posisi kembali duduk di sofa, membelakangi dirinya. Ia bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya wajah malunya tidak akan dilihat pria itu untuk saat ini.
Pintu ruangan Ari terbuka. Pria dengan pakaian yang sama seperti Radit memasuki ruangan. Ia menghampiri Radit dan berbisik di telinganya. Radit tampak mengangguk. Kemudian ia juga tampak membisikan pria itu sebuah perintah.
Ari kenal pria yang masuk kemudian. Dia adalah Bara, teman sekaligus asisten pribadi Radit. Ari sungguh tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. Jika saja ia tahu maka ia akan memundurkan jadwal pertemuan dengan papa Marissa. Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat. Siapa sangka kakaknya yang biasanya begitu resmi dan rapi, hari ini jadi berbeda?
"Baiklah Nona Sekretaris .... Sudah berapa lama anda bekerja di sini?"
"Satu tahun sebelas bulan, Pak." Kiran menjawab dengan tegas.
"Ada yang ingin Anda katakan kepada saya, Nona Sekretaris?" Radit masih duduk dengan santai di sofa, wajahnya tak berpaling untuk melihat Kiran yang berada di belakangnya. Bara tampak sibuk dengan tabletnya, mengecek sesuatu.
"Tidak ada, Pak," jawab Kiran singkat.
Ari melongo. Oh, Kiran ... tidak kah ia ingin meminta maaf pada Radit sekarang. Wanita gunung es ini memang tidak peka, sesalnya dalam hati.
Ari pun memberi kode kepada Kiran lewat lirikan matanya dan kepalanya yang menunduk ke bawah. Berharap Kiran tahu bahwa ia sedang meminta Kiran untuk meminta maaf pada Radit. Kiran mengangguk. Ari bersorak dalam hati sebab Kiran bisa memahami petunjuknya. Ternyata mereka memang berjodoh, batinnya. Mereka bahkan bisa berkomunikasi hanya melalui isyarat saja.
Sementara Kiran sendiri ternyata tidak memahami bahwa Ari menyuruhnya melihat ke bawah adalah untuk meminta maaf. Ia pun melihat lantai tempat ia berdiri. Map merah itu berada di dekat kakinya. Maka ia berpikir Ari menyuruhnya untuk mengambil map merah itu. Kiran bergerak, berjongkok, mengambil map merah yang tergeletak di lantai itu dengan segera. Setelah selesai ia menunjukkan map merah itu kepada Ari.
Jika bisa Ari ingin pingsan saja saat ini. Ari membuang nafas dengan kesal. Kiran tak paham sama sekali akan maksudnya. Bagaimana mungkin wanita yang begitu pintar masalah perusahan bisa begitu bodoh masalah perasaan? batin Ari kecewa.
"Kamu mengkhawatirkannya, Ari?" Radit mengetahui jika Ari telah memberikan isyarat agar sekretarisnya meminta maaf padanya. Ternyata adiknya khawatir akan nasib sekretarisnya ini.
"Kamu begitu peduli padanya. Akan kucarikan nanti sekretaris baru yang lebih baik darinya, dan tentunya lebih cantik."
Kiran membeku di tempat. Begitu juga Ari. Mereka sama-sama menebak arah kebijakan Radit berikutnya. Dia benar-benar marah rupanya atas apa yang telah Kiran lakukan.
"Dia wanita Ari, Kak .... Ari baru saja ingin membawanya menemui Mama hari ini. Dia juga yang selama ini membantu Ari mengelola perusahaan, Kak. Kakak kan tahu sendiri Ari belum berpengalaman di bidang ini." Suara Ari terdengar memohon.
Kiran merunduk dalam. Rasa bersalah menghinggapinya. Ia yang melakukan kesalahan, tapi Ari yang memohon untuknya. Padahal menurut hematnya tidak ada satupun kesalahan yang telah dilakukannya.
"Tapi aku tidak mau melihat wajahnya lagi disini!"
Kiran mendongak. Menelan salivanya dengan susah payah. Begitu juga Ari. Ia terlihat begitu pias.
"Saya mohon maaf sebelumnya, Pak. Tapi jika boleh tahu, apakah kesalahan saya?" Kiran memberanikan diri. Setidaknya jika ia dipecat setelah ini, ia akan puas karena telah mengatakan apa yang diyakininya.
Radit tersentak kaget. Ia berdiri seketika. "Mohon maaf juga Nona Sekretaris, Apakah anda benar-benar tidak tahu apa kesalahan anda? Atau anda pura-pura tidak tahu?" Radit berbalik menatap Kiran. Bibirnya menyunggingkan senyuman, namun Kiran tahu senyuman itu bermakna intimidasi.
"Saya benar-benar tidak tahu, Pak," tegas Kiran.
Ari melotot begitu juga Radit. Bara yang sedari tadi tidak tahu akar permasalahan yang terjadi di ruangan ini hanya diam mendengarkan. Sesekali ia tampak menelpon seseorang lewat ponselnya. Ia berbicara dengan suara yang sangat pelan.
"Anda menyerang saya. Tidakkah itu salah, Nona Sekretaris?"
"Mohon maaf atas kebodohan saya, Pak. Tapi semua yang terjadi murni karena saya menjalankan tugas saya."
"Lalu apakah tugas seorang sekretaris termasuk mengintimidasi tamu, Nona?"
"Jika tamu yang datang adalah tamu tak dikenal. Tidak ada agenda pertemuan dengan atasan. Tidak koperatif saat ditanya alasan berkunjung. Gerak-geriknya juga mencurigakan. Lalu salahkah saya berpikir untuk mengamankan tamu tersebut sebelum sesuatu terjadi di dalam ruangan atasan saya tanpa sepengetahuan saya. Sementara atasan saya berada di luar. Tentunya ruangan atasan saya menjadi tanggung jawab saya untuk menjaganya."
Radit tercekat. Kiran memang benar. Jika sekretarisnya berbuat seperti apa yang dilakukan Kiran tentu ia tidak akan marah. Nona ini cukup cerdas ternyata, pikirnya. Ia terlalu marah tadi saat Kiran membohonginya. Hingga ia memilih diam ketika Kiran menanyakan maksud dan tujuan kedatangannya.
Sementara kini Ari tersenyum bangga. Kiranku memang hebat, pikirnya. Sudah kukatakan, jika tindakan yang berkaitan dengan pekerjaan, pola pikirnya sama seperti pria. Kakakku saja kehilangan kata-kata. Luar biasa.
"Tidak ada catatan kelalaian dalam pekerjaannya, Dit. Ia selalu tepat waktu. Dalam dua tahun hanya sekali ia terlambat. Itupun karena dua hari sebelumnya ia melakukan perjalanan dinas dengan Ari keluar kota," bisik Bara dengan sangat pelan di telinga Radit.
Ternyata tadi Radit meminta Bara untuk mengecek kinerja Kiran. Memastikan tindakan apa yang akan diambilnya untuk nona sekretaris-- yang sangat kurang ajar baginya--itu sepadan. Radit tetap menjalankan profesionalisme dalam mengambil kebijakan.
"Baik. Anda boleh keluar sekarang." Radit mengibaskan tangannya pada Kiran kemudian kembali duduk di sofa. Kiran memberikan map merah kepada Ari kemudian berjalan ke luar ruangan.
Begitu Kiran pergi, Ari mendekati Radit di sofa. Ia ikut duduk di sebelahnya. "Bagaimana pilihan Ari, Kak? Mantabkan?" melirik Radit dengan mata berbinar.
"Aku malah takut kamu akan dikendalikannya nanti."
"Kakak jangan khawatir. Ari paling jago menaklukan wanita. Ketika dia takluk pada Ari, maka dia akan berada dalam kendali Ari."
"Tapi Kakak mau kamu tetap berhati-hati padanya. Wanita itu suka berbohong."
"Setahu Ari, dia tidak pernah berbohong, Kak. Malah terlalu jujur, menurut Ari."
"Berarti kamu belum mengenal dia sepenuhnya."
Ari menatap Radit heran. Tidak percaya dengan kata-kata Radit barusan. Tidak mau ambil pusing, ia menyerahkan map merah itu kepada kakaknya itu. Tujuan Radit pada hari ini sedari awalnya adalah map merah itu.
"Awal bulan Kakak minta pertanggungjawabanmu selama bekerja di sini. Pastikan laporan yang kamu buat bisa membuat Kakak senang. Jika kamu berhasil memenuhi ekspektasi kakak, maka kamu boleh meminta asisten pribadi pada Kakak."
Ari berbinar. Memang sedari dulu ia minta dibolehkan punya asisten pribadi. Namun Radit menolaknya. Menurut Radit, Ari harus menunjukkan kinerja yang baik dulu dalam mengelola perusahaan sebelum memilikinya.
Padahal jika secara nominal, tanpa bekerja pun Ari sanggup menggajinya. Sebab pemberian uang saku papa untuknya terbilang lumayan. Namun ini berkaitan dengan tanggung jawab dan pemborosan. Begitu yang disampaikan Radit.
Binar di matanya seakan hilang seketika. Ari baru sadar, awal bulan depan itu hanya satu pekan jaraknya dari hari ini. Itu artinya Kakaknya memberikan tugas yang harus dikerjakannya segera. Ia menghela nafas panjang. Memikirkannya saja sudah membuatnya lelah.
"Haruskah awal bulan, Kak?"
"Tentu saja. Aku ingin segera menilai kinerjamu, Ari. Semakin ditunda maka akan semakin lama Kakak menilai. Itu tidak baik untuk perusahaan jika kamu memang tidak sanggup."
Kalimat Radit menohok hati Ari. Kakaknya suka sekali mengatakan hal-hal jujur yang terkadang pedih sekali untuk didengar.
"Baiklah, Kak. Jika kinerja Ari baik, maka persiapkan orang terbaik kakak untuk menjadi asisten Ari. Ari ingin orang seperti Bara," ucap Ari yakin.
"Jangankan satu asisten pribadi, sepuluh pengawal pun boleh kamu miliki jika kinerjamu sesuai dengan apa yang kakak harapkan. Maka lakukan yang terbaik. Awal bulan Kakak akan datang dan melihat presentasi kinerjamu. Kamu siapkan dari sekarang." Radit berdiri mengacak pelan rambut Ari lalu beranjak pergi. Bara dengan setia mengikutinya.
Kiran menganggukan kepalanya tatkala Radit dan Bara melewati meja kerjanya.
...***...
"Bara, jika kamu disuruh memilih antara akal dan hati. Manakah yang lebih kamu pilih?" tanya Radit ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa maksudmu?"
"Jika akalmu mengatakan bahwa seseorang itu buruk namun hatimu mengatakan sebaliknya. Manakah yang akan lebih kamu percayai?"
"Aku pernah mendengar nenekku berkata, jika kamu ingin tahu benar atau salahnya tindakanmu maka tanyakan saja hatimu. Jadi menurutku tanyakan saja hatimu. Terkadang tampilan seseorang tidak membuktikan kebenaran apa yang ada di dalam. Sama seperti dirimu hari ini yang dianggap pria aneh oleh nona sekretaris itu."
"Sialan, Lo." Radit membuang pandangan ke luar jendela.
Radit memang sengaja berpakaian tidak resmi hari ini. Ia ingin mengecek kinerja pegawai di kantor Ari. Jika ia datang sebagai Radit yang biasa, ia tentu tidak akan mendapatkan kondisi yang sebenarnya. Maka ia pun mengajak Bara untuk berpakaian yang sama dengannya.
Ketika Kiran mengatakan ada pria berpakaian sama dengan dirinya di luar kantor, ia mengira Bara lah tadi yang dimaksud. Namun ia sangat kecewa ketika yang terjadi adalah ia dibohongi oleh Kiran.
Radit adalah orang yang paling benci kebohongan. Orang yang berbohong baginya adalah orang yang selamanya tidak bisa ia percaya. Maka dengan kebohongan yang Kiran lakukan hari ini seharusnya ia membenci gadis itu.
Akan tetapi hatinya menolak kebencian itu. Hal itulah yang mengganggunya. Seperti ada perasaan aneh yang tak dimengerti oleh Radit. Ia merasa familiar dengan Kiran. Bahkan seperti ada tarikan dari dalam hatinya untuk mengajak mengenal Kiran lebih jauh.
Pastinya setelah ini, meskipun hatinya berkata seperti itu, ia tetap harus berhati-hati pada Kiran. Apalagi ia ingat benar kata-kata perempuan itu tadi bahwa untuk mencapai tujuan diperlukan kebohongan-kebohongan kecil.
Ditambah lagi adiknya mengatakan bahwa Kiran adalah wanitanya. Apakah gadis itu sudah merayu Ari? Ia harus mengeceknya segera.
"Bara, cari tahu informasi tentang pribadi sekretaris Ari tadi! Termasuk perjalanan yang telah mereka lakukan bersama. Interogasi juga pengawal yang aku tugaskan untuk menjaga Ari kemarin. Aku ingin laporannya segera!" Bara mengangguk cepat sembari tetap mengemudi dengan tenang.
❤❤❤💖