NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pagi itu, langit Mexico dibalut awan kelabu yang tebal. Keheningan yang menyiksa selama seminggu terakhir di kediaman keluarga Kenzo mendadak pecah bukan oleh kepulangan Kenzo, melainkan oleh sebuah kabar resmi yang dikirimkan langsung dari kantor pusat holding di London.

Clara baru saja menuruni tangga menuju ruang tengah ketika ia melihat Kevin berdiri di dekat pintu kaca taman. Pria tegap yang biasanya berwajah dingin tanpa ekspresi itu kini memegang sebuah dokumen tebal dengan raut wajah yang sulit diartikan, ada campuran ketegangan dan keraguan yang amat sangat di matanya. Langkah Clara terhenti. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur.

"Kevin... Apakah ada kabar dari Kenzo?"

Kevin menoleh, membungkuk hormat, lalu terdiam sejenak seolah menimbang setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.

"Tuan Kenzo baru saja menghubungi Tuan Besar, Miss Clara. Beliau... telah memunculkan diri kembali di London."

Sebuah hembusan napas lega yang teramat besar sempat lolos dari dada Clara. Pria itu selamat. Kenzo tidak mati, tidak diculik, dan tidak menghilang selamanya. Rasa cemas yang merajuk jiwanya selama beberapa hari terakhir mendadak luluh seketika. Namun, lega itu hanya bertahan selama satu detik sebelum Reno melanjutkan kalimatnya dengan suara rendah yang amat dingin.

"Tuan Kenzo baru saja menandatangani kesepakatan konsolidasi bisnis dengan keluarga ekspatriat di Inggris,"

ujar Kevin, matanya sengaja dialihkan dari tatapan Clara.

"Beliau... menyetujui usulan Tuan Besar untuk bertunangan dengan Lady Eleanor, wanita yang sempat dijodohkan dengan beliau beberapa waktu lalu."

DEG.

Dunia di sekitar Clara seolah berhenti berputar seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya menguap tanpa sisa. Warna di kulit wajahnya memudar habis, menyisakan pucat pasi yang menakutkan.

"A... apa?"

suara Clara keluar bagai bisikan lirih yang hampir tak terdengar.

"Kau... bercanda?"

"Ini kabar resmi dari sekretariat pusat di Mayfair, Miss Clara,"

balas Kevin datar seraya menyerahkan lembaran salinan rilis pers internal yang baru diterbitkan.

"Pesta pertunangan Tuan Kenzo dan Lady Eleanor akan digelar di London pada akhir bulan ini. Seluruh aset holding di Eropa kini resmi menyatu di bawah nama mereka berdua."

Jemari Clara yang gemetar hebat meraih kertas licin itu. Matanya yang memburam oleh air mata menatap foto yang terpampang di halaman utama. Di sana, di bawah sorotan lampu kristal balai lelang ternama London, berdiri Kenzo dalam balutan tuxedo hitam yang sangat elegan. Di sampingnya, merangkul lengan kekar Kenzo dengan senyum kemenangan yang anggun, adalah seorang wanita berambut pirang dengan gaun malam mewah, wanita yang sama yang dulu pernah mengirimkan foto godaan ke ponsel Kenzo.

Wajah Kenzo di dalam foto itu tampak sangat tenang, dingin, dan tak tersentuh. Sama sekali tidak ada jejak kecemasan atau obsesi gila yang biasanya memancar dari mata gelapnya setiap kali menatap Clara. Kertas di tangan Clara terlepas, melayang jatuh ke atas lantai marmer.

Rasa sakit yang menghantam dada Clara begitu hebat, lebih menyiksa daripada teror atau gertakan kasar yang pernah ia terima dari Kenzo selama ini. Ini bukan lagi rasa takut akan dikurung, ini adalah kenyataan pahit bahwa pria yang selama ini mengklaim dirinya sebagai milik abadi, kini telah memilih wanita lain untuk mendampingi takhtanya.

"Tidak... ini tidak mungkin..."

bisik Clara, menggelengkan kepalanya perlahan saat rasa mual dan pusing menghantam kepalanya sekaligus.

"Dia pernah bilang aku adalah miliknya... Dia bilang tidak ada wanita lain..."

"Tuan Kenzo adalah seorang pengusaha, Miss Clara,"

potong Kevin dingin, meski ada sedikit pancaran iba di matanya.

"Dalam dunia Tuan Besar dan Tuan Kenzo, kepemilikan emosional selalu bisa dikompromikan demi kekuasaan yang mutlak. Beliau telah memilih jalannya di London."

Langkah kaki Clara terasa sangat berat saat ia merangkak naik kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, dan merosot lunglai di balik pintu kayu yang tebal. Air matanya pecah. Tangisnya mengguncang seluruh tubuhnya.

Clara memeluk kedua lututnya di atas lantai dingin, meremas dadanya yang terasa begitu sempit dan menyakitkan. Selama berbulan-bulan, ia mengira bahwa dirinya adalah korban dari obsesi gila Kenzo. Ia mengira bahwa ia membenci cara Kenzo mengontrol seluruh desah napasnya, mengutuk cara pria itu menjauhkannya dari pria lain, dan mendambakan kebebasan dari cengkeraman sang predator.

Namun hari ini, saat kebebasan itu benar-benar diberikan di depan matanya—saat Kenzo berpaling dan menyerahkan posisi di sampingnya kepada wanita lain, Clara akhirnya harus mengakui kenyataan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Ia telah hancur sepenuhnya. Dan kehancuran itu bernama cinta.

Ia telah jatuh cinta pada pria yang mengurungnya. Ia telah tergantung pada rasa aman beracun yang diberikan Kenzo. Kehadiran Eleanor di samping Kenzo bukan hanya melukai harga dirinya, tetapi meremukkan seluruh jiwa dan harapannya hingga tak berbekas.

Clara meraih ponselnya dari atas kasur dengan jemari yang begitu lemah. Ia membuka obrolan pribadinya dengan Kenzo yang sudah berhari-hari membisu. Foto profil pria itu masih sama, dingin dan tidak tersentuh.

Dengan air mata yang menetes membasahi layar kaca, Clara mengetik sebuah pesan singkat dengan tangan gemetar.

Apakah ini alasanmu menghilang dariku? Apakah semua janjimu bahwa aku adalah milikmu hanyalah kebohongan besar, Kenzo?

Pesan itu terkirim. Clara menatap dua centang di layar, menunggu dengan napas tertahan dan jantung yang berdegup liar. Satu menit... lima menit... sepuluh menit berlalu.

Centang berubah menjadi biru. Kenzo telah membaca pesannya.

Namun, tidak ada balasan. Tidak ada panggilan telepon yang biasanya langsung masuk dalam hitungan detik. Tidak ada kata-kata posesif yang menuntutnya untuk tidak menangis. Hanya ada keheningan dingin yang menandakan bahwa Kenzo sengaja membiarkannya tenggelam dalam kesakitan itu.

Clara melempar ponselnya ke ujung kasur, menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya di tengah kamar yang terasa makin asing dan menakutkan.

Sangkar emasnya tidak benar-benar menghilang, sangkar itu hanya ditinggalkan oleh sang pemilik, menyisakan Clara yang terkurung sendirian dalam kebingungan dan keputusasaan yang tak bertepi.

Setiap detik yang berlalu kini terasa bagaikan sembilu yang mengiris dada Clara tanpa ampun. Ia memandangi cermin di sudut kamar, menatap pantulan dirinya sendiri yang tampak begitu asing, seorang wanita yang telah kehilangan arah setelah jiwanya dirampas dan ditelantarkan begitu saja oleh sang pemilik. Betapa ironisnya, kebebasan yang dulu sangat ia dambakan kini justru menjelma menjadi neraka paling dingin yang pernah ia huni.

Ia kembali menatap layar ponselnya yang tetap membisu tanpa ada sedikit pun niat dari Kenzo untuk mengetik balasan. Kesadaran bahwa Kenzo kini mungkin sedang menggenggam jemari wanita lain di London membakar habis sisa-sisa ketahanannya. Clara memeluk kaos tangan milik Kenzo yang masih ia simpan di lemari, menyerahkan seluruh kesadarannya pada duka yang meremukkan, seraya meratapi cintanya yang telah terlambat dan terlanjur beracun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!