Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Grrr.
Babi Hutan Taring Darah itu kembali mengais tanah dengan kuku depannya.
Mata merahnya menatap Adit seolah melihat sepotong daging segar yang siap disantap.
"Maju sini kau, babi jelek!" teriak Adit memancing amarah hewan buas itu.
Babi besar itu menggeram keras dan melesat maju dengan kecepatan penuh.
Udara di sekitar berdesir kencang akibat terjangan tubuh besarnya.
Adit memasang kuda-kuda dan mengayunkan parang di tangan kanannya sekuat tenaga.
Targetnya adalah leher babi hutan yang terlihat sedikit tidak terlindungi.
Trang.
Suara nyaring logam beradu dengan benda keras bergema di tengah hutan.
Tangan Adit terasa kebas dan parangnya terpental ke udara.
"Gila, kulitnya benar-benar sekeras baja murni!" batin Adit panik.
Ia segera berguling ke samping untuk menghindari serudukan taring mematikan tersebut.
Bruk.
Babi hutan itu menabrak batu besar di belakang Adit hingga batunya hancur berkeping-keping.
Hewan itu menggelengkan kepalanya dan berbalik menatap Adit dengan tatapan yang lebih buas.
"Sistem, buka Toko Sistem sekarang juga!" teriak Adit dalam hati.
"Tampilkan skill pertarungan fisik yang bisa kubeli dengan Poin Pengalamanku saat ini!"
[Memproses permintaan Tuan.]
[Ditemukan 3 Skill yang sesuai dengan jumlah Poin Pengalaman 3140 Poin.]
[1. Langkah Angin Puyuh Harga: 1500 Poin - Meningkatkan kecepatan lari.]
[2. Kulit Besi Dasar Harga: 2000 Poin - Menahan serangan fisik ringan.]
[3. Teknik Tinju Penghancur Batu Harga: 2500 Poin - Mengalirkan energi spiritual ke kepalan tangan untuk menghancurkan benda keras.]
"Aku tidak butuh lari, aku butuh membunuhnya!" gumam Adit dengan cepat.
"Beli Teknik Tinju Penghancur Batu sekarang juga!"
[Dikonfirmasi. Mengurangi 2500 Poin Pengalaman.]
[Mentransfer memori otot dan teknik ke dalam tubuh Tuan.]
Seketika, kepala Adit terasa pusing selama beberapa detik.
Ribuan gambar gerakan bela diri mengalir masuk ke dalam otaknya seperti kaset yang diputar dengan sangat cepat.
Aliran panas mengalir dari pusarnya menuju lengan kanan dan berpusat di kepalan tangannya.
Groaaar.
Babi hutan itu tidak memberikan waktu istirahat dan kembali menerjang dengan mulut terbuka lebar.
"Coba rasakan ini, babi sialan!" teriak Adit penuh percaya diri.
Ia tidak menghindar, melainkan mengambil langkah maju menyambut terjangan tersebut.
Kepalan tangan kanan Adit mulai memancarkan cahaya putih yang agak redup.
Saat moncong babi itu tinggal berjarak satu jengkal, Adit melepaskan tinjunya sekuat tenaga.
Buaaaagh.
Suara ledakan tumpul terdengar sangat keras saat kepalan Adit menghantam dahi babi raksasa tersebut.
Gelombang kejut kecil menyapu debu dan daun kering di sekitar mereka berdua.
Kriet.
Suara tulang retak terdengar menyusul benturan dahsyat itu.
Tubuh raksasa Babi Hutan Taring Darah itu langsung terpental ke belakang sejauh tiga meter.
Gedebuk.
Babi itu jatuh berdebum di atas tanah dan kejang-kejang selama beberapa detik sebelum akhirnya diam tak bergerak.
Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya.
Adit berdiri terengah-engah sambil menatap kepalan tangan kanannya yang masih mengeluarkan asap tipis.
"Kuat sekali efek tinju ini," gumam Adit takjub melihat hasil serangannya.
[Pemberitahuan Sistem: Tuan berhasil mengalahkan Babi Hutan Taring Darah Level 1.]
[Mendapatkan 1000 Poin Pengalaman.]
[Mendapatkan Item Drop: 2 Taring Darah, 50 Kg Daging Babi Spiritual, 1 Inti Binatang Buas.]
[Semua item otomatis disimpan di dalam Inventaris Sistem.]
Adit tersenyum puas melihat mayat babi di depannya tiba-tiba menghilang menjadi butiran cahaya.
Kini tidak ada lagi yang menghalanginya dari kolam Mata Air Suci.
Ia berjalan mendekati kolam kecil yang memancarkan cahaya biru terang itu.
Hawa sejuk seketika menghilangkan rasa lelah di sekujur tubuhnya saat ia mendekat.
"Sistem, mulai proses pembangunan Cetak Biru Irigasi Mata Air Suci," perintah Adit.
[Dikonfirmasi. Memindai koordinat Mata Air Suci...]
[Proses Pembangunan Irigasi Gaib sedang berlangsung.]
[Menyambungkan aliran energi air ke lahan pertanian Tuan.]
Air di dalam kolam itu tiba-tiba berputar membentuk pusaran kecil.
Sebuah cahaya biru melesat dari dasar kolam menembus tanah dan menghilang ke arah Desa Sukamaju.
[Pembangunan Selesai.]
[Seluruh tanaman dan ternak Tuan kini mendapatkan pasokan Air Spiritual tingkat rendah secara otomatis.]
"Akhirnya beres juga urusan di tempat seram ini," ucap Adit lega sambil mengusap keringat di dahinya.
Ia segera berbalik arah dan berjalan pulang menelusuri jalan setapak yang sama.
Matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan hari sudah menjelang sore.
Satu jam kemudian, Adit sampai di pekarangan belakang rumahnya dengan selamat.
Ia melihat Bang Jarwo dan Bang Sopo sedang berjongkok di dekat saluran air kebun dengan wajah kebingungan.
"Ada apa ini, Bang?" sapa Adit santai dari arah belakang mereka.
Keduanya terlonjak kaget dan langsung menoleh dengan cepat.
"Ya ampun, Bos! Syukurlah Bos sudah pulang dengan selamat!" seru Bang Sopo sangat lega.
"Kami baru saja mau lapor ke Pak RT kalau setengah jam lagi Bos tidak muncul," tambah Bang Jarwo.
"Tapi ngomong-ngomong, Bos lihat saluran air kita ini tidak?"
Adit melangkah mendekat dan melihat ke dalam parit kecil yang mengelilingi kebunnya.
Air yang mengalir di sana kini sangat jernih dan memancarkan sedikit warna kebiruan yang indah.
"Airnya kenapa, Bang? Bukannya jernih begini malah bagus?" tanya Adit pura-pura tidak tahu.
"Ini bukan jernih biasa, Bos," jawab Bang Jarwo sambil mencelupkan tangannya ke dalam parit.
"Air sumur kita biasanya agak keruh dan bau tanah, tapi yang ini malah wangi seperti daun mint."
"Iya, Bos. Tadi saya iseng cuci muka pakai air ini, jerawat di dahi saya langsung kempes," sambung Bang Sopo antusias.
Adit tertawa pelan mendengar keluguan dua pekerjanya itu.
"Itu karena saya baru saja memasang filter air khusus di pompa utama tadi pagi sebelum pergi."
"Air jernih ini akan membuat tanaman dan ternak kita jauh lebih sehat dari sebelumnya."
Bang Jarwo dan Bang Sopo mengangguk-angguk percaya tanpa curiga sedikit pun.
"Bos memang paling pintar kalau soal teknologi pertanian."
"Nah, karena tugas hari ini sudah selesai, kalian berdua boleh pulang lebih awal," kata Adit.
"Besok pagi kita harus bersiap menyambut pembeli baru lagi."
"Siap, Bos! Kami pamit pulang dulu kalau begitu," ucap keduanya serempak sebelum berjalan meninggalkan halaman rumah.
Adit memandangi kebunnya yang kini dialiri air jernih dengan perasaan sangat puas.
Rencananya berjalan sangat lancar hari ini tanpa ada hambatan yang berarti.
Ia tidak sabar melihat seberapa cepat tanaman dan ternaknya akan tumbuh besok pagi.
Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel di saku celananya.
Ting.
Adit mengambil ponselnya dan melihat satu pesan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal.
Isi pesan itu cukup singkat namun membuat senyum di wajah Adit memudar seketika.
"Aku tahu dari mana asal uang dua miliarmu itu. Temui aku di cafe ujung kota malam ini, atau rahasiamu terbongkar."
Adit meremas ponselnya dengan kuat.
"Sepertinya ada tikus lain yang harus kuurus malam ini," gumamnya dengan nada suara yang sangat dingin.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.