NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Namanya, Sekar

Narendra berdiri dengan rambut menetes, dada telanjang, dan handuk terikat rendah di pinggang.

Sekar lupa berkedip.

Air mengalir dari leher Narendra melewati dada serta garis perutnya. Pria itu baru saja mandi air dingin, tetapi kulitnya masih panas. Tatapannya ikut membeku saat melihat Sekar.

"Sekar?"

Untuk pertama kalinya ia menyebut namanya tanpa `Mbak` atau jarak lain. Suara rendah itu membuat Sekar sadar sedang menatap terlalu lama.

Ia mengangkat kantong. "Ini ketinggalan."

"Memang buat kamu."

"Semua?"

"Kamu teman makanku. Simpan."

Narendra bergeser, menggunakan daun pintu untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Hanya mengingat telapak Sekar di dada sudah membuat reaksinya kembali.

"Terima kasih," kata Sekar cepat.

Ia berbalik dan hampir berjalan ke arah lift sebelum sadar pintunya berada di seberang. Narendra menahan senyum.

Sekar masuk ke unit, menutup pintu, dan menempelkan kantong makanan ke dada. Bayangan Narendra tidak mau pergi: rambut basah, air di tulang selangka, dada yang tadi berada di bawah telapak tangannya, serta handuk yang terikat terlalu rendah.

Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas, lalu lupa hendak melakukan apa. Keripik dimasukkan ke rak dingin sebelum segera diambil lagi.

"Sekar, sadar," gumamnya.

Mereka hanya teman makan. Narendra baru selesai mandi karena bajunya basah. Tidak ada alasan mengubah kejadian biasa menjadi sesuatu yang lain.

Namun ketika Narendra menyebut namanya, suara itu terasa terlalu dekat, hampir seperti belaian.

Sekar menyimpan makanan dan membasuh wajah. Air dingin tidak membantu. Malam itu, setiap kali memejamkan mata, ia melihat satu tetes air bergerak turun di dada Narendra.

Ia tidak tahu pria di seberang sedang mengalami kekacauan yang jauh lebih parah.

Begitu pintu tertutup, ia bersandar di sana dan perlahan duduk di lantai.

Tubuhnya keras lagi.

Handuk di pinggang terasa semakin sempit. Narendra menekan kepala ke daun pintu, berusaha menghitung napas, tetapi setiap tarikan udara masih membawa aroma samar sampo Sekar yang tertinggal di lorong.

Ia mengenali reaksi tubuhnya dengan sangat jelas sekarang. Darah berkumpul cepat, penis menegang penuh, dan rasa nyeri muncul karena ia terus menahan diri. Tidak ada rangsangan lain. Sekar bahkan sudah kembali ke unitnya. Hanya ingatan tentang telapak tangan dan tatapan gugup itu yang dibutuhkan tubuhnya.

Dulu, dokter menunjukkan gambar, memberi obat uji, dan meminta berbagai pemeriksaan. Tidak ada satu pun yang menghasilkan ketertarikan nyata. Bersama Vania, ia pernah mencoba duduk berdekatan karena tuntutan keluarga. Tubuhnya tetap tidak merespons.

Sekar menyentuhnya tanpa sengaja, dan seluruh pertahanan itu runtuh dalam satu detik.

Narendra menutup mata. Sensasi tadi berulang dengan ketepatan menyiksa: telapak dingin Sekar menempel pada dada panas, pinggangnya dalam pelukan, bibirnya sangat dekat.

Tiga puluh lima tahun tanpa reaksi. Sekarang satu sentuhan membuat ereksi datang begitu cepat sampai ia tidak sempat menyembunyikan.

Ia kembali ke kamar mandi, membuka pancuran dingin, dan berdiri di bawahnya hampir setengah jam.

Air sedingin itu membuat kulitnya mati rasa, tetapi panas di bawah perut turun sangat lambat. Ia harus menempelkan kedua tangan ke dinding dan mengulang batas yang sama: Sekar mempercayainya, mereka belum memiliki hubungan, dan ia tidak berhak menuntut apa pun dari tubuh perempuan itu.

Ketika akhirnya ereksi mereda, Narendra mematikan air. Hidungnya terasa hangat. Setitik darah muncul saat ia mengusapnya.

Mimisan lagi.

Ia tertawa pendek, pahit sekaligus takjub. Tubuh yang dulu dianggap tidak berfungsi kini bertingkah seperti tidak punya rem.

Jawabannya akhirnya jelas.

Bukan kebaya. Bukan mimpi. Bukan kebetulan.

Sekar.

Tubuhnya hanya bisa bereaksi kepada Sekar.

Kalimat itu tidak akan ia ucapkan kepada siapa pun, bahkan Yudha, sebelum ia benar-benar siap. Jika Sekar tahu terlalu cepat, perempuan itu bisa merasa dijadikan obat atau objek uji. Narendra menginginkan lebih dari sekadar pembuktian bahwa dirinya mampu.

Ia ingin Sekar memilihnya dalam keadaan bebas.

Narendra menatap cermin dengan rahang menegang. Pengakuan itu seharusnya menakutkan. Yang muncul justru rasa lega dan keinginan rakus untuk melihatnya lagi.

Rahasia ini belum boleh diketahui Sekar. Ia sendiri masih harus memahami apakah ketertarikan tubuh itu bisa menjadi sesuatu yang layak dipercaya.

Namun satu hal pasti.

Ia akan lebih sering berada di hadapannya.

***

Tanggal dua puluh, notifikasi gaji masuk ke ponsel Sekar.

Rp8.000.000.

Ia memindahkan sebagian langsung ke rekening rahasia, membayar listrik, dan menyisihkan kebutuhan bulan depan. Untuk pertama kalinya, tidak ada transfer lima juta ke rekening Bu Warni.

Saldo setelah semua pembayaran memang tidak besar, tetapi tabel anggaran yang dibuatnya seimbang. Sewa tiga bulan sudah dibayar. Komisi enam kebaya akan masuk akhir bulan. Ia bahkan menyisihkan Rp500.000 untuk dana darurat dan Rp200.000 untuk membeli lampu kerja.

Tidak ada angka yang harus disembunyikan karena takut Anton meminta. Tidak ada pesan Yuni menanyakan bonus. Uang itu lahir dari jari Sekar dan akhirnya tetap berada di tangannya.

Telepon masuk bahkan sebelum layar mobile banking tertutup.

Mamah.

Sekar mengangkat sambil tetap memotong kain di Sanggar Laksmi. Bu Laksmi berada di ruang dalam memeriksa pesanan.

"Gajian, kan?" tanya Bu Warni tanpa salam.

"Iya."

"Kok belum transfer?"

Sekar sudah menyiapkan jawaban. "Aku pinjam uang Bu Laksmi buat pindahan. Dua bulan gajiku dipotong. Sekarang kosong."

"Terus cicilan rumah Mas Anton bagaimana?"

Sekar meletakkan gunting besar di meja.

"Itu cicilan Mas Anton."

"Tapi selama ini kamu yang bayar! Kalau telat, dendanya besar. Mamah sudah bilang jangan pindah ke tempat mahal."

"Mas Anton dan Mbak Yuni dua orang dewasa. Mereka bisa menyusun anggaran sendiri."

"Gaji kakakmu kecil. Yuni sebentar lagi melahirkan."

"Gajiku juga bukan milik mereka."

"Jangan bicara seperti orang asing."

Sekar melihat bekas tusukan jarum di jarinya. "Waktu kamarku diberikan ke anak mereka, aku juga diperlakukan seperti orang asing."

Bu Warni terdiam, lalu mengubah nada menjadi tangis. Ia bercerita beras hampir habis, tagihan listrik naik, dan Pak Slamet kelelahan kerja malam. Polanya selalu sama. Setiap kali fakta tidak berhasil, rasa bersalah dikeluarkan.

"Aku bisa kirim sembako langsung kalau Mamah dan Bapak benar-benar butuh," kata Sekar. "Bukan uang tunai. Bukan cicilan Mas Anton."

"Mamah bukan pengemis!"

"Aku juga bukan ATM."

"Aku tidak tinggal di rumah itu lagi."

"Kamu tetap adiknya. Masa tega lihat kakakmu kesusahan?"

Jari Sekar memutih di gagang gunting.

"Mamah," katanya pelan, "siapa yang sebenarnya nggak tahu diri?"

Di ujung telepon, Bu Warni menarik napas tajam.

"Sekar, cicilan rumah kakakmu itu..."

Sekar mengangkat gunting dari kain dan menunggu satu kalimat lagi sebelum memutuskan panggilan.

Kesabarannya sudah habis.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!