Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
“Ke rumah dulu yuk, Ibu nanyain,” ucap Reno di stopan sambil melirik Nayla sekilas.
“Terserah,” ucap Nayla masih kesal, tangannya bersilang di dada, wajahnya cemberut menatap ke luar jendela.
Reno menghela napas lalu melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya.
Udara sore terasa tegang di antara mereka, tidak ada satu pun yang bicara. Hanya suara mesin mobil dan musik pelan yang diputar asal.
Sesampainya di rumah Reno, Nayla langsung berubah sikap. Wajah yang tadinya masam, tiba-tiba tampak lembut saat melihat sosok wanita paruh baya yang menyambut di depan pintu.
“Ekh, Nayla… udah lama nggak ketemu,” ucap Bu Nia, ibu Reno, dengan senyum hangat.
“Iya, Ibu. Sehat?” ucap Nayla sambil mencium tangan Bu Nia dengan sopan.
“Baik, sayang. Duduk, ya,” ucap Bu Nia sambil tersenyum tulus.
Bu Nia sangat memanjakan Nayla hari itu — menyuguhkan teh, kue, bahkan memuji cara Nayla berbicara yang lembut. Sementara Reno hanya duduk di samping Nayla sambil menggerutu pelan.
“Di cuekin,” ucapnya pelan tapi cukup untuk membuat Nayla melirik sinis.
Nayla mendelik sedikit lalu mengabaikannya dan fokus pada Bu Nia lagi.
“Nanti kalau udah di Bali, sering hubungin Ibu, ya,” ucap Bu Nia lembut sambil tersenyum.
“Iya, Bu,” jawab Nayla sambil tersenyum
sopan, meski matanya terlihat lelah.
“Makan dulu yuk, jangan malu-malu. Dulu kan sering main,” ucap Bu Nia sambil menuntun Nayla duduk di kursi makan.
“Makan biar gemoy,” bisik Reno sambil cengengesan di dekat telinganya, membuat Nayla langsung naik darah. Ia menatap Reno tajam seolah ingin meninju.
“Ada Ibu, loh,” ucap Reno sambil terkekeh pura-pura polos.
“Bajingan,” gumam Nayla pelan, tapi cukup jelas terdengar Reno.
Usai makan, Nayla pamit pulang karena sudah malam.
“Udah selesai semua ya, jangan keluar rumah, di-pingit ya,” ucap Bu Nia lembut sambil mengelus tangan Nayla.
“Iya, Bu,” ucap Nayla sambil mencium tangan Bu Nia sebelum keluar rumah.
Dalam mobil, Reno menatap jalanan sambil berkata lembut, “Mas kawinnya mau berapa gram?”
“100 gram,” ucap Nayla malas, setengah bercanda sambil melipat tangan di dada.
“Ok, asal dipake,” ucap Reno sambil tersenyum menggoda.
“Dih, gue bercanda kali. Ogah banget pake emas gede,” ucap Nayla kesal.
“Udah deal,” ucap Reno santai, masih dengan senyum yang bikin darah naik.
“Dih, nggak akh! Nggak akan gue pake!” ucap Nayla panik, matanya membulat.
“Tetep, udah deal. Harus dipake,” ucap Reno terkekeh geli sambil melirik Nayla yang nyaris meledak.
“Iih, Reno mah nyebelin!” ucap Nayla kesal sambil menepuk dahinya.
“Tapi sayang, kan?” ucap Reno, suaranya lembut tapi menggoda.
“Najis! Kagak itu mah! Dulu ogah gue! Gue nikah sama lo karena lo maksa, bajingan!” ucap Nayla penuh emosi, matanya berair menahan kesal.
“Udah, jangan marah-marah. Nanti darah tinggi,” ucap Reno dengan nada santai, seolah menikmati pertengkaran itu.
“Lo yang bikin gue emosi jiwaaaa!!” teriak Nayla keras sampai kuping Reno nyut-nyutan.
“Aww,” ucap Reno sambil memegangi kupingnya, “berisik banget.”
Tak lama, mereka pun sampai di rumah Nayla.
“Jangan masuk,” ucap Nayla ketus, menatapnya dingin.
“Dih, orang mau ke Ibu kasih undangan,” ucap Reno santai, menahan tawa kecil.
“Ya udah,” ucap Nayla sambil langsung masuk kamar tanpa menoleh.
Begitu pintu kamar tertutup, Nayla langsung menjatuhkan diri ke kursi belajarnya.
“Huft… gue bisa gila ini. Sehari sama dia aja setengah gila, apalagi seumur hidup…” gumam Nayla sambil menatap kosong ke arah cermin.
Namun telinganya menangkap suara dari ruang tamu. Ia berjalan pelan ke arah pintu dan menguping.
“Nanti acaranya di hotel ya, Bu. Saya yang handle semua. Kalau ini uang untuk Ibu hajatan di sini,” ucap Reno sopan dari ruang tamu.
“Makasih banyak, ya,” ucap Bu Sari sambil tersenyum haru.
“Kalo gitu saya pamit ya, Pak, Bu,” ucap Reno sopan lalu pergi.
“Sialan dia! Beli gue?!” gumam Nayla dengan nada getir. “Pantesan dulu dia bilang mau beli gue suatu saat… ini ya maksudnya?! Reno brengsek!”
Ia duduk di kursi belajarnya, menghentak kaki, lalu melihat sebuah buku catatan lama di raknya — diary masa SMA.
Nayla mengambilnya pelan, membuka halaman pertama.
‘Dear diary, ada kakak ketua OSIS ganteng banget. Gue suka sama dia…’
Ia menatap tulisan itu beberapa detik lalu mendengus.
“Dih, ngapain gue buka diary ini… najis,” ucap Nayla sambil melempar buku itu.
Buku itu melayang dan jatuh tepat ke tangan ibunya yang baru masuk kamar.
“Aduh, Nayla, apa sih ini?” ucap ibunya ketus sambil menatap sampulnya.
“Ibu main masuk aja sih!” ucap Nayla kesal, matanya membulat.
“Ngga dikunci ya, makanya bisa masuk,” ucap Ibu Sari santai.
“Undang teman kamu dari sekarang,” lanjutnya.
“Iya,” ucap Nayla patuh, meski nadanya malas.
Nayla membuka chat grup di ponselnya, mengetik cepat.
“Gaes, gue nikah. Datang ya,” tulisnya malu-malu.
“Serius?” ucap Tari.
“Yang bener?” ucap Sasa.
“Anjir, patah hati lagi,” ucap Rayhan.
“Sama siapa ini? Beda nama cowoknya,” ucap Davin.
“Baca aja lah, pada ribet,” ucap Nayla, mulai kesal.
“Gue mau jadi bridesmaid lo,” ucap Tari.
“Gue juga,” ucap Sasa.
“Terserah. Males gue,” ucap Nayla.
“Ada pengantin modelan kayak gitu,” ucap Davin sambil menertawakan.
Tak lama, chat pribadi dari Rayhan masuk.
Rayhan: “Nay, ini serius?"
Nayla: “Hmm.”
Rayhan: “Kok bisa?”
Nayla: “Dia lebih gercep dibanding lo.”
Rayhan: “Yah, gue nungguin lama lo putus sama pacar lo, masa ditikung orang lagi sih.”
Nayla: “Hmm, anda kurang beruntung.”
Rayhan: “Yah, ini gue patah hati yang keberapa ya.”
Nayla: “Itung aja, gue lagi males.”
Tak lama, chat dari Zevan masuk.
Zevan: “Nayla, ini kamu serius?”
Nayla: “Menurut lo?”
Zevan: “Nay, kok jadi gini sih?”
Nayla: “Gini gimana? Udah lo nikah aja sama calon pilihan Ibu lo. Ribet banget.”
Zevan: “Itu siapa calon suami kamu? Kok bisa-bisanya dia pecat aku?”
Nayla: “Suruh siapa congor emak lo nggak dijaga. Dia pemilik saham di hotel itu.”
Zevan: “Ibu aku bilang apa?”
Nayla: “Ibu lo udah hina gue yang ke-100 kali! Dia bilang gue punya apa suka sama lo? Ekh, tai! Bilangin sama emak lo ya, apartemen yang lo sewa itu gue yang bayarin biar lo nggak jauh dari tempat kerja. Iya, lo suka jajanin gue, tapi duit gue lebih banyak keluar dibanding lo karena duit lo abis buat Ibu lo,” ucap Nayla kesal.
Zevan: “Maaf, Nayla. Aku akan ganti semuanya.”
Nayla: “Nggak usah. Jangan ketemu lagi. Muak gue liat lo!”
“Kenapa sih orang-orang nyebelin hari ini!” ucap Nayla kesal sambil membanting ponselnya ke kasur. Ia menarik napas panjang, lalu menenggelamkan wajah di bantal. Air matanya keluar tanpa sadar.
“Gue capek banget…” bisiknya pelan.
Dan akhirnya, Nayla terlelap malam itu — dengan mata sembab, hati kacau, dan pikiran yang berantakan antara masa lalu dan masa depan yang terpaksa ia jalani.
Bersambung...
Mohon dukungan nya dengan cara.
#Vote
#Like
#komen
Jangan lupa kasih bintang biar author semangat makasih 🥰