NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Keringat dingin mengalir deras melewati pelipis Arga.

​Di hadapannya, tiga kultivator dari Sekte Bayangan Darah terus menguar aura kematian yang begitu pekat. Tekanan spiritual tersebut membuat atmosfer di dalam kios obat mendadak terasa sangat menyesakkan, hingga Arga harus bersusah payah hanya untuk menghirup udara.

​Dari belakang, Paman Darma berbisik dengan suara yang terputus-putus karena gemetar. "Arga... lari... tinggalkan orang tua ini..."

​Namun, Arga tetap berdiri kokoh bak karang. Ia bukannya tidak tahu diri atau merasa yakin bisa menang. Ia hanya tahu satu hal: jika ia berbalik dan melarikan diri, pria tua yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang ini pasti akan dibantai tanpa ampun.

​Pemimpin kelompok berjubah hitam itu terkekeh sinis. "Menarik. Sungguh sebuah pemandangan yang menyentuh."

​"Aku paling suka menyaksikan serangga lemah yang berpura-pura menjadi pahlawan," lanjutnya sembari melangkah maju. Setiap entakan kakinya membuat lantai kayu kios berderit parah, seolah siap runtuh.

​Tiba-tiba, suara Guru Tian menggema di dalam kesadaran Arga. "Bocah, dengarkan aku baik-baik."

​"Ada apa, Senior?" sahut Arga dalam hati.

​"Kekuatan jiwaku saat ini teramat tipis. Aku hanya bisa meminjam kendali atas tubuhmu selama tiga tarikan napas saja."

​Arga tersentak kaget. "Meminjam tubuhku?"

​"Benar. Menggunakan kekuatan di alam fana ini menguras sisa energi jiwaku dengan sangat cepat. Setelah ini, aku akan jatuh tertidur selama beberapa hari untuk memulihkan diri. Jadi, perhatikan dan gunakan tiga tarikan napas ini sebaik mungkin!"

​Belum sempat Arga melayangkan pertanyaan lain, sebuah gelombang kehangatan yang mahadasyat mendadak mengalir deras dari liontin giok, menjalar ke seluruh jaringan meridian dan pembuluh darahnya.

​Seketika itu juga, dunia di sekeliling Arga seolah-olah melambat drastis. Detak jantung Paman Darma, embusan angin malam yang menerobos dinding, hingga butiran debu yang melayang di udara akibat hancurnya pintu depan—semuanya terlihat begitu jelas dan terperinci.

​Guru Tian telah mengambil alih kendali tubuh.

​Sepasang mata Arga yang semula dipenuhi ketakutan dan kehangatan, kini berubah drastis menjadi sangat dingin, tajam, dan memancarkan wibawa purba bagaikan sebilah pedang dewa yang terhunus.

​Merasakan perubahan atmosfer yang mendadak ekstrem ini, pemimpin Sekte Bayangan Darah langsung menghentikan langkahnya secara refleks. "Hm?!"

​Entah mengapa, pemuda Lapisan Pertama yang beberapa detik lalu tampak seperti mangsa empuk, kini memancarkan aura tekanan yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Jiwanya menjeritkan alarm bahaya. "Tidak mungkin... ilusi macam apa ini?!"

​Guru Tian—melalui bibir Arga—perlahan mengangkat satu jari tangannya. "Terlalu berisik untuk seekor tikus kecil."

​Merasa dihina oleh seorang kultivator rendahan, pemimpin berjubah hitam itu meraung murka. "Bocah sialan, cari mati kau!"

​Wush!

​Ia melesat maju secepat kilat. Telapak tangannya kini telah diselimuti oleh gumpalan Qi merah darah yang bergolak hebat. Serangan itu dilepaskan dengan kekuatan penuh, cukup untuk menghancurkan sebuah batu seukuran rumah menjadi serpihan.

​Namun, di mata Guru Tian, serangan itu tak lebih dari gerakan lambat seorang anak kecil. "Lambat."

​Dengan satu pergeseran kaki yang teramat tipis, tubuh Arga bergeser beberapa sentimeter ke samping. Pukulan maut lawan melesat di udara kosong, melewatinya begitu saja.

​Sebelum pria berjubah hitam itu sempat menyadari serangannya meleset atau menarik kembali tangannya, Guru Tian telah melayangkan satu pukulan lurus yang sangat sederhana tepat ke arah dada lawannya.

​Buk.

​Tidak ada ledakan energi yang menggelegar. Tidak ada pula kilatan cahaya yang membutakan mata. Hanya sebuah suara benturan pelan yang teredam.

​Namun, detik berikutnya, sepasang mata pemimpin berjubah hitam itu membelalak sempurna seolah ingin melompat keluar. Retakan halus yang memancarkan cahaya keemasan redup mendadak muncul di pakaian bagian dadanya. Retakan misterius itu merambat dengan kecepatan mengerikan ke kulitnya, menembus tulang-tulangnya, hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.

​"Bagaimana... mungkin..."

​Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, seluruh tubuh pria itu hancur lebur menjadi butiran abu halus yang langsung musnah tertiup angin malam.

​Dua anak buahnya yang berdiri di belakang seketika membeku bagaikan patung es. Nyali mereka ciut seketika; mereka bahkan tidak mampu memproses bagaimana pemimpin mereka yang berada di ranah tinggi bisa lenyap menjadi abu hanya dalam satu kedipan mata.

​Guru Tian memalingkan wajah Arga, menatap dingin ke arah dua orang yang tersisa. "Sekarang, giliran kalian berdua."

​Wajah kedua kultivator Sekte Bayangan Darah itu langsung pucat pasi seputih kain kafan. "Monster! Lari!!" teriak salah satu dari mereka histeris. Mereka langsung berbalik arah dan kabur sekencang mungkin tanpa menyisakan sedikit pun keinginan untuk bertarung.

​Guru Tian tidak berniat mengejar. Ia hanya mengibaskan lengan baju Arga dengan santai.

​Wusss!

​Gelombang angin topan spiritual berembus kencang. Dua sosok yang sedang melarikan diri itu seketika terpental puluhan meter ke luar kios, menghantam jalanan batu kota dengan keras hingga pingsan dengan tulang yang patah.

​Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan kios obat yang hancur berantakan. Paman Darma terduduk lemas di lantai, napasnya tersengal-sengal karena syok. "Arga..." bisiknya dengan suara bergetar. "Se-sejak kapan kau memiliki kekuatan sedahsyat ini?"

​Tepat pada detik itu juga, pendaran cahaya pada liontin giok meredup sepenuhnya. Guru Tian melepaskan kendali dan menarik kembali sisa kesadarannya.

​Bruk!

​Tubuh Arga seketika ambruk, berlutut di atas lantai kayu. Uhuk! Seteguk darah segar menyembur dari mulutnya. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar hebat; seluruh jaringan meridian di dalam tubuhnya terasa seperti dibakar oleh api kompor yang membara akibat dipaksa menampung energi tingkat tinggi.

​Di dalam lubuk jiwanya, suara Guru Tian terdengar teramat lirih dan samar, hampir menghilang. "Aku sudah memperingatkanmu, Bocah... tubuhmu hanya mampu bertahan selama tiga tarikan napas..."

​"Senior! Senior Tian!" panggil Arga panik dalam kesadarannya.

​"Cepat... bawa orang tua itu dan segera tinggalkan kota ini..." bisik Guru Tian untuk terakhir kalinya. "Aktivitas barusan... pasti telah memicu perhatian yang salah... Pemimpin mereka yang sebenarnya... jauh lebih kuat..."

​Suara itu menghilang sepenuhnya. Liontin giok di genggamannya kembali menjadi batu dingin yang bisu.

​Pada saat yang bersamaan...

​Jauh di wilayah perbatasan luar Kota Awan Biru, seorang pria paruh baya berjubah merah tua perlahan membuka sepasang matanya. Ia duduk di atas sebuah kereta perang megah yang ditarik oleh tiga ekor naga banjir raksasa.

​Ia mengalihkan pandangannya yang sedingin es ke arah Kota Awan Biru. "Seseorang di tempat terpencil itu... baru saja memicu getaran dari Teknik Penghancur Langit."

​Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seringai kejam yang sarat akan ketertarikan. "Menarik sekali. Warisan si tua bangka itu ternyata ada di sini."

​Pria berjubah merah itu langsung berdiri tegak, auranya membuat tiga naga banjir di depannya melenguh patuh. "Pacu kereta perang dengan kecepatan penuh. Kita sendiri yang akan turun tangan untuk menjemput orang tersebut."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!