NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:18.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: saskavirby

pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.

kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.

kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.

siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.


>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"

Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 6. Rumah sakit

Sesampainya di rumah, Aiden langsung berlari ke dalam rumah dan memeluk Laras.

Laras terkejut dengan tingkah cucunya itu. Ia membawa Aiden dalam gendongannya. "Aiden baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Dia hanya kelelahan, Tante," jawab Fara yang baru masuk bersama Sandy.

*

Malamnya, Aiden terserang demam, Laras mengompres Aiden serta menemaninya tidur.

"Bagaimana kalau kita bawa Aiden ke rumah sakit, Ma?" usul Sandy khawatir, melihat wajah Aiden yang memucat.

"Mama sudah memberinya obat penurun panas, kita lihat sampai besok pagi, kalau masih belum turun kita bawa ke rumah sakit," ucap Laras mengelus kepala Aiden sayang.

Paginya, Aiden benar-benar dibawa ke rumah sakit karena panas yang tak kunjung turun.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" Sandy segera mencecar Dokter yang memeriksa Aiden.

"Aiden harus rawat inap beberapa hari, Tuan. Panasnya sangat tinggi, ditakutkan bisa kejang," terang sang Dokter menatap Sandy, Laras dan Vero bergantian.

"Berikan yang terbaik untuk cucuku," ucap Vero.

"Pasti, Tuan. Saya permisi."

Setelah menyelesaikan berbagai prosedur rumah sakit, Aiden dipindahkan di kamar rawat inap VVIP khusus anak-anak.

"Bunda."

Terdengar Aiden bergumam dengan mata tertutup, sepertinya dia mengigau.

"Bunda."

Laras, Sandy dan Vero menatap satu sama lain.

"Apa perlu kita memanggil Bunda-nya itu?" usul Laras membuka suara.

"Tidak usah, Ma. Aiden sudah mendapatkan perawatan di sini, pasti sebentar lagi akan membaik, dia cuma mengigau," bantah Sandy tak setuju usulan sang ibu.

Laras hanya mengangguk dan menggenggam tangan cucunya.

*

"Oma, Aiden haus," ujar Aiden ketika tak berapa lama terbangun dari tidurnya.

Laras meraih gelas di nakas dan membantu Aiden minum.

"Aiden makan dulu, ya, sayang. Habis itu minum obat," ucap Laras membujuk Aiden.

Aiden menggeleng. "Tidak mau, Oma."

"Aunty suapin ya, sayang?" bujuk Fara yang siang tadi berkunjung ke rumah sakit ketika mendengar kabar calon anak sambungnya masuk rumah sakit.

Aiden menggeleng. "Tidak mau," tolaknya.

"Oma, Aiden mau makan bubur sumsum," ucapnya menatap Laras.

Laras berbinar. "Iya, sayang. Oma buatin, ya? Oma pulang dulu, nanti ke sini lagi."

Laras hendak berdiri namun dicegah Sandy.

"Tidak usah, Ma. Biar Fara yang buatin Aiden bubur," ucap Sandy menoleh pada Fara yang terdiam.

Sedangkan Fara nampak terkesiap, bagaimana dirinya membuat bubur sumsum? Sedangkan masak saja ia tidak pernah.

"Biar Fara pulang sama Sandy, sekalian Sandy mengambil berkas yang tertinggal di rumah," Sandy menambahi.

"Baiklah, biar Mama temani Aiden di sini."

...***...

Di kediaman keluarga Van Houten.

"Heh, kamu. Buatkan bubur sumsum, cepat!" perintah Fara pada Moly, —sang kepala pelayan.

"Untuk siapa, Nona?"

"Jangan banyak tanya, buruan sana," usir Fara mengibaskan tangannya.

Fara melangkah menuju kamar Sandy di lantai dua.

"Kenapa kamu di sini, Fara?" tanya Sandy ketika Fara memasuki ruangannya.

"Aku kangen sama kamu," Fara menghampiri dan bergelayut manja di lengan Sandy.

Sandy melepaskan tangan Fara. "Bukankah seharusnya kamu membuatkan bubur untuk Aiden?"

"Aku sudah menyuruh pelayan membuatnya. Lagipula, kita sudah lama tidak bermesraan, sayang," Fara kembali bergelayut di lengan Sandy.

Lagi, Sandy melepaskan tangan Fara. "Seharusnya kamu melihat cara pelayan memasak, biar kamu bisa, bukannya malah di sini," tegur Sandy.

Fara berdecak, "Kenapa sih, San. Apa gunanya pelayan kalau sebagai majikan kita masih harus turun tangan?" protesnya kesal.

"Fara, apa kamu lupa kalau Aiden sedang sakit? Seharusnya kamu sebagai calon ibunya khawatir dengan keadaan Aiden, bukan malah seperti ini," balas Sandy geram. "Apa kamu hanya menginginkanku? Tidak beserta Aiden?" selidiknya menatap dingin wanita di hadapannya.

Fara terkesiap, ia menggeleng cepat. "Tidak, sayang. Siapa bilang aku tidak khawatir, aku khawatir kok. Lagipula, sekarang Aiden sudah ditangani dokter 'kan? Pasti sebentar lagi akan sembuh," balasnya membela diri.

"Sebaiknya kamu turun, membantu pelayan menyiapkan bubur untuk Aiden," titah Sandy kembali merapikan dokumen yang sempat tertunda.

Fara mendengus melihat Sandy yang acuh padanya. "Oke, baiklah," putusnya final, memilih mengalah menuruti ucapan Sandy.

Fara berbalik meninggalkan kamar Sandy dengan menggerutu, ia benar-benar kesal, niat hati ingin bermesraan dengan Sandy, justru gagal.

Sandy hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Fara, ia selalu berfikir apa pilihannya sudah benar dan tepat dengan menjadikan Fara sebagai calon istri dan ibu untuk Aiden? Apa Fara bisa menjadi ibu yang baik untuk Aiden? Atau malah sebaliknya? Karena sebenarnya iapun tidak yakin atas perasaannya terhadap Fara.

Saat itu, Sandy melihat Aiden yang sepertinya sangat membutuhkan sosok seorang ibu, karena pada saat itu ia tengah dekat dengan Fara, lantas Sandy mengatakan pada Fara apakah mau menjadi ibu sambung untuk Aiden? Dengan antusias Fara setuju, dan mengklaim bahwa dirinya calon istri dari seorang pengusaha kaya raya Sandy Van Houten.

Sandy saat itu bahkan tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Fara, atau mungkin sampai saat ini perasaan itu masih sama tidak berubah dan bertambah.

Fara duduk di ruang makan menunggu pelayan yang sedang membuat bubur sumsum, ia sama sekali tidak berniat untuk melihat atau membantu, ia memilih untuk membuka aplikasi sosial media di ponselnya.

Sekitar sepuluh menit, Sandy turun dari lantai dua, dan melihat Fara yang sedang asik bermain ponsel bahkan sesekali tertawa. Sandy hanya geleng-geleng kepala. Hatinya selalu berdoa, semoga ia tidak salah pilih. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Aiden. Dan jika keputusan atau pilihannya salah, ia berharap agar Tuhan segera menyadarkannya.

...***...

Malamnya, Aiden terus saja mengigau memanggil nama Bunda.

Dokter segera memeriksa keadaan Aiden yang terus bergumam menyebut Bunda.

"Panasnya semakin tinggi, masukkan obat melalui infus," ucap dokter segera dilaksanakan oleh suster yang mendampinginya bertugas.

"Dimana Bundanya?" tanya Dokter.

Semuanya terdiam.

Dokter bingung melihat keempat orang dewasa itu diam, pikir dokter mungkin terjadi masalah keluarga.

Sang dokter mengembuskan nafas. "Saya sarankan membawa Bundanya ke sini, siapa tahu dengan kehadiran Bundanya, Aiden bisa sembuh. Tolong jangan pikirkan ego kalian, tapi pikirkan kesembuhan pasien," ujarnya sebelum berlalu meninggalkan ruangan.

"Apa tidak sebaiknya memanggilnya, San?" usul Laras menatap cucunya yang sesekali bergumam dengan mata terpejam.

Fara berbisik pada Sandy, "Tidak perlu memanggilnya, bukankah Dokter sudah memberikan obat tadi, kita tunggu sampai besok pagi."

Sandy sebenarnya tidak tega melihat keadaan Aiden, tapi ucapan Fara mempengaruhi niatnya yang akan membawa Bunda bertemu Aiden.

"Kita tunggu sampai besok pagi, Ma. Semoga panas Aiden menurun," jawab Sandy kemudian.

Laras tidak menyahut, hanya menatap ke arah cucunya yang terlihat pucat.

*

Paginya Aiden sama sekali tidak mau makan serta meminum obat, dia selalu merengek meminta bertemu dengan Bunda.

"Aiden, dia bukan siapa-siapa kita? Jadi jangan terus-terusan memintanya ke sini!" bentak Sandy yang frustasi mendengar rengekan anaknya.

"Sandy, jaga bicaramu!" hardik Laras keras. "Kamu lupa, Aiden sedang sakit, apa salahnya meminta Stella ke sini? Kamu terlalu egois, Sandy," cetusnya jengah dengan sifat putranya yang menganggap enteng penyakit cucunya.

Tiba-tiba tubuh Aiden bergetar, matanya mendelik ke atas dengan nafas yang tidak teratur, bibirnya mulai membiru. Laras segera menekan tombol darurat, dna beberapa dokter datang untuk memeriksa.

Beberapa menit berlalu dengan penanganan dokter dan beberapa perawat. Saat keadaan darurat itu berhenti, Aiden terdiam dengan mata tertutup, namun bibirnya bergumam sesuatu, sehingga dokter mendekatkan telinganya.

"Apa Bundanya masih belum ke sini?" tanya Dokter kemudian.

Laras yang mulanya ketakutan melihat keadaan cucunya lantas menjawab, "Sebentar lagi, Dokter."

"Sebaiknya cepat bawa Bundanya ke sini, Nyonya. Kasihan Aiden, tubuhnya semakin melemah. Di samping panas tinggi, mungkin dia juga rindu dengan ibunya, sosok ibu sangat diperlukan dalam kondisi seperti ini, sesekali bayangkan jika anda di posisinya," terang sang Dokter seraya memeriksa tubuh Aiden dengan stetoskop.

Setelah memberikan suntikan kepada Aiden, dan memastikan Aiden tidak lagi mengalami kejang dokter pamit undur diri.

"Biar Papa yang mencari Stella," Vero hendak beranjak, ia tidak tega melihat kondisi cucunya yang seperti itu.

"Tunggu, Pa," cegah Sandy tiba-tiba. "Biar aku yang mencarinya," imbuhnya beranjak.

"Tapi, San —" Fara hendak memprotes.

"Ini demi Aiden, kamu di sini saja," potong Sandy cepat, ia merogoh saku mengambil ponsel untuk menghubungi Alvin seraya berjalan keluar dari ruang inap Aiden. "Siapkan mobil, saya keluar dari rumah sakit segera," ucapnya ketika sambungan telepon terhubung.

"Baik, Tuan."

Setelah sampai di lobi, Sandy kembali mendial nomor guna menghubungi seseorang.

"Iya, Tuan."

"Pak Udin, bapak tahu dimana Stella tinggal?"

"Tidak, Tuan. Tapi sepertinya guru pengajar Tuan Muda tahu."

"Terimakasih, Pak Udin."

"Sama-sama, Tuan."

"Kita ke sekolah Aiden," titah Sandy ketika sudah duduk di dalam mobil.

"Baik, Tuan," jawab Alvin segera melajukan kendaraannya.

Sekitar tiga puluh menit, Sandy tiba di sekolah Aiden dan langsung menemui Miss Dewi, memang benar Stella sempat meninggalkan kartu nama dan Sandy sangat beruntung.

Setelah berbincang sebentar, serta Miss Dewi yang mendoakan agar Aiden cepat sembuh, Sandy bergegas menuju alamat yang tertera pada kartu nama di tangannya.

Sandy membaca kartu tersebut, di sana tertulis. Stella Boutique. Lengkap dengan alamat serta nomor pribadi.

~•

•~

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ye baru sadar klo lo bego san
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
gedeg bgt sama sandy
PNC
katanya Sandy CEO
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia

aneh sich

tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya
PNC
wong sugih tapi kok
Ervina T
Luar biasa
Nuriati Mulian Ani26
semoga ..rumahnya dibeli sandi
Nuriati Mulian Ani26
wanita hebat dan mandiri..stela
Nuriati Mulian Ani26
keren ceritanya ringan .aku suka alurnya
Kasih Bonda
semangat
iis sahidah
Luar biasa/Good//Good//Good//Good//Good/
iis sahidah
rega laki2 banget
iis sahidah
bunda Stella keren
Tea and Cookies
Luar biasa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
Modish Line
♥️♥️♥️♥️♥️
Modish Line
😂😂😂😂😂😂
Modish Line
bodoh banget
Modish Line
good job Rega👍👍👍👍👏👏👏👏
Modish Line
blm jadi mamanya Aiden udh kaya ema tiri gini kelakuannya ....kalo jadi nikah bakalan abis nih Aiden disiksa sama si Fara gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!