Kisah dua sahabat yang dipertemukan kembali setelah sama-sama berpisah dari pasangan mereka masing-masing.
Gadis Ayudia Zahira tak pernah menyangka, pertemuan itu justru membawanya pada sebuah permintaan yang mengubah hidupnya. Demi memenuhi harapan terakhir ibu dari sahabatnya, Gadis terpaksa menerima pernikahan yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Dipertemukan kembali di usia yang tak lagi muda, dengan luka dan kecewa yang masih tersisa, mampukah mereka menumbuhkan benih-benih cinta di antara hubungan yang awalnya hanya sebatas sahabat?
Atau, mereka justru akan kembali berpisah seperti sebelumnya?
Yuk, ikuti kisah mereka!
Jangan lupa like dan komentar setelah membaca. Terima kasih 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Mami Rosa
Pelayan mengangguk dan meninggalkan mereka, "Mami kenapa ke Jakarta sendirian?" tanya Gadis dengan menatap intens Mami Rosa.
Ditanya seperti itu, seketika Mami Rosa mengerucutkan bibirnya, "Trus mau ngajak Alan gitu? Emang dia punya waktu buat mami!" jawab Mami Rosa dengan ekpresi kesal.
Gadis nyengir memperlihatkan giginya, "Yang sabar mi, maklumlah dengan pekerjaan Alan," ia mengusap lengan mami Rosa.
Mami Rosa hanya mengendikkan bahunya dengan masih bersungut-sungut mengingat putranya yang selalu di sibukkan urusan rumah sakit.
Tak lama pesanan mereka pun datang, "Makan dulu mi," ajak Gadis membuyarkan pikiran mami Rosa, kemudian mereka fokus makan tanpa ada perbincangan lagi.
**
Setelah selesai makan, Mami Rosa mengutarakan maksud kedatangannya ke Jakarta. Sebelum berbicara, ia menetralkan rasa gugupnya terlebih dahulu, beberapa kali mami Rosa terlihat melirik ke arah Gadis karena sedikit gugup.
"Gadis, mami ingin membicarakan sesuatu hal yang penting sama kamu,"akhirnya kalimat itu bisa keluar juga setelah di tahan.
Gadis menoleh, menatap Mami Rosa sejenak, lalu mengangguk, "Iya mi, ngomong aja."
"Emm, kedatangan Mami ke sini sebenarnya ada maksud tertentu, yang pertama Mami memang rindu sama kamu dan Rendra."
Mami Rosa menjeda kalimatnya dengan pandangan yang masih fokus menatap Gadis, "Yang Kedua-" Mami Rosa membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop besar yang kemudian di serahkan kepada Gadis.
Gadis langsung meraih amplop coklat tersebut, "Apa ini mi?" tanya nya.
"Buka aja sayang,"
Gadis pun segera mengeluarkan kertas dari amplop dan membacanya. Seketika ia membekap mulutnya, air matanya perlahan mengalir, "Mi......" suaranya tercekat.
Mami Rosa segera bangkit, mendekat dan memeluknya.
"Kenapa Mami nggak cerita sejak lama sama Gadis?"
"Katanya, Gadis juga anak mami, kenapa mami tidak cerita? Gadis selalu merasa menjadi anak yang paling bodoh mi-"ungkapnya penuh dengan kekecewaan.
Mami Rosa pun merasa bersalah, "Maaf sayang, mami nggak mau bikin kamu khawatir, mami tahu selama ini kamu sedang fokus membangun usaha kamu kan nak, makanya mami nggak mau ganggu," Mami Rosa mencoba memberikan penjelasan, tangan kirinya mendekap kepala Gadis dan tangan kanannya sibuk mengusap punggung Gadis yang bergetar.
Air mata Gadis masih terus mengalir, "Tapi Mi, Mami kan tau Gadis punya trauma. Kenapa, K-kenapa Mami ngulangin hal yang sama kaya Ibu Gadis?" putusnya kecewa.
Mami Rosa menunduk, begitu merasa bersalah sekarang, "Mami bener-bener minta maaf sayang." ucapnya sambil memeluk Gadis erat.
Ya, Gadis punya trauma karena ditinggal sang Ibu untuk selama-lamanya. Selama beberapa tahun pula beliau menyembunyikan tentang penyakit yang di deritanya. Dan itu membuat hati Gadis sangat sakit, di detik-detik ibunya tiada bahkan ia tak bisa berada di sampingnya.
Sekarang Mami Rosa pun melakukan hal yang sama, beliau tidak memberitahu penyakitnya sejak lama kepada Gadis.
"Kanker Serviks stadium 4"
**
Setelah Gadis tenang kembali ia bertanya, "Apakah Alan tau mi?"
Mami Rosa mengangguk,
"Dia tahu, dan segala upaya sudah Alan lakukan untuk kesembuhan Mami, tapi mungkin ini semua sudah menjadi takdir. Mungkin umur Mami cumaa-"ucapan Mami Rosa terhenti karena Gadis membungkamnya samar.
Gadis menggeleng, tidak mau mendengar kalimat selanjutnya, "Mami pasti bisa sembuh kok, Gadis akan terus berdoa untuk Mami," ia mencoba menyemangati dan menguatkan.
Mami Rosa paham akan kekhawatiran Gadis, "Nggak sayang, Mami sudah pasrah,"kata Mami Rosa sambil tersenyum.
Mami Rosa menghela napasnya panjang sebelum berucap lagi, "Untuk itu Mami punya satu permintaan buat kamu,"ucapnya dengan menangkup kedua pipi Gadis.
"Apa, Mi? Sebisa mungkin, pasti Gadis bakal coba turutin." Katanya begitu yakin.
Mami Rosa tidak langsung menjawab, ia tatap mata Gadis dengan dalam begitupun dengan Gadis, ia mencoba menebak-nebak permintaan mami Rosa.
Seperkian detik barulah mami Rosa berkata, "Menikahlah dengan Alan nak."
DEG !
Gadis begitu terkejut mendengarnya, ia masih menatap mata mami Rosa tanpa mengucapkan sebuah kata.
Mami Rosa menggenggam tangan Gadis, "Mami mohon, hanya Mami yang dia punya di dunia ini nak, kalau Mami nggak ada, dia sama siapa?"ucapnya begitu sendu.
Melihat Gadis belum bereaksi, mami Rosa pun mencoba menenangkan Gadis, "Kamu tidak perlu ngasih jawaban sekarang, kamu pikir-pikir dulu aja sayang," mengusap pipi Gadis
Gadis menunduk lalu mengangguk,
"Mami ikut pulang Gadis kan?"
Mendengar suara Gadis yang akhirnya keluar, mami Rosa mencoba menjahilinya, "Sebenarnya Mami mau nginep di hotel dulu dis, takut merepotkan kamu nanti." berucap sambil melihat ekspresi Gadis.
Gadis pun terlihat tidak terima, "Ih nggak nggak, nggak ! Pokoknya mami ikut Gadis pulang, siapa yang ngurusin Mami nanti. Lagian ya nggak ada kata merepotkan, ingat ya Gadis juga putri mami." Gadis seketika menjadi posesif.
Berhasil menjahili Gadis, mami Rosa pun tertawa, "Haha, Mami cuma bercanda tauk dis. Lagian Mami udah rindu banget sama cucu Mami."
"Ah, Mami. Yasudah, mari kita pulang,"ia beranjak dari kursi.
Mami Rosa begitu senang karena di posesif'in oleh Gadis, setelah membayar, mereka kemudian memutuskan untuk langsung pulang.
...****************...
semoga berkah 😭