Seorang wanita mandiri yang baru saja di selingkuhi oleh kekasihnya yang selama ini dia cintai dan satu-satunya orang yang dia andalkan sejak neneknya meninggal, namanya Jade.
Dia memutuskan untuk mencari pria kaya raya yang akan sudah siap untuk menikah, dia ingin mengakhiri hidupnya dengan tenang. Dan seorang teman nya di bar menjodohkan dia dengan seorang pria yang berusia delapan tahun lebih tua darinya. Tapi dia tidak menolak, dia akan mencoba.
Siapa sangka jika pria itu adalah kakak dari temannya, duda kaya raya tanpa anak. Namun ternyata pria itu bermasalah, dia impoten. Dan Jade harus bisa menyembuhkan nya jika dia ingin menjadi istri pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyaliaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bersih. Aku melihat meja makan dan dapur, semua sudah cling tak bernoda. Aku mengelap meja makan dan meja dapur setelah mencuci piring, dan tentunya aku juga sudah mengepel lantai yang basah karena percikan air saat aku membilas cucian.
Mataku teralihkan begitu mendengar sesuatu dari ruang depan, terdengar seperti gesekan kaca utuh. Seingat ku, Ryan ada disana. Dia pasti sedang menungguku.
Benar saja, dia tengah sibuk dengan tiga gelas kaca berderet di atas meja. Dan aku juga dapat melihat ada tiga botol disana. Dia duduk di lantai, mengambil satu botol dan menuangkan isinya pada salah satu gelas.
Dia mengamati dengan seksama banyaknya minuman yang dia tuang. Itu kebiasannya, dia selalu menuangkan nya dengan tinggi yang sama tiap gelas. Dia tampak sangat fokus.
Aku mendekat, berusaha berjalan se-pelan mungkin berniat ingin mengejutkannya. Aku langsung duduk di lantai, tepat di sampingnya. Berharap dia terkejut, namun ternyata tidak. Malahan dia yang duluan bicara padaku.
"Kau sudah selesai?" ucapnya santai tak terkejut sedikitpun. Aku terkejut dia tiba-tiba bertanya seperti itu. "Ya, sudah," aku menjawab senormal mungkin tak ingin menunjukkan padanya betapa kecewanya aku, padahal aku berniat mengganggu konsentrasi nya.
"Darimana kau tahu aku ingin minum minumanmu?" aku balik bertanya padanya saat dia selesai mengisi gelas ketiganya. Dia sudah mengisi dua gelas lainnya, mungkin saat aku sedang sibuk bersih-bersih tadi. Aku senang dia datang, tapi sesuatu malah terpikirkan olehku. Apa dia akan menuntut kinerjaku tiga hari ini..
"Kau memanggilku," dia menjawab sambil menatapku.
"Aku memanggilmu? Kapan? Aku tidak memegang ponselku sejak tadi sore." aku mulai bingung, sejenak aku berpikir jika aku sungguh menghubungi nya tapi kenyataannya tidak. Seingat ku tidak, aku terlalu sibuk menyiapkan makan malam setelah mandi.
"Haha," Ryan tertawa kecil, "Aku hanya menebak, kau selalu minum ke bar ku setidaknya satu kali dalam tiga hari."
"Wah, kau menghitungnya. Aku tidak tahu kau se-senggang itu."
"Ya, memang." Ryan mengambil segelas minuman dan memberikannya padaku. "Cobalah, aku membuat campuran rasa yang baru, aku yakin lemonnya akan membuatnya menjadi lebih segar."
Srruulp..
Aku meminumnya dan meng icip-icip dengan tiap sudut lidahku untuk menentukan rasanya. Itu minuman yang manis namun sedikit ada sensasi asam. Dan minuman itu sangat menyegarkan. "Ini segar, aku yakin es batu akan membuatnya sempurna."
"Benar, kan? Aku juga berfikir begitu."
Ryan tampak antusias, aku tidak melihatnya murung lagi seperti saat terakhir aku dengannya.
"Tapi, kau bilang kau ingin minum. Kenapa? Ada masalah disini? Apa dia menyulitkan mu?" Ryan langsung memutar tubuhnya berhadapan denganku, dia sangat menantikan jawaban dariku.
Astaga, kaka beradik sama saja. Mereka mengajukan banyak pertanyaan sekaligus. "Aish, tidak.. tidak. Aku baik-baik saja disini, kau bisa melihatnya. Dan dia juga tidak menyulitkan ku, hanya saja dia jarang disini.
Dia pulang, makan, tidur kemudian dia pergi sepanjang hari. Dia tak tertarik sedikitpun denganku. Bagaimana denganmu? Apa kau juga tidak akan melakukan apapun jika tinggal serumah dengan seorang wanita?"
"Hemm," Ryan berfikir sebelum menjawabnya, "Entahlah. Aku tidak bisa memastikannya, itu tergantung aku tinggal dengan siapa. Lagi pula aku sekarang tinggal dengan wanita juga, Bibi Jimi, pembantuku. Tapi kurasa itu berbeda dengan yang kau maksud."
"Ya, itu memang hal yang berbeda. Bagaimana jika itu kekasihmu?"
"Hei ayolah, apa kau sungguh ingin tahu apa yang akan kulakukan jika serumah dengannya?"
"Huh. Aku salah bertanya," Aku memutar bola mataku karena pertanyaan konyol yang keluar dari mulutku. Jika berpacaran tinggal serumah pasti melakukan sesuatu, kan. Tapi Ryan tak punya kekasih, darimana datang keyakinan dirinya akan sesuatu yang akan dia lakukan. Atau mungkin dia memang sudah punya.
"Itu pun kalau aku punya," lanjutnya.
Ya itu dia, aku tidak perlu bertanya. Tapi aku memang sudah yakin dia tidak akan punya, dia terlalu sibuk mengurus barnya. Namun melihat reaksinya aku yakin dia sudah punya rencana, Hingga akhirnya aku kembali bertanya padanya, "Bagaimana denganku?"
Ryan langsung terdiam setelah menatap ke arahku. Mata kami bertemu lama, wajahnya mulai mendekat sedikit demi sedikit ke arahku. Sangat hening, aku bisa merasakan detak jantungku bekerja lebih cepat dari pada detik jarum jam dinding yang berbunyi. Aku menjadi gugup.
Klek.
Suara pintu terbuka, aku langsung tersadar dari hanyutnya diriku karena terbawa suasana tenang yang hampir menenggelamkan ku, keheningan yang menarik tubuhku seperti merespon sensasi yang berbeda. Aku berdeham dan langsung menciptakan jarak antara diriku dan Ryan.
"Ryan? Kau disini," ucap Rhine di pintu masuk.
Aku cukup terkejut dan heran, pria itu pergi dengan cepat seakan akan terjadi bencana jika dia tak pergi. Tapi hanya berselang waktu tak sampai satu jam dia kembali.
"Ya, aku ingin Jade mencoba minuman baru yang ku buat." jawab Ryan. Matanya menatap tiga gelas yang masih di atas meja, satu sudah kosong dan dua lagi masih berisi. Dia menunjukkan buktinya pada Rhine.
"Oh, ya. Lanjutkan saja, aku hanya ingin mengambil sesuatu," lanjut Rhine melewati kami berdua. Dia bahkan tak melirik ke arahku.
Apa dia tak melihat aku sebesar ini, kupikir aku lebih dekat dengannya saat dia lewat tapi aku merasa dia sengaja tak mengakui keberadaan ku. Aku menunduk malu, rasanya menyedihkan.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Ryan padaku. Dia tampak cemas, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Tidak."
"Bagus lah, kau harus bilang padaku ya jika terjadi sesuatu," Ryan mengambil gelas kedua dan memberikannya padaku.
"Tenang saja, semua baik-baik saja kok," jawabku sambil tersenyum, aku mengambil gelas yang dia berikan dan meminumnya. Keningku mengernyit, minuman itu cukup asam. Lidahku serasa seperti sedang di tusuk-tusuk.
"Ini terlalu asam," komentar ku.
"Benarkah? Aku harus mengurangi lemonnya." Ryan mengambil gelas kosong yang masih aku genggam dan menggantinya dengan gelas lain yang berisi, gelas ketiga. "Cobalah yang ini, ini manis," ucapnya.
Aku mencobanya, menyicip sedikit. Dia tak berbohong. Minuman itu memang manis, lidahku langsung membaik. Aku mencoba untuk menghabiskannya.
"Kau akan menginap?" tanya Rhine yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku yakin dia sedang berdiri karena suaranya terdengar berada di atas kepalaku.
"Ya."
"Akhkh, akhkk," aku tersedak. Aku terkejut mendengar jawaban pria itu jika dia akan menginap. Ryan akan bermalam disini, satu atap denganku, aku bergumam dengan batuk yang masih menyiksa tenggorokan ku.
"Sebentar aku ambilkan air," Ryan berdiri dan pergi.
"Jangan coba-coba merayunya saat aku tidak ada disini," bisik Rhine di telingaku. Batukku langsung sembuh seketika, aku terdiam dan membisu. Pria itu pergi, aku bisa merasakan dia sudah tak berada di belakang ku lagi. Tak lama aku mendengar suara pintu di buka dan menutup kembali. Dia sudah pergi.
"Ini," Ryan datang padaku sambil membawakan segelas air putih.
...----------------...
gk rela sebenarnya klo hrus pisah sm mereka.. 😢😢
kira2 Ryan&Hana udh ada anak jg blm ya🙈😅
klo emg Rhine bkn jodoh nya,,, kasih Kade jodoh yg lebih baik lagi thoorrr