belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita dua sahabat
Embun baru menyelesaikan tugas dari kampus. Sambil membuka online shop untuk mencari barang incarannya. Beberapa buku untuk menunjang mata kuliahnya, untuk menunjang materi di kampus. Merebahkan diri diatas kasur bersama Boneka Pororo kesayangannya.
Embun membuka laptopnya untuk mencari tontonan drama India. Kalau zaman sekarang lagi heboh Turki series dengan suguhan pria bule nan tampan. Tapi Embun tetap bertahan pada kesukaannya. Salah seorang aktor yang sedang naik daun saat ini. Banyak yang memprediksi aktor itu akan menjadi next Shah Rukh Khan. Karena sang aktor legend itu pun sudah menua.
Tak berapa lama Embun membuka pesan dari Kinara.
"Bun, aku mau main ke rumah kamu, boleh?" pesan singkat dari Kinara.
Embun menyunggingkan senyum. Kayak emang lebih bagus Kinara yang datang dari pada dia yang kesana. Belum lagi di kuntit sama anak buah papanya.
Sejauh ini hanya Kinara yang mau jadi bestie nya. Dia juga merasa cocok dengan gadis muda berusia 18 tahun. Embun termasuk masih mode jaga jarak pada orang lain. Efek penjagaan ketat dari papanya. Entahlah Embun yakin dia dan juga Lintang akan jadi perawan tua.
Embun membuka pintu kamarnya. Karena ada ketukan pintu. Dia yakin itu pasti Kinara yang datang.
"Masuk, Kinar." ajak Embun.
Kinar memandang kamar Embun yang berada diatas loteng. Rumah Embun dua tingkat, kamarnya ada balkon kecil bisa melihat jalanan luas. Ada dua kasur di dalam sana. Kinara pernah dengar dari Embun, kalau temannya punya adik perempuan yang masih SMA.
"Duduk aja di sana. Nggak apa-apa kok." kata Embun sambil membereskan beberapa barang berantakan.
"Bun, aku mau ajak kamu jalan-jalan." kata Kinara.
"Aduh maaf, Kin. Aku lagi malas keluar kemana-mana." elak Embun. Bukan malas lagi sih. Lebih tepatnya takut anak buah papanya ikut mengawasi.
"Pasti karena pengawal papamu, ya?" Tebak Kinara. Embun menganggukkan kepalanya. Dia juga pernah cerita sama temannya soal papanya yang over protektif.
"Wah, Pororo. Kamu suka Pororo?" Kinara langsung memeluk gemas boneka yang seukuran setengah badannya.
"Sama kayak adeknya kak Fajar. Namanya Mentari, dia suka sama Pororo." kata Kinara tanpa memperhatikan raut ekspresi Embun.
"Kak Fajar itu anak teman papaku. Ayahnya itu pengusaha sukses. Tapi kak Fajar tetap jadi orang yang sederhana. Tidak suka menonjolkan diri." cerita Kinara.
"Oh, pantes kalian dekat banget." kata Embun.
"Hmmm... Kamu cemburu ya?" goda Kinara.
"Siapa yang cemburu? Ngapain juga aku harus cemburu?" suara Embun terdengar seperti orang kesal. Kinara pun semakin menjadi menggoda temannya. Embun dan Kinara saling melempar bantal. Keduanya merebahkan diri diatas kasur sambil tertawa lepas.
"Kamu beruntung, Bun. punya papa seperti itu." kata Kinara lirih.
"Beruntung bagaimana? Aku nggak bisa kayak kamu. Kamu bisa jalan, bisa kemana pun kamu suka. Tanpa ada yang mengawal. Kan aku? Melangkah ke seberang saja selalu di kawal. Risih tau!"
"Tapi kalau aku malah bisa begini karena papaku sibuk. Seminggu sekali cuma pulang terus kerja lagi. Papa berangkat aku belum bangun, dan ketika aku tidur papa baru pulang dari kantor. Kamu tahu? kalau Tante Dira datang ke Jakarta dia selalu menjenguk aku. Bagi anak-anak Tante Dira aku ini adalah anak keempat. Karena keluarga mereka tahu bagaimana keadaan keluargaku."
"Maaf, mama kamu?"
"Mama sudah menikah lagi. Dan sekarang menetap di New York. Dia bahkan tidak pernah mencoba menanyakan kabarku. Sedangkan papa seperti ini juga karena mama menikah lagi. Papa masih cinta sama mama. Dia bahkan tidak terima saat mama mengajukan cerai. Waktu itu aku masih SD.
Makanya kalau papa ke Lembang aku selalu di titipkan sama keluarga kak Fajar."
"Mamanya kak Fajar pasti sayang banget sama kamu, Kinara. Pasti dia juga mendaulat kamu jadi calon menantunya." kata Embun.
"Bun," Kinara memposisikan menyamping.
"Kamu tidak usah mengelak, Bun. Kamu suka kan sama kak Fajar? Kenapa sih? takut bertepuk sebelah tangan. Dia juga suka sama kamu, Bun. Apa kurang bukti perhatian dia selama empat bulan kita berada di kampus." desak Kinara.
Embun tidak menjawab secara langsung. Banyak rangkaian kata yang harus dia siapkan. Entahlah mendengar nama Fajar dia langsung insecure. Dinding mereka sangat besar, yang utama adalah restu dari papanya. Ridho saja sudah masuk rumah sakit setelah ketahuan sama papa. Apalagi seorang Fajar. Enggak! Dia tidak mau ada korban lagi.
"Hey! malah diam. Hayo lagi mikirin apa? Pasti mikirin kak Fajar?"
"Bisa tidak usah bahas dia?" ulti Embun.
"Iya .. Iya."
"Saat ini aku cuma mau fokus kuliah saja. Nggak mau memikirkan yang belum pasti. Apalagi soal cowok." kata Embun.
"Yasudah, aku dengar kak Fajar itu sudah punya calon pilihan orangtuanya. Dan kamu tahu? Kak Fajar sedang mengejar cinta seorang adik kelas. Katanya sih gadis itu pernah nembak dia pas ospek."
"Jangan sampai dia menyesal lalu memilih perempuan pilihan orangtuanya. Ingat,Bun kesempatan tidak datang dua kali." pesan Kinara.
...****...
Motor matic itu berhenti di sebuah rumah mewah. Tentu sudah banyak perubahan pada aksen rumah tersebut. Dulu saat dia masih kecil, rumah itu hanya ada empat kamar. Tiga di bawah dan satu diatas. Dia hanya tahu kamar diatas dulu kamar mamanya. Di gantikan sama Tante bungsunya. Tak berapa lama Tante bungsunya pindah ke Cibubur ikut suami.
Sekarang rumah itu lebih luas. Diatas ada tiga kamar wanita. Satu kamar yang memang disiapkan untuk mamanya. Dua lainnya adalah kamar Andara dan juga Mimi. Sejak dulu Uncle Feri memilih menetap bersama Oma Dewi. Rumah mewah mereka juga sudah di jual. Sementara kamar bawah ada empat. Kamar Oma Dewi,.kamar Tante bungsu, kamar pribadi Uncle dan istrinya, Tante Tina, kamar Harry, kamar untuk dua cucu nya kalau liburan. Kalau Mentari lebih cocok satu kamar dengan Mimi daripada Andara. Terakhir, kamar Bi Reni dan Bi Pipit, Dua asisten rumah tangga yang sudah 10 tahun bekerja disana.
Fajar berjalan mengikuti wewangiannya aroma rempah-rempah. Tepat di dapur dia menemukan Oma nya sedang asyik meracik bumbu. Dari dulu, Oma nya tidak pernah lepas tangan ketika berada di dapur. Dia selalu ingin masakannya di senangi anak dan cucunya. Sama seperti mamanya di rumah. Tak pernah meninggalkan dapur walaupun ada Mentari dan bi Iis.
"Kalau Oma yang masak tapi magnetnya kuat banget. Sama kayak mama, kalau dia yang masak kami semua sudah antri di meja makan." suara lelaki muda terasa dekat di belakang kuduk Oma Dewi.
Wanita paruh baya itu tersenyum. Cucu kesayangannya akhirnya datang ke rumah. Sudah agak satu tahun ini Fajar jarang menengok dirinya. Alasannya sibuk. Dewi pun tidak pernah menuntut cucunya terus datang. Dewi juga tahu kalau fajar kurang akur sama Harry.
"Oma kangen sama kamu, Nak." Dewi membalas pelukan sang cucu.
"Kalau sama mama?" suara wanita tepat di belakang Fajar. Pemuda itu berpindah ke arah wanita yang sudah melahirkannya. "Fajar juga rindu sama mama. Kapan mama sampai? Kenapa tidak kasih tahu Fajar?"
"Kalau di kasih tahu bukan surprise, dong." Dira melemparkan senyuman pada putra sulungnya.
"Mama sama siapa kesini? Papa mana? Biasanya kan papa tidak pernah membolehkan mama jauh."
Fajar dan Dira sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Papa kamu di kantornya Marcel." kata Dira.
"Ada urusan bisnis ya, Ma?" tanya Fajar.
"Mama dan papa mau melamarkan Kinara, buat jadi istri kamu."
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁