Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang CEO
Kehidupan di kompleks rumah susun sederhana pinggiran kota terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan kemewahan mansion Alister Group yang sempat dinikmati oleh Keyra. Tidak ada lagi pelayan yang membungkuk hormat, tidak ada lagi pakaian sutra satin yang lembut, dan tidak ada lagi aroma parfum mahal yang menenangkan. Yang ada hanyalah suara bising anak-anak kecil yang berlarian di koridor sempit, aroma masakan dari dapur tetangga, dan derit pintu besi tua yang sudah mulai berkarat.
Namun, di tempat sederhana inilah Keyra merasa jiwanya sedikit lebih tenang. Sudah satu minggu ia kembali menempati kamar nomor 302 milik mendiang ibunya. Setiap pagi, ia menyibukkan diri dengan membersihkan debu, menyusun kembali stoples kue lamanya, dan mencoba merajut kembali serpihan hatinya yang hancur setelah mengetahui rahasia kelam masa lalu.
Keyra mengira bahwa dengan kembali ke sini, ia akan sepenuhnya terbebas dari jerat pengaruh Devan Alister. Namun, wanita itu terlalu naif jika berpikir seorang penguasa kota akan benar-benar melepaskan genggamannya begitu saja.
Meskipun Devan menepati janjinya untuk tidak menempatkan barisan pengawal berseragam hitam di depan pintu rusunnya, Keyra tetap bisa merasakan kehadiran pria itu di mana-mana. Setiap kali Keyra berjalan menuju pasar tradisional di ujung jalan, ia menyadari bahwa jalanan yang biasanya rusak dan dipenuhi sampah kini mendadak bersih total. Lampu-lampu jalan yang sudah mati bertahun-tahun kini telah diganti dengan lampu baru yang sangat terang. Bahkan, sebuah pos keamanan swasta baru dengan fasilitas canggih mendadak dibangun tepat di gerbang masuk kompleks rumah susunnya.
Tidak hanya itu, setiap kali Keyra pergi ke toko grosir untuk membeli bahan makanan, pemilik toko selalu menolak menerima uangnya dengan wajah gemetar ketakutan, sembari mengatakan bahwa seluruh belanjaan Nona Keyra seumur hidup telah dilunasi oleh seorang pria misterius berjas hitam yang datang menggunakan mobil mewah.
"Devan... kamu benar-benar pria yang keras kepala," bisik Keyra suatu sore sembari menatap ke luar jendela kamarnya, melihat sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir sepi di seberang jalan raya. Ia tahu betul, di dalam mobil berkat kaca gelap itu, ada orang-orang suruhan Devan—atau mungkin Devan sendiri—yang sedang memantau setiap embusan napasnya.
Sore itu, mendung kembali menggelayuti langit kota. Keyra berjalan terburu-buru keluar dari minimarket sembari membawa dua kantong plastik besar berisi tepung dan gula. Ia berniat untuk mulai memproduksi kue kering lagi demi menyambung hidupnya secara mandiri tanpa menyentuh uang sepeser pun dari Alister Group.
Karena salah satu kantong plastiknya robek di bagian bawah, beberapa butir telur dan kotak susu yang dibelinya mendadak jatuh dan menggelinding di atas trotoar jalan yang basah. Keyra menghela napas panjang, berlutut dengan lemas untuk memunguti barang-barang tersebut dengan tangan yang mulai kaku karena hawa dingin sore hari.
Namun, sebelum jemari Keyra sempat menyentuh kotak susu tersebut, sebuah tangan lain yang bersih dan hangat telah lebih dulu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam sebuah tas belanja kain yang baru.
"Butuh bantuan, Nona?" sebuah suara pria yang terdengar begitu ramah, lembut, dan renyah terdengar dari arah atas kepala Keyra.
Keyra mendongak perlahan. Di hadapannya, berdiri seorang pria muda berusia sekitar dua puluh enam tahun dengan pakaian kasual berupa jaket denim biru dan celana jins santai. Pria itu memiliki wajah yang sangat ramah, dengan senyuman hangat yang memancarkan energi positif—sangat berbeda jauh dengan aura dingin, kaku, dan mengintimidasi yang selalu melekat pada diri Devan Alister.
"Ah, iya... terima kasih banyak," ucap Keyra sedikit canggung sembari berdiri dan merapikan pakaian rajutnya yang sedikit kotor.
Pria muda itu tersenyum lebar, menyerahkan tas belanja kainnya kepada Keyra. "Perkenalkan, namaku Elian. Aku baru saja pindah ke kamar nomor 305 di ujung koridor lantai tiga dua hari yang lalu. Jadi, secara teknis, kita adalah tetangga baru sekarang."
Keyra tertegun sejenak, namun kemudian mengangguk sopan. "Aku Keyra. Salam kenal, Elian."
Tanpa mereka berdua sadari, dari arah seberang jalan yang berjarak sekitar lima puluh meter, sepasang mata elang yang teramat tajam tengah mengawasi interaksi akrab tersebut dari balik kaca mobil sedan hitam yang gelap.
Di dalam mobil tersebut, Devan Alister duduk di kursi belakang dengan rahang yang mengeras sempurna. Kedua tangannya mencengkeram erat setir mobil cadangan hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi gemertak yang sangat mengerikan. Aura membunuh yang sangat pekat seketika memenuhi seluruh kabin mobil mewah tersebut, membuat Leon yang duduk di kursi pengemudi depan langsung berkeringat dingin ketakutan.
"Tuan Muda..." ucap Leon dengan suara yang sangat berhati-hati, melirik tuannya dari kaca spion tengah. "Pria bernama Elian itu... berdasarkan pemeriksaan latar belakang siber cepat, dia hanyalah seorang dokter muda yang baru saja dipindahtugaskan ke puskesmas daerah sini. Dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan musuh bisnis kita atau Aliansi Naga Hitam."
"Aku tidak peduli siapa dia, Leon!" desis Devan, suara baritonnya yang berat terdengar begitu rendah dan penuh dengan gejolak kecemburuan yang membakar habis akal sehatnya. "Pria asing itu berani menyentuh barang-barang milik Keyra, dan dia berani membuat wanitaku tersenyum seperti itu di depan umum! Sudah berapa lama aku tidak melihat Keyra tersenyum manis sejak malam pernikahan itu?!"
Devan menatap lurus ke arah Elian yang kini tengah berjalan beriringan bersama Keyra memasuki gerbang rumah susun sembari membawakan kantong belanjaan wanita itu. Rasa posesif yang teramat gila bergejolak di dalam dada Devan. Ia telah memberikan Keyra ruang dan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya, namun Devan tidak akan pernah membiarkan ada pria lain yang mencoba masuk dan mengambil posisi di dalam hati sang ratu.
"Leon, beli seluruh bangunan puskesmas tempat pria itu bekerja besok pagi," perintah Devan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun. "Dan pastikan jadwal kerja dokter muda itu dibuat sangat padat selama dua puluh empat jam penuh, hingga dia tidak akan pernah memiliki waktu sedetik pun untuk sekadar berpapasan atau menyapa Keyra di koridor rumah susun lagi."
"Baik, Tuan Muda. Perintah segera diproses," jawab Leon mengangguk patuh, menyadari bahwa jika menyangkut soal Keyra, sang CEO Alister Group bisa berubah menjadi sosok yang teramat protektif, cemburu buta, dan tidak segan-segan menggunakan seluruh kekuatan finansialnya demi menyingkirkan saingan potensial. Perang tak kasat mata untuk memperebutkan kembali hati Keyra kini resmi dimulai dari sudut rumah susun sederhana itu.