Pernikahan yang terjadi karena kesepakatan membuat hubungan itu harus di rahasiakan.
Namun seiring berjalannya waktu kabar pernikahan itu akhirnya pun banyak yang mengetahui.
Hidup bersama tanpa cinta hanya akan menyakiti hati satu sama lainnya.
Bagaimanakah kelanjutan rumah tangga mereka?
Akankah cinta bisa tumbuh diantara keduanya?
Atau malah harus berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfin Maghfiroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 06
"Ma maaf mbak, aku tidak bermaksud___"
"Kenapa kamu membawa ku ke sini? Kenapa kamu tidak membiarkan aku di jalanan?"
Wulan menghela nafas panjang lalu mengambil hp dari sakunya.
"Mbak, aku bukan orang jahat yang akan meninggalkan orang pingsan di jalanan begitu saja. Mbak ada masalah apa sih sebenarnya, ga baik loh stres dalam keadaan hamil begini. Sekarang mbak kasih tau nomer keluarga mbak, biar aku hubungin mereka"
"Tidak perlu, kamu bisa pergi sekarang" ujar wanita itu dengan ketus lalu memalingkan wajahnya.
"Mbak, maaf kalo sebelumnya aku terkesan ikut campur. Aku cuma mau bilang, seberat apapun masalah yang mbak hadapi saat ini itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan bayi yang mbak kandung. Dia masih bayi, kehadirannya seperti malaikat. Mbak beruntung bisa hamil, di luar sana masih banyak wanita yang penuh penantian bertahun tahun untuk bisa hamil"
Wanita itu tetap tak bergeming, Wulan mengambil tangannya menggenggamnya dengan hangat.
"Mbak, mbak itu masih muda, cantik, masa depan mbak masih panjang dengan calon anak mbak"
Wanita itu menoleh pada Wulan dengan matanya yang sudah berlinang air mata.
"Ga papa kalo mbak mau nangis, nangis aja. Keluarkan semua sesak yang ada di dada. Aku di sini akan terus menemani mbak" ujar Wulan sambil mengelus tangannya
"Kenapa kamu baik pada ku, padahal aku selalu marah kepada mu" tanya wanita itu
"Mbak marah karena mbak sedang dalam banyak masalah. Aku tau mbak sebenarnya orang baik" jawab Wulan dengan melempar senyum
Wanita itu semakin menangis karena pujian Wulan, ia menggenggam balik tangan Wulan.
Setelah tangisan wanita itu mulai mereda, Wulan menanyakan siapa namanya dan juga di mana keluarganya.
"Nama ku Olivia, tolong hubungi kakak ku dia pasti sangat mencemaskan aku" pintanya
Setelah memberikan nomor hp kakaknya, Wulan langsung menelfonnya.
"Halo, apa benar ini kakak Olivia?" sapa Wulan ketika telfonnya sudah tersambung
"Iya, siapa ini?" jawab seorang dari seberang
"Aku wulan, aku menemukan Olivia pingsan di jalanan dan sekarang ada di rumah sakit BUNDA. Apa kamu____"
Tut...tut...tut....
Sambungan telfonnya langsung terputus begitu saja bahkan Wulan belum sempat selesai bicara.
"Lah kok malah langsung di matiin sih, orang belum selesai ngomong juga" gerutu Wulan.
Wulan kembali masuk ke kamar Olivia menemainya di sana.
Wulan mengupas memotong buah untuk Olivia, awalnya Olivia menolak namun Wulan memaksa.
"Wanita hamil itu harus banyak makan makanan bernutrisi, seperti buah ini. Ayuk buka mulutnya, aa...."
Dengan penuh perhatian Wulan menyuapi Olivia beberapa potong buah apel.
Entah kenapa perasaan Olivia menjadi lebih tenang sekarang.
Tak lama seorang pemuda langsung masuk ke kamar mengejutkan mereka berdua.
"Oliv...." panggil pemuda itu
Wulan dan Olivia serentak menoleh ke arah pintu.
Olivia langsung tersenyum melihatnya sedangkan Wulan terkejut karena pemuda yang datang itu tak lain adalah bos nya di kantor, tuan Abimana Artha Wijaya.
Abi langsung memeluk Oliv dengan erat karena dirinya sejak tadi memang benar-benar mencemaskan adiknya itu.
"Lah, jadi mbak Olivia ini adiknya tuan Abi?" batin Wulan
"Kamu kenapa bisa pingsan, kemana aja kamu tanpa ngabarin aku. Kamu ga tahu bagaimana khawatir nya aku mencari mu?!" tanya Abi pada adiknya dengan nada yang sedikit tinggi
"Maaf membuat kakak khawatir, aku sekarang ga papa kok. Ada Wulan yang menolongku"
Abi melepas pelukannya dan melihat siapa yang telah menolong adiknya.
Dengan malu malu Wulan melempar senyum, ia sedikit kikuk dan tidak tau harus apa.
Wulan takut kembali membuat kesalahan di depan tuan Abi yang garang.
"Kamu, seperti nya aku pernah melihat mu" tanya Abi dengan suaranya yang tegas
"Hehe... Iya tuan, saya memang salah satu karyawan di kantor tuan"
Abi memerhatikan wajah Wulan dengan teliti mencoba mengingat.
Saat wajahnya sedang serius Olivia menepuk lengannya "Kakak kenapa melihat Wulan seperti itu?"
Abi lalu mengalihkan pandangan nya "Ga papa. Oh ya bagaimana kata dokter, kamu dan bayi mu baik baik aja kan?"
Olivia menggeleng "Aku baik kak, tapi tidak bagaimana keadaan dia" jawab Olivia dengan tangan nya yang memegang perut buncitnya.
Wulan kemudian angkat suara dan mengatakan semua yang dokter katakan padanya.
Abi kembali memeluk Olivia dan membelai rambutnya, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
Ini adalah pemandangan Abi yang begitu lembut dan penuh perhatian 190° berbanding terbalik dengan sikap nya saat di kantor.
"Bener kata Revi, tuan Abi hanya bersikap lemah lembut pada adiknya saja. Ini benar-benar pemandangan langka" batin Wulan
"E... Karena sekarang mbak Olivia sudah ada yang nemenin, saya pamit mau pulang" ujar Wulan
"Makasih ya" ucap Olivia
Wulan melempar senyum dan mengelus lengan Olivia "Sama-sama mbak. Semoga mbak dan si kecil cepat membaik"
Segera Wulan keluar dari ruangan itu, ia melihat jam di hp nya yang kini sudah menunjukkan pukul 11.21 yang berarti sudah larut.
Sudah jarang kendaraan umum yang lewat, jalanan juga mulai sepi hanya lampu penerangan jalan yang menemaninya.
Wulan berjalan dengan sedikit lebih cepat, meski sebenarnya dirinya merasa takut berjalan seorang diri malam-malam.
Tak lama kemudian ada mobil sedan putih yang berhenti di depannya.
Karena kaca mobil yang di gelap juga tidak menyalakan lampu, Wulan tidak bisa melihat siapa yang mengemudi di dalamnya.
"Mobil siapa ini, kenapa berhenti di depan ku? Jangan bilang kalau ini mobil penculik. Tapi ini mobil terlalu bagus untuk menjadi mobil penculik"
Wulan membatin dengan matanya yang terus melihat ke arah mobil.
BERSAMBUNG
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Kak author selalu di nanti UP karyanya 👍