"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020 - Kembar!
Beberapa minggu setelah sidang skripsi, kalender kehamilan Kirana masuk bulan keempat.
Perutnya mulai terlihat. Tidak besar, hanya cukup membuat ia berhenti di depan cermin lebih lama setiap pagi.
"Aku kelihatan gemuk?"
Arya yang sedang menyiapkan tas kontrol langsung menjawab, "Kelihatan cantik."
Kirana menyipitkan mata. "Jawaban aman."
"Jawaban benar."
Sari, yang datang untuk menemani kontrol, mengangkat dua jempol. "Lulus. Suami ini masih bisa dipakai."
Kirana tertawa.
Tawa itu membuat apartemen terasa ringan lagi.
Mereka berangkat ke Klinik Bunda Sehat dengan Mercedes. Arya membawa map pemeriksaan, botol air, camilan rendah gula, dan selendang kecil dari Ibu Ratna. Sejak pulang dari Malang, Kirana sering membawa selendang itu ketika cemas.
Di ruang tunggu, beberapa ibu hamil duduk bersama suami mereka. Arya mencatat jadwal, membaca kembali vitamin, lalu memeriksa panel pemantauan.
【Kirana: stabil. Detak jantung sedikit naik.】
Ia menoleh. "Takut?"
"Sedikit."
"Kontrol biasa."
"Aku tahu. Tetap takut."
Arya menggenggam tangannya.
"Kalau takut, tekan jariku."
Kirana menekan langsung.
"Sekarang?"
"Latihan."
Nama mereka dipanggil.
Dokter Widya menyambut dengan senyum. "Mbak Kirana terlihat lebih segar."
"Berkat dipaksa makan teratur, Dok."
Arya pura-pura tidak mendengar nada sindiran itu.
Dokter Widya memeriksa tekanan darah, berat badan, dan keluhan. Semua dalam batas aman. Setelah itu, Kirana berbaring di ranjang USG.
Arya berdiri di sampingnya.
Gel dingin menyentuh perut Kirana.
Ia menarik napas.
Layar hitam putih menyala.
Awalnya hanya bentuk-bentuk yang sulit dimengerti. Arya mencoba membaca gambar, namun pengalaman sistem pun tidak membuat layar USG menjadi mudah.
Dokter Widya menggeser probe pelan.
Satu detik.
Dua detik.
Alis dokter naik.
Ia menggeser lagi.
Lalu tersenyum.
Kirana langsung panik. "Dok?"
Dokter Widya menatap layar lebih lama.
"Mas Arya, Mbak Kirana..."
Arya merasa telapak tangannya dingin.
"Ada apa, Dok?"
Dokter Widya memutar layar sedikit ke arah mereka.
Ia menunjuk dua titik kecil yang bergerak samar.
"Selamat, ya. Ini kembar."
Kirana membeku.
Arya mengira ia salah dengar.
"Kembar?"
"Iya. Dua janin. Keduanya terlihat aktif. Kita akan pantau lebih ketat mulai sekarang."
Kirana menutup mulut.
Air matanya keluar begitu cepat.
"Dua?"
Dokter Widya mengangguk. "Dua."
Arya menatap layar.
Dua kehidupan.
Dua detak kecil.
Dua alasan untuk menjadi lebih kuat.
Panel sistem meledak dengan warna emas.
【!!! KEHAMILAN KEMBAR TERKONFIRMASI !!!】
【Evaluasi ulang potensi keluarga dimulai.】
【Jumlah anak terdeteksi: 2.】
【Stabilitas janin: baik.】
【Potensi garis keturunan: SSS.】
【Hadiah tonggak kelahiran akan dibuka saat persalinan.】
Arya tidak berkedip.
SSS.
Ia pernah menerima uang, mobil, apartemen, kemampuan, dan jaringan. Semua itu terasa kecil dibanding dua titik di layar.
Kirana menoleh kepadanya.
"Arya..."
Suaranya seperti anak kecil yang baru melihat dunia terlalu besar.
Arya mencium punggung tangannya.
"Kita punya dua."
Ia baru sadar suaranya bergetar.
Dokter Widya tersenyum, lalu kembali serius.
"Kehamilan kembar butuh perhatian lebih. Nutrisi harus dijaga. Jadwal kontrol lebih sering. Jika ada flek, nyeri berat, pusing hebat, atau gerak terasa aneh nanti, langsung hubungi saya."
Arya langsung membuka catatan.
Dokter Widya tertawa kecil. "Mas Arya selalu siap."
"Saya perlu lebih siap lagi, Dok."
"Itu bagus. Banyak calon ayah baru panik dan hilang. Mas datang dengan map."
Kirana menatap Arya.
Kalimat dokter itu menembus sesuatu di dadanya.
Selesai pemeriksaan, mereka keluar membawa foto USG baru.
Di mobil, Sari yang menunggu di kursi belakang langsung bertanya, "Lama banget. Semua aman?"
Kirana masuk ke mobil tanpa menjawab.
Wajah Sari pucat.
"Ran?"
Kirana mengangkat foto USG.
"Sar."
"Apa?"
"Dua."
Sari menjerit begitu keras sampai satpam klinik menoleh.
"Kembar?"
Kirana mengangguk sambil menangis dan tertawa.
Sari memeluknya dari belakang kursi. "Ya Allah, Ran. Kamu langsung paket hemat."
Arya menyalakan mobil sambil tertawa.
"Paket hemat?"
"Sekali hamil, dua bayi. Kamu tinggal kerja dua kali lebih keras, Pak Ayah."
"Terima kasih atas dukungannya."
Mereka menelepon keluarga satu per satu.
Ibu Sri yang pertama menerima kabar.
"Kembar? Hendra! Hendra! Cucu kita dua!"
Di belakang telepon, Bapak Hendra terdengar menjatuhkan sesuatu.
"Dua?" suara ayahnya masuk, jarang sekali terdengar setinggi itu. "Arya, kamu yakin dokter bilang dua?"
"Yakin, Pak."
Hening sebentar.
Lalu Bapak Hendra tertawa.
Tawa pendek, kaku, tapi nyata.
"Alhamdulillah."
Telepon berikutnya ke Malang.
Ibu Ratna menangis sebelum Kirana selesai bicara.
"Ma, dokter bilang kembar."
"Ya Allah..."
"Mama kok nangis?"
"Mama sedang senang. Jangan protes."
Kirana tertawa sambil mengusap pipi.
"Mama sehat?"
"Sehat. Besok Mama pergi cek kesehatan seperti yang kamu atur itu. Jangan pikir Mama tidak tahu Arya yang bayar."
Arya terbatuk kecil.
Ibu Ratna langsung berkata, "Nak Arya."
"Iya, Bu."
"Dua anak berarti dua amanah. Jaga ibunya dulu. Bayi ikut ibunya."
"Saya ingat, Bu."
Setelah semua telepon selesai, Arya membuka catatan keuangan di tablet.
Sari melihat dari kursi belakang.
"Kamu baru dengar kabar kembar dan langsung buka spreadsheet?"
"Dua bayi berarti dua ranjang, dua kursi mobil, kontrol lebih sering, kemungkinan rawat inap lebih besar, dan dana darurat lebih tebal."
Kirana menatapnya.
"Kamu panik?"
"Sedikit."
"Kelihatan."
Arya menggeser layar.
"Dana tunai aman karena reward nikah siri. Tapi aku tidak mau semuanya bergantung pada hadiah sistem. Aku perlu sumber pemasukan yang bisa dijelaskan, dicatat, dan tumbuh."
Sari bersandar.
"Akhirnya kamu bicara seperti orang yang akan melawan keluarga Hartono."
Arya menutup tablet.
"Aku akan melawan mereka sebagai ayah."
Malamnya, di apartemen, Kirana duduk di sofa dengan foto USG di tangan.
"Aku sudah kepikiran nama."
Arya duduk di sampingnya. "Secepat itu?"
"Kalau perempuan, Zahra."
"Zahra Pratama."
"Kalau laki-laki, Raka."
"Raka Pratama."
Kirana menatap foto itu.
"Kalau dua-duanya perempuan?"
"Zahra dan..."
"Jangan jawab asal."
Arya mengangkat tangan. "Baik. Kita tunggu dokter."
Kirana bersandar ke bahunya.
"Aku takut, Arya. Dua bayi berarti risiko lebih besar."
"Aku tahu."
"Biaya lebih besar."
"Sudah kupikirkan."
"Hidup kita akan lebih ribut."
"Kemungkinan besar."
"Kamu masih senang?"
Arya menatap foto USG.
Dua titik kecil itu seperti menatap balik.
"Sangat."
Kirana mengusap perutnya.
"Kalau nanti aku rewel?"
"Aku catat."
"Kalau aku menangis tanpa alasan?"
"Aku duduk."
"Kalau aku minta mangga muda jam dua pagi?"
"Aku cari."
"Kalau aku marah karena kamu terlalu sibuk?"
Arya menatapnya lebih serius.
"Kamu tarik aku pulang."
Kirana tersenyum pelan.
"Aku akan ingat jawaban itu."
Malam itu, setelah Kirana tidur, Arya berdiri di balkon.
Panel sistem muncul lagi.
【Peringatan tonggak besar: kelahiran kembar akan mengubah seluruh struktur misi.】
【Perkiraan waktu: 150 hari.】
【Host, persiapkan rumah, dana, perlindungan, dan masa depan.】
Arya melihat lampu Surabaya.
Di satu sisi ada keluarga.
Di sisi lain ada Hartono.
Di dalam apartemen, Kirana tidur sambil memegang foto USG.
Arya mengepalkan tangan.
Seratus lima puluh hari.
Ia harus menjadi jauh lebih kuat sebelum hari itu tiba.