NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Tak seorang pun memecahkan keheningan. Kata-kata pria tua itu masih menggantung di udara, mengendap berat di benak mereka:

“...ada sesuatu di sisi lain yang sejak awal sedang mengirim sinyal kepada kami.”

Zain akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Kalau memang ada entitas lain... kenapa dia mau menghubungi manusia?"

Pria tua itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu pertanyaan yang salah."

"Lho?"

"Pertanyaan yang benar adalah..." Pria tua itu menatap mata Zain lekat-lekat. "...kenapa kita memilih untuk menjawabnya."

Profesor Surya menyandarkan tubuhnya ke tepi meja. "Dari awal. Ceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi."

Pria tua itu menarik napas panjang, lalu mulai membuka memori silamnya.

"Tahun 2042... Proyek Kronos dibuka kembali. Kali ini kami melengkapinya dengan teknologi yang jauh lebih maju. Kami berhasil membuat Gerbang Resonansi bertahan stabil selama tiga puluh detik."

Ardi seketika mencatat informasi tersebut di atas bukunya. "Tiga puluh detik... jauh lebih lama daripada eksperimen sebelumnya."

Pria tua itu mengangguk getir. "Dan itulah awal dari kesalahan besar kami. Pada detik pertama... tidak terjadi apa-apa. Detik kesepuluh... kami mulai menangkap bayangan visual. Dan pada detik kedua puluh..."

Raut wajah pria tua itu mendadak menegang. "...sesuatu membalas sinyal kami."

Ruangan bawah tanah itu seketika kembali sunyi.

"Awalnya kami mengira itu sekadar gema gelombang. Lalu kami mengira ada manusia lain di ujung sana. Namun setelah berminggu-minggu berlalu... kami baru menyadari satu hal mengerikan." Pria tua itu memejamkan mata sejenak. "Suara itu... selalu mengatakan apa pun yang ingin kami dengar."

Zain mengernyit bingung. "Maksudnya bagaimana?"

"Jika seorang ilmuwan haus akan penemuan baru... suara itu mengaku memiliki jawabannya. Jika ada seseorang yang meratapi kehilangan keluarganya... suara itu mengklaim sanggup mengembalikan mereka. Dan jika ada yang didera penyesalan... suara itu menawarkan kesempatan kedua."

Profesor Surya perlahan mengepalkan jemarinya. "Itu... taktik memancing."

"Ya. Dan kami memakan umpannya mentah-mentah."

Ardi mengangkat tangan menyela. "Kalau begitu... kenapa Bapak tidak langsung memutus daya Gerbang Resonansi?"

Pria tua itu tertawa pahit. "Karena rasa ingin tahu manusia jauh lebih kuat daripada rasa takut."

Kalimat itu membuat Profesor Surya menundukkan kepala. Ia sadar betul, jika berada di posisi yang sama, besar kemungkinan ia pun akan terus melanjutkan eksperimen terlarang tersebut.

"Lalu..." Zain mendesak, "apa yang sebenarnya keluar dari Gerbang itu?"

Pria tua itu terdiam cukup lama. "Aku tidak pernah melihat ada wujud fisik yang melangkah keluar. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Orang-orang di sekitar laboratorium mulai berubah. Mereka mulai mengingat... hal-hal yang tidak pernah mereka alami sebelumnya."

Jemari Ardi berhenti menulis. Profesor Surya seketika mendongak rapat.

"Ingatan palsu?" tanyakannya.

Pria tua itu menggeleng pasrah. "Itulah masalah utamanya. Kami tidak pernah bisa membuktikan bahwa ingatan-ingatan itu palsu."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Pria tua itu lantas mengalihkan pandangannya penuh penekanan pada Zain.

"Hingga suatu hari... kau datang menghampiriku, Zain."

Zain membeku. "Saya?"

"Ya. Kau berkata padaku: 'Prof... saya ingat pernah hidup di tahun 1989.'"

Zain langsung menggeleng keras. "Itu mustahil!"

"Aku pun awalnya menjawab demikian," sahut pria tua itu serak. "Tetapi... kau sanggup menceritakan detail jalanan kota yang belum pernah kau kunjungi, menyebut nama-nama orang yang belum pernah kau temui, bahkan..." Pria tua itu menatap manik mata Zain dalam-dalam, "...kau tahu pasti cara mengendarai sepeda motor yang saat itu bahkan belum resmi diproduksi."

Bulu kuduk Zain seketika berdiri tegak.

Sebuah ingatan kecil mendadak terlintas di pikirannya. Beberapa hari lalu, saat Profesor Surya pertama kali merakit komponen ajaib itu pada sepeda motornya, tanpa sadar Zain sempat bergumam: "Kabel yang ini jangan dipasang di situ..."

Padahal saat itu, ia sama sekali tidak memahami skema kelistrikan maupun fungsi komponen tersebut. Kala itu mereka menganggapnya sekadar tebakan beruntung.

Namun sekarang... Zain tidak lagi yakin itu hanya kebetulan.

Mungkin... sejak awal... ada bagian asing di dalam dirinya yang perlahan-lahan mulai terbangun.

Ruangan bawah tanah itu kembali tenggelam dalam keheningan yang membelenggu. Zain tertegun, memandangi kedua telapak tangannya sendiri yang bergetar pelan.

Tiba-tiba, ingatan-ingatan singkat yang dulu ia anggap sebagai kebetulan sepele bermunculan kembali.

Saat Profesor Surya merakit Inti Resonansi tempo hari, jemari Zain refleks bergerak membantunya—jauh lebih cepat daripada akalnya sendiri. Saat pertama kali melihat lembaran denah laboratorium lama, dadanya memancarkan keakraban seolah ia sudah menghafal setiap sudut jalannya. Dan ketika melangkah masuk ke Ruang Observasi Temporal, tubuhnya seakan paham ke mana tujuan pasti yang harus dituju.

Semua itu... jelas bukan sekadar kebetulan biasa.

"Prof..." Zain mendongak menatap Profesor Surya, suaranya bergetar. "Kalau benar saya mulai mengingat hal-hal yang belum terjadi... apakah saya akan kehilangan ingatan saya yang sekarang?"

Sebelum Profesor Surya sempat merangkai kata, pria tua di hadapan mereka menggelengkan kepala lebih dulu. "Tidak."

"Lalu apa yang akan terjadi?"

"Kau hanya akan memiliki... terlalu banyak versi ingatan."

Ardi menyela cemas. "Terlalu banyak?"

Pria tua itu mengangguk getir. "Bayangkan kau sedang membaca sepuluh buah buku secara bersamaan. Semua tokoh utamanya bernama sama, alur ceritanya mirip, tetapi memiliki muara akhir yang berbeda-beda. Lambat laun... kau tidak akan pernah tahu lagi mana cerita milikmu yang sebenarnya."

Profesor Surya perlahan-lahan menangkap korelasi ilmiahnya. "Jadi... struktur otak manusia memang tidak pernah dirancang untuk menampung lebih dari satu garis kehidupan."

"Tepat sekali," jawab pria tua itu. "Dan itulah kehancuran yang terjadi pada kami."

Zain menarik kursi kayu tua di dekatnya lalu duduk terhenyak. Kepalanya mendadak terasa teramat berat—bukan rasa sakit fisik, melainkan sensasi kepenuhan yang sesak berdesakan.

Saat ia mencoba mengatupkan kelopak matanya, sebuah rekaman visual melintas cepat di benaknya. Ia melihat dirinya sedang mengendarai sepeda motor. Bukan sepeda motor miliknya saat ini, melainkan sebuah kendaraan berdesain futuristik yang jauh lebih canggih. Jalanan yang dilaluinya pun asing, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ekstrem.

Hah... hah...

Zain membuka matanya seketika, menghela napas terengah-engah.

"Ada apa, Zain?" tanya Profesor Surya panik.

"Saya... baru saja melihat sesuatu."

"Sebutkan apa yang kau lihat."

Dengan suara tertahan, Zain menceritakan detail bayangan tersebut: bentuk sepeda motornya, tatanan jalanannya, arsitektur gedungnya, hingga bentangan langit yang dipenuhi armada kendaraan kecil tanpa awak.

Pria tua itu menyimak setiap detail tanpa memotong sepatah kata pun. Begitu Zain selesai bercerita, ia bergumam amat pelan:

"Itu bukan sekadar mimpi."

Zain refleks menoleh rapat. "Lalu apa?"

"Itu adalah pemandangan Kota Jakarta... pada tahun 2048."

Ardi menatap pria tua itu tak percaya. "Berarti... ingatan masa depannya mulai bocor ke masa sekarang?"

"Bukan bocor," koreksi pria tua itu lambat-lambat. "Ingatan itu hanya mulai kembali ke tempatnya."

Profesor Surya mengernyit heran. "Kembali?"

Pria tua itu mengangguk pasrah. "Kalian masih berpikir bahwa masa depan adalah sesuatu yang belum terjadi. Padahal bagi sebagian dari kita... masa depan telah menjadi masa lalu."

Kalimat itu sekali lagi membekukan atmosfer di dalam ruangan.

Krrrssshhh...

Tiba-tiba, radio kaset kuno yang sejak tadi padam mendadak menyala kembali dengan sendirinya. Semua orang spontan berbalik menatap instrumen tersebut.

Namun kali ini, vokal yang terpancar dari speaker tua itu bukanlah milik Profesor Surya tua, melainkan suara seorang anak kecil.

"Halo..."

Zain seketika berdiri tegak dari duduknya. Suara lugu itu... persis dengan warna suaranya sendiri sewaktu berusia lima tahun.

"Kalau Kak Zain mendengar pesan ini... jangan sedih, ya."

Raut wajah pria tua itu berubah drastis menjadi pucat pasi. "Tidak..." bisiknya bergetar. "Bukan sekarang..."

Suara anak kecil di radio terus berlanjut:

"Aku sudah bertemu dengan Ayah."

Kata tersebut membuat Zain membeku total. Ayah? Zain nyaris tidak memiliki kenangan tersisa tentang sosok ayahnya, sebab beliau telah berpulang sewaktu Zain masih sangat balita.

Radio berdesis singkat sebelum menyisakan baris kalimat penutup:

"Ternyata... Ayah tidak pernah benar-benar pergi."

KRRRRSSSHH...

Radio mati total. Ruangan kembali terlempar ke dalam kesunyian yang mencekam.

Di sudut ruangan, pria tua itu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan raut penyesalan yang mendalam menguasai wajah senjanya.

Dengan bisikan teramat pelan dan serak, ia menggumam, "Jadi... siklus takdir itu tetap dimulai."

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!