Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nancepnya Dalem
Setelah kejadian kemarin hubungan Sindi dan Dava semakin dekat, kedekatan mereka hanya dalam kutip "TEMAN", Chika pun juga ikut berteman baik dengan Dava, mereka sering berangkat dan pulang sekolah bersama, karena itu Dava sekarang sekolah menggunakan sepeda bukan motor, mereka juga sering makan di kantin bersama, ngadem di perpus bersama sambil ngobrol ngobrol, mereka ketawa bareng, curhat bareng, bisa dibilang mereka seperti sahabat lah.
Melihat gerak gerik Dava membuat Chika sedikit curiga, saat OSIS dimana ada Sindi di situ ada Dava, tatapan Dava seakan menyiratkan sebuah perasaan ingin memiliki, menatap penuh pengharapan seakan mengatakan dia punya gue.
"Gue besok berangkat Ci, nginep 4 hari, jadi lu sendiri deh." Ucap Chika di sela sela kunyahannya, mereka sekarang sedang mengisi perut di kantin.
"Kan masih ada yang lain lu fokus lomba aja."
"Maksud gue yang selalu bareng lu kemana mana."
"Gue gampang nanti ngajak siapa aja kan bisa, si Dava juga ada."
"Ci ati ati sama Dava, tu orang kayanya demen ama lu."
"Nggak mungkin lah, perasaan lu aja kali..." Sindi menyuapkan lontong balap ke mulutnya.
"Bener Cia tatapannya itu terkesan berharap ke lu, dimana ada lu di situ dia nongol." Kekeh Chika, ia menghentikan makannya.
"Nggak Chika... lu ada ada aja deh, udahlah jangan mikir yang nggak nggak."
"Ya udah lah kalo lu nggak percaya yang penting lu tetep harus ingat nadzar lu." Mengingatkan sahabatnya dan kembali memakan makanannya.
"Iya beb makasih udah ngingetin, gue selalu ingat kan juga ada lu yang selalu ngingetin gue, jadi rambu rambu buat gue hehehe..." Sindi tersenyum ke arah Chika yang kini kembali fokus dengan baksonya.
"DORR..." Chika terlonjak kaget.
"Eh pocong mati lu sama, eh." Chika memukul mulutnya sendiri.
"Hahaha santai kali Chik." Dava duduk di depan Sindi dan Chika, ia meletakkan sepiring nasi goreng beserta segelas es teh di meja.
"Lu si dateng dateng ngagetin." Chika mendengkus sebal sedangkan Sindi hanya terkekeh pelan karena ia sudah mengetahui kedatangan Dava.
"Tumben lu telat biasanya nomer satu." Tanya Sindi.
"Gue lupa nggak ngerjain pr jadinya di suruh nyalin 3 lembar." curhat Dava.
"Kurang tuh, kalo gue jadi gurunya gue suruh nyalin sebuku sekalian." Canda Sindi.
"Stroke tangan gue." dengus Dava.
"Tak bertanggung jawab, pr di lupain apalagi..." ucapan Chika menggantung.
"Apalagi apa? justru karena gue punya tanggung jawab lebih besar sampe lupa PR." Jawab Dava santai.
"Makan lu berantakan." Dava menyodorkan segulung tisu ke hadapan Sindi.
"Emang tanggung jawab apaan, sok penting lu."
"Tanggung jawab Andrew membantu tim ngelawan musuh." Ucap Dava santai.
Anak FF pasti tau Andrew.
Andrew adalah karakter Free Fire yang sangat kuat dan dapat menerima banyak serangan dari musuhnya. Berkat kemampuannya yang mempekuat Vest sebesar 12% jika sudah level maksimum.
"Game mulu yang lu pikirin, masa depan lu tuh pikiran." Emang mulut Chika kadang suka nggak kekontrol.
"Temen lu juga gue pikirin FF cuma selingan." Dava melirik Sindi.
"Apaan, dah lah gue masuk kelas dulu mau bell yuk Chik." Sindi bangkit dari duduknya di ikuti Chika.
"Gue duluan Dav." Pamit Chika.
"Yoi, Ntar pulang gue tunggu di parkiran." Ucapan Dava hanya di balas acungan jempol oleh Sindi.
Chika menyamakan langkah dengan Sindi.
"Noh kan tu orang ada apa apa ke lu Ci."
"Biarin lah yang penting gue nggak ada apa apa ke dia." Ucap Sindi acuh.
"Terserah lu lah gue cuma ngingetin." Chika mulai kesal dengan sahabatnya.
"Iya, makasih udah di ingetin." Sindi merangkul bahu Chika.
"Kok lu tambah tinggi aja dah, jinjit gue jadinya."
"Lu yang bocil." Ledek Chika.
"Parah lu Chik." Sindi melepaskan rangkulannya dan menatap Chika datar.
"Gue bercanda elah sensi amat lu." Ucap Chika dengan cengirannya.
"Ada si lemes tuh." Chika mengkode Sindi.
"Biarin biar tambah lemes tu mulut." Sindi dan Chika tetap melanjutkan jalannya.
"Eitsss tunggu dulu." Aknes menghentikan langkah Sindi dan Chika.
"To the point, apaan?" Tanya Sindi malas.
"Santai atu bu... gue cuma mau ngasih tau lu kalo jangan terlalu cinta entar nancepnya dalem, walau itu tujuan gue sih hahaha..." Aknes pergi dengan tawanya.
"Appaan sih tu orang nggak jelas."
"Nggak ada objek buat lemes tu orang makanya nggak beres, udah ayo ke kelas." Chika merangkul Sindi.
Sindi yakin di balik omongan Aknes pasti ada maksud tersendiri, tapi apa? Jangan terlalu cinta entar nancepnya dalem, Cintai? nancep? dalem? nancep kemana? apanya yang ditancep? apa yang bakal dilakukan Aknes?
"Udah jangan dipikirin tu lemes fokus sama pelajaran." Ucap Chika membuat Sindi kembali fokus dengan guru yang sedang menerangkan di depan.
{\_/}
( •.•)
/>❤
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO