Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Apalagi setelah ini..”gumam aruna..akhirnya gadis itu pergi dari sana..di sela langkahnya keluar kantin, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan mata penuh kebencian milik olla..lagi-lagi aruna menghela nafas.
Dia tidak merasa senang dilirik oleh pria populer di sekolahnya, dia malah merasa waspada dan cemas, karna keterlibatan liam dalam hidupnya malah mendatangkan malapetaka yang lebih besar dari yang biasa dia dapatkan.
_________________________
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam..Minimarket tempat Aruna bekerja masih dipenuhi pengunjung..Malam itu jauh lebih ramai dari biasanya..Beberapa mahasiswa datang membeli kebutuhan harian, pekerja lembur kantoran mengantre di kasir, sementara beberapa anak muda memenuhi rak makanan ringan.
“Permisi, Mbak..Tolong hitung yang ini juga..”
“Maaf, saya mau top up e-money..”
“Mbak, kantong plastiknya dua ya..”
“Iya, sebentar..”
Aruna tak henti-hentinya melayani pelanggan..Sejak pulang sekolah sore tadi, ia bahkan belum sempat duduk barang lima menit karna cucian dan gosokan yang menunggunya..Kakinya mulai pegal..Pinggangnya terasa nyeri..Namun ia tetap memasang senyum tipis kepada setiap pelanggan yang datang..Pekerjaan ini sangat berarti baginya..Ia tak boleh sampai kehilangan pekerjaan.
Bel kecil di atas pintu berbunyi.
Ting...
Aruna yang sedang menyusun rokok di belakang kasir tidak terlalu memedulikannya..Namun suara riuh beberapa laki-laki membuatnya spontan menoleh..Tak lama terlihat liam dan tim basketnya memasuki minimarket, sepertinya mereka baru selesai latihan basket, terlihat dari seragam basket yang masih mereka kenakan.
“Uhh ademnya..”
“Aku ambil keripik..”
“Bro, cokelat yang kemarin enak..”
Jantung Aruna seketika berdegup lebih cepat..Di barisan paling belakang...Liam berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket..Ekspresinya tetap datar..Aruna segera memalingkan wajah.
Kai melewati meja kasir..dia menatap aruna sambil bersiul pelan..pria itu manatap liam seolah memberi perintah..liam tak menghiraukan lirikan sang sahabat..sedangkan aruna pura-pura sibuk menatap layar monitor di depannya, berusaha tak melihat kearah liam dkk.
Para pria itu mulai mengelilingi rak demi rak..keempat sahabat liam sesekali melirik liam dan aruna bergantian, berharap ada interaksi diantara mereka..tapi nihil, aruna dan liam sama-sama seolah tak mengenal satu sama lain.
“Cih..ga seru..”cibir nathan.
seperti biasa kaum muda itu mengambil berbagai macan varian soda dan cemilan..aruna tak menghiraukan mereka, dia sibuk melayani pembeli yang sadang membayar belanjaan..Beberapa menit kemudian, seluruh keranjang belanja telah penuh.
“Udah semua?..”Kai bertanya.
“Udah..”
“Gue sama ethan nunggu di luar..”ucap nathan sambil manarik ethan.
“Gue juga..”sahut yang lain..Satu per satu anggota tim basket keluar.
Kini yang tersisa di depan kasir hanyalah Liam dan Aiden..Aiden meletakkan seluruh belanjaan di atas meja kasir.
“Hitung ya..”ucap aiden..Aruna mengangguk kecil.
“Iya..”jawabnya.
Tangannya bergerak lincah memindai satu per satu barang.
Bip...
Bip...
Bip...
Aruna hanya fokus pada layar mesin kasir..Tak sekali pun berani mengangkat kepala..sedangkan liam sesekali melirik gadis itu..aiden tersenyum tipis melihat kelakuan liam.
“Baru kali ini kan lo di cuekin cewek..”batin aiden mencibir sang sahabat.
“Lima ratus delapan puluh ribu..”ucap aruna sambil menyerahkan kantong belanjaan pada aiden
Aiden mengeluarkan kartu debit..Saat transaksi selesai, Aruna memasukkan semua barang ke dalam kantong belanja.
“Terima kasi sudah berbelanja..”ucap aruna menunduk singkat kearah aiden.
Baru saja ia hendak menyerahkan kantong itu..Sebuah bungkus biskuit cokelat diletakkan kembali di atas meja kasir..Aruna mengernyit.
“Ini belum dihitung?..”tanya aruna
“Bukan..”Suara Liam terdengar datar.
“Lalu?..”tanya aruna terpaksa menatap wajan liam.
“Itu untuk lo..”ucap liam dengan wajah datar khas nya.
Aruna menatap bungkus biskuit itu beberapa detik..Lalu menoleh kepada Liam.
“Ga usah..”ucap aruna akhirnya kembali menyodorkan sebungkus biskuit itu.
“Lo pasti belum makan..”ucap liam melirik perut aruna yang baru saja berbunyi..aruna terdiam malu, sedangkan aiden tertawa kecil.
“Tapi...”aruna hendak kembali menolak.
“Ambil..”ucap liam tak menerima penolakan..nadanya masih sama, datar dan kaku..seolah bukan sedang memberi hadiah, melainkan memberi perintah..Aiden yang berdiri di sampingnya lagi-lagi tertawa kecil tawa.
“Astaga, cara dia ngasih orang makanan kayak nagih utang..”batin aiden mencibir kelakuan sang sahabat.
Aruna akhirnya menerima biskuit itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih..”ucap aruna..Liam hanya mengangguk singkat..Lalu berbalik meninggalkan minimarket.
.
.
Di depan minimarket..Seluruh anggota tim basket duduk di kursi panjang sambil membuka minuman masing-masing..Kai melirik Liam.
“Lu kasih makanan lagi?..”tanya kai.
“Biar enggak kelaparan..”jawab liam singkat..Jawaban Liam membuat keempat sahabatnya saling pandang..Nathan terkekeh pelan.
“Mulai perhatian, nih..biasanya harus di komandoin dulu..”ucap nathan..Liam tidak menanggapi.
“Bagus udah bisa inisiatif..lain kali begitu, jangan tunggu di perintah dulu..”ucap aiden.
“Sebulan lagi siapin aja hadiahnya..”ucap liam santai..keempat sahabatnya menatap liam malas.
“Mulai sombong..”ucap ethan.
.
.
Belum sampai lima menit kemudian..Sebuah mobil berhenti di depan minimarket..Seorang pria paruh baya turun dengan wajah masam..Ia adalah pemilik minimarket tempat Aruna bekerja.
“Aruna!..”panggil pria paruh baya itu sedikit keras..aruna langsung berdiri tegak.
“Iya, Pak?..”tanya aruna
“Ada laporan masuk..”ucap pria itu..aruna tampak bingung.
“Laporan?..”tanya aruna.
“Kamu melayani pelanggan dengan wajah jutek..Katanya kamu tidak ramah..”jelas pria itu..Aruna langsung menggeleng.
“Tidak mungkin, Pak..Saya melayani semua pelanggan seperti biasa..”jwab aruna cepat..dia benar-benar merasa tak melakukan itu.
“Masih berani membantah?..”Pria itu mengeluarkan ponselnya.
“Tadi sore ada pelanggan yang menelepon..Dia bilang kamu melayani dengan wajah tidak sopan dan mengabaikannya..”ucap pria itu..Aruna mengingat-ingat..Seharian tadi ia tak merasa bermasalah dengan pelanggan mana pun.
“Saya benar-benar tidak melakukan itu, Pak..”kekeh aruna..bosnya mengembuskan napas kasar.
“Saya enggak peduli..Ini peringatan pertama..Kalau sampai ada laporan lagi...kamu saya pecat..”ucap pria paruh baya itu lantang..Kepala Aruna langsung tertunduk.
“Baik, Pak..”ucap aruna akhirnya..Pria paruh baya itu pergi begitu saja..aruna menghela nafas pelan saat sebuah nama melintas dalam ingatanya.
Olla..pantas saja kemarin gadis itu hanya membeli tanpa menganggunya, rupanya ada niat lain.
Tak jauh dari sana, Liam dan tim nya mendengar perdebatan itu dengan sangat jelas.
“Ada apa lagi dengan gadis itu?..”tanya aiden.
“Entahlah..”jawab kai.
Sedangkan liam masih menatap aruna yang tertunduk diam setelah di marahi.
---
Pukul sebelas malam..Aruna akhirnya selesai merapikan toko..Ia berganti pakaian, mengambil tasnya, lalu keluar sambil menuntun sepeda tua yang mulai berderit..Saat baru beberapa langkah...
“Aruna..”panggil seseorang..aruna menoleh..Liam berdiri di dekat motor besar miliknya.
“pulang?..”tanya pria itu..Aruna hanya mengangguk kecil.
“Aku antar..”ujar liam..Aruna langsung menggeleng.
“Tidak usah..”jawab aruna.
“Sudah larut malam..”ucap liam.
“Aku biasa pulang malam..lagian jaraknya tak jauh..”ucap gadis itu.
Liam menatap sepeda tua itu..Lampu depannya bahkan sudah tidak menyala..Rem belakangnya berbunyi nyaring setiap kali ditekan.
“Naik saja..”liam masih terus berusaha mendekati gadis itu..Aruna tersenyum kecil..Senyum yang sopan..Namun penuh penolakan.
“Terima kasih..Tapi..Aku tidak ingin merepotkanmu..”tolak aruna.
“Tidak merepotkan..”ucap liam.
“Buatku tetap merepotkan..”ucap aruna kekeh..Aruna membungkukkan badan pelan..Tanpa menunggu jawaban, ia mengayuh sepeda tuanya perlahan menembus dinginnya malam..Liam memandangi punggung gadis itu hingga menghilang di ujung jalan.
“Dia keras kepala juga..”gumam liam..Aiden berdiri di samping Liam sambil memasukkan kedua tangan ke saku.
“Bukan keras kepala..Dia hanya tidak ingin berutang budi..”ucap aiden.
Untuk pertama kalinya sejak taruhan itu dimulai..Liam merasa ada sesuatu yang berbeda..Aruna bukan gadis yang mudah terpesona oleh uang, ketampanan, ataupun status..dan justru karena itulah, Mendekatinya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
.
.
.
TO BE CONTINUE….