Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
"Maaf membuatmu menunggu." Suara Seokjin membuat Viola tersadar dari pikirannya.
"Tidak apa-apa. saya juga baru saja sampai," jawab Viola. Ia merapikan posisi tas di samping tubuhnya.
Seokjin berjalan masuk lalu menutup pintu. "Kau datang untuk membicarakan bangunan itu?"
"Benar." Viola mengangguk. "Aku ingin membicarakan harga sewanya."
Seokjin meletakkan beberapa dokumen yang dibawanya di atas meja. "Silakan duduk."
"Terima kasih." Viola duduk di salah satu sofa. Sementara Seokjin mengambil tempat di sebrangnya.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Viola menatap pria di hadapannya. Seokjin masih terlihat sama seperti yang ia ingat. Tegas, tenang, dan sulit ditebak.
"Saya sudah melihat bangunan itu kemarin." Viola membuka percakapan lebih dulu.
"Bagaimana menurutmu?"
"Tempatnya sangat bagus." Viola menarik napas. "Lokasinya strategis. Bangunannya juga cocok untuk Sweet Cake. Bahkan ada tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal."
Ia berhenti sebentar.
"Tapi bagaimana dengan harga sewanya?" lanjut Viola kemudian.
Seokjin mengangkat pandangan dari dokumen. "Berapa harga yang menurutmu wajar?"
Pertanyaan itu membuat Viola terdiam sesaat. Ia sudah mempersiapkan banyak kalimat sejak semalam. Namun, mendengar pertanyaan itu secara langsung, semuanya terasa hilang.
"Itu ...." Viola menelan ludah. "Saya tidak tidak bisa memperkirakannya."
Ia menunduk sebentar. "Kawasan yang strategis dengan bangunan modern dan luas. Harga sewanya pasti tinggi."
Viola menarik napas pelan. Jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuan. Sejak datang ke ruangan itu, ia sudah membayangkan kemungkinan terburuk. Angka yang telalu besar untuk dijangkau. Kontrak yang akhirnya tidak bisa ia ambil. Dan sekali lagi, ia harus kembali mencari tempat lain.
"Aku tidak akan menentukan harga sewanya." Suara tenang Seokjin membuat Viola spontan mengangkat wajah.
"Kau bisa menentukan sendiri sesuai kemampuan finansialmu saat ini," lanjut Seokjin. Pria itu menarik sedikit sudut bibirnya. Ia memperhatikan Viola yang sejak tadi terlihat canggung, bahkan seperti sudah pasrah sebelum mengetahui harga yang sebenarnya.
"Jadi ... saya yang menentukan?"
"Ya," jawab Seokjin singkat.
"Tapi bangunan itu milik Anda."
"Benar." Seokjin kembali menjawab singkat.
"Dan Anda tidak keberatan?"
"Aku tidak mengatakan kau boleh menyewanya secara gratis." Nada Seokjin tetap tenang. "Kau tetap membayar. Hanya saja, jumlahnya harus masuk akal untuk kedua pihak, tetapi tidak terlalu memberatkanmu."
Viola terdiam. Ada rasa lega yang perlahan turun ke dadanya. Namun, bersama dengan itu, muncul perasaan tidak enak lain.
"Kalau begitu, bukankah Anda bisa rugi?"
"Aku sedang berbisnis, bukan berjudi." Seokjin bersandar pada kursinya. "Kau bisa menentukan sendiri, berapa nominal yang mampu kau bayar tanpa mengganggu kelangsungan Sweet Cake."
Viola kembali terdiam. Kali ini cukup lama. Kalimat itu perlahan mengurai simpul yang sejak tadi menekan dadanya. "Kenapa Anda melakukan ini?" tanyanya pelan.
"Aku membeli bangunan itu sebagai aset. Aku tidak sedang mengejar keuntungan besar dari penyewanya." Seokjin kembali menegakkan tubuhnya. "Karena kau sedang mencari bangunan yang sesuai, kau bisa menggunakannya sesuai kemampuan finansial yang kau miliki."
Jawaban itu membuat Viola sedikit mengerti. Seokjin memang seorang pebisnis. Ia tidak membeli sebuah bangunan tanpa perhitungan. Tetapi untuk urusan sewa, pria itu tidak ingin menjadikan harga bangunan sebagai alasan untuk membebaninya. Meski sedikit merasa tersinggung, tetapi Viola berusaha menghormati niat baik pria itu.
"Baik," ucap Viola akhirnya. "Saya akan menghitung kemampuan saya terlebih dahulu."
Seokjin mengangguk. "Itu yang seharusnya kau lakukan."
Viola tersenyum kecil. Ia tidak menyangka, Seokjin bisa sangat bijaksana. Pria itu bahkan memberinya kesempatan untuk menentukan batas kemampuannya sendiri.
"Terima kasih, Tuan Han." Viola lalu berdiri dan mengambil tasnya. "Kalau begitu, saya pamit."
"Viola!"
Langkah Viola terhenti. "Ya?"
"Besok Asisten Kim akan mengirimkan detail bangunannya padamu. Luas, fasilitas, dan semua hal yang perlu kau pertimbangkan."
Viola mengangguk. "Baik."
"Periksa semuanya." Seokjin menatapnya serius. "Lokasi, biaya operasional, akses pelanggan bahkan kemungkinan toko tidak seramai yang kau harapkan. Kalau kau ingin tokomu bertahan lama, kau harus memperhitungkan semuanya."
Viola kembali tersenyum kecil. "Anda masih sama."
Seokjin mengernyit. "Maksudmu?"
"Teliti sampai hal terkecil. Dan saya harus belajar lebih banyak dari Anda."
Setelah mengatakan kalimat itu, Viola berjalan menuju pintu lalu keluar dari ruangan.
Pintu kembali tertutup setelah Viola pergi.
Ponsel Seokjin yang berada di atas meja tiba-tiba berdering. Ia mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar.
"Nara?" Ia mengangkat panggilan itu.
"Ya, Nara." Seokjin berjalan perlahan meninggalkan sofa.
"Aku sudah mengabulkan keinginanmu." Langkanya terhenti tepat di depan lukisan besar Nara. Tatapannya terangkat, menatap wajah Nara dalam lukisan itu.
Seokjin terdiam sejenak mendengarkan suara dari sebrang telepon.
"Aku sudah memberinya kebebasan untuk menentukan sendiri harga sewanya." Sudut bibirnya bergerak tipis.
"Aku tidak akan membuatnya merasa sedang menerima belas kasihan." Seokjin memasukkan satu tangannya pada saku celana. Tatapannya masih tidak beranjak dari lukisan itu.
Setelah mendengar beberapa kalimat dari Nara. Panggilan itu akhirnya berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Seokjin berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya. Baginya, semua ini tetap bagian dari perhitungan. Bukan hanya untuk mengabulkan keinginan wanita yang begitu dicintainya.
Pria itu duduk di kursinya, lalu membuka kembali dokumen proyek kawasan bisnis Distrik Timur. Tatapannya kembali berubah dingin. Masalah pembebasan lahan kini sudah hampir selesai. Ia mengetukkan jarinya pelan di atas meja. "Semua harus selesai tepat waktu."
Seokjin kembali menatap layar tablet. Namun, untuk sesaat, wajah lelah Viola yang tadi duduk canggung di hadapannya melintas di pikirannya. Keningnya sedikit berkerut, tapi ia segera mengalihkan perhatian pada dokumen di depannya. Ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dan ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan bisnis ataupun Nara.
*** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor