NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Kabar mengenai kemajuan fisik Jiro yang sudah mulai bisa melangkah dalam hitungan detik menyebar seperti angin segar di lingkungan internal keluarga besar Nandotomo. Pak Baskoro adalah orang yang paling bahagia. Pagi-pagi sekali, beliau sudah memanggil Jiro ke ruang kerjanya untuk membahas pengembalian posisi Jiro sebagai CEO utama Nandotomo Group yang sempat lowong selama enam bulan terakhir.

Sementara Jiro sibuk dengan urusan transisi perusahaan bersama kakeknya, Senjani memanfaatkan waktu luang tersebut untuk merapikan berkas-berkas rekam medis lama milik Jiro yang ada di ruang terapi. Sebagai seorang terapis yang teliti, dia perlu mempelajari ulang riwayat operasi dekompresi tulang belakang yang pernah dijalani suaminya pasca kecelakaan hebat enam bulan lalu.

Senjani duduk di meja kerja kecilnya, membuka map tebal berlogo rumah sakit pusat. Lembar demi lembar laporan pembedahan dan grafik saraf dia amati dengan saksama. Namun, ketika dia mencapai halaman paling belakang, yaitu bagian yang berisi salinan dokumen kronologi kecelakaan dari pihak kepolisian untuk keperluan klaim asuransi medis, gerakan tangan Senjani mendadak membeku.

Mata jernihnya membelalak sempurna menatap baris demi baris tulisan di atas kertas legal tersebut. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menciptakan sensasi dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke kepala.

...Kecelakaan beruntun di Tol Dalam Kota KM 12 disebabkan oleh satu unit truk kontainer yang mengalami rem blong dan menghantam mobil sedan mewah milik korban Jiro Nandotomo dari arah belakang. Pengemudi truk tersebut dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara akibat benturan kemudi...

Napas Senjani tertahan di tenggorokan. Fokus matanya terkunci pada satu nama yang tertera jelas di kolom identitas pengemudi truk yang bersalah tersebut.

Nama Pengemudi Truk: Dion Kiran.

"N-Ggak... Ini nggak mungkin..." bisik Senjani dengan suara yang bergetar hebat. Tubuhnya seketika melemas, membuat lembaran dokumen di tangannya terlepas dan berserakan di atas lantai marmer.

Dion Kiran adalah ayah kandungnya. Ayah yang selama ini dia tahu meninggal dunia enam bulan lalu akibat kecelakaan kerja saat membawa muatan luar kota. Senjani selalu mengira kepergian ayahnya adalah murni kecelakaan tunggal di jalur pantura, karena ibunya sengaja menyembunyikan detail kejadian demi melindungi mental Senjani yang saat itu sedang fokus menyelesaikan ujian profesi kedokteran fisiknya.

Air mata Senjani runtuh seketika membasahi pipinya yang mendadak pucat pasi. Kenyataan pahit ini menghantam kesadarannya seperti gada raksasa. Ayah kandungnya... pria yang selalu mendidiknya dengan penuh kasih sayang, ternyata adalah penyebab hancurnya hidup Jiro. Ayahnya adalah alasan mengapa kaki suaminya lumpuh, mengapa Jiro menderita selama enam bulan ini, dan mengapa pria itu sempat berubah menjadi monster yang penuh kebencian.

"Senjani? Kamu di dalam?"

Suara bariton yang familier itu terdengar dari arah pintu luar. Senjani tersentak panik. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia berlutut di lantai, mengumpulkan lembaran-lembaran dokumen yang berserakan dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikannya kembali ke dalam map sebelum Jiro melihatnya.

Pintu ruangan terbuka. Jiro masuk dengan kursi rodanya yang bergerak pelan. Wajah tampan pria itu tampak jauh lebih segar, menyiratkan binar kebahagiaan yang jarang dia perlihatkan. Dia baru saja menyelesaikan pertemuan yang memuaskan dengan kakeknya tentang rencana kembalinya dia ke kantor minggu depan.

Namun, senyuman tipis di bibir Jiro memudar seketika begitu dia melihat kondisi istrinya. Senjani masih berlutut di lantai, membelakanginya dengan bahu yang bergetar hebat karena menahan tangis.

"Senjani, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Jiro dengan nada suara yang mendadak dipenuhi oleh kekhawatiran yang dalam. Dia mempercepat laju kursi rodanya mendekati posisi Senjani.

"A-Ah, gapapa, Mas," jawab Senjani parau, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan sebelum membalikkan badannya menghadapi Jiro. Dia memeluk map tebal itu erat-erat di dadanya, berusaha menyembunyikan isi dokumen tersebut. "Aku hanya... hanya kelilipan debu dari berkas-berkas lama ini."

Jiri menyipitkan matanya tajam. Dia bukan pria bodoh yang bisa dibohongi dengan alasan klise seperti itu. Dia bisa melihat dengan jelas gurat ketakutan, rasa bersalah, dan kepedihan yang luar biasa besar di balik sepasang mata jernih istrinya.

"Kamu berbohong, Senjani," ucap Jiro dingin, namun tangannya terulur lembut untuk meraih dagu Senjani, memaksa istrinya untuk menatap langsung ke dalam maniknya. "Katakan padaku, apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan kondisi ibumu di Singapura? Atau... ada orang lain yang mengancammu lagi?"

"Nggak, Mas. Benar-benar tidak ada apa-apa kok. Aku bersumpah," bohong Senjani lagi, suaranya tercekat di tenggorokan karena rasa bersalah yang teramat sangat yang kini mulai menggerogoti ulu hatinya.

Setiap kali dia menatap wajah tampan milik Jiro, rasa bersalah itu semakin mencekik lehernya. Bagaimana bisa dia tetap berada di sini, menerima kasih sayang dan pelukan hangat dari pria yang keluarganya telah ia hancurkan? Sesuai dengan kode etik profesi dan moralitas kemanusiaan, dia tahu hubungan ini sudah cacat sejak awal. Dia tidak memiliki hak untuk menjadi penyembuh bagi Jiro jika darahnya sendiri adalah penyebab luka itu ada.

Jiro menatap map yang didekap erat oleh Senjani. Rasa curiga mulai merayap di dalam benak sang CEO muda. Sebelum Senjani sempat menghindar, tangan kekar Jiro bergerak kilat merenggut map tersebut dari pelukan istrinya.

"Mas Jiro, jangan!" jerit Senjani histeris, mencoba merebutnya kembali, namun Jiro sudah memundurkan kursi rodanya dan membuka map tersebut dengan satu tangan.

Lembaran salinan dokumen kronologi kecelakaan dari kepolisian itu langsung terpampang di depan mata Jiro. Tatapan mata Jiro menyapu baris demi baris tulisan tersebut, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada nama Dion Kiran di bagian kolom pengemudi truk yang menabraknya, lalu beralih menatap nama Senjani Kiran di dalam berkas data istri sahnya yang tersimpan di bagian depan.

Kiran. Nama belakang yang sama. Nama belakang yang selama ini tidak pernah Jiro pedulikan karena dia terlalu fokus pada kemarahannya sendiri.

Atmosfer di dalam ruang terapi itu seketika turun drastis melampaui titik beku. Keheningan yang mencekam dan mematikan merayap di antara mereka, menyisakan suara detak jantung Senjani yang berdegup kencang karena ketakutan di ambang kehancuran masa depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!