Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun: Mengkhitbahku di Depan Suamiku
Matahari telah bergeser tepat di atas kepala. Sinar teriknya menyelimuti jalanan kota, sementara aktivitas masyarakat semakin ramai menjelang waktu istirahat siang.
Sesuai rencana, setelah jam pelajaran usai, Ainun mengajak beberapa rekan sesama guru makan siang bersama sebagai bentuk perpisahan sebelum dirinya resmi meninggalkan sekolah.
Kini mereka telah berada di sebuah restoran yang cukup ramai. Aroma berbagai hidangan memenuhi ruangan, berpadu dengan suara percakapan para pengunjung yang saling bersahutan.
Beberapa menu telah tersaji di atas meja.
Di sela-sela obrolan ringan, Bu Een tiba-tiba berdiri sambil tersenyum.
“Maaf, saya ke toilet dulu.”
“Saya juga, Bu Een,” sahut Bu Melda sambil ikut bangkit dari kursinya.
Laras yang sejak tadi menikmati minumannya langsung mengangkat tangan.
“Eh, tunggu. Saya ikut juga.”
Ketiga wanita itu pun berjalan beriringan menuju arah toilet.
Ainun mengikuti kepergian mereka dengan pandangan tenang hingga sosok ketiganya menghilang di balik dinding restoran.
Saat kembali menoleh, ia baru menyadari kini hanya dirinya dan Pak Faizan yang masih berada di meja itu.
Suasana mendadak terasa canggung.
Ainun menundukkan pandangan sejenak, memainkan ujung sendok di tangannya.
“Bu Ainun.”
Suara Pak Faizan membuat Ainun mengangkat kepala.
“I-iya, Pak?” sahutnya pelan. “Ada apa?”
Pak Faizan tampak menarik napas panjang. Jemarinya saling menggenggam di atas meja, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
“Bu Ainun... sudah punya pacar?”
Pertanyaan itu membuat Ainun sedikit terdiam.
Keningnya berkerut tipis.
“Ada apa memangnya, Pak?” tanyanya balik dengan nada hati-hati.
Pak Faizan menatapnya beberapa saat. Sorot matanya tampak lebih serius dari biasanya.
“Sebenarnya...” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Saya berniat mengkhitbah Ibu.”
Jantung Ainun seolah berhenti berdetak sesaat.
Matanya membulat tanpa berkedip. Tatapannya terpaku pada wajah Pak Faizan, berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
‘Mengkhitbah ku?’
Jemarinya perlahan mencengkeram ujung taplak meja.
Dadanya berdegup semakin cepat, sementara pikirannya mendadak dipenuhi berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan. Ia sama sekali tidak menyangka percakapan makan siang itu akan berubah menjadi pengakuan yang begitu mengejutkan.
Ainun menelan ludah pelan.
“T-tapi, Pak, saya...”
Kalimatnya menggantung di ujung bibir.
Belum sempat ia melanjutkan penjelasannya, Pak Faizan lebih dulu menggeleng pelan.
“Apapun keadaan Bu Ainun,” ucapnya mantap sambil menatap Ainun, “saya siap menerima dengan lapang dada.”
Jemari Ainun perlahan meremas ujung seragam yang dikenakannya.
‘Kalimat itu... selama ini ingin sekali kudengar dari seseorang yang benar-benar mencintaiku.’
Tatapannya perlahan menunduk.
‘Tapi... kalau beliau tahu aku sudah menikah... bahkan sedang mengandung anak pria lain... apakah beliau masih akan mengatakan hal yang sama?’
“Bu Ainun...”
Suara lembut Pak Faizan membuyarkan lamunannya.
Ainun mengangkat wajah perlahan.
“Maaf, Pak,” ucapnya lirih. “Saya belum ingin terikat dengan pria mana pun.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kembali menundukkan kepala. Giginya menggigit pelan bibir bawah, berusaha menahan gejolak di dalam dadanya.
“Ainun...”
Suara yang sangat dikenalnya membuat tubuh Ainun menegang. Ia spontan mengangkat kepala, lalu menoleh ke arah sumber suara.
“Mbak Liona...?”
Liona berdiri beberapa langkah dari meja mereka dengan senyum tipis di bibirnya.
“Sudah kuduga,” ucap Liona sambil melirik Pak Faizan. “Ternyata kamu lagi makan sama seorang laki-laki.”
Telunjuknya mengarah ke Pak Faizan.
“Ini pasti pacar kamu, ya?”
Ainun segera menggeleng.
Tatapannya sempat mengikuti arah telunjuk Liona, tetapi tanpa sengaja matanya menangkap sosok lain yang berdiri tepat di belakang sang kakak.
Sagara.
Pria itu berdiri dengan wajah datar, menatap ke arah meja mereka tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Jantung Ainun kembali berdegup tidak beraturan.
Pak Faizan berdiri dari kursinya, lalu mengulas senyum sopan.
“Perkenalkan, Mbak,” ucapnya santun. “Saya Faizan, rekan kerja Bu Ainun di sekolah.”
“Oalah,” sahut Liona sambil mengangguk kecil.
Pak Faizan melirik sekilas ke arah Ainun sebelum kembali menatap Liona.
“Kebetulan tadi saya baru menyampaikan niat saya kepada Bu Ainun.”
“Apa itu?” tanya Liona dengan nada penasaran.
“Saya ingin mengkhitbah beliau.”
Alis Liona terangkat. Netranya beralih ke arah Ainun.
“Benar begitu, Ainun?”
Ainun menggenggam kedua tangannya di bawah meja.
“I-iya, Mbak,” jawabnya pelan.
Senyum Liona justru semakin lebar.
“Ya diterima saja.” Ia terkekeh kecil. “Jodoh itu nggak akan ke mana, kan, Mas Sagara?”
Ainun tanpa sadar mengalihkan pandangan ke arah Sagara.
Pria itu tetap berdiri di tempatnya.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Wajahnya tetap tenang, begitu sulit ditebak hingga Ainun sama sekali tidak mampu membaca isi pikirannya.
Liona menyapu pandangan ke seluruh meja. Senyum di wajahnya tak kunjung pudar.
“Oh, ternyata bukan cuma berdua,” ujarnya ringan. “Masih ada yang lain juga.”
Tatapannya beralih kepada Sagara, lalu kembali tersenyum.
“Sayang sekali. Tadinya kupikir kita bisa kencan bareng.”
Ia menunjuk beberapa kursi yang masih kosong.
“Kalau begitu kita gabung saja, ya? Masih ada tempat, kan?”
Pak Faizan mengangguk ramah.
“Silakan, Mbak.”
Tak lama kemudian, Liona menarik kursi di samping Faizan, sementara Sagara duduk tepat di sebelah Ainun.
Jantung Ainun berdegup pelan. Ia hanya menundukkan kepala, berusaha mengabaikan keberadaan pria yang kini duduk begitu dekat dengannya.
“Ternyata segampang itu kamu mencari pengganti, Ainun.”
Suara rendah Sagara berbisik tepat di dekat telinganya.
“Belum resmi berpisah, sudah dapat gandengan baru.”
Tubuh Ainun sedikit menegang. Ia tetap menunduk. Tak ada bantahan yang keluar dari bibirnya. Ia juga tidak menoleh ke arah Sagara.
“Sudah pada pesan makan?” tanya Liona, memecah keheningan.
Pak Faizan menggeleng pelan.
“Belum, Mbak. Kami masih menunggu teman-teman yang ke toilet.”
Ia tersenyum tipis.
“Sekalian karena hari ini acara perpisahan Bu Ainun dan Bu Laras, mereka yang mau mentraktir.”
Liona menoleh ke arah Ainun. “Kamu mengundurkan diri, Ainun?” tanyanya.
“Iya, Mbak,” jawab Ainun pelan.
“Kemudian kalau sudah nggak kerja, kamu mau jadi beban Ibu sama Ayah?”
Pertanyaan itu membuat jemari Ainun perlahan saling menggenggam.
“Itu akan aku pikirkan, Mbak,” jawabnya singkat.
Belum sempat percakapan berlanjut, terdengar suara langkah kaki mendekat.
“Maaf ya, lama.”
Ainun menoleh.
Bu Een, Bu Melda, dan Laras kembali menghampiri meja mereka.
Begitu melihat Liona dan Sagara ikut duduk, Laras sempat mengangkat alis.
“Eh, Mbak Liona.” Laras tersenyum tipis. “Gimana? Mimpinya sudah tercapai?”
“Laras...” gumam Ainun pelan.
Liona justru tersenyum santai.
“Belum,” jawabnya. “Tapi aku memutuskan buat menikah sama calon suamiku.”
“Ya baguslah.” Laras mengangguk kecil. “Harusnya dari dulu begitu. Daripada nyuruh orang lain jagain calon suami kakaknya sendiri.”
Senyum Liona sempat memudar, tetapi hanya sesaat.
“Oh ya.” Ia kembali tersenyum. “Hari ini biar aku saja yang traktir. Pesan saja apa yang kalian mau.”
“Biar ak—”
Ucapan Ainun mendadak terhenti. Tubuhnya sedikit menegang saat sesuatu menyentuh pahanya di balik meja.
Jemarinya refleks mengepal. Perlahan, ia menoleh ke samping lalu turun kebawah.
Tangan Sagara mencengkeram pahanya dengan kuat di balik lipatan taplak meja.
Sementara itu, wajah pria tersebut tetap menghadap lurus ke depan, seolah tidak melakukan apa pun. Tatapannya bahkan masih tertuju kepada Liona yang sedang berbincang dengan guru-guru lain.
Napas Ainun tertahan.
“Mas Sagara…?” bisik Ainun.
Dengan gerakan sekecil mungkin, Ainun berusaha melepaskan tangan pria itu dari pahanya agar tak seorang pun menyadari apa yang sedang terjadi di bawah meja.
“Diam.”
Suara bisikan Sagara terdengar rendah, tetapi cukup membuat tubuh Ainun membeku.
Jemarinya yang semula berusaha melepaskan cengkeraman di pahanya akhirnya terhenti.
Ia menundukkan kepala pelan.
Perlahan, Ainun meraih tas selempang yang berada di pangkuannya, lalu mengeluarkan ponsel.
Jemarinya bergerak cepat di atas layar. Ia membuka ruang obrolan dengan Sagara.
‘Aku harus bilang ke Mas Sagara.’
Tanpa berpikir lebih lama, ia mulai mengetik.
{Mas Sagara, setelah pulang dari sini aku ingin bicara sama Mas di rumah. Tentang hubungan rumah tangga kita.}
Setelah memastikan kalimat itu terkirim, Ainun mengangkat pandangan.
Sorot matanya diam-diam mengarah kepada Sagara.
Pria itu mengeluarkan ponselnya, membaca pesan yang baru masuk, lalu mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Sagara kembali mengalihkan pandangan ke arah Liona, seolah tidak terjadi apa pun.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪