Briana Gemaliel, seorang aktris papan atas sekaligus model ternama yang terkenal dengan sifat arogan dan sombongnya, membuat ia fi juluki sebagai 'Wajah Para Antagonis'.
Briana yang dalam perjalanan menuju lokasi syuting film, mobilnya mengalami kecelakaan beruntun. Briana sempat di larikan ke rumah sakit, tapi ia meninggal dalam perjalanan dan menjadi topik paling hangat di perbincangan.
Briana yang mati dalam kecelakaan, tak di sangka malah terbangun di sebuah tubuh orang lain, ia yang awalnya mengira itu hanya mimpi sebelum kematiannya, memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.
Tapi ternyata, kejadian itu bukanlah mimpi, ia mendapat ingatan dari tubuh barunya. Nama dari tubuh itu adalah Emeline Cynthia Bagaskara, anak bungsu dari keluarga Bagaskara yang tidak pernah di anggap.
Lalu, bagaimana jadinya, jika Emeline, gadis yang sangat penakut dan tidak memiliki kepercayaan diri, di ambil alih oleh seorang Briana yang adalah aktris arogan dan manipulatif? Tentunya akan seru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Berusahalah
Jam menunjukkan pukul 20.23, Emeline baru pulang dari jalan-jalan dan belanjanya. Gadis itu membawa dua buah paper bag besar, dengan langkah riang, gadis itu masuk ke dalam mansion.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan raut senangnya tergantikan dengan raut datar terkesan dingin, di hadapannya ada sang 'Ayah' yang berdiri dengan tatapan tajam.
"Dari mana kamu? Jam segini baru pulang." Tanyanya dengan intonasi rendah, tapi Emeline hanya diam tanpa berniat
"Jawab!"
Intonasi Agraham meninggi, ia menatap tajam 'putrinya'.
Emeline berdecak malas, ia lalu balas menatap tajam pada pria uang berstatus Ayahnya itu.
"Jawab!"
Lagi, Agraham kali ini membentak Emeline hingga gadis itu sedikit tersentak begitupun anggota keluarga yang lain yang baru sampai di ruang tengah.
Beberapa detik kemudian, Emeline kembali menormalakan ekspresinya dan menatap malas pada mata sang Ayah, "Apa peduli anda? Biasanya saya juga pulang jam segini, bahkan saya tidak pulang juga Anda tidak peduli, bukan?" Emeline akhirnya buka suara, nada dari perkataannya terdengar mengejek.
"Hentikan itu dan kembali ke kamarmu!" Agraham buka suara setelah beberapa saat bungkam karena kata-kata dari putrinya.
"Siapa Anda harus mengatur saya?"
"Aku Ayahmu, jika kau lupa!"
"Since when?"
Pertanyaan Emeline membuat raut marah Agraham tergantikan, entah bagaimana mendeskripsikan raut dan tatapan pria paruh baya itu.
"Jangan menjadi tidak tahu diri dan tidak tahu malu, Tuan. Anda bukan siapa-siapa bagi saya, 'anak pembawa sial' yang menyebabkan kematian Nyonya Diandra." Ucapnya dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan rasa sakitnya.
"Jika memang bisa memilih, aku memilih untuk tidak pernah lahir agar tidak perlu memiliki keluarga sampah seperti kalian!"
"Emeline!"
Sentak Agraham dengan sangat keras, membuat Emeline terdiam dengan tatapan kosong.
Ini adalah pertama kalinya, Agraham, 'Ayahnya', memanggil namanya. Biasanya pria itu hanya menyebutnya 'gadis itu', 'anak itu', atau bahkan 'si pembawa sial'.
Tanpa bisa di cegah, air mata turun dengan deras, tatapannya masih kosong dan menatap lurus ke depan.
Hal itu membuat semua orang kaget, begitupun Agraham yang berdiri di hadapan gadis itu. "Emel?" Panggil Agraham dan mendekat pada gadis itu.
Tapi entah kenapa, Emeline refleks menghindar dan mundur menjauhi sang Ayah dengan air mata yang masih mengalir.
Agraham menatap nanar pada Emeline yang menatapnya tajam. "Paggilan itu satu-satunya yang di tinggalkan oleh Nyonya Diandra, jadi jangan sembarangan menggunakannya." Ujarnya sinis.
"Dia Bundamu, Emel." Agraham kembali mendekati Emeline yang semakin berjalan mundur. Gadis itu menggelngkan kepalanya, "Bukankah Anda tidak mengizinkan saya untuk memanggil beliau begitu?" Tanya gadis itu dengan suara rendah yang terkesan sinis.
"Kenapa? Apa kalian merasa bersalah sekarang?" Tanya gadis itu kembali, ia menatap tajam pada anggota keluarga yang lain yang juga menghampirinya.
Tatapannya jatuh pada seorang pria tua dengan kesan angkuh, tapi sorot matanya menunjukkan penyesalan dan kesedihan. Emeline terkekeh sinis, ia lalu kembali menatap Ayahnya yang juga memiliki tatapan sama.
"Berhenti keras kepala, kembali ke kamarmu, Emeline!" Suara halus seorang wanita terdengar, dia adalah bibinya, Ariana.
Emeline tertawa getir, "Keras kepala? Siapa? Aku?" Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya, "Kalian yang keras kepala." Cibirnya.
"Egois. Bodoh. Kekanakan." Lajutnya dengan tekanan di setiap katanya.
"Menyalahkan anak yang bahkan belum mengetahui apa-apa, mengatakan bahwa anak itu pembawa sial, mengacuhkannya, menganggap dia hanya bayangan. Menatapnya sinis layaknya musuh, menghancurkan mimpinya hanya karena terlihat sama dengan sang Bunda." Semua diam mendengar perkataan yang keluar dari bibir Emeline, mereka tidak menyangkalnya, karena memang begitu adanya.
"Delapan belas tahun, selamat itu kalian menyiksa batin anak yang kalian anggap pembawa sial itu, dan sialnya lagi anak itu adalah diriku." Tawa miris terdengar di akhir katanya.
"Emel..."
"Diam!" Emeline menghentikan Agraham yang masih berusaha untuk mendekatinya. "Aku sudah memikirkan ini sejak lama, jika memang kehadiranku membuat sial, kenapa kalian tidak membuangku saja?"
Semua orang yang mendengar itu terbelalak kaget, "Apa yang kau bicarakan, Emel?!" Ariana menatap tidak percaya pada keponakannya.
Emeline mengusap wajahnya, ia lalu membuang muka sejenak sebelum kembali menatap semua anggota keluarganya yang tengah berkumpul di hadapannya. Tawa miris kembali terdengar.
'Lihat, Emeline. Aku sudah bilang bukan? Aku akan membuat mereka menyesal atas semua hal yang mereka lakukan padamu.'
"Kurasa ini cukup, aku sudah muak." Lirihnya dengan kepala tertunduk.
"Emel, kemari dan ayo kembali ke kamarmu." Emelien mengangkat kepalanya dan menatap pada orang yang baru saja berbicara.
Dapat dia lihat, sosok pria dengan perawakan tinggi dan wajah rupawan, namanya adalah Satria Galih Bagaskara, kakak pertamanya.
"Oke." Ucap gadis itu dengan pelan, tapi tetap bisa di dengar oleh keluarganya, membuat mereka menghela nafas lega. "Tapi tidak sekarang." Lanjut gadis itu membuat mereka menatap tidak mengerti. Tapi setelahnya, mereka menatap tidak percaya dan membulatkan mata mereka.
"Berusahalah."
Setelah mengatakan itu, Emeline berbalik dan berlari keluar mansion.
"Hentikan dia!"
Agraham memerintahkan para penjaga untuk menghentikan Emeline yang berlari menuju gerbang yang bagian kecilnya masih terbuka. Dengan lincah dan sigap, gadis itu menghindari para penjaga yang hendak menangkapnya.
Tidak ada yang bisa mengejar gadis itu, hingga ia akhirnya pergi semakin jauh meninggalkan kawasan mansion dengan sepeda motor yang ia pakai tepat ketika gadis itu keluar dari gerbang mansion.
"Apa yang kalian lakukan?! Kejar dan bawa kembali putriku!"
Agraham mengerahkan para bodyguard untuk mengejar Emeline, ia bahkan ikut mengejar gadis itu bersama sang Ayah yang sendari tadi diam, seprtinya pria tua itu masih kaget karena cucu perempuannya berani kabur tepat di depan matanya.
"Mirip sekali dengan istrimu." Gumam pria tua itu sambil memijit pelan keningnya.
Sedangkan Agraham yang mendengar hal itu terdiam, memang benar, sikap bar-bar Emeline yang sekarang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
'Sayang, maafkan aku, putri kita pergi karena keegoisan dan kebodohanku. Dia benar, aku egois, bodoh, dan kekanakan.'
Setelahnya, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Fokus mereka kini pada gadis yang tengah di kejar.
Sedangkan di sisi Emeline, gadis itu dengan lihai berbelok menuju perumahan, di mana jalan yang di lalui hanya bisa di lalui oleh motor, dan sangat berliku.
Ia beberapa kali berbelok dan membuat orang-orang yang mengejarnya kewalahan, Agraham dan Hendry bahkan berdecak kesal dan menelpon bawahannya yang lain untuk berpencar dan mencari Emeline.
Satu jam berlalu, dan kedua Ayah dan anak itu mendapat laporan jika anak buah mereka tidak bisa menemukan Emeline yang menghilang di sekitar perumahan.
Agraham menggeram marah dan melempar ponsel yang sendari ia cengkram erat, "Temukan putriku! Jangan bermimpi untuk kembali jika kalian tidak menemukannya!"
"Baik!"
Para bodyguard di kerahkan lebih banyak, bahkan mereka meminta polisi setempat untuk membantu mencari gadis yang selam ini mereka abaikan kehadirannya. Tapi saat gadis itu pergi dari kehidupan mereka, mereka malah mati-matian mencarinya. Aneh sekali.
•
•
Bersambung...
perfect lah thor /Good//Good/
up
up
up