Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Jeratan Umpan dan Kedatangan sang Kapten
Semburat fajar merah menyala perlahan mengusir kepekatan malam di atas langit Kota Linglong, menandai datangnya hari yang paling dinantikan oleh Han Yu untuk menuntaskan salah satu utang darahnya. Setelah kembali ke paviliun kediamannya di dahan pohon dewa kuno, Han Yu melewatkan waktu paginya dengan bermeditasi tenang di dalam Ruang Meditasi alam batinnya. Dia mematangkan aliran mantra Kontrol Udara dan Kecepatan Angin Absolut yang baru saja naik ke tingkat lebih tinggi, memastikan keselarasan penuh antara energi kegelapan iblis miliknya dengan energi angin alami benua.
Mei Li dan Qing Er yang telah terbangun bertindak sangat patuh seperti biasa, membantu tuannya membersihkan diri dan mengenakan jubah hijau sutra baru yang paling rapi. Karisma dari ranah Pengikat Sukma tingkat dua memancar begitu pekat dari postur tubuh tegap Han Yu, membuat kedua pelayan jelita itu tidak henti-hentinya menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman dan pemujaan batin yang mendalam.
"Tuan, berhati-hatilah dalam menjalankan siasat Anda hari ini," ucap Mei Li seraya merapikan lipatan kerah jubah Han Yu dengan jemari tangannya yang lentik dan gemetar halus karena cemas.
"Jika perwira bejat itu berani berbuat macam-macam, katakan pada kami, Tuan. Aku dan Mei Li akan bersedia melakukan apa saja untuk membantu Anda," timpal Qing Er bersandar manja di lengan kekar Han Yu.
Han Yu hanya menyeringai tampan, mengusap helai rambut pirang kedua pelayannya dengan kelembutan yang memikat hati sebelum melangkah pergi. "Tetaplah berada di paviliun dan jaga kediaman kita dengan baik, Sayang. Tuan kalian ini hanya pergi untuk membasmi seonggok sampah yang sudah terlalu lama mengotori pandangan mata aku."
Waktu bergerak dengan cepat hingga matahari mulai condong ke arah barat, menumpahkan cahaya jingga yang temaram di distrik bawah Kota Linglong. Di dalam paviliun kayu miliknya, Nyonya Liu Xi duduk diam di depan meja rias giok dengan tubuh yang gemetar tipis, namun bukan karena ketakutan, melainkan akibat debaran antisipasi yang meledak-ledak di dalam dadanya. Mengikuti petunjuk rahasia yang diberikan Han Yu semalam, janda montok itu mengenakan hanfu sutra tipis transparan berwarna merah muda yang sengaja mengekspos lekuk belahan sepasang buah dada raksasanya yang kenyal serta paha mulusnya yang jenjang.
Di atas meja kayu cendana di tengah ruangan, sebotol arak madu spiritual berkualitas tinggi telah tersaji dengan rapi lengkap dengan dua cawan giok. Nyonya Liu Xi menatap botol tersebut dengan kilat mata yang sangat dingin. Beberapa jam lalu, dia telah meneteskan cairan racun korosif iblis tipis pemberian Han Yu ke dalam cairan arak tersebut, sebuah ramuan tak berbau yang siap melumpuhkan pertahanan koridor meridian korbannya.
Langkah kaki yang berat, angkuh, dan dipenuhi oleh kepuasan terdengar mendekat dari arah halaman depan paviliun, menghancurkan keheningan sore itu. Daun pintu kayu depan didorong terbuka secara kasar dari luar tanpa adanya ketukan sopan santun sedikit pun.
Sosok pria berambut pirang panjang dengan wajah rapi yang dibalut oleh jubah zirah perak perwira melangkah masuk ke dalam ruangan dengan dagu yang terangkat tinggi. Dia adalah Kapten Penjaga Istana, Ling Feng. Sepasang mata hijaunya yang biasanya dipenuhi keangkuhan, seketika berkilat liar meluapkan nafsu bejat yang teramat menjijikkan begitu pandangan matanya tertuju pada kemolekan bentuk tubuh seksi Nyonya Liu Xi yang duduk menantinya di atas dipan sutra.
"Heh, Liu Xi... sepertinya kamu sudah menyadari posisimu dan memutuskan untuk bersikap bijaksana setelah kematian suamimu yang tidak berguna itu," Ling Feng tertawa terbahak-bahak dengan suara yang terdengar sangat jahat, licik, dan tidak menyenangkan seraya melangkah lebar mendekati dipan. "Sumpah darah mendiang Bai Yu telah mengikat takdir tubuhmu untuk menjadi milikku. Menyerahlah dan layani kultivasi gandaku sore ini, maka aku berjanji kedudukanmu di kota ini akan tetap aman di bawah perlindungan nenek buyutku!"
Nyonya Liu Xi memaksakan bibir merahnya untuk menyunggingkan sebuah senyuman pasrah yang sengaja dibuat terlihat manis namun rapuh, sebuah akting luar biasa yang berhasil mengelabui keangkuhan sang perwira. Dia bangkit berdiri, membiarkan hanfu sutra tipisnya melambai menggoda dan memamerkan pinggul lebarnya yang bergoyang sensual di hadapan mata Ling Feng, membuat napas perwira bejat itu mendadak menjadi sesak dan memburu panas karena gairah yang memuncak.
"Kapten Ling Feng yang terhormat... aku hanyalah sesosok janda lemah yang tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Anda," ucap Nyonya Liu Xi dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu manja, merayap masuk membuai ego Ling Feng. Dia menuangkan cairan arak madu spiritual dari botol ke dalam dua cawan giok, lalu mengulurkan salah satunya tepat ke hadapan tangan sang kapten. "Sebelum kita memulai penyatuan tubuh kita di atas dipan ini, sudilah kiranya Anda meminum cawan penghormatan ini bersamaku sejenak."
"Hahaha! Bagus! Kamu benar-benar wanita matang yang sangat tahu cara menyenangkan hati seorang penguasa!" Ling Feng menyeringai lebar penuh kemenangan tanpa menaruh sebersit kecurigaan sedikit pun di dalam kepalanya. Sifatnya yang sombong dan ranah kekuatannya yang berada di tingkat Jalan Atas (A-) membuat dirinya merasa terlalu superior untuk bisa dijatuhkan oleh seorang janda klan bawah.
Tanpa ragu, Ling Feng meraih cawan giok tersebut lalu meneguk seluruh cairan arak madu spiritual bercampur racun iblis itu hingga tandas tak tersisa ke dalam tenggorokannya. Dia menyeka sudut bibirnya kasar, melemparkan cawan kosong itu ke lantai hingga hancur, lalu dengan gerakan agresif langsung merengkuh pinggang lebar Nyonya Liu Xi dan mendorong tubuh montok wanita itu hingga jatuh terlentang di atas dipan sutra.
"Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk menikmati setiap jengkal keindahan tubuhmu, Liu Xi!" Ling Feng meraung rendah penuh nafsu liar, mulai melepaskan kancing zirah peraknya dengan tergesa-gesa di atas tubuh sang janda.
Namun, belum sempat tangan bejatnya menyentuh kulit mulus Nyonya Xi, gerakan tubuh Ling Feng mendadak membeku di tempat secara tidak masuk akal. Sepasang mata hijaunya yang semula dipenuhi gairah instan seketika terbelalak lebar memancarkan rasa keterkejutan dan horor yang teramat sangat. Aliran hawa murni di dalam dantiannya mendadak bergejolak kacau, meledakkan rasa perih yang luar biasa dahsyat yang menyebar luas melumpuhkan seluruh jalur sistem meridian angin miliknya dalam sekejap mata.
"Ugh! A-apa yang telah kamu masukkan ke dalam arak tadi, jalang sialan?!" Ling Feng memekik parau dengan suara yang bergetar hebat, tubuh zirahnya ambruk berlutut di lantai samping dipan sambil memegangi dadanya yang terasa seperti dihantam oleh palu gada raksasa. Energi spiritual A- miliknya merosot tajam hingga ke titik nadir, membuatnya tidak lebih kuat dari seorang fana biasa saat ini.
Nyonya Liu Xi langsung bangkit dari posisi tidurnya dengan gerakan yang sangat tenang. Tidak ada lagi gurat kerapuhan atau ketakutan di wajah cantiknya; dia justru menyunggingkan sebuah senyuman dingin penuh penghinaan, menatap ke arah tubuh Ling Feng yang menggelepar di bawah kakinya layaknya seekor cacing tanah yang sekarat.
"Bukan aku yang merancang kematianmu, Kapten Ling Feng... melainkan penguasa sukmaku yang sebenarnya," ucap Nyonya Liu Xi dengan nada suara yang teramat patuh dan penuh pemujaan ke arah sudut ruangan yang gelap.
Seketika itu juga, atmosfer di dalam paviliun kayu tersebut berubah drastis menjadi sangat dingin, pekat, dan dipenuhi oleh tekanan hawa murni kegelapan yang luar biasa pekat menekan udara. Dari balik bayangan sudut kamar yang remang-remang, sesosok tubuh kekar dengan jubah hijau sutra perlahan melangkah keluar, menampakkan wajah tampan surgawi Han Yu yang sedang menyunggingkan sebilah seringai dingin yang teramat mematikan di bibirnya.
"L-kamu... bajingan iblis rendahan yang di gerbang waktu itu!" Ling Feng mendongak dengan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa saat mengenali wajah Han Yu, mencoba memaksakan sisa tenaganya untuk memanggil bantuan spiritual luar.
"Ya, ini aku, perwira bejat yang angkuh," Han Yu berbisik dengan nada suara yang sangat dalam dan dingin, sepasang mata birunya seketika berkilat berubah sepenuhnya menjadi hitam pekat sedalam jurang malam yang menakutkan sanubari. "Hari ini, aku datang untuk menagih hutang tembakan lasermu di gerbang istana kemarin, sekaligus menghapus keberadaan sampah sepertimu dari benua kultivasi ini untuk selamanya."