Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tatapan yang Tak Pernah Lupa
Kamar yang disewakan itu sederhana saja, beralaskan papan kayu yang sudah mulai kusam dan berderit sedikit jika diinjak. Ruangan itu hanya berisi sebuah kasur tipis beralaskan kain tenun sederhana, sebuah meja kecil berlubang di sudut ruangan, serta jendela kayu yang terbuka menghadap ke arah bukit lebat di belakang rumah. Dika meletakkan tas kain tua yang ia bawa ke atas lantai, sementara Laras berdiri diam di ambang pintu, matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik laki-laki itu seolah sedang menjaga musuh.
"Air bersih ada di tempayan besar di sudut halaman belakang. Makanan sederhana akan tersedia di meja dapur mulai pagi hingga menjelang matahari terbenam," ucapnya dengan nada datar dan singkat. Ia tetap berdiri tegak di sana, tidak berniat masuk lebih jauh. "Ada dua hal yang harus kau ingat dan patuhi: jangan pernah berkelana terlalu jauh ke bagian belakang kebun yang tertutup semak belukar, dan jangan pernah bertanya hal-hal yang tidak perlu kau ketahui tentangku atau masa laluku."
Dika perlahan berbalik menghadapnya, bersandar ringan pada dinding kayu di sebelah jendela. Ia tersenyum tipis—senyum yang terasa menyembunyikan banyak rahasia—dan menatap lurus ke arah mata Laras.
"Kau sangat berhati-hati, Laras," ucapnya pelan namun tegas, seolah setiap kata yang diucapkannya memiliki makna ganda. "Bahkan bagi seorang wanita yang tinggal sendirian jauh dari keramaian di ujung desa yang damai ini."
Laras mengeratkan genggamannya pada bingkai kayu pintu hingga buku jarinya memutih. "Di tempat asalaku dulu, kehati-hatian adalah satu-satunya cara agar seseorang bisa tetap hidup hingga esok hari. Kelalaian sedikit saja bisa berarti kematian yang datang dengan cepat."
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia berbalik badan dan berjalan menjauh menyusuri lorong kayu itu, meninggalkan Dika sendirian di kamar tersebut. Ia kembali duduk di kursi kayu panjang di teras depan, namun ketenangan yang biasa ia rasakan kini sepenuhnya hilang. Angin sore berhembus kencang membawa bau tanah yang baru saja diguyur hujan ringan serta wangi melati yang tumbuh merambat di tiang rumah, namun indra penciumannya yang tajam justru menangkap bau lain—bau besi berkarat yang bercampur bau darah kering, bau yang melekat samar pada pakaian pendatang itu. Bau yang sudah sangat ia kenal dan ia benci seumur hidupnya.
Malam pun perlahan turun, menyelimuti seluruh desa dalam kegelapan pekat dan kesunyian yang mendalam. Hanya suara jangkrik dan aliran sungai yang terdengar memecah keheningan. Namun Laras sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ia duduk tegak di atas tempat tidurnya, telinganya menangkap setiap suara sekecil apa pun yang terjadi di dalam rumah itu. Hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekat—langkah yang sangat ringan, nyaris tak bersuara, persis seperti cara orang yang terlatih bergerak diam-diam di balik bayang-bayang gelap.
Pintu kamarnya diketuk pelan sekali, hanya satu ketukan lembut.
"Kau belum tidur?" suara Dika terdengar rendah dari balik dinding kayu.
Laras segera bangkit berdiri, tangannya meraba sebuah bilah pisau tajam berukuran kecil yang terselip tersembunyi di balik bantalnya—satu-satunya senjata yang berani ia simpan di tempat ini. Ia membuka pintu sedikit saja, hanya cukup untuk memperlihatkan separuh wajahnya ke arah luar.
"Ada keperluan apa datang ke sini saat malam sudah sedalam ini?" tanyanya dengan nada dingin dan penuh kewaspadaan.
Dika berdiri diam di sana, wajahnya yang teduh kini tampak jauh lebih serius dan berat dari sebelumnya. Cahaya bulan yang masuk dari celah jendela lorong menerangi separuh wajahnya yang tegas. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Laras seolah sedang berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik benak wanita itu.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal penting sebelum terlambat," ucapnya dengan suara yang hampir berbisik. "Kau bukan satu-satunya orang yang datang ke sini untuk bersembunyi, Laras. Bahaya yang selama ini kau takuti dan kau hindari... mungkin sebenarnya sudah berdiri jauh lebih dekat di sampingmu daripada yang pernah kau bayangkan."
Sebelum Laras sempat membuka mulut untuk bertanya atau menuntut penjelasan lebih lanjut, Dika sudah berbalik badan dan berjalan perlahan menjauh, menghilang seketika ke dalam kegelapan lorong yang gelap. Laras berdiri diam terpaku di sana, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia semakin yakin sekarang: kedatangan laki-laki itu bukanlah kebetulan semata, dan masa lalu kelam yang ia coba kubur dalam-dalam perlahan mulai bangkit kembali.
Bersambung...