Hendra merupakan seorang mahasiswa yang kerja untuk makan sehari harinya dan juga untuk biaya kuliahnya, dirinya sangat miskin karena orang tuanya tidak tahu dimana, dirinya sudah sejak lahir berada di panti asuhan.
untungnya sistem membantunya untuk menjadikannya seseorang yang berkuasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dark knight 00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli pakaian
"Dring... Dring... Dring..." Bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring.
"Aku masuk duluan," ucap Hendra singkat lalu beranjak pergi.
"Kamu bawa kendaraan nggak? Kalau nggak, kita barengan aja," tanya Lidya, menahan langkahnya.
"Aku bawa kok," jawab Hendra, tanpa menoleh, lalu meninggalkan kantin begitu saja.
Dari kejauhan, David memperhatikan mereka dengan mata menyipit, rahangnya mengeras.
"Bocah tengik... Tunggu saja sepulang sekolah. Aku akan memberimu pelajaran," gumam David penuh amarah.
---
[Sepulang Sekolah]
"Hen, gue pulang duluan, ya!" seru Robi sambil melambaikan tangan.
"Ya, hati-hati di jalan! Awas nyasar!" teriak Hendra sambil tertawa kecil.
Ia kembali melirik layar sistem di benaknya.
"Kenapa hari ini nggak ada misi?" tanyanya. Tapi sistem tak memberikan respon.
"Huft, sudahlah," ucap Hendra, lalu melangkah keluar kelas menuju parkiran.
---
"Mau ke mana lo?" tanya Ririn dengan nada sinis.
Hendra tidak menjawab.
"Kalau orang bicara, jawab dong, brengsek!" bentak Ririn dan mengangkat tangannya, hendak menampar.
Namun tangan itu langsung ditahan oleh Hendra. Matanya menatap tajam.
"Jangan kira karena kamu perempuan, aku akan diam saja saat ditindas."
"Plak!"
Hendra membalas dengan tamparan keras ke wajah Ririn, membuat pipinya membengkak seketika.
"Kamu... Kamu berani menampar aku?!" ucap Ririn dengan mata berkaca-kaca.
"Minggir," ucap Hendra dingin.
"Siapa kamu, hah? Emangnya mobil ini milikmu?" serang Ririn lagi sambil berdiri di depan pintu mobil.
"Aku peringatkan, kalau kamu menggoresnya sedikit saja, kamu nggak akan sanggup bayar ganti rugi!" teriaknya.
Ia lalu menampar Hendra lagi—namun kali ini, kembali ditahan.
"Hen!" teriak sebuah suara dari kejauhan.
Hendra menoleh. Seorang gadis cantik berkulit putih dengan tubuh semampai berjalan mendekat—Layla.
"Kamu belum pulang juga?" tanya Hendra saat Layla tiba di hadapannya.
"Belum, kamu juga? Eh, siapa perempuan di belakangmu itu?" Layla melirik ke arah Ririn.
"Dia bukan siapa-siapa. Ayo, kita pulang," ajak Hendra cepat-cepat.
"Ayo," jawab Layla.
"Heh! Kok kamu bisa temenan sama cowok miskin begitu sih?! Aku kasih tahu, dia itu miskin dari lahir, dan nggak bakal sukses!" bentak Ririn.
Layla menatapnya dingin. "Terus kenapa kalau dia miskin?"
"Kamu!" Ririn hampir meledak.
"Sudahlah. Ayo masuk. Sekarang udah jam empat sore," ucap Hendra sambil membuka pintu mobil.
"Baik," jawab Layla dan masuk.
Ririn terdiam, matanya membelalak. "Nggak mungkin... Mobil semewah ini... Masa iya milik Hendra? Nggak mungkin! Ini pasti mobil si cewek itu!"
Suara mesin mendesing saat Hendra menyalakan mobil, lalu melaju pelan meninggalkan tempat itu.
---
"Pelat nomornya BK 199 BL... Mobil Mercedes-AMG GT warna kuning," ucap David di ujung telepon.
"Baik, kami akan—"
---
"Siapa perempuan tadi? Sepertinya dia membencimu banget," tanya Layla penasaran.
"Namanya Ririn. Wanita matre," jawab Hendra singkat.
"Kenapa dia jelek-jelekin kamu?"
"Nggak tahu. Mungkin aku pernah salah, tapi aku sendiri nggak merasa."
"Oh..." Layla hanya menjawab pendek.
---
Tiba-tiba, sekelompok pria berdiri di tengah jalan, menghadang mobil Hendra.
"Turun lo!" teriak salah satu pria berbadan kekar.
"Hen... Ja-jangan turun... Tabrak aja!" kata Layla gemetar.
Hendra mengelus kepala Layla lembut. "Tenang, aku akan baik-baik saja."
"Hen..." panggil Layla lagi, tapi tak digubris.
"Aku hitung sampai tiga! Kalau nggak turun, gue hancurin mobil lo!" ancam ketua preman.
"3... 2..."
"Kret..." Pintu mobil terbuka.
"Ada urusan apa? Aku pernah provokasi kalian?" tanya Hendra tenang.
Layla berdoa dalam hati. "Ya Tuhan... Semoga Hendra nggak kenapa-kenapa..."
"Swosh!" Pemukul besi diarahkan ke kepala Hendra, tapi...
"Krak!" Besi itu patah di tangannya!
"A-apa?! Kenapa patah?!" seru salah satu preman panik.
"Swosh!" Ketua preman menyerang lagi, tapi...
"Krak! Buk!"
"Ugh!" Tangan kirinya patah. Ia terjatuh mengerang kesakitan.
"Ngapain bengong aja?! Bunuh dia! Dia sendirian, kita dua puluh orang!" teriak ketua preman.
"B-baik, Bos!" seru anak buahnya.
Pertarungan brutal pun terjadi.
"Buk!"
"Argh!"
"Ugh!"
Satu per satu preman tumbang. Hanya lima yang tersisa.
Ketua preman bangkit diam-diam dan memukul wajah Hendra dari belakang.
"Buk!"
Hendra menoleh pelan, lalu tersenyum sinis. Preman itu gemetar.
"A-ampun! Saya nggak berani lagi!" teriaknya.
"Buk!"
"Ugh!"
"Hoek!"
Sebuah tendangan telak membuatnya pingsan. Hendra melangkah pergi.
[Ketertarikan Layla +30%]
"Apa...? Kenapa naiknya cuma segitu?" gumam Hendra.
[Ketertarikan tergantung dari wanita target dan interaksi.]
"Berarti ada yang gampang, ada yang susah, ya," jawabnya sendiri.
---
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Layla keluar dari mobil.
"Aku baik-baik saja," jawab Hendra.
"Tapi wajahmu bengkak! Kita ke rumah sakit dulu, yuk!" ajaknya khawatir.
"Nggak perlu, aku obatin sendiri di kontrakan."
"Ayo, masuk. Kita pulang," lanjut Hendra sambil membukakan pintu mobil.
---
[30 Menit Kemudian]
"Terima kasih. Ayo masuk, aku obati wajahmu dulu," ajak Layla.
"Nggak usah, aku bisa sendiri," kata Hendra lalu masuk ke kontrakannya.
"Badanku pegal semua. Mending mandi dulu," gumamnya.
"Byur... Byur..."
Air menyegarkan tubuhnya.
"Ah... Segar banget."
Ia mencari pakaian.
"Sisa baju cuma lima... Nanti malam aku belanja baju dan beli HP sekalian," ucapnya.
---
Suara mesin meraung saat mobil Hendra melaju.
---
"Kenapa aku terus mikirin dia?" gumam Alisa, yang sedang bekerja.
"Kapan ya, bisa ketemu lagi?"
---
"Eh, kak... Ada HP yang bagus?" tanya Hendra pada resepsionis.
"Ada, Kak! Saya rekomendasikan Matrix terbaru. Kualitas oke, memori besar, dan harganya terjangkau."
niat nulis gk sih😄