Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Rekaman di Balik Dinding
Malam telah larut ketika Hino menghentikan sepeda motornya di pekarangan kontrakan bawah. Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan pukul satu dini hari, namun lampu di koridor tengah masih menyala terang benderang. Begitu kakinya melangkah melewati pintu utama, langkah Hino mendadak terhenti. Pintu kamar depan yang berukuran paling besar—kamar yang biasanya terkunci rapat dan kosong—malam ini terbuka lebar. Di dalamnya, tumpukan baju baru dan sebuah kalung emas di dalam kotak beludru merah tergeletak di atas kasur busa yang masih baru.
Irmi berdiri di ambang pintu kamar depan itu, memegang selembar kertas catatan pengeluaran toko dengan senyum sinis yang mengembang di wajah cantiknya. Di sudut ruangan, Erni sedang merapikan pakaian dasternya ke dalam lemari kayu yang baru dibeli.
"Kau sudah pulang, Hino?" sapa Irmi, suaranya terdengar renyah namun sarat akan racun. Ia melemparkan seikat kunci kamar depan tepat ke dada Hino yang langsung ditangkap pria itu dengan wajah bingung. "Selamat menikmati fasilitas barumu. Istri sahmu yang hebat ini sudah resmi pindah malam ini, lengkap dengan kalung emas lima puluh gram yang ditarik langsung dari modal harian gerai minimarket depan."
Hino menatap kunci di tangannya, lalu beralih menatap Erni dengan dada yang bergemuruh hebat. Rasa lelah setelah mengurus audit toko bulanan lenyap seketika, digantikan oleh rasa terhina yang luar biasa. "Erni... apa-apaan ini? Kenapa kau melakukan ini semua di belakangku?"
Erni tidak menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan, menatap Hino dengan pandangan dingin tanpa ada rasa bersalah. "Kenapa, Mas? Kau keberatan kalau anak di dalam rahimku tidur di tempat yang lebih layak? Jeng Irmi saja tidak keberatan membayar harga untuk kehamilan dua bulannya di lantai atas, jadi kenapa aku harus menolak jaminan hidup?"
Irmi tertawa kecil, melangkah mundur menuju tangga lantai dua untuk membiarkan bom waktu yang ia pasang meledak dengan sendirinya. "Bicaralah berdua. Aku tidak mau mengganggu malam pertama kalian di kamar mewah hasil barter ini. Ingat kesepakatan kita tadi sore, Erni."
Begitu punggung Irmi menghilang di undakan tangga, Hino langsung menutup pintu kamar depan dengan bantingan keras. Ia mencengkeram bahu Erni, memaksanya untuk menatap matanya yang memerah menahan amarah. "Kau sudah gila, Erni! Kau memeras Irmi dengan memanfaatkan masalah ini? Di mana harga dirimu? Kau membuatku terlihat seperti pria murahan yang membiarkan istrinya menjadi benalu di rumah orang kaya!"
"Harga diri yang mana, Mas?" pekik Erni, suaranya meninggi namun tertahan, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang kuyu. "Harga diriku sudah habis sejak kau meminum jamu sialan itu dan membiarkan perempuan lain mengandung darah dagingmu! Aku tidak mau cerai dan pulang ke kampung dengan tangan kosong sebagai janda miskin yang hamil dua bulan. Kalau kau tidak bisa memberiku kemewahan, biarkan perempuan kaya itu yang membayarnya!"
"Tapi tidak dengan cara menjijikkan seperti ini, Erni! Ini memicu pertengkaran yang seharusnya bisa kita hindari!" seru Hino, suaranya parau, frustrasi karena menyadari dia tidak lagi memiliki kendali atas kewarasan istrinya.
Di luar jendela kamar depan yang sedikit terbuka akibat engselnya yang longgar, sebuah tangan lentik bergerak sangat perlahan di balik kegelapan tanaman hias teras. Linda berdiri mematung di sana, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara. Di telapak tangannya, sebuah ponsel pintar dalam mode perekam suara sedang menyala terang, menangkap setiap desah napas frustrasi, teriakan tertahan, dan pengakuan dosa dari sepasang suami istri di dalam kamar.
Linda tersenyum puas di kegelapan sore yang sudah berganti malam itu. Lembaran kertas bindernya boleh saja dirobek oleh Irmi kemarin, namun rekaman audio digital ini adalah bukti yang jauh lebih otentik untuk mengunci kebebasan tiga penghuni bawah kontrakan tersebut dalam riset perilakunya.
***
Keesokan paginya, pukul sembilan, matahari mulai memancarkan sinar yang terik di pekarangan depan. Erni keluar dari kamar barunya dengan mengenakan salah satu gaun katun mahal yang baru dibelikan Irmi kemarin sore, lengkap dengan kalung emas yang melingkar di lehernya yang jenjang. Ia sengaja berdiri di teras depan untuk menghirup udara segar, mencoba melupakan sisa pertengkaran hebat dengan Hino yang berujung pada keheningan malam tadi.
Bunyi derit gerbang besi yang dibuka dengan paksa kembali merusak suasana. Bu Hina masuk dengan setelan blazer merah mencolok dan kacamata hitamnya, berjalan melenggang masuk ke pekarangan kontrakan bawah tanpa memedulikan etika kesopanan. Tatapan matanya yang kecil langsung mengunci ke arah kalung emas berkilau di leher Erni.
"Aduh, Erni... gaya barumu sore kemarin berlanjut sampai pagi ini ya," sindir Hina dengan tawa cempreng yang memekakkan telinga. Ia melangkah mendekati teras, berkacak pinggang tepat di depan Erni. "Perut masih rata dua-duanya saja sudah berani pamer emas puluhan gram hasil barter suami. Di mana-mana, perempuan yang membiarkan suaminya digilir janda kaya demi daster mewah itu namanya tidak tahu malu. Kampung kita bisa sial kalau memelihara urusan ranjang haram seperti ini!"
Darah Erni mendidih seketika hingga ke ujung kepala. Batas kesabarannya yang sudah tipis akibat tekanan mental semalam kini hancur total oleh ucapan lancang wanita hedon lokal ini. Tanpa memberikan peringatan, Erni melangkah maju satu langkah besar, mengayunkan tangan kanannya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Plak!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Bu Hina, membuat kacamata hitamnya terlepas dan jatuh berdentang di atas lantai keramik teras. Suasana pekarangan mendadak hening seketika, menyisakan deru napas Erni yang memburu penuh amarah.
Bu Hina memegang pipinya yang mulai memerah, matanya membelalak tidak percaya dengan mulut yang terbuka lebar. "Kau... kau berani menampar wajahku, Erni? Suamiku kontraktor proyek Pemda! Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan!"
Erni menunjuk tepat ke depan wajah Hina dengan jari telunjuknya yang bergetar namun tajam, sorot matanya menyiratkan keberanian seorang benalu yang tidak lagi memiliki rasa takut pada apa pun. "Sekali lagi mulut lancangmu itu bicara soal rahim dan suamiku di depan gerbang ini, Hina... bukan cuma tamparan ini yang akan mendarat di wajahmu, tapi aku sendiri yang akan menyeret suamimu ke kantor polisi dengan bukti rekaman pemerasan sewa tanah yang kau lakukan pada Irmi!"