NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIKIN STICKER ALAMAT,MALAH BANYAK YANG SALAH CETAK

Hari berikutnya, suasana kantor terasa lebih tenang tapi tetap rame obrolannya. Kami baru saja selesai sarapan bersama di ruang depan, ketika Pak Harun keluar dari ruangannya sambil membawa selembar kertas besar dan beberapa lembar kertas stiker kosong.

“Dengar ya semuanya, saya ada rencana baru biar kerjaan antar berkas ke depannya lebih gampang dan gak bingung lagi,” katanya sambil meletakkan barang-barang itu di meja tengah.

Kami langsung mendekat, penasaran. “Rencana apa itu Pak? Mau beli motor baru biar cepat sampai?” tanya Ojak dengan semangat.

Pak Harun ketawa kecil. “Bukan, bukan. Saya mau bikin stiker alamat. Jadi semua alamat langganan kita cetak jadi stiker, nanti tinggal ditempel saja di amplop gak perlu tulis tangan lagi, lebih rapi dan hemat waktu.”

“Wah, ide bagus itu! Kalau ada stikernya, gak bakal ada lagi salah tulis atau alamat yang gak jelas,” timpal Nina langsung setuju.

“Betul. Nah, tugas hari ini,kita tulis semua alamatnya dulu dengan jelas, terus cetak dan potong-potong jadi stiker. Kalau sudah selesai, baru bisa istirahat. Kerjakan bersama biar cepat beres,” perintah Pak Harun.

Kami langsung bagi tugas:

• Bima dan Nina: Menulis alamat dengan huruf yang besar dan jelas

• Kak Dedi: Mengecek satu per satu supaya gak ada yang salah tulis

• Ojak dan Pak Joko: Mencetak dan memotong kertasnya jadi ukuran stiker yang pas

Awalnya berjalan lancar. Nina tulisnya rapi, aku ikuti pelan-pelan, Kak Dedi ceknya teliti, dan Ojak sama Pak Joko asyik mengoperasikan mesin cetak kecil yang ada di kantor.

“Nah, ini baru kerjaan yang aman. Gak ada kejar hewan, gak ada masuk gudang debu, gak ada juga alamat yang bikin pusing,” kata Ojak sambil menekan tombol mesin cetak.

“Jangan bicara dulu lancar, jak. Kamu kan sudah tahu aturannya: kalau kelihatan gampang, biasanya ada aja hal yang bikin kacau,” ingat Pak Joko sambil mengelap kaca mesin cetak.

Benar saja, kata-kata Pak Joko terbukti. Masalah muncul saat masuk ke tumpukan alamat yang sudah banyak.

Pertama, Kak Dedi yang biasanya paling teliti, tiba-tiba mulai menguap terus. Soalnya tulisannya terlalu rapi dan banyak, matanya jadi lelah.

Pas memeriksa alamat “Jalan Melati Nomor 12”, dia malah baca jadi “Jalan Melon Nomor 21” terus bilang “Sudah benar!” tanpa sadar kebalik.

Selanjutnya, pas masuk ke tangan Ojak. Dia sedang asyik menyanyikan potongan lagu Alamat Palsu sambil memotong kertas. Karena sambil bernyanyi, tangannya gak fokus potongannya ada yang terlalu lebar, ada yang terlalu sempit, ada yang malah miring kayak jalan tikus.

“Ojak! Itu dipotong apa dipilin? Bentuknya jadi macam-macam begini!” tegur Nina sambil ketawa melihat hasil potongannya.

“Tenang saja Nin, yang penting bisa ditempel, kan? Nanti kelihatan unik,” jawab Ojak santai tanpa rasa bersalah.

Yang paling konyol terjadi pas mesin cetaknya agak macet sebentar. Pak Joko mencoba memperbaikinya, tapi karena jarang dipakai, tombol-tombolnya jadi kacau.

Begitu mesinnya nyala lagi, bukan tulisan alamat yang keluar malah tulisannya terbalik, ada yang tertukar hurufnya, bahkan ada yang ada tambahan coretan hitam di tengahnya.

Lihat hasil cetakan itu, kami semua melongo terus ketawa terbahak-bahak.

Coba lihat saja hasilnya:

Yang benar: Jalan Mawar Nomor 45

Salah cetak jadi: Jalan Mawar Nomor 54 — ditambah garis melintang kayak pagar

Yang benar: Pak Slamet, Komplek Hijau

Salah cetak jadi: Pak Meledak, Komplek Hijir

Yang benar: Jalan Kenanga Nomor 8

Salah cetak jadi: Jalan Kenang-kenangan Nomor 888

“Wah, ini bukan stiker alamat lagi, tapi stiker teka-teki atau judul lagu lama nih!” kata aku sambil memegang satu lembar yang tulisannya aneh itu.

Kak Dedi yang tadinya ngantuk langsung segar lagi, matanya terbuka lebar. “Astaga, kalau stiker ini yang ditempel, nanti kita malah bawa berkas ke jalan yang salah lagi! Bisa jadi alamat palsu beneran kayak lagu kemarin!”

Nina langsung duduk dan menyortir satu per satu, memisahkan yang masih jelas, yang agak salah, sampai yang benar-benar gak bisa dipakai sama sekali.

“Lihat deh, dari 50 lembar yang dicetak, cuma 12 lembar saja yang masih benar. Sisanya macam-macam kesalahannya!”

Ojak menggaruk kepalanya yang gak gatal sambil nyengir. “Kan namanya juga percobaan pertama. Kalau langsung sempurna, rasanya kurang seru dong? Ini malah jadi pengalaman belajar buat kita.”

Setelah hampir satu jam memperbaiki, membuang yang salah, dan mencetak ulang dengan lebih hati-hati, akhirnya terkumpul stiker yang rapi dan benar semuanya. Meskipun butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan, setidaknya sekarang hasilnya bisa dipakai.

Begitu Pak Harun melihatnya, dia mengangguk puas sambil tersenyum tapi begitu kami ceritakan kejadian konyolnya tadi, dia langsung ketawa sampai perutnya sakit.

“Wah, baru mau bikin kerjaan lebih gampang, malah dapat tambahan cerita lucu dulu! Untung salahnya pas dicetak, bukan pas ditempel dan dikirim nanti bisa jadi bencana kecil,” katanya sambil menepuk meja pelan.

Karena kerja kerasnya, Pak Harun mengizinkan kami pulang lebih awal dan bilang kalau besok bisa pakai stiker ini dengan tenang.

Di jalan pulang, kami lewat lagi di depan rumahku dan ketemu Sari serta Rara yang sedang menjemur pakaian. Begitu melihat kami bawa tumpukan kertas dan masih ketawa sendiri, mereka langsung menghampiri penasaran.

“Ada cerita apa lagi nih? Kok wajah kalian pada ceria terus padahal baru kerja?” tanya Rara sambil melipat tangan.

Kami pun menunjukkan stiker yang sudah jadi, sekaligus juga menunjukkan contoh yang salah cetak tadi yang sempat kami simpan buat bahan ketawa.

Begitu membaca tulisan yang aneh-aneh itu, Sari dan Rara langsung tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan ke pagar.

“Wah! Bikin stiker malah jadi stiker lucu! Kalau ini yang ditempel, nanti orang yang terima malah bingung sendiri, kira-kira alamat apa ini!” kata Sari sambil masih menahan tawa.

Rara langsung mencatat sedikit ceritanya di buku catatannya. “Ini bagus juga dimasukkan ke catatan! Dari mau mempermudah kerja, malah jadi bahan hiburan duluan. Gak ada hari yang bener-bener mulus ya buat kalian!”

Aku hanya mengangguk sambil menyimpan stiker itu dengan hati-hati, dalam hati berpikir santai:

Ternyata niat baik buat mempermudah kerja pun bisa berjalan berbelok-belok ya. Yang awalnya mau rapi dan cepat, malah jadi kacau dulu sebelum akhirnya benar.

Tapi justru di situ serunya gak ada proses yang sempurna dari awal, selama masih bisa diperbaiki dan diakhiri dengan tawa, hasilnya tetap terasa menyenangkan dan gak membosankan.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!