Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kedua Najwa sebagai istri
Udara pagi yang begitu sejuk, Najwa hanya dapat merasakannya lewat jendela dengan mengucapkan rasa syukur karena nikmat Allah. Setelah berlama-lama menikmati udara. Najwa kemudian pergi membersihkan diri, setelah mandi dan sudah berpakaian, dia berdiri di depan kaca sambil memegang cadar yang akan ia pakai.
"Apa aku akan tetap menggunakan ini meskipun hanya berada di dalam rumah?" Gumam Najwa, setelah ia menjadi seorang istri, suaminya itu tidak pernah melihatnya dengan baik dan pada hari pernikahan mereka yang dimana Najwa menunggu Aktar, pada saat itu Najwa berharap Aktar mau membuka cadarnya sendiri. Tapi harapan itu hanya sia-sia. Mana mungkin suaminya mau melakukan itu, dia saja pergi di tengah-tengah acara berlangsung. Dan karena itu Najwa masi menggunakan cadarnya.
Saat Najwa ingin memasang cadarnya ia terhenti, dan langsung menyimpan cadar itu kembali. Ia memutuskan untuk tidak memakai cadarnya jika di dalam rumah, mungkin orang-orang sudah merasa dia aneh tapi tidak ada yang berani mengatakannya, begitupun mertuanya sendiri.
Naja kemudian turun kelantai satu dan langsung ke dapur ia mendapati bibi Yuna sudah ada di sana ia sudah membuat banyak masakan. Najwa hanya bisa membantu bi' Yuna dengan menyiapkan makanan dimeja.
"Eh.. Nona, Nona tidak usah lakukan itu. Biar bibi saja." kata bibi sambil merebut piring yang ada di tangan Najwa, tapi Najwa langung menahannya.
"Tidak apa-apa bi' aku hanya ingin membantu bibi saja," kata Najwa dengan menyimpan piring itu di atas meja.
"Tidak usah nona, ini sudah tugas ku. Nona bisa datang saat aku sudah memanggil anda semua untuk makan." jelasnya.
"Aku serius bi' tidak apa-apa, tolong izinkan aku melakukannya. Pasti bibi sudah sangat lelah kan dari tadi sudah sibuk buat makanan. Maka biarkan aku saja yang menyiapkannya."
Bi' Yuna melihatnya kasihan, bukan apanya. Dia tidak ingin nona nya terluka karena tidak ada yang tahu saat dia menyiapkan makanan dia terkena kuah panas atau musibah lainnya.
"Yasudah non, tapi nona Najwa harus hati-hati jangan sampai tangan anda terkena kuah panas." katanya khawatir.
"Biasa aja bi' aku bisa ko hati-hati." kata Najwa sambil tersenyum.
"Baiklah non, aku pergi kerjakan yang lain dulu." kemudian Najwa menjawabnya dengan anggukan lalu bi' Yuna pun pergi.
--------
Setelah Najwa selesai menyiapkan makanan ia kemudian menyuruh pelayan memanggil ibu dan ayah mertuanya makan dan bergegas kembali ke kamarnya untuk memangil Aktar makan.
"Kak.." Kata Najwa terhenti ketika melihat Aktar yang kesulitan, rupanya kancing kemejanya terlepas. Dengan cepat Najwa pergi mengambil kotak benang dan jarum yang berada dalam laci meja.
"Biar aku perbaiki," Kata Najwa sambil memegang kemeja yang terpasang di tubuh Aktar. Aktar sontak kaget melihat Najwa yang tiba-tiba ada dihadapannya. Kemudian dia kembali rileks.
Aktar terdiam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, ia tidak ingin melihat wajah Najwa. Kali ini Aktar tidak bisa menghindar karena Najwa yang sudah ada di hadapannya dan juga ia tidak bisa melakukan itu sendiri.
Najwa mendongak karena Aktar terlalu tinggi, ia melihat Aktar yang terus menatap keluar jendela, Najwa sedikit sakit melihat itu. Dengan pelan ia jahit kancing yang terlepas itu. Dirinya selalu dalam keadaan seperti ini, bahkan sekarang suaminya masih bersikap begitu.
Ya Allah kuatkan lah hati hamba mu ini, jangan membuat aku rapuh di tengah perjuangan. Biarkan aku tetap tegar menjalani ini, sampai kamu membuka hatinya.
"Kancingnya sudah terpasang." Kata Najwa seraya memperbaiki kemeja Aktar tapi Aktar langsung menepis tangannya dan ia melalukan itu sendiri. Najwa terdiam sebentar, kemudian beralih melihat suaminya yang belum memilih jas untuk dipadukan dengan kemejanya.
"Kak, biar aku yang pilihkan jasnya yah." Kata Najwa segera pergi mendekati lemari.
"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri." Kata Aktar dingin dan langsung berjalan mendahului Najwa menuju Almari.
Najwa tidak tahu, sampai kapan suaminya akan seperti itu, jika terus begini kapan Najwa bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang Istri? ia tidak ingi menjadi Istri yang tidak berbakti.
Jika karena Aktar masih belum menerima dirinya, bagaimana dengan Najwa yang awalnya juga tidak menerimanya. Tapi mau bagimana lagi, ini sudah jalan takdirnya ia harus berusaha menerima semuanya dengan perlahan-lahan.
-------
Najwa melihat jas yang akan di gunakan aktar sedikit kusut.
"Kak itu jasnya kusut, sini biar Najwa setrika biar rapi," Kata Najwa ia ingin mengambil Jas itu tapi Aktar malah menariknya tanpa respon.
"Bi.. bibi..!" Teriak Aktar memanggil bibi yuna.
"Iya, ada apa Tuan?" Tanya Bi Yuna.
"Jas ini ku kusut, kau setrika dan cepatlah, aku akan segera pergi bekerja." perintah Aktar sambil menyodorkan jasnya.
"Baik tuan." Kata Bi' Yuna kemudian pergi sambil membawa Jas milik Aktar yang kusut.
Najwa sudah tidak tahan melihat itu semua ia tidak tahan lagi dengan perlakuan seperti ini, ia langsung berlari masuk kedalam kamar mandi dengan air mata yang mengalir tak terbendung.
"Hikss.. Hikss.."
Najwa sudah tidak bisa menahan itu semua. Rasa dan perasaan ia keluarkan semua dengan tangisannya, ia menangis tersedu-sedu.
Entah sampai kapan Allah akan mengujinya, Najwa sudah tidak tahan lagi ia merasa ingin pergi dari dunia dengan secepatnya. Tapi tiba-tiba hati nuraninya berkata sabar, berkata kalau ini semua akan berakhir jika aku melewatinya dengan ketulusan dan penuh kesabaran.
Cukup lama Najwa menangis, ia langsung mencuci wajahnya yang sembab.
Kemudian keluar dari dalam kamar mandi ia lihat Aktar sudah tidak ada, ia langsung pergi di depan cermin untuk memperbaiki jilbab dan cadarnya yang sempat karuan karena menangis.
Buru-buru Najwa turun ke lantai satu ia harus mengejar Aktar karena dia belum sempat bersalaman, dia tidak ingin suaminya pergi tanpa ia salami itu sudah kewajiban seorang Istri.
Melihat Aktar yang sedang membawa tas kerjanya yang sudah menuju pintu keluar, Najwa segera mempercepat langkahnya.
"Kak..!" Panggil Najwa sedikit berteriak.
Langkah Aktar terhenti tapi ia tidak berbalik kearah suara yang memanggilnya, yg ia sudah tahu kalau suara itu milik Najwa.
Najwa melangkah satu langkah tepat di hadapan aktar.
Aktar kaget karena Najwa yang begitu tiba-tiba datang di hadapannya. Wanita ini apa yang ingin ia lakukan? Batin Aktar mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kak," Kata Najwa mengangkat tangannya untuk bersalaman.
Aktar sempat melirik.
"Huh.. apa-apaan wanita ini, apa maksudnya mengangkat tangannya seperti itu?" Batin Aktar.
"Kak, sebagai Istri yang berbakti saya harus melakukan ini sebelum Suami saya berangkat kerja." Ujar Najwa masih mengangkat tangannya, berharap Aktar segera membalasnya.
"Minggir aku sudah telat!" Kata Aktar tanpa melihat Najwa.
Najwa terdiam sebentar.
"Kalau begitu maaf, saya harus melakukannya sendiri." Ucap Najwa sambil mengambil tangan Aktar lalu menciumnya.
"Kau-" Kata Aktar geram dengan melihat wajahnya. Ia tidak menyangka wanita yang di hadapannya memiliki wajah yang cantik, tampak bersih dan berseri-seri.
Aktar sadar ia langsung mengalihkan pandangannya dan menarik kembali tangannya karena masih di pengang Najwa.
"Kapan kak Aktar pulang?" Tanya Najwa, ia ingin tahu, karena sebagai Istri wajib mengetahui kapan dan jam berapa suaminya akan pulang.
"Aku tidak yakin, karena ada proyek yang harus aku selesaikan." Kata Aktar.
"Aku berangkat," Sambungnya dengan suara rendah dan kemudian pergi.
Najwa tersenyum, karena suaminya sudah mau melihatnya bahkan ia berkata dengan lembut meski ia masih memasang wajah tanpa Ekspresi.
Bersambung...
**Mohon dukungannya😊jangan lupa☝like👍komen👇rate 💚 dan vote🙏
💕Happy Reading💕**
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak