NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10: Memukul Para Senior Preman

Begitu pintu batu raksasa itu bergeser dengan suara geraman berat, Qin Xiang melangkah masuk ke dalam zona kedua yang luas. Di balik tembok tebal itu, atmosfer berubah drastis. Puluhan ruangan kultivasi tertutup berderet rapi di sepanjang lorong granit yang megah, menyerupai deretan kamar di paviliun mewah atau hotel-hotel di ibu kota kerajaan. Pada setiap pintu masuknya, terpasang papan nomor perak yang memancarkan pendar energi tipis. Sebagian besar pintu tertutup rapat dengan segel formasi yang menandakan adanya nyawa yang sedang bertarung dengan nasib di dalamnya, namun beberapa pintu masih terbuka lebar, menanti siapa pun yang cukup kaya untuk membayar harganya.

Namun, sebelum Qin Xiang dan Qu Long sempat melangkah lebih jauh, dua sosok pemuda menghalangi jalur mereka. Keduanya mengenakan seragam murid sekte luar dengan pola yang lebih rumit, menandakan status mereka yang lebih senior. Begitu mereka mendekat, gelombang aura dari ranah Qi Fondasi Tahap 8 meledak dari tubuh mereka, sengaja dipamerkan untuk menekan atmosfer di sekitar. Tekanan itu terasa seperti dinding udara yang berat, sengaja ditujukan untuk meruntuhkan nyali para pendatang baru yang masih berada di ranah Pemurnian Qi.

Qu Long yang memang penakut secara insting segera bersembunyi di balik punggung Qin Xiang. Tubuh bulatnya gemetar hebat, layaknya seekor anak anjing yang ketakutan di hadapan serigala lapar.

‘Ah, tamat sudah! Habis semua poin yang kukumpulkan dengan tetesan keringat selama bertahun-tahun! Mengapa aku begitu bodoh mengikuti kegilaan Qin Xiang?’ rintihnya dalam hati dengan wajah pucat pasi.

Berlawanan dengan kepanikan rekannya, Qin Xiang justru memandangi kedua "preman" sekte itu dengan mata yang acuh tak acuh. Sejak awal, ia sudah menduga akan ada sambutan seperti ini. Baginya, pemandangan ini tidak lebih dari sekadar gangguan lalat yang berdengung. Tidak ada setitik pun rasa gentar di kilatan matanya—yang ada justru adalah kilatan dingin yang mampu menusuk jiwa.

Melihat ekspresi datar dan tenang pemuda di hadapannya, salah satu senior itu merasa terhina. Ia tersenyum sinis, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sejangkauan tangan.

"Bocah, kau punya nyali juga tetap berdiri tegak di hadapanku," ucapnya dengan nada yang sangat menekan. "Siapa namamu? Dan berapa banyak poin yang kau bawa di platmu sebagai 'biaya masuk' bagi kami?"

Qin Xiang tidak bergeming. Ia bahkan tidak repot-repot memasang kuda-kuda. Sebuah kalimat singkat keluar dari mulutnya dengan nada sedingin es. "Sebelum lancang bertanya nama orang lain, bukankah seharusnya kau mengenalkan dirimu terlebih dahulu? Di mana sopan santunmu kepada sesama murid sekte?"

"!!!"

Senyum sinis di wajah senior itu seketika lenyap, digantikan oleh gurat kemarahan yang meluap. "Oh, rupanya kita kedatangan harimau kecil yang sombong. Kau bahkan tidak mengenali seniormu sendiri? Biar kuajari kau cara menghormati yang lebih kuat!"

Sambil mendesis, ia mengulurkan tangannya yang kasar dan menekan pundak Qin Xiang dengan kekuatan penuh, berniat memaksa pemuda itu untuk berlutut. Namun, alih-alih merasakan tekanan yang membuat targetnya jatuh, senior itu justru mendapati tangannya terkunci. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, tangan Qin Xiang sudah menggenggam pergelangan tangan pria itu.

KRAK—!

Suara retakan tulang yang kasar dan kering bergema di sepanjang lorong yang sunyi. Genggaman Qin Xiang bukan sekadar pegangan, melainkan remasan yang mengandung daya hancur murni.

"AAAHHK! TANGANKU!" Pria itu meraung keras, wajahnya berubah merah padam saat ia mencoba melepaskan diri. Namun, usaha itu sia-sia; cengkeraman Qin Xiang terasa seperti catut baja yang dipanaskan.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!"

Rekan seniornya yang melihat kejadian itu berteriak murka. Ia tidak menyangka seorang pemula yang terlihat lemah berani menyerang balik. Tanpa membuang waktu, ia melayangkan tinju yang dibaluti Qi ganas ke arah wajah Qin Xiang. Pukulan itu membawa suara desingan angin, bertujuan untuk menghancurkan rahang Qin Xiang dalam satu hantaman.

PAH—!

Serangan itu terhenti di udara. Qin Xiang menahan pukulan tersebut dengan telapak tangan terbuka seolah-olah itu hanyalah serangan anak kecil. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Qin Xiang memutar pergelangan tangan pria kedua dan meremukkannya dalam satu tarikan kuat, sebelum akhirnya membanting keduanya ke lantai granit dengan kekasaran yang brutal.

BAMM—!

Benturan keras itu disusul oleh suara patah tulang yang jauh lebih nyaring dari sebelumnya. Lantai di bawah mereka bahkan sedikit retak. Qu Long yang menyaksikan kejadian tidak masuk akal itu hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Matanya melotot, tubuhnya mematung seolah sedang menyaksikan sebuah kemustahilan di depan matanya.

‘Bagaimana bisa... seorang Pemurnian Qi memiliki kekuatan fisik sebesar ini?’ Pikirannya kacau balau. Ia melihat Qin Xiang yang sekarang berdiri tegak di atas dua senior yang merintih kesakitan. Tanpa ampun, Qin Xiang melancarkan tendangan mematikan ke arah wajah sombong keduanya, membuat mereka benar-benar tidak berdaya dan nyaris kehilangan kesadaran.

“Selalu ada pengganggu seperti kalian di setiap sudut dunia ini,” umpat Qin Xiang dengan nada kesal yang tertahan.

Selama perjalanan menuju tempat ini, ia sudah mendengar cukup banyak sisi gelap zona kedua dari Qu Long. Tentang tradisi busuk para murid senior yang memeras poin sekte dari para pendatang baru. Alih-alih mempertaruhkan nyawa menyelesaikan misi berbahaya, sampah-sampah ini lebih suka "memanen" poin dari murid lemah agar bisa menikmati fasilitas kultivasi tanpa harus bekerja keras.

"Ah... maafkan kami! Tolong... lepaskan kami!" pinta keduanya dengan suara gemetar dan wajah yang dipenuhi ketakutan. Martabat mereka sebagai senior telah hancur berkeping-keping.

Qin Xiang tidak menghiraukan rengekan mereka. Ia menoleh ke arah Qu Long yang masih gemetar. "Apakah mereka yang sebelumnya merampas poinmu?"

Qu Long hanya bisa mengangguk tertatih-tatih. Ia merasa seolah-olah Qin Xiang adalah iblis yang sedang menuntut balas atas namanya.

Namun, di tengah suasana yang mencekam itu, sebuah tekanan energi yang luar biasa tiba-tiba jatuh dari langit-langit aula. Udara seketika menjadi berat, membuat napas Qu Long tersedak.

"Saudara Junior, bukankah kau sudah bertindak sedikit terlalu jauh? Kenapa tidak melepaskan keduanya saja?"

Suara itu tenang, namun mengandung getaran kekuatan yang sanggup menggetarkan organ dalam. Qin Xiang menyipitkan mata saat ia merasakan aura yang jauh lebih pekat meluap dari sosok yang baru saja muncul.

Dari salah satu ruangan kultivasi, seorang pemuda jangkung berjubah biru tua melangkah keluar. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara, namun setiap kali kakinya menyentuh lantai, riak energi terpancar keluar. Pupil mata Qin Xiang berkilat; ia segera mengenali level kekuatan ini.

Ranah Inti Formasi.

Kehadiran seorang ahli Inti Formasi di zona kedua sekte luar adalah sesuatu yang tidak normal. Aura pria ini stabil dan tajam, menunjukkan bahwa ia bukanlah kultivator biasa yang baru menerobos. Tekanannya membuat kedua senior yang pingsan di bawah kaki Qin Xiang seolah menjadi tidak berarti.

Qin Xiang tidak segera melepaskan kakinya. Ia perlahan menoleh, menatap langsung ke mata pemuda asing itu. Meskipun perbedaan ranah mereka bagaikan bumi dan langit, tatapan Qin Xiang tetap tenang—sebuah ketenangan yang membuat pemuda Inti Formasi itu sedikit mengerutkan kening karena heran.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!