"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Sore itu, hawa sejuk mulai menggantikan terik Jakarta. Bita berjalan pelan menyusuri selasar koridor belakang yang menghubungkan gedung yayasan dengan koperasi pondok putri. Ia baru saja membelikan beberapa camilan dan belanjaan titipan Umi. Langkah kakinya yang santai mendadak melambat saat melewati belokan dekat aula kecil, tempat yang biasanya agak sepi di jam-jam setelah asar.
Dari balik dinding pembatas yang tertutup tanaman rambat, terdengar sayup-sayup suara tawa dan obrolan bersemangat khas remaja. Itu suara beberapa santriwati senior yang tampaknya sedang piket membersihkan area aula.
Awalnya Bita tidak peduli, sampai sebuah nama akrab disebut dengan nada penuh kekaguman.
"Eh, kalian ngerasa gak sih, sejak Ustazah Safira mengajar di sini, vibes pondok putri jadi beda banget? Anggun, berkelas, terus kalau jelasin materi fiqih itu adem banget di telinga."
"Iya, bener! Mana bahasa Arab-nya fasih banget lagi. Kemarin pas denger beliau tahsin, ya ampun... fasihnya mirip orang Arab asli."
Bita menghentikan langkahnya total. Kantong plastik di genggamannya mendadak terasa berat. Ia bersandar pada dinding semen, menahan napas untuk mendengarkan lebih lanjut. Dadanya mulai berdegup tidak keruan.
"Jujur ya... ini rahasia kita aja. Menurutku, Ustazah Safira itu... cocok banget tahu kalau bersanding sama Gus Ibra. Sama-sama pinter, sama-sama paham agama, garis mukanya juga sama-sama tegas tapi teduh. Bagaikan pinang dibelah dua!"
Jleb.
Satu tusukan tak kasat mata menghantam ulu hati Bita.
"Hush! Ngawur kamu kalau ngomong! Gus Ibra kan udah nikah sama Mbak Bita, kakaknya Ustazah Safira sendiri," tegur santriwati yang lain, mencoba mengingatkan.
"Ya kan aku cuma bilang 'cocok', bukan mendoakan yang enggak-enggak," bela santriwati pertama dengan nada membantah. "Tapi kalian lihat sendiri kan? Mbak Bita itu... ya baik sih, ramah juga. Tapi penampilannya terlalu modern, kekinian banget. Kurang dapet kesan 'Ning' atau istri ulama-nya. Beda kelas lah kalau dibandingin sama Ustazah Safira yang emang auranya ustazah sejati dari lahir."
"Iya sih, denger-denger kan Gus Ibra nikah sama Mbak Bita juga karena perjodohan kilat antarkeluarga, bukan karena pilihan sendiri. Kasihan ya Gus Ibra, demi bakti sama Abi, harus dapet yang... ya, kalian tahu sendiri lah."
Tawa lirih penuh gosip menyusul kalimat itu.
Bita memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya meremas kantong plastik hingga berkerisik pelan. Kata-kata para santriwati itu laksana racun yang langsung menyebar, membakar seluruh rasa percaya diri yang baru saja ia bangun susah payah di rumah pribadinya kemarin malam.
Rasa kurang percaya dirinya masa kecil Bita kembali bangkit tanpa ampun. Sejak dulu, Safira adalah anak emas, kebanggaan Pap, dan Mama, si anak salihah yang selalu dipuji. Sementara Bita hanyalah si bungsu yang pemberontak, yang tersesat di gemerlapnya Jakarta, dan dianggap sebagai "produk gagal" dalam hal agama.
Mendengar dunia luar memvalidasi bahwa kakaknya jauh lebih pantas mendampingi suaminya sendiri membuat pertahanan emosional Bita runtuh seketika. Tanpa berniat menegur atau melabrak, Bita membalikkan badannya dengan cepat. Ia berjalan setengah berlari menjauhi selasar itu, mengabaikan sapaan beberapa santri lain yang berpapasan dengannya.
Ibra sedang bersiap memakai sorbannya di ruang ganti kamar ndalem saat pintu depan diketuk dengan tergesa-gesa, disusul sosok Bita yang masuk dengan napas memburu dan wajah yang luar biasa pucat.
Pria itu langsung menghentikan gerakannya. "Bita? Kamu dari mana? Kenapa wajahmu—"
"Mas, kita pulang sekarang," potong Bita, suaranya bergetar hebat. Ia meletakkan kantong belanjaan dari Umi di atas meja dengan tangan yang gemetar.
Ibra mengernyitkan dahi, melangkah mendekati istrinya. Ia bisa menangkap ada kabut luka dan kemarahan yang sangat pekat di sepasang mata bulat Bita. "Ada apa? Pertemuan dengan Umi tidak berjalan lancar? Atau ada yang menyakitimu?"
"Enggak ada! Aku cuma mau pulang ke rumah kita sekarang, Mas! Tolong, jangan banyak tanya dulu," cecar Bita, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai menggenang di pelupuk mata. Genggaman pada ujung jilbabnya mengencang.
Ibra tidak langsung menuruti egonya untuk bertanya. Sebagai suami yang kini paham betul setiap jengkal emosi istrinya, ia tahu Bita sedang berada di titik rapuh. Tanpa suara, Ibra meraih kedua pundak Bita, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan dadanya yang hangat dan kokoh.
Bita sempat memberontak kecil, memukul dada Ibra lemah. "Lepas, Mas... aku mau pulang..."
"Kita pulang, iya. Kita pulang sekarang," bisik Ibra lembut, mengecup puncak kepala Bita berulang kali sambil mempererat pelukannya, membiarkan istrinya menumpahkan air mata yang akhirnya pecah di dada bidangnya.
Di dalam dekapan hangat itu, emosi Bita campur aduk. Ia tahu Ibra mencintainya, sangat tahu setelah apa yang mereka lalui semalam. Namun, bisik-bisik dari selasar pondok tadi membuktikan bahwa kehadiran Safira di pesantren ini telah berhasil menyalakan api di dalam sekam, siap membakar kedamaian rumah tangga mereka kapan saja.
😈😤😡😡😡
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....