NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 31

Raja Gajayana terhenyak. Lidahnya terasa kelu mendengar kesediaan Mahesa untuk membantu pasukannya.

"Apa aku tidak salah mendengar?" tanya Raja Gajayana.

"Paduka tidak salah mendengarnya. Memang aku berniat membantu dalam perang nanti. Kalau perlu aku akan memanggil murid-muridku untuk turut membantu," balas Mahesa serius.

"Tidak perlu, Paman. Biarkan murid-murid Paman berlatih di kuil saja. Nanti setelah pasukan dari kadipaten tiba di sini, kita berdua berangkat ke bukit tandus," sela Arya.

Mahesa melihat dengan seksama pedang yang berada di punggung Arya. "Apakah Pedang yang ada di punggungmu itu pedang Langit?"

"Benar, Paman ... Ibu memberikannya kepadaku. Beliau bilang aku harus menjaganya dengan baik."

"Kau memang harus menjaganya dengan baik. Pedang langit adalah pusaka yang sempat menjadi rebutan para pendekar di daratan China. Sebelum nenek gurumu memiliki pedang Halilintar, pedang langit ini adalah pusaka terkuat di daratan China."

"Baik, Paman."

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa dua hari sudah Mahesa berada di istana. Di saat yang sama, sekitar 5 ribu prajurit yang berasal dari kadipaten terdekat sudah berdatangan dan berkumpul di Kotaraja.

Sesuai dengan rencana, Arya dan Mahesa memimpin 5 ribu prajurit tersebut menuju bukit tandus. Tapi mereka tidak melewati jalur umum seperti biasanya, melainkan jalur potong kompas untuk bisa menekan waktu lebih cepat.

Mahesa jelas mengetahui betul detil bukit tandus yang masih menjadi bagian dari gunung Arjuno. Sebagai sosok asli yang terlahir di gunung keramat tersebut, dia tahu ada jalan kompas yang bisa diambilnya untuk menyingkat waktu.

Perjalanan sudah memasuki hari kelima, pasukan kerajaan Kanjuruhan berhenti di luar sebuah desa yang besar untuk beristirahat.

Suatu hal yang tidak disangka membuat hati mereka trenyuh. Para penduduk berbondong-bondong mendatangi rombongan besar prajurit Kanjuruhan, dengan membawa berbagai macam makanan yang mereka miliki. Selain itu, ada beberapa gerobak yang diseret sapi memuat air dalam wadah gentong besar.

Dharmaseta tidak menyangka jika sambutan yang diberikan rakyat kerajaan Kanjuruhan begitu hangat. Padahal Raja Gajayana sudah mewanti-wanti agar pasukannya tidak menimbulkan kesusahan bagi penduduk desa yang mereka singgahi.

Namun berita akan terjadinya perang dengan kerajaan Gandara sudah menyebar dengan begitu cepat. Meski tidak terlibat langsung dalam perang, rakyat kerajaan Kanjuruhan ingin memberikan sumbangsih dengan memberikan bantuan berupa makanan dan minuman.

Dalam satu orasinya, Dharmaseta mengingatkan pasukannya agar bisa melihat bahwa harapan rakyat kerajaan Kanjuruhan yang disematkan kepada mereka begitu besar.

"Sumbangan yang diberikan rakyat kepada kita sudah menunjukkan bahwa rasa cinta mereka kepada tanah airnya begitu besar. Jangan sampai kita mengecewakan harapan besar mereka. Ingat, di pundak kitalah nasib kerajaan ini berada. Di tangan kita jugalah nasib rakyat kerajaan Kanjuruhan dipertaruhkan. Jangan sedikitpun patah semangat atau bahkan menyerah sebelum berperang! Sekali lagi aku ingatkan, keluarga kita saat ini menunggu di rumah. Buatlah mereka bangga dengan kemenangan yang kita raih!"

Sebagai mantan Senopati Agung kerajaan Gandara, Dharmaseta tentu paham bagaimana cara membakar semangat pasukannya. Dia juga tahu betul jika semangat pasukan ada kalanya turun naik, dan disitulah perannya sebagai panglima perang dimainkan.

Mandala dan Santoso kagum melihat betapa berwibawanya Dharmaseta sebagai panglima perang. Dari sepupu jauh Raja Gajayana itu, mereka belajar banyak bagaimana menjadi seorang pemimpin.

Seharian beristirahat, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Keberangkatan pasukan kerajaan Kanjuruhan diiringi riuh suara penduduk desa yang memberi semangat.

Hari ke delapan setelah keberangkatan, rombongan pasukan besar yang dipimpin Dharmaseta akhirnya sampai di bukit tandus. Cuaca yang panas dan menyengat tidak membuat semangat mereka luntur. Dengan giat para prajurit mendirikan tenda untuk tempat mereka beristirahat.

Sesuai dengan arahan Arya, mereka memilih tempat yang dikelilingi bebatuan tinggi. Selain tidak gampang terlihat dari luar, posisinya juga sangat strategis untuk mengamati keadaan di sekitar. Ditambah lagi dengan bebatuan yang bisa menjadi benteng alam buat mereka.

Sehari setelah pasukan yang dipimpin Dharmaseta tiba di bukit tandus, 5 ribu pasukan yang dipimpin Arya dan Mahesa akhirnya menyusul tiba di tempat tersebut.

Sebagai penasihat Raja Gajayana, Jaya yang seharusnya tidak boleh ikut dalam perang, memilih menyelinap ikut dalam rombongan yang dipimpin Arya dan Mahesa. Dia ingin terlibat langsung dalam perang yang akan segera terjadi. Selain itu, faktor bantuan yang diberikan Mahesa juga membuatnya bersemangat untuk ikut berperang di garis depan.

Di dalam sebuah tenda yang besar, pembicaraan pun dilakukan dengan begitu serius namun terkesan santai. Dharmaseta membagi 25 ribu pasukan yang dibawanya menjad beberapa resimen.

Jaya membawahi 3 ribu prajurit pemanah yang akan melakukan serangan pertama, ketika pasukan lawan sudah memasuki lembah. Santoso memimpin 10 ribu prajurit untuk menghadang dari depan. Sedangkan 10 ribu prajurit dibawah pimpinan Mandala menutup jalan keluar dari belakang.

Mahesa dan Arya hanya membutuhkan 2 ribu orang prajurit untuk memberikan serangan pembuka setelah serangan panah diluncurkan. Kemampuan mereka berdua tentu menjadi pertimbangan khusus bagi Dharmaseta memberi mereka berdua peran menyerang di garis depan.

Di lain tempat yang berjarak satu hari perjalanan dari bukit tandus, rombongan besar pasukan kerajaan Gandara beristirahat di sebuah hutan yang lebat.

Kecurigaan Raja Barawijaya jika nasib tidak baik sudah dialami para prajurit yang diberi tugas membunuh Dharmaseta semakin besar.

"Senopati, sebaiknya kita buat rencana baru. Aku merasa jika prajurit yang kau perintahkan membunuh Dharmaseta tidak berhasil melakukan tugasnya. Jika Dharmaseta sampai berhasil memberitahu Raja Gajayana, maka pasukan kita akan menjadi sasaran empuk sebelum tiba di Kotaraja."

Jalaksora merasa serba salah menghadapi situasi seperti ini. Jika selama ini kerajaan Gandara selalu bergantung kepada kemampuan Dharmaseta, kini beban itu tersemat di pundaknya.

Masalahnya, dia belum punya pengalaman yang mumpuni di bidang strategi. Dalam perang kali ini strategi yang digunakannya adalah strategi yang diturunkan Dharmaseta kepadanya.

Kelemahan Jalaksora semakin kentara ketika Raja Barawijaya memintanya mengubah rencana secara mendadak. Dia kebingungan bagaimana menerapkan rencana baru, dalam situasi tempat yang masih asing baginya. Padahal jika ada Dharmaseta, masalah seperti itu akan mudah dilakukan.

"Sebaiknya kita kirim teliksandi untuk berangkat terlebih dahulu, Paduka. semakin banyak informasi yang mereka dapatkan, adalah suatu keuntungan buat kita. Kita masih memiliki waktu untuk mengubah rencana sambil terus berjalan maju," usul Jalaksora.

"Baiklah. Untuk saat ini aku ikuti saranmu, tapi jika gagal kau tahu sendiri bagaimana nasib yang akan kau terima!" ancam Raja Barawijaya. Dia merasa telah melakukan kesalahan dengan membiarkan Dharmaseta pergi begitu saja. Seharusnya ketika Dharmaseta mengajukan pengunduran diri dari jabatannya, saat itu juga dia memberikan hukuman sebagaimana hukuman yang diberikannya kepada Kurama.

Jalaksora keluar dari tenda dengan perasaan dongkol. 10 teliksandi diperintahkannya berangkat terlebih dahulu untuk mengamati situasi sepanjang jalan menuju Kotaraja kanjuruhan.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!