Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado berupa teror.
Jam satu malam.
Sesuai rencana yang sudah dibicarakan dengan Mamanya, Caitlin mengajak bicara Halley tentang hal-hal yang seru. Membuat Halley tak ada niat untuk tidur. Mereka nampak asik mengobrol terkadang diselingi tawa yang menggema di kamar Halley.
"Halley. Bagaimana jika kita membuat susu hangat sebelum tidur?" Tawar Caitlin untuk memulai permainannya. Halley tampak memikirkannya, apa bisa susu hangat membuat kita cepat tidur? Pikirnya.
"Ah tentu saja! Ayo ke dapur!" Ajak Halley merapikan baju tidur yang dikenakannya. Sementara Caitlin berpura-pura sakit perut, ia memegang perutnya yang dilapisi baju tidur milik Halley. "Eh, kenapa perutmu, Lin?"
"Ehm, aku sakit perut, Ley. Mungkin kau bisa ke dapur duluan, aku ingin ke toilet sebentar." Kata Caitlin sembari wajahnya berpura-pura menahan sakit. "Baiklah, kau pakai toilet di situ saja." Halley menunjuk toilet yang ada di kamarnya.
"Baiklah, Ley! nanti aku akan menyusulmu!" Kata Caitlin lalu bergegas ke toilet. Halley pun segera keluar kamar, ia melangkahkan kakinya menuju dapur.
Saat membuka pintu dapur, Halley mencium aroma asap, gosong. "Bau apa ini?" Gumannya. Halley memencet saklar lampu dapur yang berada di samping pintu itu. Terlihat sebuah amplop putih di atas kompor gas modena. Bagian sudut kanan amplop itu menghitam, sepertinya sempat terbakar, atau mungkin dibakar.
Halley mengernyitkan dahinya, ia memberanikan dirinya berjalan ke arah amplop itu. Sebuah potongan silet ditempelkan pada penutup amplop itu. Bercak merah seperti darah terlihat di sekitar potongan silet itu. Seketika bulu kuduk Halley berdiri.
Halley memberanikan diri untuk segera menyobek amplop itu. Sebuah kertas berwarna hitam yang dilipat terjatuh di atas kaki Halley yang tidak memakai apa-apa. Halley mengambilnya, ia membuka lipatan kertas itu.
Permainan sudah dimulai, Halley! Jika kau mengadu surat ini, kupastikan Zherra akan celaka! Satu lagi, beritahu My Harchan, I COME BACK!!!
Kalimat teror itu ditulis dengan cairan merah seperti darah yang masih sedikit basah, belum kering. Artinya surat itu belum lama dibuat. "APA INI!!!" Teriak Halley histeris. Suara teriakan Halley bergema memenuhi ruangan itu. Tapi siapapun tidak akan bisa mendengarnya, ruangan dapur itu kedap suara.
"Mama! Mama dalam bahaya! Kenapa ini, KENAPA! APA SALAHKU!!! APA SALAH MAMA!" Batin Halley kacau balau, pikirannya dipenuhi kalimat teror itu. Ingin sekali ia langsung berlari ke kamar orangtuanya untuk memberi tahu surat ini, tapi kalimat ancaman itu,... argh!
Sementara di balik pintu, seorang wanita tersenyum sinis. "Bodoh sekali anak itu !" Gumannya. Wanita itu adalah Vera.
Terdengar suara orang berjalan menuju dapur. "Bagaimana, Ma? Aku masuk saja ya?" Tanya anak itu, Caitlin Volmerd. Caitlin tersenyum sinis. "Silahkan, Nak. Tenangkan dulu saja anak bodoh itu, besok baru kita lanjutkan rencananya." Kata Vera tersenyum manis pada anaknya. "Siap, Ma!" Kata anak itu. Ia menggerakkan tangannya ke handle pintu dapur. Sedangkan Vera segera kembali ke kamar tamu.
Kreak! Suara pintu dapur terbuka. Halley cepat-cepat menghapus air matanya dan memasukkan surat dalam amplop itu ke saku celananya. "Aww!" Ia merintih kesakitan, tapi tak sesakit hatinya yang sedang kacau itu. Potongan silet pada amplop itu menggores pahanya yang terbaluti kain tipis pada saku celana.
"Apa kau baik-baik saja, Halley?" Tanya Caitlin sok perhatian. "Ah iya, Lin. Bagaimana dengan perutmu?" Halley mengalihkan pembicaraan.
"Sudah tak sakit lagi." Caitlin tersenyum manis, tersenyum melihat penderitaan Halley. Ia tahu, pasti paha Halley tergores potongan silet dari amplop buatan Mamanya itu.
"Ya sudah ayo kita buat susu hangat!" Ucap Caitlin girang. Ia segera mengambil sebuah gelas bening pada lemari gelas. "Ehm, Caitlin. Aku titip tolong buatkan, ya! Aku mau ke kamar sebentar, aku segera kembali!" Halley segera keluar dari dapur dan berjalan menuju kamarnya dengan pelan. Ia mengeluarkan amplop dari saku celananya.
Di dalam kamar, Halley mengambil kotak P3K, lalu ia mengobati bagian pahanya yang tergores. Ia menempelkan hansaplast pada lukanya itu. Ia melirik ke arah amplop putih yang berada di hadapannya. Bulu kuduknya kembali berdiri mengingat kalimat teror itu. Dengan segera ia menyobek bagian amplop yang ditempeli potongan silet itu, lalu membuangnya di tempat sampah kecil di bawah meja.
Amplop itu ia simpan pada laci meja belajarnya, di samping kartu kredit unlimited miliknya. Pandangannya ia alihkan pada kotak sepatu yang berukuran besar, sepatu pemberian kakaknya, sepatu yang dilihatnya itu untuk anak SMA.
Lalu ia bergegas turun ke bawah untuk membantu Caitlin membuat susu hangat.
***
Pagi harinya. Halley terbangun dengan tidak tenang. Hari kelahirannya ini tidak sebahagia yang pernah ia bayangkan.
Halley melihat sebelahnya, Caitlin nampak tidur dengan tenang. Halley pun membangunkan. "Euhhh! Ada apa, Ley?" Caitlin mengubah posisi tidurnya, matanya masih terpejam.
"Sudah pagi, Caitlin! Mamamu pasti menunggu di bawah!" Caitlin segera membuka matanya, ia sadar ia sedang berada di rumah orang lain. "Eh, iya!" Caitlin segera duduk. Ia menghadap pada Halley.
"Happy Birthday, Halley! Hari ini hari ulang tahunmu, sangat menyenangkan, ya kan?" Kata Caitlin tersenyum manis.
"Mana mungkin orang diteror bilang menyenangkan!" Kata Halley dalam hati. Lalu tersenyum getir mendengar perkataan Caitlin.
Setelah mandi, Caitlin memakai baju yang ia kenakan saat acara ulang tahun Halley. Lalu berterimakasih pada Halley. Halley dan Caitlin berjalan ke ruang depan. Terlihat Vera sedang duduk di sofa berhadapan dengan Mama Zherra dan Papa Harchan, mereka sedang berbincang, terkadang diselingi tawa. Segitu hebatnya kah Vera? Semalam hubungan mereka kurang baik, sekarang sudah tertawa bersama.
"Ah, Caitlin. Ayo pulang, nak!" Kata Vera tersenyum, tapi pandangannya mengarah ke Halley.
"Apa tidak sarapan bersama dulu?" Tawar Mama Zherra. "Tidak usah, Ra. Aku ada urusan." Vera menolak dengan halus.
"Ya sudah kalau begitu." Kata Mama Zherra tersenyum manis. "Kami pamit dulu ya!" Kata Vera halus.
"Sering-seringlah mengunjungiku, Caitlin!" Kata Halley tersenyum manis sambil melambaikan tangannya saat Caitlin dan Vera menaiki taksi. "Tentu saja!" Teriak Caitlin dari dalam taksi. Supir taksi pun melajukan mobilnya.
"Kau memang anak yang bisa diandalkan, Caitlin. Mama bangga padamu!" Kata Vera mengelus lembut rambut Caitlin. "Tentu saja, Ma!" Kata Caitlin bangga.
"Seperti yang tadi kita dengar, kan. Halley menyuruh kita untuk mengunjunginya. Besok kita datang, ya. Bawa kue juga, sebagai perayaan atas masalah yang menimpa keluarga Renaga besok! Hahaha!" Tawa jahat Vera diikuti oleh anak perempuannya itu.
Kemudian Vera mengambil handphone miliknya dari tas. Ia mengetik pesan dan ia kirimkan pada seseorang.
Vera
Pastikan semua akan berjalan lancar! Jika tidak aku akan membunuhmu!
+62813*******
Beres, Bos.
.
.
.
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃