NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diluar dugaan

Bima pun segera bersiap untuk memenuhi undangan Ibu Sanjaya. Langkah kakinya terdengar mantap di dalam kamar saat dia memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Setelah menimbang beberapa pilihan di lemari, dia akhirnya memilih pakaian yang kasual namun tetap rapi. Sebuah perpaduan sederhana namun berkelas. Dia mengenakan celana jins levis yang pas di kaki, memberikan kesan santai namun kokoh, serta dipadukan dengan sepasang sepatu olahraga yang bersih dan nyaman untuk bergerak. Kombinasi pakaian tersebut terlihat sangat serasi dengan bentuk badan atletisnya yang kini dibungkus dengan kemeja santai berwarna netral. Kemeja itu melekat sempurna, memperlihatkan siluet tubuhnya yang proporsional hasil dari kedisiplinan diri yang tinggi selama ini.

Kali ini, setelah menimbang situasi dan kondisi, Bima memilih untuk tidak menggunakan sedan hitam mewah pemberian Nyonya Besar. Dia merasa mobil mewah itu terlalu mencolok dan kurang sesuai dengan pesan personal yang ingin dibawanya hari ini. Sebagai gantinya, dia sengaja mengendarai mobil lain dari garasi villa—sebuah mobil lama yang terkesan agak jadul dan bernuansa klasik. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun perawatan rutin Bima yang sangat telaten membuat mesin dan tampilannya masih sangat sehat, mulus, dan berada dalam kondisi prima. Deru mesinnya terdengar halus saat dinyalakan, menandakan bahwa kendaraan ini dirawat oleh tangan yang benar-benar paham estetika dan performa otomotif.

Sesampainya di alamat yang dituju setelah melewati rute perjalanan yang cukup panjang, Bima yang biasanya selalu bersikap santai, tenang, dan tidak mudah goyah, mendadak dibuat terkejut. Kendaraan klasiknya melambat seiring dengan pandangannya yang tertuju pada pemandangan di depan mata. Matanya menyipit tajam, menatap hamparan bangunan megah yang berdiri dengan kokoh di balik pagar besi hitam yang menjulang tinggi mencakar langit. Kemegahan arsitektur bangunan itu benar-benar memancarkan aura kekuasaan dan kekayaan yang luar biasa, membuat siapa pun yang melintas akan merasa kerdil di hadapannya.

‘Ini rumah apa stadion?’ batin Bima heran sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya yang tertahan di wajahnya. Luas tanah yang membentang sejauh mata memandang dan kemegahan arsitektur tempat itu benar-benar di luar perkiraannya selama ini. Dia tahu keluarga Sanjaya adalah kalangan terpandang, namun melihat langsung aset ini tetap saja memberikan kejutan tersendiri bagi nalar sehatnya.

Bima menghentikan mobil jadulnya tepat di depan pos penjagaan gerbang utama yang dijaga ketat oleh beberapa personel keamanan. Dia menurunkan kaca jendela mobil secara perlahan hingga menyisakan ruang terbuka yang lebar, lalu melayangkan senyum ramah yang tulus kepada pihak keamanan yang sedang berjaga di sana. "Maaf, Pak. Tolong kasih tahu pada Nyonya Sanjaya, saya Bima sudah ada di depan," kata Bima dengan sopan, menjaga nadanya tetap rendah namun jelas terdengar di tengah kesunyian area luar gerbang tersebut.

Satu dari beberapa sekuriti berbadan tegap dan berpakaian seragam rapi itu mengangguk hormat setelah melihat wajah Bima dengan saksama, mengenali identitas sang tamu yang telah dinantikan. "Tunggu sebentar, Pak," jawab sekuriti itu sembari meraih perangkat HT (Handy Talkie) di sabuknya untuk mengonfirmasi kehadiran tamu tersebut ke pihak dalam rumah utama. Terdengar suara kresek pelan dari radio komunikasi saat koordinasi singkat dilakukan antar petugas keamanan internal.

Tak butuh waktu lama setelah verifikasi selesai, palang pintu gerbang otomatis yang besar dan berat itu perlahan terbuka lebar ke arah samping dengan suara mekanis yang halus. Pihak keamanan segera mempersilakan Bima untuk masuk ke dalam area halaman. Sekuriti itu menjulurkan tangannya memberi arah dengan gestur yang sangat formal, "Tuan, lurus saja ikuti jalur aspal ini."

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Bima sembari mengangguk kecil sebagai tanda apresiasi atas pelayanan yang diberikan, lalu kembali menaikkan kaca jendela mobilnya.

Sepuluh menit berlalu sejak dia melewati gerbang depan, Bima terus mengendarai mobil jadulnya menyusuri jalan aspal pribadi yang membelah taman-taman hijau yang luas di dalam kawasan eksklusif tersebut. Pemandangan di kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun dan hamparan rumput yang dipangkas dengan sangat rapi. Jarak dari gerbang depan menuju bangunan utama ternyata sangat jauh, sebuah bukti sahih betapa luasnya kepemilikan lahan keluarga ini. Barulah setelah sepuluh menit berkendara dengan kecepatan rendah dan konstan, mobil Bima akhirnya sampai dan terparkir rapi tepat di depan pintu utama bangunan megah yang menyerupai istana atau mansion besar tersebut. Arsitektur pintu masuknya yang tinggi besar dengan pilar-pilar raksasa seolah menyambut kedatangannya dengan keanggunan yang bisu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!