Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 # Leo Family
Arlo mengangkat kedua tangannya keatas, pemuda tersebut melakukan peregangan untuk melemaskan otot-ototnya. Berjam-jam sudah dia berada di balik layar, akhir-akhir ini putra pasangan papi Leo dan mi-mom Hana tersebut memang sedang sibuk-sibuknya. Sama dengan Queena, Arlo juga sudah masuk semester tujuh yang berarti dia sudah mulai harus fokus untuk menyusun skripsinya.
Putra sulung papi Leo tersebut megikuti jejak mi-mom Hana, uncle Arya dan juga bunda Kia. Arlo mengambil jurusan Teknik Informatika, namun dia lebih memilih kampus dalam negeri dari pada mengikuti keluarga mereka yang lulusan luar negeri. Alasannya tentu hanya satu, agar dia tetap bisa mengusik Queena.
“Abang belum keluar kamar, sayang?” mi-mom Hana bertanya pada putri bungsunya, Aqila baru saja turun untuk makan malam.
“Belum, mom. Abang masih pacaran sama PC nya,” Aqila duduk di kursi meja makan, di sana baru ada mi-mom Hana.
“Siapa yang pacaran sama PC?” papi Leo baru saja keluar dari ruang kerjanya, dia bergabung dengan anak dan istrinya di meja makan.
“Bang Arlo,” jawab Aqila. “Qila heran deh, pi. Abang seperti punya dua kepribadian, di belakang PC sama di realita beda. Apalagi kalau sudah ketemu kak Ueena,” lanjut Aqila.
Papi Leo dan mi-mom Hana tertawa ringan.
“Hanya ada dua hal yang menarik minat abangmu itu, sayang. PC dan Ueena,” mi-mom Hana menambahkan. “Kita makan malam duluan saja! Nanti biar mi-mom atau mbak yang antar makan malam abang ke kamar,” titah mi-mom Hana.
Mereka bertiga akhirnya makan malam tanpa Arlo, mi-mom Hana tahu betul putra sulungnya tidak akan turun makan malam jika sudah berkutat dengan projectnya.
Selesai makan malam, Aqila minta sang papi menemaninya untuk nonton film di ruang studio film keluarga. Bisa di bilang me time anak gadis dengan cinta pertamanya. Sedangkan mi-mom Hana ke kamar Arlo, dia membawa nampan berisi makan malam dan minuman untuk putra sulungnya tersebut.
Tok… tok
“Boleh mi-mom masuk, sayang?” mi-mom Hana minta ijin Arlo untuk masuk ke kamar pemuda tersebut.
“Iya, mom. Sebentar,” Arlo beranjak dari tempatnya duduk, dia membuka pintu kamar dan mengambil nampan dari tangan mi-mom hana. “Masuk, mom.” Mi-mom Hana melangkah masuk ke dalam kamar putra sulungnya.
Arlo meletakkan nampan berisi makan malamnya diatas meja, dia langsung duduk untuk menikmati makan malam yang sengaja di bawakan ke kamar untuk dirinya. Mi-mom Hana tidak menemani Arlo makan malam, melainkan dia sudah duduk di kursi gaming sang putra, memeriksa progress project Arlo.
Dari tempatnya berada, Arlo mengamati gerak gerik mi-mom Hana, entah apa yang sedang mi-momnya itu lakukan. Dia tidak khawatir projectnya akan rusak, karena Arlo sendiri tahu kalau sang mi-mom lebih paham dengan dunia yang saat ini sedang Arlo tekuni.
Arlo meneguk air dingin hingga tandas, dia menaruh gelas dan piring bekas makannya diatas nampan. Karena penasaran dengan apa yang sedang mi-momnya lakukan, Arlo menghampiri wanita yang sudah melahirkannya tersebut.
Arlo menarik kursi dan duduk di samping sang mi-mom, Arlo menopang dagu memperhatikan wanita yang masih tetap cantik meskipun usianya sudah tak lagi muda.
“Serius sekali, mom? Arlo berasa sedang di tungguin dosen,” ujar si sulung.
Mi-mom Hana tersenyum, dia mengusap kepala putra tampannya tersebut. “Anggap saja mi-mom dosen pembimbing kamu. Kalau bukan karena papimu itu, mi-mom mungkin sudah jadi dosen tercantik di kampus. Mana sok-sokan bilang tidak sengaja,”
Arlo menertawakan mi-mom Hana. “Yakin mau jadi dosen, mom?”
“Berani kamu ketawain mi-mom, ya!” canda mi-mom Hana. “Mi-mom begini-begini cumlaud. Meskipun harus cuti sementara waktu hamil kamu,” mi-mom Hana membanggakan dirinya di hadapan putranya.
“Arlo bukan menertawakan mi-mom…” ucapnya terjeda karena kembali tertawa. “Membayangkan mi-mom jadi dosen ngeri-ngeri sedap. Bisa papi buldo ser itu nanti kampus kalau mi-mom sampai jadi dosen di sana. Penghuni circle kurang setengah ons itu kan para suami bucin istri, mom. Termasuk papi,” lanjutnya mengingatkan sang mi-mom.
Kini mi-mom Hana yang tertawa, dia membenarkan ucapan putranya. Siapa yang tidak tahu bagaimana circle papi Leo yang tergabung dalam grup kurang setengah ons, si para suami yang bucin istri.
“Kamu benar juga, sayang. Bisa-bisa kampusnya ambruk,” ucap mi-mom Hana. “Bukan ambruk lagi, mom. Tapi hancur lebur,” begitulah ibu dan anak tersebut sedang menghibahi kepala keluarga mereka.
“Mi-mom mau lihat si bucin sama princess dulu. Abang jangan begadang,” mi-mom Hana menyudahi acara bincangnya dengan Arlo. “Ide projectmu sudah bagus, sayang. Tapi Arlo tidak bisa mengambil dua-duanya sebagai project. Arlo harus memutuskan mau pemograman atau keamanan cyber,” mi-mom Hana mengusak rambut putranya lembut.
“Mi-mom rasa, abang lebih cocok dengan keamanan cyber. Tapi apapun nanti yang abang pilih, mi-mon menghargai keputusan abang. Keamanan cyber, abang bisa belajar dan tanya pada bunda Kia, aunty Eris atau aunty Alice karena mereka bertiga ahlinya. Kalau soal pemrogaman, abang bisa tanya uncle Arya. Mi-mom ini juga bisa sih,” lanjutnya sambil terkekeh.
Arlo memeluk mi-mo Hana dari samping. “Terimakasih, mom. Arlo akan pikirkan saran mi-mom,”
***
Queena beberapa kali melihat arlojinya, dia mencari keberadaan Arlo yang tak kunjung muncul. Padahal semalam Queena sudah bilang kalau mereka harus menjemput Azura jam sebelas, sepupunya itu bisa tantrum kalau mereka terlambat menjemput.
Dia mencoba menghubungi Arlo, karena tidak mungkin untuk Queena mendatangi Fakultas Teknik. Bisa heboh nanti, apalagi kalau Enzo tahu. Dia bisa di jadikan bahan ledekan seumur hidup abangnya Azura tersebut.
Panggilan tersambung.
“Ha…”
Pletak
Belum juga Queena mengatakan hallo pada Arlo, dia malah mendapatkan satu jitakan di kepalanya. Queena mengusap kepalanya, dia menolah.
“Aku sudah di sini, Queen. Ngapain telepon segala,” Arlo mematikan sambungan telepon, dia sudah berada tepat di belakang Queena.
“Kamunya lama, Arlo. Kita harus sudah sampai di sekolah Azura jam sebelas tepat,” kesal Queena.
“Telat sedikit tidak masalah,” ujarnya, dan dengan santainya Arlo masuk ke dalam mobil.
Queena berdecak kesal, dia masuk ke sisi samping kemudi. Lihat saja nanti, bagaimana Azura rewel dan cerewet kalau telat di jemput. Biar saja Arlo pusing ngadepin princess cimol.
Roda ban mobil Arlo beradu dengan hitam pekat aspal jalanan, salahkan Arlo yang tidak bisa tepat waktu. Padahal Queena sudah ingatkan jam berapa mereka harus keluar dari kampus, alhasil mereka benar terlambat menjemput Azura. Di tambah jalanan siang itu sedikit padat karena sudah hampir jam makan siang, mereka sampai di sekolah Azura pukul sebelas lewat lima menit.
“Aku tunggu di sini saja!” Arlo enggan turun dari mobil.
Queena melepas sabuk pengamannya, dia turun dari mobil. Bukan masuk ke dalam sekolah Azura, Queena berjalan memutar. Dia mengetuk kaca mobil bagian sisi kemudi.
Arlo menurunkan kaca mobil. “Ada apa lagi, sih?” bingungnya.
Alih-alih menjawab, Queena membuka pintu mobil. “Turun!” titahnya pada Arlo. “Kamu harus ikut jemput Azura. Dari pada dia tantrum nanti,” Queena menarik lengan Arlo, dia memaksa Arlo untuk ikut menjemput Azura di dalam sekolah.
“Ck… iya-iya,” siang itu Arlo menjemput Azura di sekolahnya bersama dengan Queena, mana mungkin Arlo ada di sana kalau bukan karena abang sepupunya yang bernama Gavin itu.
“Haaih…” Hela napas Queena terdengar, dari jarak yang tidak begitu jauh dia sudah bisa melihat gadis kecil berkuncir kuda sedang bersedekap kedua tangan di dada. Gadis kecil itu memberengut. “Salah kamu kalau nanti dia ngambek,” Queena menyenggol lengan Arlo, pemuda itu hanya nyengir kuda.
Mereka berdua menghampiri Azura, Queena berjongkok di hadapan Azura. “Maaf ya, princess. Abang Arlo lama, jadi kita terlambat.”
Azura langsung menatap Arlo tajam, pemuda tersebut hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Di suruh ikut ternyata buat jadi tumbal,” gumam Arlo.
“Abang Allo Bandung nyetilnya cepelti ciput, ya? Lama cekali jemput Zula, campe keling Zula tunggu di cini. Pelut ini juga cudah beltalu-talu, hauc ini tenggolokan. Haluc di cilam yang cegal-cegal,” oceh Azura membuat Arlo langsung menggaruk pelipisnya.
“Dia cerewet sekali, Queen. Lebih cerewet dari Aqila,” bisiknya pada Queena, putri papa Rega tersebut hanya mengedikkan bahu. Salah Arlo sendiri yang ngeyel, dan sekarang dia merasakan tantrumnya Azura.
“Ekhee… citu malah bicik-bicik tetangga,” protes Azura.
Arlo lantas mengulurkan tangan. “Abang minta maaf, deh. Nanti abang belikan yang Zura mau,” bujuknya. “Kita ke mobil, yuk! Zura katanya lapar, kita makan siang dulu. Biar ada energi,” lanjutnya.
“Enelgi haluc diici dulu cebelum minta abang Allo bandung beli cemua ici mini malket,” celetuk Azura dengan entengnya, Arlo bahkan sudah syok.
Azura bahkan sudah menggandeng tangan Queena dan Arlo. “Mali belangkat!” lanjutnya.
Queena terkekeh melihat ekspresi Arlo. “Semua isi mini market gak tuh,”
“Seriusan dia minta semua isi mini market?” tanyanya diangguki Queena.
Adik mbak Aretha lebih di luar nalar dari pada Aqila ternyata. Selamat berjuang deh, bang Gavin.