Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Di Balik Tabir
Tak lama kemudian sampai la di rumah yena, Arga menurunkan kakinya dari mobil, lalu dengan hati-hati menggendong tubuh Yena yang masih gemetar lemah menuju pintu depan rumah. Ia tidak meletakkannya turun sedikit pun, tangan kekarnya menyangga punggung dan lutut Yena dengan mantap. Tangan lainnya terulur, menekan bel rumah berkali-kali hingga terdengar nyaring di dalam.
Tak lama berselang, pintu terbuka lebar, menampakkan wajah kaget Bik Ina.
"Astaga! Non Yena!" seru Bik Ina terkejut setengah mati, matanya membelalak melihat kondisi majikannya yang digendong arga dengan wajah pucat dan pipi memerah.
Suara kencang Bik Ina tak sengaja terdengar hingga ke lantai atas. Kenzo yang sedang menonton televisi langsung melompat bangkit, berlari cepat menghampiri ke ruang tamu. Napasnya tercekat saat melihat kakaknya duduk di sofa ruang tamu, dengan lutut yang terluka dan berdarah, serta wajah yang sembab bekas tangis.
"Om? Kak Yena kenapa?!" tanya Kenzo panik, langsung berlari ke sisi sofa dan menatap Arga dengan tatapan cemas.
Arga melirik anak itu sekilas, nadanya tenang namun tegas: "Tadi kakakmu dicegat preman saat di jalan sepi. Untung saja aku lewat di sana tepat waktu."
Mendengar itu, mata Kenzo membelalak ngeri, namun Yena langsung menyela sambil tersenyum tipis berusaha menenangkan adiknya. Ia mengusap kepala Kenzo pelan. "Udah, Kakak enggak apa-apa kok... cuma sakit sedikit saja, jangan khawatir ya."
Beberapa saat kemudian, Bik Ina datang membawa baskom berisi air bersih, handuk kecil, serta kotak obat yang lengkap. Tanpa diminta, Arga langsung mengambil alih. Ia berlutut di depan sofa, menaruh kaki Yena di atas paha sendiri, lalu mulai membasuh darah dan debu yang menempel di luka lutut gadis itu dengan gerakan yang luar biasa lembut dan hati-hati.
Saat obat luka diteteskan perlahan, Yena tak kuasa menahan rasa perih yang menyambar seketika, ia sedikit mendesis sambil memejamkan mata rapat. Arga langsung berhenti sejenak, menatap wajahnya cemas. "Sabar sedikit lagi ya... sebentar saja selesai."
Setelah lukanya dibalut rapi, Arga berdiri dan menatap Yena lekat-lekat. "Istirahatlah yang cukup setelah ini. Jangan terlalu banyak memikirkan kejadian tadi, biarkan saja berlalu."
Kenzo yang sedari tadi diam memperhatikan, kini menatap Arga dengan tatapan penuh rasa hormat. "Om... makasih banyak ya udah bantuin dan selamatin Kakak."
Arga hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap Yena dengan sorot mata yang lembut namun tak bisa dibaca sepenuhnya.
Yena menatapnya balik, rasa syukur memenuhi dadanya, bercampur dengan rasa aman yang tak ia rasakan selama ini. "Makasih ya, Arga... untuk semuanya."
Arga tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya mengusap lembut puncak kepala Yena, satu gerakan yang terasa begitu dominan namun menenangkan. "Istirahatlah. Aku pamit pulang dulu."
Tanpa menambah kata lain, Arga melangkah pergi meninggalkan rumah itu, menyisakan keheningan yang perlahan kembali menyelimuti. Yena masih duduk diam di sofa, menyentuh lututnya yang kini terasa hangat karena perhatian pria itu, namun di sudut hati terdalamnya, entah mengapa terasa ada ruang kosong yang makin luas—ruang yang seharusnya terisi oleh sosok lain yang kini entah berada di mana.
Sesampainya di rumah mewahnya yang sunyi, Arga langsung berjalan masuk ke ruang kerja di lantai paling atas—ruangan yang tertutup rapat, tempat ia menyimpan segala rencananya yang tak diketahui siapa pun. Di tengah ruangan itu, kedua pria yang tadi ia hajar di jalan kini sudah berlutut di lantai marmer yang dingin, wajah mereka memar dan berdarah—bukan karena Yena, melainkan karena Arga sendiri yang kini melampiaskan amarahnya kepada mereka.
Arga berdiri di hadapan mereka, napasnya memburu, matanya menyala merah menahan kemarahan yang meluap-luap. Ia melempar jaketnya ke kursi dengan kasar, lalu melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh kedua anak buahnya itu.
"Sudah kubilang berkali-kali, tugas kalian hanya menjebaknya—membuatnya ketakutan, membuatnya merasa tak berdaya, lalu aku datang tepat waktu untuk menyelamatkannya!" bentak Arga dengan suara menggelegar, tangannya mengepal erat hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Sudah kubilang jangan menyakiti sehelai rambut pun pada dia! Tapi kenapa kalian malah main tangan?! Berani sekali kalian menamparnya?!"
"Bos... maafkan kami, Bos!" seru salah satu pria itu gemetar, menunduk dalam tak berani menatap mata tuannya. "Kami... kami tidak sengaja! Dia meronta terlalu keras, dan kami panik—"
PRAK!
Tanpa peringatan, tangan Arga melayang menampar wajah pria itu begitu keras hingga tubuhnya terguling ke samping. Darah segar langsung menyembur dari hidungnya yang pecah.
"Maaf?" desis Arga dingin, matanya menatap mereka dengan tatapan membunuh. "Maaf tak bisa mengembalikan rasa sakit di pipinya! Kalian berani menyakiti milikku? Kalian pikir kalian siapa?!"
Ia melangkah mendekat, menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam seperti elang.
Kedua pria itu menegang kaku, tak berani bernapas. Mereka tahu betul rahasia besar yang mereka simpan—bahwa Arga sengaja menciptakan bahaya itu sendiri, hanya agar ia bisa tampil sebagai pahlawan yang menyelamatkan Yena berulang kali. Agar Yena semakin bergantung padanya, semakin merasa aman hanya di sisinya, dan akhirnya kembali ke pelukannya tanpa bisa melarikan diri lagi.
Arga berbalik memunggungi mereka, menatap jendela kaca besar yang memandang ke arah kota yang kelam. Wajahnya yang dulu tampan kini terlihat bengkok oleh ambisi yang tak terkendali.
"Semua ini..." bisiknya pelan namun penuh kegelapan, "semua ini agar dia kembali padaku. Agar dia menyadari bahwa hanya aku yang bisa melindunginya. Bahwa tanpa aku, dia tak akan aman di mana pun."
Namun di balik kegigihannya yang tampak begitu kuat, tersembunyi rahasia paling besar yang tak akan pernah ia biarkan diketahui siapa pun—bahkan Yena sekalipun. Sesuatu yang membuatnya bersikap seobsesif ini, sesuatu yang membuatnya tidak bisa melepaskan Yena ke tangan siapa pun, sesuatu yang mendorongnya melakukan hal gila seperti ini:
"ibu aku berjanji akan membalaskan semua rasa sakit yang ibu alami dulu, yena aku sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu sampai semua yang aku mau terwujud. HA,HA,HA,HA"tawa arga menggelar di ruangan itu.
Ia menoleh kembali ke arah kedua anak buahnya, tatapannya kembali mengeras. "Sekarang pergilah. Dan pastikan mulut kalian terkunci rapat. Jika satu kata pun bocor... kalian tahu konsekuensinya."
"Baik, Bos!" jawab mereka serempak, lalu buru-buru bangkit dan berlari keluar dari ruangan itu seolah dikejar hantu.
Tersisa sendirian di ruangan yang sunyi itu, Arga merosot ke kursi kerjanya, menatap foto Yena yang berdiri di atas meja—foto yang diambil diam-diam saat mereka masih bahagia dulu. Ia menyentuh wajah gadis itu dalam foto itu menatapnya dengan kegilaan.
Di rumah yena di kamar yena yang hening, Kenzo duduk tak beranjak di samping kakaknya. Tangannya yang kekar namun hangat menggenggam erat tangan Yena, seolah melepaskannya sedetik saja akan membuat kakaknya lenyap. Matanya yang bening menatap lutut Yena yang kini terbalut perban putih rapi, lalu beralih ke wajah kakaknya—menatap pipi yang masih sedikit merah dan bengkak bekas tamparan itu.
"Kakak..." panggilnya pelan, suaranya bergetar penuh kekhawatiran. "Masih sakit ya kakinya?"
Yena menatap adiknya yang begitu tulus cemas, dan rasa hangat yang lembut menyelimuti hatinya yang selama ini terasa dingin dan hampa. Ia tersenyum tipis, lalu mengusap rambut Kenzo dengan tangan yang bebas dari genggaman itu.
"Enggak kok, Dek..." jawabnya lembut, berusaha menenangkan hati adiknya. "Sudah enggak terlalu sakit lagi. Lihat kan? Arga sudah obati dengan baik sekali, lukanya sudah dibalut rapi. Kakak akan sembuh cepat."
"Tapi tadi Kakak nangis..." gumam Kenzo tak mau menyerah, jemarinya mempererat genggaman pada jari-jari Yena. "Dan pipi Kakak... masih merah. Orang-orang itu jahat sekali. Kenapa mereka harus menyakiti Kakak?"
Mata Yena berkaca-kaca mendengar pertanyaan polos namun menusuk itu. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap pipi Kenzo dengan lembut. "Karena mereka orang jahat, Kenzo. Tapi sudah selesai sekarang.Arga datang tepat waktu, dan Kakak aman. Tidak ada yang perlu ditakuti lagi.