Seorang gadis yang diam-diam suka dengan seorang tentara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijab Art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Ikut Lomba
"Rahma! Kamu mines? " Tanya Iyan sambil memberikan aku buku paket.
"Iya nih! Itulah kenapa akhir-akhir ini aku sakit kepala sama penglihatanku buram, ternyata aku mines. " Ungkapku kepada Iyan.
"Aku juga sebenarnya mines, cuman ngkk pakai kacamata tiap hari, aku pakai kalau aku benar-benar nggk lihat. " Katanya sambil duduk di bangku depanku sambil berhadapan denganku.
Rahma yang terkejut, baru tahu ternyata Iyan juga sama kayak dia, Sama-sama mines. Tapi, Iyan kelihatan biasa-biasa saja.
"Kamu mines berapa emangnya?, " Tanyaku kepada Iyan.
"Minesnya baru nol koma sih!, masih rendah, kalau kamu?, " Tanya Iyan balik.
"Sama, nol koma juga. " Jawabku singkat, sambil melihat sekeliling, dan menangkap sesosok laki-laki dengan perempuan asyik berbincang di depan pintu.
"Eh..skefo!.... Kamu tau nah? Fandi sama perempuan itu,......pacaran. " Kata Lisda yang menyadari tatapan anehku sambil memandang keduanya. Yap! Mereka lah yang kulihat. Fandi dengan seseorang dari kelas sebelah.
"Wow! Beneran? Hebat bener Fandi, aku nggk nyangka Fandi bisa pacaran juga. Hhh! " Kataku sambil memandangi mereka.
"Iya dih! Kalau dilihat ki orangnya tidak mungkin itu pacaran, tapi ternyata.... Hmmmm... Tidak boleh ki memang menilai orang dari luar." Kata Lisda melanjutkan.
Tiba-tiba bell masuk pun berbunyi membuat semua yang berada di luar langsung masuk dan duduk ditempatnya masing-masing.
***
Tak terasa, kini sudah 2 tahun lebih Rahma bersekolah di SMP ini. Sekarang, dia sudah naik ke kelas 8, artinya kelas 2 SMP. Hari-hari nya dilewati seperti biasa, ngobrol bareng sama Lisda dan Iyan.
Kini, komunikasinya dengan Reyhan hampir terputus, tak ada lagi perbincangan dengannya, canda dan bermain bersama sudah tak ada lagi. Masing-masing dari mereka kaku dengan yang lainnya.
"Rahma! " Panggil Lisda yang tengah duduk tidak nyaman di kursi sebelah Rahma.
"Kamu kenapa? Ada permen karet? Atau basah? " Tanya Rahma hawatir melihatnya agak tidak nyaman, namun dianya nggk mau berdiri.
"Bukan, lagi halangan ka dan tembus ka" Ucapnya sambil berbisik-bisik ditelinga Rahma.
" Jadi? " Tanya Rahma polos yang nggk tau mau ngapain, soalnya dia juga nggk tau apa itu halangan, dan belum pernah ngalamin.
" Bantu ka kasi hilang i!, soalnya toh lengket ki di kursi" Ucapnya lagi sambil berbisik dan mengambil baju olahraganya dan mengikatnya di pinggang menutupi tanda merah itu. Karena hari ini ada mapel olahraga, sehingga dia membawa baju olahraga.
"Iya" Jawab Rahma dengan polos. Soalnya, Lisda kan lebih tua dari Rahma, sehingga sudah sewajarnya Lisda mengalami menstruasi di umurnya yang segini. Sedangkan Rahma tidak tau apa itu, dia hanya mengangguk saat diminta bantuannya.
Setelah selesai membersihkan, bell masuk pun berbunyi, mereka semuanya bersiap untuk belajar. Berbeda dengan kedua sahabat itu yang masih agak tidak nyaman habis membersihkan tanda merah yang sulit untuk dibersihkan itu.
"Maaf ka nah Rahma! " Kata Lisda dengan muka bersalah karena melihat Rahma yang kecapean habis membantunya tadi.
"Tidak apa-apa" Jawab Rahma sambil sesekali bercanda dengan Lisda. Tanpa mereka sadari, ada yang selalu menatap mereka di depannya. Karena, sekarang tata letak tempat duduk mereka berbentuk U, sehingga ujung berhadapan dengan ujung. Dan kebetulan Rahma dan Lisda berada di ujung.
Seorang guru laki-laki paruh baya tiba-tiba masuk dan membawa sebuah patung boneka mini di tengah.
"Hari ini kita akan menggambar, coba kalian menggambar sesuai dengan apa yang kamu lihat, jika patungnya miring gambar lah miring, jika kamu melihat patungnya mengahadap depan, gambarlah seperti itu juga! " Jelasnya dan langsung duduk di tempatnya.
"Wah! Ini nih kesukaanku" Kata Rahma dalam hati, dan terlihat senyuman di wajahnya. Rahma sangat suka menggambar, sejak SD dia sangat suka jika ada materi seni rupa. Sehingga kalau ada materi dan tugas menggambar ia sangat bersemangat dan antusias.
Seseorang diseberang bangkunya, yang tengah memperhatikannya sejak dari tadi tanpa sengaja menarik bibirnya, terlihat senyuman juga diwajahnya melihat Rahma tersenyum.
***
Sudah beberapa tahun ini Rahma tidak komunikasi lagi dengan Reyhan, padahal dia rindu sekali dijahili oleh Reyhan. Pikirannya melambung saat-saat di mana Rahma kesal karena selalau di jahili Reyhan saat duduk dibangku SD.
"Rey! Jangan dong, itu tuh pulpen ku. Aku mau menulis nih! " Kata Rahma yang melihat pulpennya di ambil oleh Reyhan.
"Sini! Ambil ki! " Kata Reyhan sambil mengangkat tangannya yang memegang pulpen Rahma.
"Ish, tunggu yah! " Ucap Rahma kemudian lari mengejar Reyhan.
Reyhan yang melihat itu malah berlari lebih kencang dari Rahma. Jadilah mereka kejar-kejaran dan hampir menabrak orang.
Walau dengan kejahilannya itu, Reyhan selalu baik kepada Rahma, di mana saat itu Reyhan yang melihat Rahma kesusahan membuka penutup pulpen karena terlalu masuk ke dalam, membantunya dengan cara berpikir anak SD, praktis dan yang penting bisa terbuka.
Dia mengambil batu, dan kemudian memukul penutup pulpen itu hingga pecah dan akhirnya bisa terbuka. Tapi, dia tidak sadar kalau yang dia lakukan malah merusak. Heheh... Namanya anak SD.
Rahma yang sedang mengingat kenangan itu, tanpa ia sadari dirinya menyunggingkan gigi dan tersenyum.
"Heh! Senyum-senyum! " Kata Lisda secara tiba-tiba, sontak membuyarkan lamunan Rahma. Rahma yang tadinya tersenyum tiba-tiba langsung memasang wajah cemberut.
"Apaan sih!, emangnya napa kalau aku tersenyum.... Mmm" Kata Rahma sambil mencubit pipi Lisda.
"Ish!.. Sakit! " Ringis Lisda.
"Biarin! " Kata Rahma sambil tersenyum mengejek.
"Rahma! Mending sekarang belajar ki' supaya bisa menang Lomba CCQ! " Kata Lisda menasehati sambil memberikan selembar Kisi-kisi soal yang akan di bawakan untuk CCQ atau Cerdas Cermat Qur'an.
"Kemarin, bilang wali kelasta akan diadakan Cerdas Cermat antar kelas, di kelas ini, saya, Fandi dan kamu yang akan mewakilinya. Berhubung, karena kita yang meraih peringkat tertinggi di kelas ini. " Terang Lisda.
"Beneran?, " Tanyaku
"Iyah! Beneran! " Kata Lisda
"Kapan? " Tanya ku kembali
"3 hari lagi" Jawab Lisda.
***
_3 hari kemudian.. .
Subuh-subuh Rahma sudah bangun dan mulai belajar untuk persiapan CCQ hari ini. Kata Ibu, waktu yang paling baik untuk belajar adalah saat setelah sholat Isya dan saat subuh.
Dengan semangat yang membara, Rahma pun mulai membuka dan membaca satu persatu soal-soal tersebut.
Beberapa jam kemudian, saat sampai di sekolah..
"Siapakah malaikat pencabut nyawa?, Malaikat Izrail"
"Ada berapa surah dalam Al-Qur'an?, 114 surah. "
..... Terdengar siswa kelas sebelah yang menghafal soal-soal tersebut dengan keras.
Rahma yang baru datang dan melewati kelas mereka, melirik satu persatu lawan yang akan dia hadapi. "Wah! Mereka hafal banget, bagaimana denganku yang hanya baca doang?" Kata Rahma dalam hati.
"Rahma! Siap maki? " Kata Lisda yang tiba-tiba datang dari arah belakang dan menepuk punggung Rahma, lalu merangkul pundak Rahma. Rahma yang terkejut, tiba-tiba langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam orang yang disampinya.
"Hdeuh! Aku kaget tau" Kata Rahma kemudian melanjutkan langkahnya.
"Maaf! Maaf! Weh! Kelas sebelah nekat sekali! Nahafal semua! Kalau saya ku baca ji saja. " Kata Lisda sambil mengikuti langkah kaki Rahma.
"Iya aku juga, aku baca doang nggk hapal! " Kata Rahma.
"Kira-kira bisa ja ki menang? " Tanya Lisda penasaran.
***next
Semoga secepatnya bisa update lagi.
Semangat 🌻
Gimana nih Thor?