Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — CEMBURU YANG TIDAK DIAKUI
Aroma biji kopi yang sangrai tajam berpadu dengan alunan musik lo-fi berkecepatan sedang di sebuah kafe berkonsep glasshouse di kawasan Arunika Tengah. Sinar matahari sore menembus atap kaca, membiaskan pendar keemasan di atas meja kayu tempat Aurel dan Dito duduk berhadapan.
Di atas meja, laptop masing-masing menyala terang, dikelilingi oleh tumpukan kertas draf analisis desain, gelas iced Americano, serta piring kecil berisi french fries.
"Jadi bagian latar belakang ini harus kamu rapikan lagi, Rel. Kutipan dari bukunya Prof. Subagyo kemarin agak rancu pas dimasukin ke bab dua," ujar Dito seraya menunjuk layar laptop Aurel dengan ujung penanya.
Aurel mengangguk pelan, jemarinya lincah menari di atas papan ketik merapikan paragraf. Namun, matanya sesekali melamun menatap es batu di dalam gelasnya yang perlahan melumer.
Dito memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu sejak dua jam lalu. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menyeruput kopinya sedikit, lalu mengulum senyum jahil.
"Kenapa sih kamu, Rel? Dari tadi fokusmu bolong-bolong. Lagi mikirin Ustadz ganteng suamimu itu?" goda Dito.
Aurel menoleh cepat, mendengus pelan. "Nggak usah ngaco, Dit. Aku cuma rada pusing sama revisi ini."
"Bohong," Dito tertawa kecil. Ia memajukan tubuhnya ke depan meja, menurunkan nada suaranya. "Tapi jujur ya, Rel... suamimu itu kayaknya beneran nggak suka sama aku deh."
Aurel menghentikan ketikannya, menatap Dito dengan alis terangkat. "Ngomong apa sih kamu? Rasyid nggak pernah ngomong apa-apa soal kamu. Dia selalu nyambut kamu sama Maya sopan banget kalau kalian ke rumah."
"Ya emang sopan banget, justru itu!" sahut Dito seraya terkekeh. "Perilaku dan bahasanya emang kayak malaikat, sopan, halus, adem. Tapi kamu merhatiin matanya nggak pas aku ngerangkul bahumu di teras rumah waktu itu?"
Aurel terdiam. Bayangan raut wajah Rasyid yang mendadak beku dan hening sore itu berputar kembali di ingatan.
"Tatapannya itu lho, Rel," lanjut Dito seraya mengusap leher belakangnya seolah merinding canda. "Rada dingin. Adem tapi nusuk. Tatapannya tuh jelas banget bilang: 'Mas, tolong tangannya dijaga sebelum saya doakan yang botak-botak.' Suamimu itu cemburu berat, Rel!"
Aurel tidak sanggup menahan tawa renyahnya. Ia melempar kentang goreng ke arah Dito, yang disambut Dito dengan tangkapan sigap memakai mulutnya.
"Nggak usah kepelean deh kamu, Dit!" gelak Aurel. "Rasyid tuh orangnya tenang banget. Dia nggak bakal cemburu cuma gara-gara hal sepele kayak gitu."
"Halah, cewek emang kadang suka pura-pura buta," balas Dito santai. "Coba aja kamu tes nanti malam. Liat gimana reaksinya."
Aurel memutar bola matanya, namun di dalam benaknya, kata-kata Dito justru memantik percikan keberanian dan rasa penasaran yang teramat besar.
Pukul delapan malam.
Kamar di lantai dua kediaman Faruqi terasa hangat. Suara gerimis halus melatari keheningan ruangan.
Rasyid sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Pria itu telah mengganti pakaian mejanya dengan baju koko katun warna abu-abu lembut dan celana kain santai. Peci hitamnya tidak terpasang, memperlihatkan rambut hitamnya yang rapi namun agak basah usai wudu. Di tangannya, sebuah buku tebal terbentang.
Aurel baru saja keluar dari kamar mandi usai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia mengenakan piyama panjang katun motif garis-garis biru muda.
Aurel melangkah menuju tepi kasur, lalu merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong—jarak setengah meter dari Rasyid. Ia bersandar pada bantal yang ditumpuk, berpura-pura sibuk menggeser-geser layar ponselnya.
Satu menit... dua menit... hanya ada suara derit lembut halaman buku yang dibalik oleh Rasyid.
Aurel berdehem pelan. "Tadi aku habis ngerjain tugas kelompok sama Dito di kafe."
Rasyid tidak menghentikan bacaannya. Pria itu hanya mengangguk pelan. "Iya. Terima kasih sudah mengabari lewat pesan tadi sore."
Aurel memiringkan kepalanya sedikit, melirik dari sudut matanya. "Masa tadi Dito ngomong sesuatu yang aneh banget."
"Ngomong apa?" tanya Rasyid halus, matanya tetap terpaku pada barisan kalimat di bukunya.
"Dito bilang..." Aurel sengaja menggantung kalimatnya, mengamati setiap senti perubahan di wajah Rasyid, "...kamu kayaknya nggak suka sama dia."
Gerakan jemari Rasyid yang hendak membalik halaman buku terhenti seketika. Halaman itu menggantung di udara selama dua detik.
Rasyid menarik napas pelan, lalu melanjutkan gerakan tangannya membalik halaman tanpa beban.
"Tidak," jawab Rasyid singkat. Suaranya datar dan tenang.
"Serius?" tembak Aurel lagi, memajukan tubuhnya sedikit mendekati Rasyid.
"Serius," balas Rasyid singkat.
Aurel mengulum senyum tipis yang mulai mengembang nakal di bibirnya. Dinding pertahanan Rasyid yang biasanya amat kokoh malam ini terasa mulai goyah oleh godaannya.
"Terus kenapa waktu dia pegang pundakku di teras pekan lalu... kamu cuma diem aja?" cecar Aurel, suaranya bernada menggoda yang sangat kentara. "Kamu berdiri di pilar, nggak ngomong apa-apa, tapi mukamu langsung datar banget kayak papan tulis."
Rasyid menghentikan bacaannya secara total. Pria itu menurunkan bukunya perlahan hingga bertengger di atas pangkuannya.
Rasyid tidak langsung menoleh. Ia menatap selimut di depannya sejenak, lalu memutar kepalanya pelan untuk menatap lurus ke dalam netra cokelat terang milik istrinya.
"Aku sedang menghitung sampai sepuluh," ujar Rasyid.
Aurel tertegun. Alisnya berkerut bingung, senyum jahil di bibirnya tertahan. "Hah? Menghitung sampai sepuluh? Buat apa?"
Rasyid menatap Aurel tanpa berkedip. Ada binar kejujuran yang begitu polos sekaligus dalam di dalam matanya yang jernih.
"Supaya tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu," jawab Rasyid dengan intonasi rendah, tenang, namun sarat akan makna. "Supaya saya tidak menuruti hawa nafsu emosi saya untuk menegur temanmu secara tidak sopan di depanmu."
Aurel terpaku di tempatnya. Kalimat itu terucap begitu jujur tanpa balutan majas atau ceramah panjang.
Seketika, tawa yang sejak tadi ditahan Aurel meledak pecah. Senyum lebarnya mengembang sempurna, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan lesung pipi tipisnya.
"Cemburu kan?!" seru Aurel dengan nada penuh kemenangan. "Udah ngaku aja! Ustadz Rasyid ternyata bisa cemburu juga!"
Rasyid menatap raut wajah bahagia Aurel yang tertawa lepas di sampingnya. Melihat binar mata istrinya yang begitu hidup dan tawa renyah yang memenuhi kamar hening mereka, ada perasaan hangat yang membuncah pelan di dalam dada Rasyid.
Rasyid menghela napas pelan, lalu menaikkan kembali bukunya menutupi sebagian wajah bawahnya untuk menyembunyikan senyum tipis yang tak sanggup ia tahan.
"Jangan terlalu senang, Aurel," gumam Rasyid dari balik bukunya, suaranya terdengar sedikit tenggelam.
"Berarti beneran cemburu kan? Iya kan?!" goda Aurel pantang menyerah, menyikut lengan Rasyid pelan seraya tertawa geli.
Rasyid menurunkan bukunya sedikit, menatap Aurel dari atas jilid buku dengan pandangan yang amat teduh.
"Tidurlah. Sudah malam," kata Rasyid pelan, mematikan lampu nakas di sisinya sehingga kamar mereka kini hanya diterangi lampu tidur bernuansa kuning temaram di sudut meja rias.
Rasyid membelakangi Aurel, membaringkan tubuhnya seraya menarik selimut hingga ke dada.
Aurel merebahkan tubuhnya di atas kasur, memeluk bantal gulingnya dengan tawa kecil yang masih tersisa dan tertahan di tenggorokan. Malam itu, keheningan kamar tidak lagi terasa asing atau kaku.
Rasa cemburu polos yang diakui Rasyid tanpa rasa gengsi melahirkan sebuah jembatan hangat di antara dua hati yang pernah saling asing ini. Dan sepanjang malam itu, Aurel tertidur dengan senyuman yang tak kunjung pudar dari bibirnya.