Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - PUTRI SAH KELUARGA ARDANI
Sebagian besar putri di cabang keluarga kedua di kediaman Adipati Ardani sudah menikah lebih dulu satu per satu, hanya menyisakan sepasang saudara kembar yang masih tinggal di rumah besar itu hingga kini. Kedua sepupu Wulan itu lahir di tahun yang sama dengannya. Hanya saja mereka lahir di awal tahun, sementara Wulan lahir di penghujung tahun, jadi usia mereka bertiga nyaris sama besar dan bisa disebut seangkatan. Karena itu, sejak kecil mereka sering dibanding-bandingkan satu sama lain oleh para pembantu dan kerabat.
Di kehidupan lampau, Wulan sangat menderita di tangan kedua saudara kembar ini. Baru pada akhir hidupnya yang menyedihkan itu ia menyadari bahwa sepupunya, Aryati, sejak dulu selalu menyimpan rasa yang dalam terhadap suaminya, tetapi tetap saja ia menjalankan segalanya dengan kepura-puraan yang rapi dan tanpa cela. Cara berpikir Aryati ternyata tersembunyi cukup dalam, jauh dari apa yang tampak di permukaan, dan semua itu baru terbongkar ketika segalanya sudah terlalu telat untuk diperbaiki. Wulan yang dulu begitu mudah percaya kini harus membayar mahal atas kenaifannya itu.
Dibandingkan Aryati, Kirana jauh lebih lugas dan terbuka. Setidaknya ia terang-terangan menyatakan bahwa ia menyukai Pangeran Cendana tanpa banyak bersembunyi atau bermain kata-kata, sehingga orang bisa membaca keinginannya dengan mudah. Meski begitu, Wulan tahu bahwa ketulusan Kirana hanyalah setengah-setengah, dan di balik kejujurannya itu tetap tersimpan ambisi yang tak kalah besar.
Jika dulu Wulan tidak bertengkar dengannya karena masalah ini, Wulan tidak akan bersikeras menikahi Pangeran Cendana hingga kehabisan akal dan menodai kehormatan keluarga. Lagipula, Pangeran Cendana berkali-kali memperlihatkan bahwa ia lebih tertarik kepada Wulan daripada kepada Kirana — dan itu semua semata-mata karena Wulan adalah putri sah keluarga Ardani, sementara Kirana hanyalah anak seorang selir berstatus rendah yang tidak disukai, sama sekali tidak berguna baginya dalam perebutan kekuasaan di istana.
"Sudah larut malam, apa lagi yang kalian berdua lakukan di sini?" Wulan berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada, memblokir jalan masuk tanpa niat sedikit pun mempersilakan mereka memasuki kamarnya. Suaranya datar, tetapi cukup untuk memberi peringatan bahwa ia tidak akan menerima omong kosong apa pun malam ini. Cahaya lampu minyak di belakangnya jatuh membentuk bayangan panjang di koridor, membuat suasana malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
"Kudengar Pangeran Nalendra mengantar Sepupu Ketujuh pulang?" Aryati berkata sambil tersenyum manis, tetapi ada nada asam yang nyaris tak terdengar terselip di balik suaranya, seperti cuka yang diteteskan ke dalam madu yang manis. Matanya menyipit tajam, mencoba mengintip reaksi Wulan terhadap setiap kata yang keluar.
Ck, informasi Aryati memang sangat lengkap. Wulan mengangkat alis, tetapi mengangguk tanpa menyembunyikan apa pun. Tidak ada yang perlu ia sembunyikan dari hal itu, dan semakin ia terbuka, semakin sulit bagi mereka menebak maksud sebenarnya di balik sikapnya.
"Sepupu Ketujuh tidak berada di rumah sepanjang hari ini. Mungkinkah kau berada di Puri Senja?" Melihat pengakuan yang jujur itu, senyuman di wajah Aryati tiba-tiba sedikit memudar, digantikan kerutan tipis yang segera ia tutupi dengan tawa ringan yang dibuat-buat.
Wulan menangkap maksud menyelidik dalam kata-kata itu, dan tidak menjawab ya atau tidak, hanya menatap Aryati dengan setengah tersenyum, teduh namun penuh teka-teki, "Sejak kapan Wulan perlu melapor kepada sepupu ke mana Wulan pergi?"
Ekspresi wajah Aryati membeku seketika, dan senyuman di bibirnya nyaris hilang seluruhnya. "Sepupu Ketujuh terlalu khawatir. Sepupu hanya bertanya dengan santai, tidak ada maksud apa pun di baliknya." Kata-kata itu keluar dengan cepat, seolah ia berusaha menutupi keterkejutannya atas sikap Wulan yang tiba-tiba menjadi begitu tajam.
"Oh." Wulan tidak peduli dengan jawaban yang terkesan defensif itu, dan hanya mengeluarkan satu kata "oh" dengan nada netral yang membuat Aryati semakin tidak nyaman dengan suasana pembicaraan yang berubah arah. Di masa lalu, Wulan akan langsung mempercayai apa pun yang mereka katakan, tetapi kini segalanya berbeda, dan Aryati sepertinya mulai merasakan perubahan itu.
Aryati melihat Wulan begitu acuh terhadap semua orang, lalu dengan tenang ia meremas tangan saudara kembarnya, Kirana, dan mengedipkan mata secara diam-diam sebagai kode yang hanya mereka berdua pahami. Wulan memperhatikan gerakan itu dengan mata yang tajam.
Wulan menangkap sekilas gerakan kecil itu dan hanya mendengus dingin di dalam hatinya, tidak menganggapnya terlalu serius. Ia sudah mengenal betul cara bermain kedua sepupunya ini sejak kehidupan lampau, dan kali ini ia tidak akan terjebak oleh permainan mereka berdua. Ia membiarkan mereka mengira dirinya masih naif, sambil menyiapkan langkah balasannya di dalam pikiran.
"Kudengar Yang Mulia Pangeran Cendana datang berkunjung larut malam kemarin untuk menanyakan kesehatan Sepupu Ketujuh. Entah mengapa, Sepupu Ketujuh tidak menemuinya?" Kirana maju setengah langkah, menatap Wulan dengan senyuman seperti biasanya yang manis dan ramah, lalu mengajukan pertanyaan yang terdengar polos namun sebenarnya penuh perhitungan.
Semalam, ia mendengar dari kakaknya bahwa setelah Wulan terbangun dari jatuh ke air, ia tampak menjadi orang yang berbeda sama sekali. Bukan hanya matanya yang kini jernih dan menakutkan, bahkan pikiran yang dulu selalu terpampang jelas di wajahnya pun kini hilang tak berbekas. Awalnya Kirana mengira kakaknya yang terlalu curiga berlebihan, tetapi sekarang tampaknya Wulan memang sudah banyak berubah, jauh melebihi dugaan mereka berdua. Ada sesuatu di tatapan Wulan yang membuatnya merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang jauh lebih cerdas.
"Oh?" Wulan meliriknya perlahan dari ujung kepala sampai ujung kaki, tetapi memberikan jawaban yang sama sekali tak terduga. "Bukankah sepupu selalu menyukai Pangeran Cendana? Sekarang Wulan sudah tidak lagi mengejarnya, bukankah sepupu seharusnya merasa lebih bahagia?" Katanya sambil menatap lurus ke mata Kirana, seolah menantang apa pun yang akan keluar dari bibir sepupunya itu.
Mata Kirana berkilat sejenak, menyembunyikan kerumitan yang berkecamuk di dalamnya, lalu berkata dengan lembut, "Kirana tahu diri, tidak sebanding dengan status Sepupu Ketujuh. Wajar jika Yang Mulia Pangeran Cendana meremehkan Kirana. Lagipula Kirana tidak bodoh — karena Sepupu Ketujuh menyukainya, bagaimana mungkin Kirana memperebutkannya dengan kakak sendiri?" Kata-kata itu diucapkan dengan kepala tertunduk, membuatnya tampak penuh kerendahan hati, padahal siapa pun yang mengenalnya tahu itu hanya topeng belaka.
Wulan ingin bertepuk tangan atas kata-katanya yang begitu dalam dan penuh perhitungan. Lihatlah kemampuan aktingnya yang memukau. Jauh lebih baik daripada para wanita jalanan yang menangis dan berteriak ingin menjual diri untuk mengubur ayah mereka. Ia menahan tawa sinis di dalam hati. Namun, alih-alih terpancing, Wulan hanya menatap keduanya dengan tenang, menunggu langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya.