Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Rintik air di luar belum juga reda. Hawa dingin perlahan merayap masuk melalui celah-celah jendela kamar sewa yang lapuk.
Ia duduk bersila di atas kasur tipisnya. Pandangan ia lurus tertuju pada engsel pintu yang kini bengkok mengenaskan.
Bimo memang sudah lari tunggang langgang. Namun, preman jalanan sepertinya tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak begitu saja.
'Dia pasti kembali,' gumam Kenzo dalam hati. '... Dengan membawa anggotanya.'
Ia menunduk, mengamati gulungan kawat di genggamannya. Benda perunggu ini tampak sangat biasa, tipis seperti sehelai rambut.
Namun, kawat ini tidak meregang sedikit pun saat ditarik. Sisi-sisinya terasa sangat tajam, siap mengoyak apa saja.
"Aku cuma punya kawat ini," bisik Kenzo. Ia menjentikkan kawat itu hingga berdengung pelan. "Sementara Bimo memiliki anggota, ini tidak seimbang."
Berbekal otot saja jelas mustahil menang jika Bimo membawa gerombolan. Ia harus menyelesaikan pertarungan sebelum mereka sempat menyentuhnya.
Lampu neon kamar segera ia padamkan. Ruangan kini hanya diterangi samar-samar oleh pendar lampu jalan di luar jendela.
Mulai merakit perangkap, ia mengaitkan ujung cincin logam pertama pada paku beton berkarat di kusen jendela.
Ia menarik kawat tipis itu menyilang, membelah ruangan sempit tersebut, lalu mengikat cincin kedua pada laci lemari baju yang berat.
Sangat teliti. Ia mengatur ketinggian kawat tepat di posisi leher pria dewasa.
Dalam kegelapan, kawat itu benar-benar lenyap. Tidak ada pantulan cahaya, tidak ada petunjuk visual apa pun.
Kenzo lalu mundur ke sudut paling gelap di kamarnya. Tangan kanan ia menggenggam patahan kayu kaki kursi.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Sunyi menguasai malam, hingga waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ketukan langkah kaki yang berat terdengar menaiki tangga kayu. Suaranya terdengar penuh arogansi, bukan hanya satu orang.
BRAK!
Pintu yang memang sudah rusak itu hancur berantakan ditendang dari luar. Tiga bayangan besar berdiri di sana.
"Hancurkan kakinya! Biar aku yang merobek mulutnya!" teriak Bimo dengan parang pendek di genggamannya.
Satu preman berbadan raksasa di sebelah kanan Bimo langsung merangsek maju. Ia mengayunkan tongkat pemukul dengan beringas.
Langkah besarnya terhenti mendadak. Seolah ada tembok tidak terlihat yang menahan tubuhnya di udara.
SRING!
"AAARGHHH!"
Jeritan menyayat malam terdengar nyaring. Pria itu terpelanting ke belakang, kedua tangannya langsung membekap leher sendiri.
Darah segar menyembur deras dari sela jarinya. Momentum serbuan cepatnya membuat kawat tipis itu menggorok lehernya sendiri.
Ia tersungkur ke lantai kayu, meronta-meronta dengan napas yang mulai tersendat.
Bimo dan satu preman lainnya mematung. Wajah mereka pucat pasi, dipenuhi kengerian luar biasa.
"A-apa yang terjadi?!" gagap Bimo, kakinya gemetar saat melangkah mundur.
"Itulah akibatnya jika berlari dalam gelap tanpa mata," sahut Kenzo dari kegelapan sudut kamar.
Preman kedua yang naik pitam mencoba memutar dari arah kiri. Namun, Kenzo bergerak lebih cepat.
Sambil tersenyum tipis, ia menarik laci lemarinya dengan sentakan kuat. Sudut dan ketegangan kawat seketika bergeser tajam.
SRET!
Ujung kawat yang bergeser itu menyabet lengan preman kedua. Jaket tebalnya robek, menyisakan luka sayat yang mengucurkan darah.
Pria itu menjerit kesakitan, menjatuhkan senjatanya, lalu memegangi lengannya yang terluka parah.
Kini menyisakan Bimo yang berdiri gemetar. Senjata yang tidak kasat mata adalah teror paling mematikan bagi ototnya.
"Kau... kau memakai ilmu hitam?!" teriak Bimo dengan suara yang serak karena takut.
Kenzo mengabaikan pertanyaan itu. Layar System dengan tulisan jaminan 100% masih melayang redup di sudut matanya.
'Aku tidak butuh itu sekarang,' batin ia tenang. Otaknya terbukti jauh lebih berguna.
"Aku memang tidak punya uang untuk bayar sewa," ucap Kenzo lirih. "Tapi kalian sudah merusak pintuku malam ini."
Ia menunjuk ke lantai dengan patahan kayu di tangannya. "Tinggalkan dompet kalian di sana, atau keluar dalam keadaan mati."
Bimo menelan ludah dengan susah payah. Melihat kedua temannya yang terkapar, ia tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celananya lalu melemparkan dompet kulitnya ke lantai kayu.
Dua temannya yang terluka melakukan hal yang sama sebelum mereka semua merangkak panik keluar kamar.
Langkah kaki mereka terdengar tergesa-gesa menuruni tangga, menjauh, lalu hilang di balik gemuruh hujan malam.
Kenzo melangkah maju untuk memungut tiga dompet di lantai. Isi lembaran uang di dalamnya cukup banyak.
Uang ini lebih dari cukup untuk menyewa tempat baru yang layak dan membeli beberapa potong pakaian hangat.
Ia menatap kawat tipis yang kini menyisakan noda merah di bagian tengahnya. 'Alat dari Gacha ini benar-benar mematikan jika dipakai dengan benar.'
Tiba-tiba, suara denting mekanis yang familier berdengung di dalam kepalanya.
[DING!]
[Peringatan: Jatah Jaminan 100% Hari Ini (3/3) akan di-reset dalam 2 jam.]
Mata Kenzo menyipit membaca baris teks emas itu. Dua jam lagi jaminan kepastian ini akan hangus cuma-cuma.
'Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakannya,' pikir ia seraya menekan tombol di layar virtual tersebut.
Cahaya keemasan yang jauh lebih pekat mulai memancar kuat, menerangi sudut kamarnya yang gelap gulita.