NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Saka tersentak kaget di dalam hatinya membaca rentetan informasi rahasia dari sistem tersebut. "Kutukan garis keturunan, pantas saja wajahnya terlihat sangat pucat meski tertutup bedak mahal." Batin Saka menganalisis situasi.

"Maaf Rio, aku tidak tertarik dengan barang antikmu dan tolong jangan halangi jalanku." Ucap Anya tiba-tiba mengakhiri percakapan sepihak itu dengan sangat dingin.

Gadis itu melangkah maju melewati Rio begitu saja diikuti oleh dua orang pengawal berbadan besar di belakangnya. Anya menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna emas berlian ke petugas dan langsung dipersilakan masuk dengan penjagaan ketat.

Rio berdiri mematung di tempatnya dengan tangan masih memegang pinggiran kotak merah. Wajahnya merah padam menahan rasa malu yang luar biasa karena baru saja ditolak mentah-mentah di depan banyak orang.

Kevin buru-buru mendekat dan menepuk pundak bosnya itu untuk menenangkan keadaannya. "Sabar Bos, cewek kaya emang gitu jual mahal di awal tapi nanti juga klepek-klepek lihat harta lo di dalam." Hibur Kevin sekenanya.

Rio mendengus kasar lalu melampiaskan kemarahannya kepada Saka yang masih memegang kotak merah. "Gara-gara lo nih berdiri di sebelah gue pakai baju dekil, Anya pasti jijik lihat lo makanya dia pergi." Bentak Rio mencari kambing hitam.

"Loh kok salah saya Bos, kan Bos yang suruh saya bawa kotaknya ke depan." Jawab Saka dengan suara memelas pura-pura tidak terima disalahkan.

"Banyak bacot lo, udah buruan sana jalan masuk ke dalam bawa semua koper gue." Perintah Rio sambil mendorong bahu Saka dengan kasar menuju meja pemeriksaan petugas keamanan.

Saka terhuyung ke depan mendekati meja kayu besar tempat beberapa petugas bertubuh kekar berdiri menjaga pintu. Rio segera mengeluarkan undangan silver miliknya dan melemparkannya ke atas meja dengan gaya arogan.

"Ini undangan gue buat masuk VIP silver, dan gembel di belakang gue ini asisten pribadi gue yang bawain barang." Ucap Rio kepada petugas yang menjaga pintu tersebut.

Petugas itu mengambil kartu silver Rio dan memindai kodenya di sebuah mesin kecil dengan cepat. "Kartu undangan atas nama Tuan Rio divalidasi, Anda dan satu rekan Anda diizinkan masuk." Ucap petugas itu sopan.

"Gue bawa dua orang, satu teman gue si Kevin dan satu lagi asisten bawain tas ini." Protes Rio sambil menunjuk Kevin dan Saka secara bergantian.

Petugas itu menggeleng tegas dengan wajah dingin tanpa ekspresi. "Maaf Tuan, aturan undangan silver hanya mengizinkan maksimal membawa satu orang pendamping saja ke dalam arena lelang." Jelas petugas itu dengan suara tegas.

Rio menggebrak meja dengan kesal merasa harga dirinya kembali diinjak-injak hari ini. "Lo nggak tahu gue siapa hah, gue anak pengusaha besar di kota ini masa bawa satu kacung aja nggak boleh." Bentak Rio dengan suara keras.

"Maaf Tuan ini aturan ketat dari penyelenggara acara, jika Anda tidak suka silakan tinggalkan tempat ini." Balas petugas itu tidak gentar sama sekali menghadapi ancaman Rio.

Kevin langsung menarik lengan baju Rio dan berbisik pelan ke telinganya. "Udah Bos biarin aja si gembel ini nunggu di luar, yang penting kita berdua masuk ke dalam bawa kotaknya aja." Saran Kevin mencari jalan aman.

Rio mendecak lidah dengan sangat kasar lalu menatap Saka dengan pandangan penuh kebencian. "Sialan lo Ka, gara-gara lo gue jadi malu ribut sama satpam di depan sini." Umpat Rio tanpa henti.

"Siniin kotaknya, lo tunggu aja di parkiran luar deket tong sampah sampai acara selesai nanti." Perintah Rio sambil merampas kotak beludru merah dari tangan Saka.

"Yah Bos Rio, saya beneran nggak boleh ikut masuk ke dalam gedung bagus ini ya." Tanya Saka dengan wajah pura-pura kecewa berat hingga terlihat sangat menyedihkan.

"Nggak usah mimpi lo gembel, tempat elit kayak gini tuh bukan buat kaum buangan kayak lo." Ejek Kevin sambil tertawa meremehkan penderitaan Saka.

Rio dan Kevin kemudian berjalan beriringan melewati garis pemeriksaan meninggalkan Saka sendirian di luar pintu. Mereka tertawa puas merasa telah berhasil menindas dan mempermalukan Saka di malam yang penting ini.

Saka berdiri diam menatap kepergian dua orang bodoh itu dengan senyum tipis yang mulai terbit di sudut bibirnya. Dia lalu meletakkan dua koper milik Rio ke lantai marmer dengan sangat santai.

"Maaf anak muda, kamu harus menyingkir dari pintu masuk ini sekarang juga karena menghalangi tamu lain." Tegur petugas keamanan tadi dengan nada mengusir kepada Saka.

Saka tidak menjawab dan perlahan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana bahannya yang lusuh.

Sret.

Dia menarik keluar sebuah kartu mengkilat dan meletakkannya perlahan ke atas meja pemeriksaan.

"Saya tidak datang ke sini sebagai asisten dari dua badut tadi Pak." Ucap Saka dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan penuh wibawa.

Mata petugas keamanan itu seketika membelalak lebar hingga nyaris copot saat melihat benda di atas mejanya. Sebuah kartu emas dengan logo naga timbul yang merupakan akses VIP paling tinggi di acara Lelang Agung malam ini.

Tangan petugas berbadan kekar itu langsung bergetar hebat saat mencoba menyentuh kartu emas tersebut. Dia menatap wajah Saka berulang kali dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya yang lebar.

"Ma... maafkan ketidaksopanan saya Tuan, saya benar-benar buta tidak mengenali Tuan sebelumnya." Ucap petugas itu dengan suara terbata-bata nyaris menangis ketakutan.

Petugas itu langsung membungkukkan badannya membentuk sudut sembilan puluh derajat di hadapan Saka. Beberapa tamu yang sedang mengantri di belakang langsung terdiam bingung melihat perubahan sikap petugas yang sangat drastis itu.

"Tolong bukakan pintunya Pak, saya punya urusan penting dengan Master Handoko di dalam sana." Ucap Saka santai sambil mengambil kembali kartu emasnya dan memasukkannya ke saku.

"Ba... baik Tuan, silakan lewat jalur khusus karpet merah ini, mari saya kawal secara pribadi ke dalam ruang lelang utama." Jawab petugas itu dengan sangat hormat sambil membuka pembatas pita emas.

Saka melangkah masuk melewati pintu kaca besar itu dengan langkah tegap dan senyum misterius di wajahnya. "Pertunjukannya baru saja dimulai Rio, mari kita lihat siapa yang akan berakhir di dekat tong sampah malam ini." Batin Saka sambil menatap punggung Rio di kejauhan.

1
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!