Author: Renata From Indonesia
(NOT MINE)
Riana Lee adalah seorang perempuan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di ibukota berkat kecerdasannya, selain pintar ia juga cantik dan ceria, namun disana ia bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang tanpa ia sadari. Laki-laki itu perlahan tapi pasti mengambil tempat terbesar di hatinya.
***
Aldrian Weist seorang remaja laki-laki kaya kelas 3 sekolah menengah atas,dia cerdas, tampan, dan ramah, tetapi di balik kepribadiannya yang karismatik itu, ia juga memiliki aura misterius yang dapat membuat orang di sekitarnya merasa sadar untuk tidak membangunkan sisi lain dalam dirinya itu.
Bagaimana keduanya bisa bertemu dan terikat satu sama lain? Dan bagaimana mereka bisa bersama dengan segala perbedaan yang mereka miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C.Y.J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Lain
***
Setelah bekerja seharian akhirnya aku bisa pulang ke kontrakan yang baru saja aku tempati beberapa hari yang lalu. Setelah aku mendapat email dari perusahaan yang menyatakan bahwa aku diterima bekerja, keesokan harinya aku langsung berangkat ke ibukota dan mencari kontrakan yang dekat dengan tempatku bekerja.
Setelah melihat lihat sekitar lima kontrakan, akhirnya aku putuskan untuk mengambil kontrakan yang terakhir aku lihat, karena selain biaya kontrak nya cukup miring, tempatnya juga cukup baik, toh aku hanya tinggal sendiri jadi aku tidak perlu ruangan yang terlalu luas.
Sesampainya dikontrakkan ku, aku langsung menuju kamar, melemparkan tasku ke atas kasur, kemudian menyambar handuk yang masih tergantung di jemuran pakaian diluar jendela kamarku. Aku berjalan menuju kamar mandi dan mulai menanggalkan pakaian ku, untungnya disini juga terdapat fasilitas air hangat yang langsung mengalir dari pancuran nya.
Air hangat yang mengalir membasahi tubuhku merilekskan otot otot ku yang sudah lama tidak ku gunakan untuk bekerja lebih dari 4 jam. Aku duduk didepan komputer selama hampir 7 jam hari ini, dan hal itu membuat aku merasa ingin mematahkan tulang belakangku. Setelah mandi air hangat yang merilekskan tubuh, dan memakai piama kesayanganku, aku melemparkan badanku ke atas kasur dan tidur telentang memandang langit langit. Aku jadi teringat akan ucapan Pak Andrew saat aku berada diruangannya.
Flashback
"Ok Riana, sebelumnya aku ucapkan selamat datang dan selamat bergabung di perusahaan."
"Terimakasih Pak, saya sangat senang dan berterima kasih karena sudah diterima di perusahaan anda."
"Yaa aku melihat profil mu, dan kurasa kau cukup berpotensi. Dan...to the point, sebenarnya aku juga ingin kau melakukan tugas yang lain."
Aku terdiam sejenak setelah mendengar perkataannya, "Apa yang di maksud adalah dia ingin menjadikanku menjadi seperti agen rahasia perusahaan?? Kenapa banyak sekali hal tak terduga yang terjadi di hari pertama aku bekerja?!."
"Ma-maksud anda dengan pekerjaan yang lain itu apa Pak?" Tanyaku dengan raut wajah bingung.
Andrew mamasang wajah serius, dan dia mulai menjelaskan apa yang dia maksud dengan tugas lain, "Begini, Kau tentu tahu kalau aku mempunyai seorang keponakan bukan?" Tanya Andrew.
"Saya pernah dengar menganai itu, tapi saya kurang tahu nama keponakan anda siapa atau dia usia berapa."
"Ok biar ku jelaskan, aku punya keponakan laki-laki dan sekarang dia duduk dikelas 3 sekolah menengah atas, namanya Aldrian. Dia anak yang baik sebenarnya, tapi ada sesuatu yang kurang dari dirinya, aku tidak bisa menjelaskan secara mendetail apa itu, karena aku sendiri tidak bisa menafsirkannya secara jelas. Dan tugas mu yang lain adalah, apa kau bisa menjadi temannya?"
Aku semakin bingung, tugas macam apa yang mengharuskan kita untuk menjadi teman dari keponakan atasan kita?
"Sebentar Pak, maaf sebelumnya tapi bukankah pada dasarnya manusia memang tidak ada yang sempurna? Mungkin "kelainan" yang anda maksudkan terhadap keponakan anda masih termasuk hal yang normal? Atau apa mungkin keponakan anda merupakan seorang introvert yang sulit untuk bergaul sehingga dia membutuhkan seorang teman khusus?" Tanyaku penasaran.
"Sebagaimana yang ku sebutkan tadi, agak sulit untuk menterjemahkan kepribadiannya. Dia selalu ramah dan bersikap baik, dia tampak selalu ceria tapi sebenarnya dia tipikal yang tertutup. Dia seakan akan memiliki sifat tersembunyi yang sampai sekarang tidak aku mengerti apa penyebabnya. Kau akan tahu jika kau mengenalnya nanti, aku tertarik padamu karena di profil mu tertulis kalau kau sering ikut acara amal yang diadakan kampus mu untuk ikut mengajar sebagai guru di panti asuhan dan di sekolah sekolah berkebutuhan khusus lain. Aku menerimamu dengan harapan kau bisa menjadi teman Aldrian, kau bisa mulai dengan menjadi teman belajarnya, dan cobalah untuk akrab dengannya."
Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna semua yang dikatakan pa Andrew. Jadi secara singkatnya dia ingin aku menjadi teman keponakannya dan mencoba akrab dengannya dengan harapan dia akan terbuka kepadaku? Ya, tampaknya memang seperti itu.
"Apa kau mengerti apa yang aku bicarakan?" Tanya Andrew saat dia melihatku hanya diam dan tidak merespon.
"Ah i-iya Pak, saya paham maksud anda, sepertinya hal ini juga ada sangkut pautnya dengan psikologi keponakan anda tapi anda tidak ingin secara terang-terangan membawa nya ke psikolog bukan? Jadi anda mencoba jalur yang tidak langsung ini."
"Ya kau benar, aku tidak bisa bayangkan seperti apa reaksinya jika aku secara terang-terangan membawanya konseling ke psikiater, lagipula aku yakin kalau dia tidak memiliki kelainan, feeling ku masih mengatakan bahwa ini hanya karena dia terbiasa sendirian tanpa teman yang bisa dia percaya, ah... dia punya seorang teman sebenarnya, tapi temannya itu bisa dibilang hanya sebagai penghibur kesehariannya, bukan teman yang benar benar bisa dia jadikan sandaran, jadi aku minta bantuanmu dengan pengalaman mu berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus itu aku yakin tidak akan sulit bagimu untuk bisa akrab dengan Aldrian."
Apa yang dikatakan Andrew memang cukup masuk akal, akan seperti apa jadinya jika gosip mengenai keponakannya yang memiliki gangguan karakter tersebar ke dunia luar. Bukan membuat Aldrian semakin terbuka, mungkin itu hanya akan membuatnya menutup dirinya sepenuhnya dan berubah menjadi seorang introvert sesungguhnya.
"Baik Pak, kalau begitu biar saya coba untuk bisa lebih dekat dengan keponakan anda, tapi masalahnya... apa alasan saya untuk bertemu dengannya nanti? Bukankah akan sangat aneh jika saya tiba-tiba menghampirinya dan langsung mengajaknya berkenalan? Yang ada nanti saya disangka tante genit sama keponakan anda."
"Hahaha " Andrew tak kuasa menahan tawanya saat mendengar ucapan Riana, "Tante genit?? yang benar saja, umur kalian hanya beda sekitar lima tahunan kan? Jangan khawatir kau masih belum setua itu untuk menjadi Tante genit, dan aku juga sudah mempunyai ide cara bagaimana untuk memperkenalkan kalian."
"Ha ha" Aku tertawa dibuat buat menanggapi ucapan Andrew, karena bagaimanapun juga aku lebih tua dari keponakannya kan, meskipun hanya berbeda beberapa tahun, "Jadi rencana anda apa Pak?"
"Kau pandai dalam ekonomi kan? Kau akan ku jadikan guru privat nya yang mengajar ekonomi, dia akan mengambil jurusan bisnis saat kuliah jadi itu tidak akan mencurigakan."
"Oohh, baiklah kalau begitu biar saya coba, kapan saya akan bertemu dengan keponakan anda."
"Besok." Jawab Andrew singkat, dan itu membuatku otakku kembali mengalami slow respon dan terdiam kembali beberapa detik karena kaget dengan jawabannya yang singkat pada dan jelas.
"Besok pa?"
"Ya, besok kau bekerja disini setengah hari saja, nanti supir ku akan menjemputmu dan akan mengantarmu untuk bertemu Aldrian."
Setelah kedua pihak saling menyetujui, percakapan kami pun berakhir dan aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan pekerjaanku.
Kembali padaku yang sedang tiduran terlentang di atas kasur.
"Besok ya...Kira kira Aldrian itu orangnya seperti apa?" Aku bertanya tanya seorang diri, dadaku berdegup kencang karena gugup memikirkan pertemuan kami besok, berharap semoga saja dia memang orang yang baik dan ramah seperti yang apa disebutkan Pamannya.
author menggambarkan Riana yg menunduk trus Aldrian melihat airmata Riana dan Aldrian merasa dadanya sakit.. yaa Allah thor sampe kerasa banget sampe ke hatiku